Featured

A Magical Moment in Taj Mahal

By Niken Andriani - Mar 30, 2020


Mengunjungi salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini bukan menjadi tujuan utama saya jalan-jalan ke India. Tujuan saya sebetulnya ke Kashmir —yang justru batal karena banyak drama, dan menyisipkan Taj Mahal untuk menghabiskan sisa hari setelah dari Kashmir. 

4 Hari Melancong ke Manali, Kota Bersalju di India Utara

By Niken Andriani - Mar 22, 2020


(29 Februari) Kami berangkat dari Delhi pukul sepuluh malam, menunggu di titik jemput bus Holiday Appeal di depan Stasiun Metro Vidhan Sabha exit 3. Bus ini baru saya pesan sejam sebelum take off dari Bandara Soekarno Hatta. Semudah itu memesan bus di India menggunakan aplikasi RedBus, berbanding terbalik dengan pemesanan kereta yang sungguh makan waktu. 

What to eat in South Korea

By Niken Andriani - Aug 14, 2019


Mastakimchi goes to Korea


Into the Forest of Fushimi Inari

By Niken Andriani - Feb 15, 2018



Kami menyusun rencana perjalanan yang cukup lebih rapi di hari ketiga di Kyoto (16/11/2017). Alhamdulillah sudah ngga ada lagi drama nyasar seperti hari sebelumnya. Hari itu kami menjelajah Fushimi Inari, menapaki jejak sejarah Shinsengumi, jalan-jalan di sekitar Gion dan mengakhiri hari di tepi sungai Kamo. 

Hafelekar and The Austrian Alps

By Niken Andriani - Aug 22, 2017


Pelancongan kami di Innsbruck tidak masuk dalam daftar itinerary, jadi saat baru tiba kami benar-benar blank tak tentu arah. Bekal nya hanya dari "pernah baca" postingan salah satu anggota grup Backpacker Dunia, lalu saya mencoba mengontaknya lewat pesan di facebook saat dalam perjalanan dari Munich. Karena tidak ada jawaban, yaudah deh kita pasrah saja besok mau gimana. 

Memperlambat Waktu di Lembah Mosel, Cochem

By Niken Andriani - Nov 8, 2016


Satu tahun yang lalu Mei 2015, saya terdampar di tulisan nya mbak Patricia  deBagpacker saat blogwalking. Sejak itu, saya pasang foto tempat ini jadi wallpaper di ponsel saya. Saat itu saya bertekad, kalau saya ke Jerman saya pasti akan ke tempat ini. Dan jadilah hari itu (17/08/2016) kami benar-benar terdampar di kota kecil, yang kata orang jerman asli, seorang kenalan di jalan, you've come to the cutest town in Germany.

Blusukan ke Pasar-pasar di Eropa

By Niken Andriani - Oct 16, 2016


Pasar. Saya suka sekali pasar. Pasar itu berwarna. Di pasar banyak hal yang bisa kita lihat. Di pasar warga lokal berinteraksi satu sama lain. Di pasar saya menemukan banyak hal.

Menyapa Pagi, Melepas Kangen Bromo

By Niken Andriani - Jul 21, 2016


Malang, kota tercinta. Tempat Bre dilahirkan dan dibesarkan hingga merantau ke Jakarta. Kota yang sekarang menjadi kota yang selalu bikin kangen karena sejuknya dan hangatnya keluarga. Sudah hampir satu tahun kami tidak pulang. Bre yang sudah jadi anak perantauan kembali pulang melepas kangen. Saya pun jadi ikutan kangen juga dengan Bromo.

