Reuni URAL 28 Lintas Dekade

By Niken Andriani - Sep 23, 2015

3 Decades and still counting ...

Courtesy Herman Setiawan via Facebook

Indonesia Raya, Merdeka Merdeka
Tanah ku, negeri ku yang ku cinta
Indonesia Raya, Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Kami semua, para peserta dan undangan reuni berdiri sambil menyanyikan lagu kebangsaan karya WR Supratman ini dengan syahdu membentangkan rasa nasionalisme yang tinggi. Acara yang baru saja di mulai pukul setengah satu siang di aula gedung LPMP Tanjung Barat ini membuat semarak acara kumpul lintas dekade yang dihadiri lebih dari 300 orang. Kemudian dilanjutkan dengan hymne URAL yang kami nyanyikan bersama diiringi dengan parade drumband menjadikan acara reuni sekaligus hari ulang tahun ini semakin meriah.


Pagi menjelang siang itu, menggunakan dresscode biru muda saya dan Hesti menghampiri sebuah artifisial gapura batu bata yang bertuliskan "Basecamp URAL" di gedung LPMP Tanjung Barat. URAL adalah kegiatan ekstrakurikuler pecinta alam yang saya ikuti sembilan tahun silam di SMA 28 Jakarta. Sepertinya, niat yang udah dimantapkan buat datang ke acara reuni dari berminggu-minggu sebelumnya terbayar. Dekorasi unik, susunan acara yang well prepared, tentunya para undangan dan peserta serta alumni yang lucu-lucu dan luar biasa awesome

Sebelum dimulainya acara inti, dari pukul sepuluh hingga dua belas siang acara bebas. Setelah bertahun-tahun ngga ketemu tentunya kami tiap angkatan sibuk berkumpul masing-masing melepas kangen. Dari tema acara "Temu Kangen Lintas Dekade dan HUT URAL 28" pastinya kami semua langsung melepas kangen, diawali dengan salam tangan khas URAL dan saling berpelukan. Lalu video testimoni masing-masing angkatan dengan papan tag nama angkatan serta foto-foto kece di photobooth yang udah disediakan sama panitia.

Diny sambil ngemil snack berfoto di depan kue ulang tahun
persembahan dari Marsa Tuti angkatan LC (Lereng Cikarai)
Parade URAL Jaya
Saya crop dari video yang diminta khusus sama Diny karena dia ikutan parade.
Para alumni yang masih tetap saja lucu, ada yang berteriak "PUSH UP!" membuat acara reuni ini sangat seru. Tiada henti-hentinya kami tertawa apalagi dengan MC nya yang super gokil entah panitianya nemuin dimana. Setelah parade, ada sambutan gagah dari senior angkatan ke-33 Tirta Baswara. Lalu sambutan dari mantan Kepala Sekolah serta penyerahan piagam pada pembina dan para mantan pembina URAL. Acara terus berlanjut mulai dari pengukuhan komandan angkatan ke-34 Wihaya Ananta sampai perayaan bersama hari ulang tahun ural ke-34.

Tiup lilin dan potong kue oleh Komandan Angkatan ke-34
Mantan Kepala Sekolah, Pembina URAL dan para mantan pembina berada di atas panggung
Reuni Akbar belum lengkap tanpa adanya penayangan video keren yang udah disiapin panitia. Selama lebih dari sepuluh menit kami menatap layar proyektor. Terharu dan juga tersipu karena selain menampilkan sejarah dan proses panjang kegiatan URAL, juga ditampilkan foto-foto lama kami mulai dari angkatan 1982 hingga saat ini. Begitu juga penayangan video dari para alumni yang tidak bisa hadir karena berada di luar Jakarta dan Indonesia. Selain itu, ditayangkan juga In Memoriam para alumni yang sudah tiada. 

Di akhir acara kami disuguhi penampilan lagu 90an dari Sigit Wardana, mantan personil Base Jam, menambah keseruan acara reuni meskipun beberapa alumni angkatan tua mulai bubar keluar gedung karena hari semakin sore. Hal tersebut tidak membuat kami keki, sisa peserta acara maju beramai-ramai menari dan menyanyi bersama membentuk kereta-keretaan, Kak Arifin dari angkatan KP pun ikutan. Menambah lagi satu memori yang akan diceritakan lagi di reuni selanjutnya.

