Sehari saja di Labuan Bajo

By Niken Andriani - Apr 22, 2013




Masih tentang cerita petualangan saya di Flores Barat, November 2012 kemarin. Setelah sampai Labuan Bajo, maka petualangan saya berlayar dari Lombok sampai Flores pun berakhir saat senja nampak di balik kapal besar yang sedang berlabuh. Dari kapal, saya terburu langsung menuju dermaga demi mengejar sunset dari atas bukit. Namun, senja pun pergi meninggalkan langit, menyisakan kegelapan yang malam itu membuat saya sedikit kecewa. Kenapa kecewa? Karena saya tidak akan lama berada di Labuan Bajo, hanya satu hari (jadwal penerbangan siang hari yang enggak enak banget!), dan yang nggak akan memungkinkan saya bertemu senja lagi di sini.


Setelah malam hari dihabiskan dengan farewell party bersama teman-teman seperjalanan selama empat hari di laut, saya kembali ke penginapan pada tengah malam dengan kondisi badan yang kelelahan. Ojek yang tadinya saya mau sewa untuk antar jemput ke bukit untuk melihat matahari terbit pun saya batalkan. Dan benar, esok paginya saya terbangun memang agak kesiangan, ditambah dengan incident "amukan kamar mandi" membuat saya   malas keluar pagi-pagi. Tetapi, teman saya Tata, yang baru saya kenal dekat di hari terakhir sailing trip, mencoba menenangkan saya dan mengajak saya jalan-jalan keluar berdua. Lalu kami berdua menyewa motor dan langsung ciao menuju Pasar Labuan Bajo untuk hunting kopi Flores. 

Tata, perempuan kalem dan ramah ini selalu membuat saya terhibur.
Terima kasih, Ta :)

Ternyata untuk menuju pasar pun lokasinya tidak begitu jauh, kita bisa menggunakan jasa ojek yang hanya mengeluarkan kocek lima ribu rupiah saja. Ternyata di pasar, lebih banyak ditemukan penjual kopi Flores yang mentahan. Untuk bisa memperoleh kopi yang fresh kita harus memesan minimal sehari sebelumnya, atau dengan membeli satu merk kopi yang banyak dijual di toko-toko. Dari pasar, kami berdua pun langsung bergegas menuju Goa Batu Cermin dengan modal bertanya dengan orang-orang yang kami temui di jalan. Dan memang ternyata lokasinya pun tidak begitu jauh.  

Pak Roni, guide yang menemani kami menyusuri goa.
Saya tak akan banyak bercerita tentang Goa batu cermin, jadi saya lampirkan saja foto-foto yang bisa saya ambil dengan bantuan lampu senter ini, karena memang di beberapa spot berzona gelap abadi. 




Fosil penyu

Dari foto-foto diatas pun kita bisa melihat bahwa Goa batu cermin adalah sisa peninggalan yang memberi bukti bahwa dulu labuan bajo masih bagian dari laut. Terlihat dari adanya fosil penyu, fosil ikan (foto bersama Tata) dan beberapa batuan stalakmit/ stalagtit yang mirip dengan biota laut. Saya pun sempat diantar Pak Roni ke lokasi yang bisa memunculkan cahaya Tuhan sama seperti ray of light yang ada di Goa Jomblang. Namun dia bilang, hal tersebut sangat jarang sekali muncul. Dia sendiri yang sudah empat tahun jadi guide disana belum pernah bertemu. 

Salah satu batuan yang memunculkan kristal.


Goa batu cermin ini tidak seperti goa-goa lain, di mana kita harus melangkahkan kaki menuju kebawah sehingga posisi kita berada di bawah tanah. Beberapa kali kita harus menaiki anak tangga untuk menyusuri goa ini. Setelah sekitar 2 jam menyusuri goa ini, saya pun pamit dengan rekan-rekan petugas di Goa batu cermin yang membuat saya betah ngobrol di sana. Karena jadwal yang mepet saya, diantar Tata menuju penginapan untuk segera bergegas ke Bandara. Sampai jumpa lagi Labuan Bajo! Ah saya yakin, suatu saat saya pasti mampir ke sini lagi. Mungkin janji untuk minum kopi dengan teman lama yang belum sempat terlaksana. 