Camping Ceria: Cerita Bulu Babi Pulau Sepa

By Niken Andriani - Apr 21, 2016



Judulnya harusnya sih Papatheo bukan Sepa, karena dari awal kami (saya dan Nisa) berdua bikin trip kemping ceria, tujuan utama weekend escape kemarin adalah Pulau Papatheo, salah satu pulau pribadi yang terletak di utara Kepulauan Seribu. Setelah coba bernegosiasi dengan si penjaga pulau Papatheo, beliau melarang kami mendirikan tenda di sana karena memang si "empunya" pulau tidak mengijinkan. Kakak Nisa masih mencoba bernegosiasi, saya sendiri sih udah males karena melihat kondisi pulau Papatheo nampaknya kurang keceh. Apalagi dengan banyaknya sampah di bawah dermaga dan juga kondisi pulau yang nampak kurang diperhatikan.

Pulau Papatheo yang digenangi sampah (Courtesy Bang Zuhal)
Beberapa daftar alternatif pulau yang sudah kami siapkan untuk jaga-jaga seandainya ijin kemping di Pulau Papatheo ngga dapet. Ada Pulau Semut, Melinjo, Perak dan Sepa (3 pulau pertama sudah saya jajaki). Setelah meminta petunjuk Pak Wawi, guide sekaligus yang empunya kapal, kami disarankan ke Pulau Sepa, nanti beliau yang akan mengurus ijin. Jadilah kami bertolak ke Pulau Sepa. Dadah Papatheo, gagal deh hammockan di pohon kelapa. 

Dermaga yang panjang di Pulau Sepa. Langsung ngeces pengen nyebur.

Sampai di Pulau Sepa, saya dan Nisa serta Pak Wawi langsung menghampiri bapak-bapak para penjaga pulau. Setelah bernegosiasi kami pun sepakat untuk membayar retribusi kemping sebesar 20.000 per orang. Ijin sudah dapat, siap angkut-angkut barang ke lokasi kemping!

Katanya kemping, kok bawa-bawa nasi box?
Ah~ namanya juga kemping ceria

Pulau Sepa adalah pulau resort, di mana sudah dibangun beberapa cottage yang ada di sebelah barat pulau. Kalau digambarkan dari arah dermaga pulau terbagi dua kanan dan kiri yang diberi pembatas berupa dinding tinggi. Kami diberi ijin untuk berkemah di sebelah timur pulau, yang berarti kami ngga bisa menikmati sunset. Pas kami sampai Pulau Sepa, udah banyak bule-bule bertelanjang dada yang lagi ber-selfie ria di dermaga. 

Kakak Nisa pun ngga mau kalah ama bule-bule tadi. Kumat deh narsisnya.
Setelah beres membangun tenda, kami makan siang bersama-sama sambil bermain. Meledek Andis yang sudah di cap jadi Chef karena dari gosip kakak Chin sih dia jago masak. Chef Andis ngga ikutan kami keliling pulau dan snorkeling, katanya mau jagain tenda sama barang-barang kami sekaligus mencari inspirasi buat makan malam nanti. Kami pun bersiap ganti kostum dan membawa peralatan perang untuk nyebur. 

Leyeh-leyeh sehabis makan siang
Udah ganti kostum, siap-siap nyebur!
Membelah lautan

Saat tiba di spot pertama ada sedikit kecelakaan. Brew yang udah ngga tahan pengen nyemplung, langsung nyebur gitu aja pake gogle. Jatuhlah itu kacamata renang nya ke laut karena lupa dikencengin karetnya. Saat itu kapal kami bersandar di ketinggian 6-7 meter. Kami pun sama-sama mencoba mencarinya di karang-karang. Warna nya yang coklat kehitaman membuat samar dengan warna karang. Setelah kira-kira 5 menit baru deh ditemukan sama Bang Zuhal yang jago nyelem. Masbro ngga sabaran, awas kolor nya jangan lupa di kencengin juga nanti kalau lepas tiba-tiba kan bahaya!

Spot kedua karang yang keceh
Spot pertama sedikit sekali ikannya, engga sampai setengah jam kami langsung pindah ke spot kedua yang ikannya berlimpah. Ngga perlu pake roti, tuh ikan-ikan udah pada ngumpul kayak arisan.