Atas: nyanyi bareng didepan panggung
Kiri bawah: Satria lagi pake baju diksar 9 tahun lalu
Kanan Bawah: Makan siang rame-rame
Seru-seruan bareng Sigit Base Jam
Dan kumpulan foto-foto angkatan saya angkatan ke-25 JR Jalasthana Ranamandala.

After video testimonial
Seru-seruan di photobooth
Jacko, Jrongot, Jabu, Bloso dan Ipay
Semua nama pemberian senior dan alumni yang diberikan setelah Pendidikan Dasar di Gunung Perbakti.

Acara ini luar biasa membuat kami kagum. Tidak hanya gelak tawa dan rasa haru yang kami rasakan, tetapi juga rasa bersyukurnya bisa kembali berkumpul dengan teman-teman lama dan para senior serta alumni yang dulu pernah "menggojlok" kami. Tabah Sampai Akhir, begitu semboyan dari URAL yang selalu ditanamkan. Membentuk kami menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Seperti kata Kak Herman Setiawan salah satu pembentuk URAL, yaitu Kekuatan, Ketabahan, Kecerdasan serta Kemandirian



Saya sangat bersyukur bertemu dengan URAL. Sembilan tahun silam, kami ditempa dengan latihan fisik dan didikan di alam bebas membuat kami bisa menjalankan hidup dengan pantang menyerah. Banyak sekali pelajaran yang dapat kami rasakan hingga saat ini. URAL telah membawa saya ke tempat-tempat yang jauh. Gairah untuk melanglang buana ke dunia luas.

Thanks for the great memories and the lessons how to enjoy and survive the world.

JALESVEVA BHUANA SAMATA
URAL JAYA!!!

#26 Pulau Kelor

By Niken Andriani - Sep 16, 2015

Enjoy a weekend escape in the metro city
Pulau Kelor, Kep Seribu, Jakarta | 30 Maret 2014

Camping Ceria: Piknik Asik Gunung Pancar

By Niken Andriani - Sep 15, 2015

Kanan kiri hammock, mengapit tenda cinta ku yang unyu ^.^

Terakhir trip sama doi itu pas mudik ke kampung halaman di Malang. Terbang tinggi di atas Kota Batu sambil kulineran baso-basoan di Malang. Setelah nge-cek postingan di blog ternyata itupun trip terakhir di bulan Juli. Hampir dua bulan nggak kemana-mana, tiap weekend pun kami ngabisin waktu di rumah ngerjain proyek (programmers have no life). Rasanya kepala ini mau meledak, lagi butuh banget jalan-jalan. Kalo bahasa jerman nyebutnya fernweh -haus banget ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungin. Rencananya mau naik Gunung Papandayan tapi ternyata oh ternyata gunungnya baru kebakaran, hiks. 

Ngga pusing mikirin soal destinasi, keingetan dulu pernah punya rencana ke Gunung Pancar. Gara-gara berita kekinian pernikahan salah satu seleb di Indonesia yang diadain di hutan pinus di Lembang Bandung. Nah, di Bogor ternyata punya juga hutan pinus yang kece. Berangkatlah kami berempat setelah nego sana sini susah banget ngajakin temen, kebanyakan alasannya karena saya bawa pacar. Padahal bawa pacar ga bawa pacar, niken tetaplah niken. Selalu ceria di mana pun ia berada. Hahahaha... Ejie dan Roy sepakat ikut an setelah nego lama nunggu Ejie yang lagi super sibuk sama kerjaannya.

Sabtu sore pukul 3, menggunakan kendaraan roda dua, kami janjian ketemu di pertigaan Simpang Depok Jalan Raya Bogor. Saya dan Brew udah sampe duluan, dan ternyata si Roy masih di Kampung Rambutan nungguin Ejie. Daripada nungguin jadilah saya dan Brew duluan jalan dan janjian lagi di perempatan Jungle Land. Ketemu di sana sudah pukul 6 sore. Lama juga ya, lah wong kami berdua berhenti-berhenti terus leha-leha nyari minuman dingin sembari nunggu Roy dan Ejie. Dari perempatan Jungle Land, jarak ke Gunung Pancar tinggal 1,5km lagi sih. Dan kami sampai di lokasi langit udah gelap.