#17 Kayu Angin Melintang

By Niken Andriani - Apr 17, 2013


Some people asked me why did I never bored having a vacation to Kepulauan Seribu?
In one month I could go there for three times. Hehehe..
It's just because the destination isn't my goal.
"Our togetherness, laugh and make new friends are."
Pulau Kayu Angin Melintang. Kep Seribu, DKI Jakarta |  13-14 April 2013

Berburu Si Ganteng Naga Terakhir

By Niken Andriani - Apr 12, 2013

Maaf ya ganteng, gak fokus. Motret kamu bikin deg-deg an.
Setelah tiga hari terombang-ambing di laut, lalu pagi, siang dan sore nyemplung, saatnya berwisata safari. Horee..! Kalau anak-anak akan riang diajak bermain ke kebun binatang Ragunan, maka kami para young traveler memilih kebun binatang yang lebih eksotis dari kebun binatang di mana pun. Karena kami akan berjumpa dan bercengkerama dengan naga terakhir di bumi, Komodo. 


Pulau Komodo dan Pulau Rinca adalah salah satu destinasi utama di Flores Barat. Setelah menikmati matahari terbit di hari ke empat sailing trip (18/11/2012), kami sarapan pagi bersama di atas kapal dengan menu pancake sederhana dengan selai nanas dan stroberi. Setelahnya, pelayaran dilanjutkan ke Pulau Komodo. Kami pun sempat melihat dari kejauhan desa di Pulau Komodo yang terletak di tepi pantai. 


Desa di Pulau Komodo yang bermayoritas Islam.
Dermaga di P. Komodo yang baru setengah jadi
Pulau Komodo, dikenal juga sebagai Loh Liang atau tempat pusat wisata dimana para wisatawan dapat melihat langsung satwa reptil terbesar di Pulau Komodo. Beberapa saat lalu di tahun 2011-2012 sempat terjadi gempar tentang new seven wonders untuk satwa ini yang saya sendiri tidak terlalu ambil pusing. Mungkin setelah kejadian itu, ada baiknya karena beberapa tahun terakhir, pulau ini mengalami perkembangan yang maju. Ya tentu harus bagus dong! Karena wisatawan dari seluruh dunia akan datang kemari melihat satwa naga terakhir di bumi yang satu-satunya hanya ada di negara kita ini. Tetapi dibalik itu ada "gerutu" dari beberapa teman saya tentang biaya masuk untuk Kamera DSLR dan pocket kamera sebesar lima puluh ribu rupiah. Hahaha.. 

50 ribu buat foto di sini! Cincay, berpikir positif aja lah buat kemajuan taman nasional ini :)
Kalau nggak mau bayar yaudah motret pake kamera ponsel saja.


Medium Trek, salah satu jalur trekking yang kita pilih. Kami ditemani Alvin, sang Ranger yang bahasa Inggrisnya jago uy! Beberapa kali kami melihat si Ganteng ini berkeliaran. Namun, semakin kamu mendaki justru tak satupun si Ganteng ini menampakkan wajahnya. Pendakian kami pun terhenti sebentar di Sulfurea Hills. Lanskap laut flores terlihat dari atas sana.

Yeah Tom, we didn't take a bath for 4 days yet!
Setelah turun dari Sulfurea Hills, kamu justru menjumpai banyak Komodo yang sedang berleyeh-leyeh di bawah rumah panggung yang kata Alvin adalah dapur. Kami pun berkumpul mengelilinginya, sambil menahan bau menyengat yang katanya bau kotoran Komodo. Saya pun sempat mendekati si Ganteng untuk merekam kedip matanya. Baru dua langkah maju, si Ganteng ini tiba-tiba menoleh ke saya dan... Hup! semuanya kaget lalu saya mundur dengan sigap. Fyuuh. my life shorten by 10 years..