Niken on action!
Udah berapa bulan ya ngga nyemplung
Putri duyung dan dugong


Setelah puas nyemplung sampai 3 spot, kita balik ke Pulau Sepa. Tadinya mau hunting sunset di Pulau Perak tapi akhirnya kita memilih untuk nongkrong-nongkong cantik di dermaga Pulau Sepa. Saya lupa kalau view sunset cuma bisa dinikmati dari area resort. Jadi deh cuma tinggal saya bertiga dengan Brew dan Nisa yang masih jeprat jepret di ujung dermaga. Yang lain pada rebutan mandi dan ada yang udah mulai masak-masak. 


Ngga jadi mau so sweet so sweet -an keburu mataharinya ngumpet dibalik pulau
Matahari pun akhirnya bersembunyi di balik pulau, kami kembali ke lokasi kemah. Bermain di pinggir pantai, memperawani Klymit nya Nisa yang baru dibeli di Indofest kemarin. Mengetesnya langsung buat ngambang-ngambang cantik di pinggir pantai. Ternyata... kurang balance dan memang cocoknya buat alas tidur saja. Payah!

1... 2... 3... Bukannya ngambang malah nyemplung.

Chef Andis dikelilingi para asisten mempersiapkan kayu bakar untuk memanggang

Tidak hanya Chef Andis saja yang sibuk masak, kami semua juga turut membantu. Halima yang sibuk bikin sambel korek, Wiwin, Asih dan Muly yang sibuk bikin scrambble egg dan sup sapo, saya yang sibuk bikin sambel kecap, Agil sibuk manggangin marshmellow, Mpok leli sibuk masak nasi, Ujang, Roy, Arul, Alan, Nando, dan Bang Zuhal yang repot nyari bulu babi dan ngurusin duri-durinya sambil manggang cumi dan ikan bakar, Chintya sibuk ngerecokin Chef Andis, Nisa yang sibuk kesana kemari entah ngapain, dan Brew yang sibuk ngeliatin saya ngiris-ngiris cabe. Dari segala rupa keruwetan memasak kami ternyata menghabiskan waktu sampai dua jam, beginilah hasilnya!

Sebelum dan sesudah makan
Makan malam di Pulau Sepa menurut kami sangatlah glamour. Gimana engga, dibandingkan dengan sehari-hari kami makan, lauk pauk hasil kreasi kami ini lebih istimewa. Ada nasi liwet ala Chef Andis, cumi bakar, kakap bakar dan pepes, sup sapo, omelette, sambal korek dan kecap yang langsung ludes ngga pake itungan menit. Semuanya kelaparan, semua lauknya enak dan kebersamaan yang membuat suasana makin hangat malam itu. Lalu di mana menu bulu babinya?

Bulu babi hasil tangkapan iseng di pinggir pantai berhasil dihabiskan oleh para bujang yang nongkrongin api panggangan. Katanya sih enak, warnanya kuning, yang dimakan itu bagian telornya. Sempat terjadi perdebatan apakah itu beneran telornya atau eeknya. Tapi biar euforia castaway nya semakin berasa jadi ya dimakan aja. Biar keren gitu, "Gue udah makan bulu babi lho."

Hayoo ada yang pegang-pegangan tangan. Romantis banget.
Kenyang makan, kami membereskan lesehan dan bersiap ngopi-ngopi cantik. Sambil main tepok nyamuk sampai perih karena banyak yang mainnya nyusup. Malam pun semakin benderang karena terang bulan. Kelar bosen main kartu, kami duduk di pinggir pantai, menikmati semilir angin laut, suara ombak dan bintang-bintang yang berkelip. Beberapa sudah ada yang terlelap di tenda, Brew tidur nyenyak sampe berbunyi di hammock. Saya dan kakak Nisa episode curcol sambil leyehan di pinggir pantai. Andis ngeliatin bintang jatuh lalu tidur. Ujang, Bang Zuhal, dan Alan yang ngebahas beraneka ragam cerita mulai dari ikan patin sampai ilmu astronomi. Tak terasa mereka baru tidur jam 3an. Malam pun berlalu, kami bangun pagi lebih segar.

