Klayar, a dangerously beautiful

Sunday, October 14, 2012

Tebing di sebelah barat pantai Klayar
Jam 4 dini hari. Saya tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta[1/9] dengan kereta Gajahwong. Meski posisi duduknya harus 90 derajat, kereta ekonomi AC jurusan Jkt-Ygy ini menurut saya lebih nyaman dibanding dengan kereta kelas bisnis yang biasa saya tumpangi dengan harga yang sama. Menunggu jemputan, sampai matahari terbit saya berjalan hingga ujung stasiun. Dari jauh nampak Jalan Malioboro.


Selamat pagi! Salam sapa yogya dari tiga tahun yang lalu

Setelah menumpang mandi dan sarapan di rumah Galang, hmm.. ya lagi-lagi saya merepotkan dia, hehe kami berdua bersiap menuju Pacitan. Tujuan saya ke Yogya memang untuk bertemu sapa dengannya, selain juga karena saya ingin berjumpa dengan pantai Klayar, yang sejak akhir tahun 2011 sudah saya idam-idamkan. Tidak hanya saya dan Galang yang berniat ke pantai Klayar, teman-teman kuliah yang kini di Yogya dan Solo sempat mengajak touring kesana. Sempat? Iya mereka hanya sempat buat janji. Setelah saya sampai di Yogya, dalam keadaan lelah karena langsung balik dari kantor, tiba-tiba mereka membatalkan touring. Memang membuat kesal, but it doesn't matter at all. Galang tetap semangat meski kita hanya pergi berdua. Eh! Ryan udah nunggu di Pacitan. Travel mate saya yang satu ini emang paling setia. Meski ngasi tau nya dadakan, dia ngiyain. Saya sempat kuatir dia gak akan selamat sampai Pacitan karena kita jalan sendiri-sendiri. Ini pertama kalinya dia solo traveling. Saya ke Yogya dulu dia langsung ke Pacitan. 

Dan benar, ke-kuatiran itu muncul. Dia ngga dapet motor sewaaan di Pacitan. Sampai kami adu jempol lewat sms dan adu mulut lewat telpon. Tuhan tetap berpihak pada kami. Sore menjelang matahari terbenam, kami bisa bertemu di pantai Klayar setelah saya menyisir pantai ke sebelah timur. Tak ada lagi adu bicara, kami menikmati sisa senja hingga matahari sembunyi. 

Menyusuri ke timur Klayar menuju batu spinx
He comes back to it's own home.. - Pantai Klayar, Pacitan





Bersama pak Wakijan, kalau tidak salah saya ingat namanya. Kami diajak untuk melihat batu spinx. Dinamakan seperti itu karena bentuknya mirip seperti singa yang sedang duduk seperti di Mesir. Di balik spinx, terdapat semburan air dari celah-celah batu yang dinamakan "seruling laut". Untuk menaiki batu itu, kita butuh orang lokal yang memberi arahan. Karena, salah pijakan atau arah, kita bisa terhempas ombak yang datangnya tidak bisa diduga. Beberapa minggu yang lalu, ada seorang laki-laki yang sempat terhempas ombak, dan baru ketemu beberapa hari setelahnya mengambang di celah-celah batu. 

Spinx. Ombak yang ada di pantai sebelah timur ini sudah memakan banyak korban. Salah satunya beberapa kamera DSLR tingkat dewa pada musibah yang menimpa para fotografer tahun 2008 silam
Seruling laut
 
Pemandangan matahari tenggelam yang sangat menawan dari batu yang saya pijak ini, membuat jantung saya berdebar-debar saat men-jepretnya. Ombak dari sebelah kiri bisa saja datang tanpa diundang.
 Malam itu saya, Galang, Ryan, Nafik serta Chimot ditemani bulan purnama. Dua orang terakhir yang saya sebut itu adalah sobat dari Yogya yang pernah menemani saya saat ekspedisi Aku Cinta Indonesia. Tak ada janji untuk ke sana bareng. Hanya secuplik pesan lewat ponsel untuk mengabarkan bahwa saya sedang di Yogya, Mas Nafik tiba-tiba menelpon sebelum saya berangkat ke Pacitan dan bilang, "Sampai ketemu di Klayar ya!" Saya hanya tertawa menganggap itu candaan saja. Tapi ternyata dia benar-benar datang, dengan backpack kecil yang hanya berisi sleeping bag dan hammock. "Saya mau kemah juga di sini." Aha! Malam itu kami habiskan sambil bernostalgia setahun yang lalu, di pantai Kapen, tidur beralasan matras dan beratapkan langit.

Kamu ga lagi sms-an kan? Di sini tak ada sinyal!


Jam 1 dini hari. Hanya tenda kami yang ada di pinggir pantai. Terang purnama membuat bintang tak lagi seksi malam itu.
Beberapa kali saya terbangun, karena kedinginan. Malam itu pantai Klayar sangat dingin. Bukan karena hembusan angin, tapi mungkin memang cuacanya sedang lembab. Api unggun terus menyala menghangatkan kami. Jam lima pagi saya jadwalkan untuk terjaga lebih dulu. Mengejar matahari terbit dari balik bukit. Lagi, kami disuguhi kanvas megah ciptaan-Nya.

Nikmatilah dan syukuri, pagi itu kita masih disapa.


Masih ada pantai di balik bukit. But, don't have clue how to get there.
Saya masih ingin tinggal semalam lagi di sini! Begitu yang terlintas di kepala selama menunggu matahari yang mulai menghangatkan tubuh saya. Baru pukul 7 pagi, kami sudah harus bergegas packing untuk kembali ke Yogya, karena mas Nafik harus menyelesaikan tugas untuk seminarnya. Saya dan Ryan merasa masih ada yang kurang. "15 menit aja ya.. Kita harus kesana!" Sambil menunjuk tebing di sebelah barat pantai Klayar. Sampai di atas sana setelah menaiki beberapa anak tangga, kami berdua lagi takjub.

"If only, we could stay longer.. "


How to get there, Pantai Klayar Pacitan :
Tentu saya prefer menggunakan motor sewaan dari Yogya. Karena berdasarkan pengalaman Ryan, sewa motor di Pacitan itu sulit. Dia bisa sampai ke pantai Klayar karena beruntung dapat sewa ojek seratus ribu untuk bisa sampai Klayar tanpa kepikiran gimana caranya dia balik lagi ke kota Pacitan haha. Jaraknya memang lebih dekat dari Pacitan. Tapi kondisi jalan lebih bagus dari Yogya, lalu lewat Gunung Kidul. Ini rute yang saya lewati, based on my real experience, yang lebih percaya sama petunjuk dari penduduk asli sana. Tugu Yogya - Wonosari - Pracimantoro - Parang Gupito - Klayar. Butuh 3 jam untuk sampai ke Klayar. Dari Parang Gupito menuju Klayar, banyak sekali pantai perawan Pacitan yang bisa kita eksplor selain Klayar. Tapi waktu tak memungkinkan, karena pantai Jongwok di Gunung Kidul sudah memanggil :D

You Might Also Like

8 comments

Subscribe