Glamping a.k.a. Glamour Camping bersebelahan dengan tenda kami

Sampai di loket Taman Wisata Alam Gunung Pancar atau TWAGP, kami dikenakan tarif masuk 5000 rupiah per orang dan 5000 rupiah per motor. Sebelumnya saya sudah bertanya soal kemah di sana, tapi sepertinya petugas dan satpam penjaga di gerbang loket tidak begitu tahu soal itu dan kami disuruh langsung ke kantor pengelola yang berada di samping kiri gerbang loket. Biaya masuk ini kata si petugas sih biaya masuk yang dibebankan dari Dinas Kehutanan. Kami membayar 30 ribu rupiah tapi kami tidak diberi tiket. Weleeh.. ada konspirasi apa ini. Saya udah terbiasa masuk-masuk ke tempat wisata dengan tiket, karena kalo kita bayar dan ngga dikasih tiket berarti bisa jadi uangnya masuk ke kantong pribadi. Maka kami dengan kekeuh minta lembar tiket. Karena alasannya tiketnya habis, yasudah deh dengan rela kita kasih dan langsung ke kantor pengelola. 

TWAGP ini ternyata dikelola oleh PT Wana Wisata Indah. Kami bertemu dengan mbak-mbak model kantoran dan tanpa basa-basi kami diberitahu soal lokasi kemah yang sudah penuh. Ada satu ground yang kosong namun lokasinya di bawah, tepat sebelum gerbang loket TWAGP. Yaudahlah, udah jauh-jauh kesini juga. Tiap peserta dikenakan charge untuk berkemah sebesar 50 ribu rupiah. Eh ternyata lebih murah dibanding info yang saya peroleh di internet. Terus saat kita mau dianter ke lokasi, kami pun mengadukan soal lembar tiket yang tadi ngga dikasih petugas. Tahu-tahu uang kami yang tadi dikembalikan sama si mbaknya. Waah... rejeki anak sholeh. Hehehe.. Sebelum ke lokasi kami pun menuju ke atas nyari warung makan yang ternyata banyak berjejeran di gerbang masuk Sumber Air Panas TWAGP. Lalu kami kembali ke lokasi ground bawah yang ternyata kosong melompong ngga ada yang berkemah di sana. Ejie pun khawatir dan kami kembali ke atas sambil berharap nyari lokasi lain yang lebih rame. 

Kami bertemu dengan A' xxx yang bekerja di bagian marketing PT Wana Wisata. Ia dengan senang hati mengantarkan kami ke Ground A yang berada di paling atas sebelum gerbang masuk sumber air panas. Acara yang ada di Ground A sudah selesai, jadi di sana tinggal sampah-sampah aja. Sampai sana kami urung banget, dan memutuskan untuk kemah di lokasi Glamour Camping atau singkatnya Glamping.  Setidaknya di sana bukan lapang luas tapi sudah terpetak-petak dan kelilingi pepohonan pinus. Lebih asik dan rumputnya lebih hijau. Setelah dapat tempat yang asik, kami baru mulai nenda jam setengah sembilan malam!

Selamat pagi semesta!

Kebanyakan drama sepertinya malam minggu itu. Setelah tenda dan hammock terpasang sempurna, kami menghabiskan malam di atas extra flysheet yang saya jadikan tikar sambil gegitaran dan bercerita, sambil ngopi dan ngeteh. Bangun pagi kami disambut mentari pagi yang cerah. Kami pun menggelar tikar di pinggir ground camping tepat di sebelah jurang sehingga pemandangan matahari yang muncul dari balik bukit dapat langsung kami nikmati.

Terpesona melihat tupai yang berlarian di dahan pohon pinus


Brew mulai mengeluarkan peralatan perang buat masak. Saya ngeluarin kamera. Hahaha.. Dari awal sebelum berangkat waktu ke pusat perbelanjaan nyari logistik, saya udah bilang ke doi ngga ada niatan masak-masakan. Pengennya piknik beneran tinggal makan sambil jepret-jepret. Tapi doi kekeuh pengen banget bikin pancake. Jadilah saya bawain pancake instan tambah susu cair dan telur mentah. Ternyata doi buktiin bisa masak sendiri, mulai dari adonan sampe bisa di makan! Lain kali gue bawain yang agak rumit yah, hahaha.. 