Masak-masakan pagi
Akhirnya bisa masang hammock di ranting pohon depan tenda, setelah berkali-kali percobaan jatuh terus

Paling asoy memang hammockan di atas laut. Abis selfi-selfian pohonnya ampir rubuh.

Sehabis sarapan kami berberes packing untuk siap-siap snorkeling lagi sekalian kembali ke Pulau Harapan. Langitpun mulai gelap di pagi hari. Saat kami bersiap masuk kapal di dermaga, hujan pun mulai turun dengan derasnya. Beberapa sepakat untuk langsung kembali ke Pulau Harapan, saya pun berbisik ke Nisa dan Roy dan memutuskan untuk mampir ke Pulau Perak. Kapal bersandar di Pulau Perak. Saya, Brew, Roy dan Nando langsung nyebur. Bang Zuhal yang tadinya cuma ngeliatin aja pun ikut nyemplung juga. Yang lain hanya duduk-duduk saja di kapal sepertinya mulai sebal, tapi dimulai dengan Agil yang naik ke dermaga yang lain akhirnya ikutan keluar juga pakai payung. Pada jajan dan main ayunan di Pulau Perak. Lumayan lama juga kami main di Pulau Perak sampai pukul sepuluh akhirnya kapal kami bertolak ke Pulau Harapan.

Sampai Pulau Harapan, hujan memang berhenti, tapi setelah selesai membereskan barang-barang dari kapal hujan mulai turun lagi dengan derasnya. Ngga cukup basah-basahan di laut, kami basah-basahan lagi di darat. Sebagian pada jajan cilor dan sebagian mandi di rumah Pak Wawi. Kapal besar yang membawa kami kembali ke Jakarta berangkat tepat pukul 12 siang. Ngga pakai delay, langsung cus menuju Jakarta. Hal pertama yang diinget waktu sampai rumah masing-masing dan masih dibahas adalah nasi liwet dan bulu babi. Ah~ bulu babi, itu yang dimakan telur apa eeknya?

Foto kami versi lengkap setelah berberes packing. Kangen bulu babi!
(Courtesy photo by Bang Zuhal)
Notes:
Selain bulu babi, ternyata masih ada cerita  lain yang baru dibahas di group chat, yaitu adanya banyak penampakan "makhluk lain" yang dilihat beberapa diantara kami. Meskipun tidak mengganggu tapi merinding juga karena kemunculannya saat kita asik-asikan main tepok nyamuk. Hanya saja mereka ga mau cerita dan baru dibahas hari ini. Hiiiy~ ternyata bukan cuma kami yang camping di Pulau Sepa.

Hiking Dragon's Back, An Escape from The Hustle and Bustle Hong Kong

By Niken Andriani - Nov 27, 2015

Hiking Dragon's Back & Lying Around Big Wave Bay


Dragon's Back

Setelah packing secukupnya, saya bawa daypack dan Brew bawa carrier (memuat raincoat dan jaket-jaket serta tripod), kami mulai perjalanan di Jumat pagi yang agak mendung itu di McD depan mansion. Hahaha, gegayaan sarapan di McD, ujung-ujungnya cuma beli roti manis karena canggung takut ngga halal dan harganya juga ngga kejangkau buat budget sarapan. Kami mampir ke 7 Eleven untuk membeli On Loan Octopus card yang ternyata mereka tidak menjualnya, mereka hanya menjual Sold Octopus card yang biasanya dibeli para turis. On Loan Octopus card bisa didapat di tiap stasiun MTR. Untuk bedanya check disini aja ya. Dua tiket On Loan Octopus card seharga masing-masing 150HK, dengan deposit 50HK ini bisa digunakan di semua transportasi di HongKong dan juga untuk berbelanja.

