Menikmati Passion

By Niken Andriani - Nov 29, 2013

Cara menikmati sore yang bijak.
Tanjung Bira, Bulukumba Sulawesi Selatan


Di pojok ruang, kopi di meja dan seorang teman yang mengajak bicara. Januari lalu, belum genap setahun kami bercerita tentang mimpi-mimpi. Saat yang sama di warung kopi. Membuat daftar resolusi di atas kertas. 

"Gue pengen kerja = passion."

Begitu frustasinya saya waktu itu, soal pekerjaan dan masa depan karena saat itu saya baru tujuh bulan bekerja setelah sempat dua bulan menganggur karena masih ingin menikmati liburan setelah lulus kuliah. Saya pun memintanya meninjau ulang apa yang sudah kami share waktu itu. Bukan, lebih tepatnya apa yang saya citakan. Ia pun bercerita, bagaimana posisi saya saat menuliskan resolusi itu sambil menggebu-gebu, bagaimana selama hampir setahun saya menjalani misinya.  

"Beberapa waktu lalu, lo sendiri bilang kalau kerja = passion berarti lo ga bisa enjoy jalan-jalan. Karena lo harus kerja untuk mencapai target dan harus bisa muasin konsumen lo."

Saya tertawa sendiri mendengarnya jawabannya, karena memang itu yang pernah saya katakan padanya sambil mengeluh. Ya, dulu saya ingin kerja = passion. Saya ingin jalan-jalan sambil kerja, atau kerja sambil jalan-jalan lah. Tapi seiring dengan mencoba menjalaninya, saya pun jadi sering mengeluh. Ternyata kalo hobi aja jadi kerjaan, terus kalo jenuh, hobinya kemana? Malah jadi kebalik. Sejak itu saya pun jadi mulai menikmati bekerja di kantor, nabung, lalu traveling. Yap! Ia bilang, "Lo itu sekarang posisinya, menikmati passion lo. Lo kerja keras, nabung, terus jalan-jalan sepuas hati lo tanpa mikir beban apapun."

Daftar resolusi di kertas sebelas bulan lalu adalah saat di mana saya sedang mengejar passion. Pikiran yang terfokus untuk gimana caranya bisa jalan-jalan gratis sambil kerja, atau malah jalan-jalan biar dapet duit. Pikiran sempit. 

"Traveling kalo dijadiin ajang cari duit ya jadinya ribut." 

Begitu kata Om Farchan, seorang penulis perjalanan yang rajin sekali ngetweet sampai saya akhirnya bisa menemukan kalimatnya yang menohok beberapa traveler yang sedang twitwar. Ribut dalam definisi saya adalah ribut dengan pikiran sendiri. Pikiran saya yang waktu itu benar-benar sempit. 

Sekarang saya tak perlu lagi mengejar passion. Nikmati sajalah. Tak perlu lagi mengejar destinasi. Tiga hari dua malam di satu tempat tanpa berpikir harus kesana, kesini. Tak perlu ngejar sunrise karena hujan masih deras, dan lebih memilih selimut dari pada kamera. Bangun agak siang menunggu langit menjadi biru. Melakukan perjalanan sendiri atau berdua saja, demi bisa memahami apa esensi dari sebuah perjalanan itu.

Saya belum tahu apa yang saya inginkan. 
Saya ingin menikmatinya saja.

Postcards from Malacca

By Niken Andriani - Nov 12, 2013



















Malacca, 21 September 2013

Menyatu Dengan Damainya Kampung Naga

By Niken Andriani - Nov 4, 2013

Langit yang masih menyisakan lembayung fajar dari timur di Kampung Naga.
Kami tiba tepat di depan gapura bertuliskan Kampung Naga pukul 4 pagi, sebelum adzan subuh berkumandang. Langit masih gelap, kami pun berteduh di musholla yang ada di sebrang gapura. Perjalanan selama hampir 5 jam dari Jakarta membuat kami ingin menyelonjorkan kaki. Malam sebelumnya (Jumat 23/08/2013), saya bersama dengan 4 orang teman saya dari Jakarta, janjian di Terminal Kampung Rambutan. Dari info mas Efenerr untuk menuju Kampung Naga dari Jakarta, kami bisa menggunakan bus tujuan Singaparna yaitu bus Karunia Bakti. Jadi kami tak perlu transit di terminal Tarogong jika menggunakan bus tujuan Garut. Bus tujuan Singaparna ini pasti lewat tepat di depan Kampung Naga. 

Setelah langit mulai terang, kami pun memulai petualangan kami pagi itu. Sebelum memasuki Kampung Naga, kami melewati sebuah monumen yang baru saja dibangun. Di atasnya ada tugu Kujang Pusaka. Dari situ kami dihampiri oleh seorang yang mengaku dirinya adalah pemandu lokal. Mang Nteng kami memanggilnya. Tanpa kami bertanya, ia pun menjelaskan bahwa untuk memasuki Kampung Naga sebaiknya ditemani oleh pemandu karena kita tidak bisa sembarangan memasuki wilayah tanpa adanya pengetahuan mengenai adat dan budaya di dalamnya. Memang kampung ini masih sangat menjaga budayanya. Kampung yang dikenal dengan keislamannya yang masih sangat kental.


When was the last time you disappeared?

By Niken Andriani - Sep 12, 2013

Sudah hampir 3 bulan tak menyentuh catatan perjalanan di blog ini. Bukan karena sibuk dengan pekerjaan, tapi karena menyempatkan waktu untuk beromansa dengan perjalanan terkadang membutuhkan saat yang tenang, ditemani segelas kopi dan musik yang membuat pikiran ku mengapung melayang menuju tempat di sana.




when was the last time you disappeared?