Yang kekeuh pengen bikin pancake sendiri.
Percobaan pertama agak gosong hahaha..
Hasil kreasi Bang Roy setelah bikin pancake berbentuk kecil-kecil kayak kue cubit


Bang Roy pun meneruskan masak-memasaknya dan saya mengajak pacar mainan di Banana, hammock berwarna kuning kayak pisang kesukaannya si Stuart Minion. "Hoaah dua hari nggak megang laptop rasanya... ". Begitu desahnya sambil senyum sumringah melihat ke atas, dahan-dahan pinus dan langit, dan lalu langsung tertidur. Pagi kami habiskan dengan makan-makan dan foto-foto. Ngga cuma pancake, ada mie goreng, mie kuah dan buah-buahan lengkap deh pikniknya.  Di tambah suara saxophone memenuhi ruang diantara pepohonan menambah syahdu suasana. Sepertinya lagi ada sesi foto sebuah band jazz yang dekat dari lokasi kemah kami.


Sleep on banana


"Ken foto tapi perut gue ga keliatan gendut ya."
Seriously baru pertama kali cowo bilang gitu ke gue, biasanya cewe hahaha..

Ejie lagi hammockan kelelawar style, di kebun belakang rumah


Tripod ku kepake!
Itu yg dibawah tidur beneran sambil ngemut jempol

Cerita piknik asik di Gunung Pancar usai sudah, sekitar jam 10 pagi kami lanjutkan perjalanan ke Leuwi Hejo tapi nyasar sampai ke rumah! Di ujung jalan sekitar 15 menit sebelum sampai Leuwi Hejo saya putuskan kembali ke rumah saja, karena kondisi jalan ke Leuwi Hejo sangat parah kami sampai harus turun dari motor dan jalan kaki. Lagi pula dengan banyaknya para pelancong yang memenuhi jalan udah bisa ditebak bakal sepenuh apa itu kolam ijo. Di perjalanan kembali, kami mampir makan bakso dan minum es teh. Lebatnya pepohonan pinus di Gunung Pancar memberi cerita manis dan tawa untuk dibawa pulang ke rumah. Weekend gateway September ini berhasil!




How to get there

Menggunakan roda dua, cari lah Jalan Raya Bogor. Dari arah kampung rambutan lurus saja sampai ketemu pertigaan alternatif Sentul belok kiri. Dari sana lurus saja sampai ketemu flyover jalan tol ambil ke arah Sirkuit Sentul. Di pertigaan Sirkuit Sentul ambil kanan menuju Babakan Madang. Ikuti arah menuju Jungle Land. Sampai di pertigaan Hotel Harris, ambil kiri. Terus ikuti (Jalan Sumur Batu )sampai ketemu perempatan Jungle Land. Ambil lurus ke arah curug (Jalan Uli). Jika ketemu pertigaan lagi berbentuk Y, ambil kanan ke arah TWAGP. Perjalanan menghabiskan waktu kira-kira 1,5 jam dari Kampung Rambutan kalau ngga macet.

Catat nih! Perlengkapan Yang Harus Dibawa Saat Berkemah

By Niken Andriani - Sep 14, 2015

Perlengkapan Kemah

Menyiapkan perlengkapan yang harus dibawa sebelum melakukan perjalanan atau singkatnya packing, menjadi hal yang wajib dilakukan para pejalan mandiri. Kenapa sih packing perlu banget? Tentunya untuk mempermudah perjalanan itu sendiri, karena bagi pejalan mandiri pastinya banyak barang-barang yang ia butuhkan saat di perjalanan. Beda mungkin kalau jalan-jalannya bertema luxurious yang semuanya sudah disiapin sama agen travel jadi kita cuma tinggal bawa diri aja sama duit! Hahaha.. Packing bagi saya adalah semacam ritual wajib yang menyenangkan. Karena packing aja tuh udah bikin deg deg an, sampe kadang diiringi sama perut mules saking excited nya mau jalan-jalan. 