Tsim Sha Tsui MTR

Untungnya, Chungking Mansion letaknya dekat sekali dengan stasiun MTR. Cukup jalan kaki dan nyebrang dari depan mansion menuju Tsim Sha Tsui MTR. Pukul setengah 8 pagi, subway MTR ini sudah lumayan ramai lalu-lalang warga HongKong yang akan berangkat kerja dan sekolah. Kami langsung menuju Tsuen Wan line tanpa nyasar, tenang saja, petunjuk arah di dalam subway HongKong sama seperti di Singapura, cukup jelas dan sangat membantu untuk first time visitor.

Booth tempat membeli dan refund Octopus card

Sampai di Shau Kei Wan station, cek itinerary dulu untuk menuju Shau Kei Wan terminus

Dragon's Back terletak di sebelah tenggara Pulau HongKong. Rute untuk menuju Dragon's Back dari KowLoon sangat lah mudah, ada beberapa alternatif diantaranya:

Menggunakan MTR dan Bus
Dari Tsim Sha Tsui station, pilih jalur Tsuen Wan Line menuju Central lalu berhenti di Admiralty station (1 stop), lalu lanjut menggunakan jalur Island Line menuju Chai Wan dan berhenti di Shau Kei Wan station (9 stop). Ngga perlu takut salah turun, di setiap MTR ada map interaktif dan pengeras suara yang mengarahkan setiap pemberhentian di stasiun. Setelah sampai di Shau Kei Wan station, cari jalan keluar menuju Shau Kei Wan terminus, ditunjukan dengan Exit A3.  Dari Shau Kei Wan terminus, kita menuju tempat pemberhentian Bus No. 9. Di sana sudah berjejer antri para penumpang yang akan menuju Big Wave Bay. Perjalanan bus kurang dari setengah jam, kami berhenti di To Tei Wan (11 stop).

Menggunakan Ferry, Tram dan Bus
Menggunakan Ferry menuju Pulau Hongkong dari Tsim Sha Tsui Star Ferry pier yang ada setiap 15 menit sekali. Cek di sini untuk biaya dan jadwal rutenya. Menggunakan Ferry lebih murah dibandingkan dengan MTR. Lalu dilanjutkan dengan menggunakan Tram jalur East Bound dan berhenti di Shau Kei Wan Main Street, lalu menuju Shau Kei Wan terminus untuk menumpang Bus No. 9.

Bus No 102, kami harus berjalan sampai ujung terminal untuk nemuin Bus No. 9

Tentunya karena kami mau ngejar pagi, kami memilih alternatif pertama yang lebih cepat. Alternatif kedua kami rencanakan untuk perjalanan pulang dari Dragon's Back ke KowLoon. Saat naik bus, pilih di bagian atas dan paling depan. Kebanyakan supir di sana ngebut ditambah Shek O Road ini jalanannya kecil, naik turun dan berliku membuat kami serasa naik halilintar di Dufan. Oiya, ini pertama kalinya kami naik bus tingkat! Jadi agak norak dikit gapapa lah ya. Hahaha..

Setelah perjalanan kurang dari satu jam, kami sampai di To Tei Wan stop. Di sini lah kami memulai untuk trekking ke Dragon's Back. Jalur yang kami pilih ini adalah Stage 8 ditambah jalur ke Big Wave Bay. Untuk map nya bisa di download di sini.

Section 8
(sumber: http://hiking.gov.hk/eng/longtrail/hktrail/hktrail/hktrail08.htm) 

Awal perjalanan lima hari yang dimulai dengan hiking ini adalah keputusan yang sangat mendadak. Karena dari awal kami ngga ada niatan ke HongKong, namun karena di Macau sedang ada GrandPrix jadilah kami sampai di sini. Iseng-iseng ceritanya kita ingin mengulang perjalanan trekking puncak Phi Phi tahun kemarin, jadi tahun ini kami mau sampai ke puncak Shek O yang tingginya tidak lebih dari 280 meter diatas permukaan laut.