Ngadem ya bang?
Terdapat sebuah cafe kecil di pulau ini yang dirancang untuk para wisatawan yang setelah lelah trekking dapat menikmati minuman dingin yang dijual. Sebenarnya jalur trekking medium tidak begitu panjang. Namun, panasnya matahari dan jarang sekali adanya pohon berwarna hijau membuat saya gerah dan ingin sekali meneguk teh botol dingin. Selain itu, ada beberapa penginapan yang berbentuk rumah panggung (tentu dibuat begitu biar si komodo nya ga sembarangan bisa masuk) yang bisa kita sewa jika ingin mengadakan penelitian di taman nasional ini. Sebelum meninggalkan pulau ini, jalur keluar menuju dermaga pun dirancang sehingga ada pasar kecil yang menjual souvenir si Ganteng.

Dari pulau Komodo, kami langsung ciao ke Pulau Rinca atau Loh Buaya. Tidak terlalu jauh dari Loh Liang. Kata Bang Adi, guide kami, Komodo di Loh Buaya jumlahnya lebih banyak di banding yang ada di Loh Liang. Hoho, apakah lebih ganteng? Kayaknya sama aja sih. Sama-sama menakutkan, takut di caplok tiba-tiba. 

Siap-siap buat trekking lagi. (12 pm. Panasnya gilaa!)
Saya, di sebelah kiri.
Kami memilih jalur medium lagi, karena tak mau berlama-lama dan ingin segera nyebur lagi ke Pantai Merah (-lagi, karena kemarin tak puas berenang di sana). Entah faktor beruntung atau tidak, justru di Loh Buaya kami tidak menjumpai banyak komodo. Dari ranger (saya lupa namanya), kami mendapat cerita neneknya beberapa bulan lalu pernah digigit komodo. Cerita lengkapnya saya lupa lagi, sudah hampir 6 bulan lalu sih, nyesel kan ngga langsung ditulis. Intinya sih dari perjalanan wisata safari demi ketemu si Ganteng ini membuat saya jadi benar-benar keling (hitam legam) dan bangga kalau udah ketemu Komodo. Hmm.. Kapan lagi? Keburu punah kan?

I couldn't be closer anymore!

Di Belakang Supir Bajaj

By Niken Andriani - Apr 10, 2013

Tak penting kemana kita menuju.
Tapi apa yang kita ceritakan di tua nanti.

Free!!

By Niken Andriani - Mar 22, 2013

Anak pulau ini cuma butuh google buat nyemplung.

credit to Edy

Di suatu pagi

By Niken Andriani - Mar 19, 2013











saat membuka mata
matahari menyapa
embun berjatuhan
rumput-rumput bersenandung

Kopi Hitam dan Susu Ovaltine

By Niken Andriani - Mar 18, 2013

Dan tentunya cerita yang kita bagi.
Bandung, 14 Maret 2013

Rindunya lagi

By Niken Andriani - Mar 8, 2013

Rasa itu kau rindu
dan kau inginkan tuk segera tiba
dan kembali bermimpi
hanyut dalam hangatnya pelukan
cahaya, mentari..

dan ingatlah pesan sang surya pada manusia malam itu

tuk mengingatnya di saat dia tak ada.
esok, pasti jumpa..
(Banda neira - kau keluhkan)


Jumpa mentari pagi saat berlayar dari Lombok ke Sumbawa
Saat keluh tiada guna, ingatlah masih ada hari esok :)

#16 Melinjo

By Niken Andriani - Mar 5, 2013

"Salam senja.. Pantai pertamaku di tahun ini."
Pulau Melinjo. Kepulauan Seribu, DKI Jakarta | 2 Maret 2013