Dan pertanyaan ini membuatku tertohok. 
Dari sekian perjalanan, yang terakhir memblusuk di sebuah perkampungan muslim yang masih bertahan asri di tengah hiruk pikuk kota. Membuat ku mengingat kembali, perjalanan-perjalananku dahulu. Di mana ruang dan waktu tak lagi ku perduli. Menghirup udara dari semilir angin yang ditiup oleh anai, menyapa senyum pagi dari mereka, menikmati segelas teh hangat di dapur yang mengebulkan asap dari nasi yang tanak, mendengarkan alunan nada dari salah seorang seniman pembuat seruling, belajar menggunakan penumbuk beras, mendengarkan sejarah dan cerita, dan mencoba menyatu dengan mereka.

Sebuah pagi di Kampung Naga, Garut

when was the last time you disappeared?
from the life in the concrete jungles call cities,
from everyday conversations that have long repetitive,
and the rest of those regular scenes?

when was the last time you really had enough time to sense any of these?
the scent of the beach
the morning dew under your bare feet
the sunset hues
the orchestration of the nature?

when was the last time you floated across the line, over those walls,

and lost your sense of time?

why not now?

- float2nature

#18 Pari

By Niken Andriani - Jun 17, 2013


Finally, I could touch this island again after one year waiting for the sunset.
Pulau Pari. Kep Seribu, DKI Jakarta |  16 Maret 2013

Pemenang Turnamen Foto Perjalanan Ronde 22: Matahari


Sungguh sulit untuk memilih foto-foto yang sudah diunggah para travel blogger. Namun, sebagai host ronde 22 ini saya berkewajiban untuk menentukan pemenang. Jumlah yang terkumpul sebenarnya masih kurang banyak. Saya sendiri yakin, setiap pejalan pasti menemukan matahari di setiap perjalanannya. Hanya saja, beberapa yang bisa beruntung bertemu dengan magic atau golden hour. Karena hanya di saat itulah kita bisa merekam keanggunan matahari. Kriteria yang saya jadikan acuan untuk memilih pemenang sebenarnya simple saja, tentunya yang berhubungan dengan tema. Dan yang menurut saya paling menunjukan tema matahari yang intim sekali dengan perjalanan adalah foto The Emak! Jujur saja setiap melihat fotonya, saya menjadi rindu dengan perjalanan, dan merindukan setiap matahari yang saya temui di pagi hari. Ketika di rumah saya malas sekali untuk bangun pagi, maka di rumah kedua saya (*tenda) saya akan rela bangun pukul 5 pagi, tentu untuk bercumbu dengan matahari!


Selamat untuk The Emak, untuk menjadi host ronde berikutnya. Terima kasih untuk para travel blogger yang sudah menggunggah foto-foto mataharinya. Ditunggu ronde berikutnya!

Ombak kerinduan

By Niken Andriani - Jun 12, 2013

Salam rindumu untukku lewat ombak dari pulau dewata telah sampai ke sini sayang..
Jarak pun berlalu.

Senja kala itu

By Niken Andriani - Jun 6, 2013

Seperti kerinduan akan senja yang tak pernah sama,
Jogja selalu membuatku rindu. (26 Mei 2013)

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 22: Matahari

By Niken Andriani - Jun 1, 2013


Halo! Temu kembali di turnamen foto perjalanan yang kali ini udah masuk ronde 22! dan saya menjadi tumbal (eh tuan rumah) untuk ronde ini. Awalnya sempat bingung, sejak ronde 5 mulai gak ngikutin lagi karena sibuk aktivitas di kantor dan tentunya traveling sendiri hingga mulai jarang up-to-date. Sekalinya mulai nguplod eh kepilih, thanks @pergidulu yg memilih foto seorang bapak yang sedang berangkat kerja ini buat jadi pemenang di tema jalanan. Jadi hampir seminggu saya ngilang dulu buat semedi di Goa nyari tema yang asik buat ronde 22 ini. Ada beberapa tema yang sempat jadi masukan, dari tentang strangers, self potrait dan ray of lights. Namun akhirnya saya memutuskan satu tema yang semoga selalu menjadi teman setia perjalanan kita, yang selalu dipuja kehadirannya, Matahari!



Mentari, matahari, sang surya. Ia sumber energi, penerang jalan, dan penunjuk bahwa hari masih ada. Ia memiliki banyak cerita di setiap kehadirannya. Menerangi tiap langkah yang kau jalani. Ia pun tidak hanya melulu tentang sunrise dan sunset. Ia berjaga bergantian dengan malam. Menunjukkan adanya kehidupan. 

Bagi para pejalan, matahari selalu menjadi idola. Lihat saja, jika langit mulai gelap, matahari bersembunyi, mungkin pertanda akan turun hujan, sebagian dari kita pasti jadi malas keluar. Padahal keluar dari rumah, adalah langkah awal dari perjalanan yang akan kita lalui. Para pemuja senja dan fajar selalu menanti waktu dengan sabar demi bertemu dengannya. Para travel fotografer selalu menyebut-nyebut matahari sebagai model tercantik yang ada di dunia. Para pendaki gunung, rela mendaki berkejaran dengan waktu demi bisa menikmati semburat cahaya pagi dari puncak. 


Setiap pejalan pasti memiliki interpretasi yang berbeda tentang matahari. Mungkin seperti mengejar cita-cita, menemani setiap langkah, dan melihat dunia. Jadi, mari berbagi ceritamu dengan matahari yang ada di setiap perjalananmu!