Penunjuk arah menuju Dragon's Back tepat di To Tei Wan stop

Tai Tam Bay
Baru lima belas menit jalan, udah disuguhin pemandangan asoy begini

Coba ngga mendung yah, pasti bakal jelas banget horizon nya keliatan.
Ini belum sampe Dragon's Back yah, baru seperdelapan perjalanan dari total 8,5 km.

Berenti dulu Broh!
Beberapa kali kami dilewati banyak anak-anak seusia sepuluh sampai dua belas tahun. Mereka bule-bule kecil yang sepertinya trekking itu kayak main-main aja. Sambil kejar-kejaran mereka ngga mau kalah sama yang udah duluan jalan. "Morning.. morning." Begitu tiap kami dilewati. Saya dan Brew tentu saja tidak terburu dan santai menikmati hiking, karena sebelum sampai di puncak Shek-O perjalanan kami disuguhi pemandangan asoy di kiri pesisir Tai Tam Bay dan kanan pesisir Big Wave Bay.

Setelah satu setengah jam trekking, akhirnya kami sampai di puncak Shek O. Angin makin kencang, untuk foto aja tripod kami sampai goyang dan mau ngga mau minta tolong sama bule yang lewat. Oiya, jarang sekali ada turis cina yang Hiking ke Dragon's Back. Kalau pun ada kebanyakan sudah sesepuh, sepertinya mereka warga asli yang sudah berumur, berjalan pelan dan sambil menyetel musik klasik mandarin menggunakan loudspeaker handphone. Sungguh pemandangan yang sangat berbeda sekali dengan hiruk pikuk pusat turis di kota HongKong.



Puncak Shek-O, masih sekitar setengah jam sampai ke Dragon's Back

Setelah Dragon's Back, pemandangan hanya berupa bukit-bukit sampai ke Big Wave Bay

Dari Dragon's Back, di sini lah kesabaran dan kenekatan kami diuji. Dragon's Back adalah sepertiga dari total trail 8,5km. Apakah kami harus kembali ke To Tei Wan, atau lanjut 2/3 perjalanan lagi ke Big Wave Bay? Karena dari Dragon's Back, tidak ada pemandangan sama sekali, yang ada hanya bukit-bukit serta semak-semak, di mana kami mulai masuk ke hutan-hutan. Perjalanan total sampai ke Big Wave Bay yang kami tempuh adalah tiga setengah jam, kalau sesuai dengan data trail diatas kelebihan setengah jam adalah untuk foto-foto dan santai-santai. Setelah sampai di titik akhir trail Dragon's Back, kami sampai di kampung Tai Long Wan. Dari sana, tinggal ikuti jalan menuju pantai Big Wave Bay.

Jalan memotong menuju Pantai Big Wave Bay

Setelah 3,5 jam trekking sampai di sini juga akhirnya!

Pantai Big Wave Bay sudah ramai pengunjung, di dominasi oleh anak-anak SMP dan beberapa turis asing yang melakukan olah raga selancar air. Pantai ini lebih ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang menyukai surfing.

Salah satu safety guard tower di sebelah kanan pantai

Bermain dodge ball

Pantai Big Wave Bay, dan di belakangnya bukit Dragon's Back

Udara dingin, tapi kurang lengkap rasanya kalo ngga makan eskrim di pantai

Leyeh-leyeh di pantai ngelemesin dengkul, setelah menempuh hiking tiga setengah jam. Sembari menikmati desir angin dan deru ombak. Tjieeh.. Hampir setahun kita bro!

Sekarang tanggal 20 November di Big Wave Bay,
3 days to go!