Ada 5 barang yang ngga boleh ketinggalan banget kemanapun saya pergi:

Dompet
Ipod
Air minum
Pocket camera
Payung

Kok ponsel ngga masuk sih? Waktu itu ponsel belum begitu membantu buat perjalanan, kalaupun nyasar masih bisa nanya orang di jalan beda sama sekarang di mana ponsel udah punya teknologi GPS. Dulu, meskipun ponsel ketinggalan di rumah, rasa bersalah nya ngga melebihi ketinggalan ipod. Hehehe.. 

Perlengkapan untuk perjalanan, keliling kota, melaut, naik gunung dan kemah ini agak berbeda, di mana kalo kemah barang-barang yang dibawa lebih banyak dan agak ngerepotin. Namanya juga kemah, yang berarti rumah kedua saya. Namun pada dasarnya sama saja tergantung di destinasi nya nanti mau ngapain dan bagaimana akomodasinya. Nah pas sekali kemaren baru aja kemah di Gunung Pancar, sebelum berangkat sempetin ngejepret perlengkapan yang saya dan suami bawa. 

Saya dan suami udah mulai nyicil alat kemah sejak jaman masih jomblo dulu. Jadi sekarang tinggal gabungin dan lumayan lengkap, ngga perlu lagi sewa. Dulu masih jaman kuliah, tiap mau kemah pasti meluncur dulu ke Cikutra buat sewa alat. Saya punya semacam checklist yang jadi acuan packing saat mau jalan-jalan. Biar packing nya ngga ribet dan berantakan, serta mempermudah dan mempercepat proses packing. Sebenarnya saya nulis artikel ini karena catatan perlengkapan saya udah mulai robek-robek dan kayaknya harus diperbaharui.

Catatan kayak gini itu perlu banget,
jangan sampe kejadian frame tenda ketinggalan keulang lagi! Hahaaha

Berikut perlengkapan yang biasanya kami bawa:
  • Tenda
  • Flysheet
  • Matras
  • Sleeping Bag
  • Rain coat
  • Hammock
  • Kompor lipat + alat masak
  • Headlamp 
  • Drybag
  • P3K dan Obat-obatan
  • Toiletries + Handuk
  • Baju seperlunya
  • Jaket
  • Mukena dan sarung
  • Topi & Sarung Bali
  • Camera + Tripod
  • Ipod
  • Gitar
  • Ponsel
  • Food supplies

Tips packing:

1. Sebelum memasukan barang ke dalam tas, sebaiknya perlengkapan dikumpulkan dahulu lalu lakukan checklist barang. Sehingga bisa memperkirakan barang-barang yang kurang penting untuk dibawa dan tidak ada lagi barang-barang yang nyempil karena tidak ada di checklist.
2. Gunakan pouch dari bahan semiplastik atau kain sehingga mempermudah mengumpulkan barang-barang yang berukuran kecil. Bisa juga dengan plastik belanja. 
3. Untuk toiletries, saya punya "barang kedua" yang berukuran kecil dimana kita ngga perlu lagi mengambil alat-alat mandi di kamar mandi. Semua dalam ukuran kecil dan tiap pulang traveling saya isi ulang. Menyiapkan alat-alat mandi ini kadang makan waktu lama. Jadi siapin aja toiltries yang udah siap dibawa kapanpun. 
4. Ganti nesting dengan ultralight kitchen ware. Sekarang udah banyak beredar alat masak yang harganya ngga jauh beda sama nesting. Gunakanlah yang ringan, jadi mempermudah saat kita melakukan perjalanan.
5. Untuk perjalanan yang makan waktu lama sebaiknya lakukan packing sehari sebelum berangkat, jadi kalau ada barang yang belum ada bisa pinjem dulu ke temen atau beli di alfamart :p

Udah siap?

Semua barang yang tadi dipacking, dibongkar dan jadi rumah kedua!
@ Gunung Papandayan, 2012



Keranjingan Foto di Museum Angkut

By Niken Andriani - Aug 25, 2015


Ceritanya nemenin adek ikut ujian mandiri di Universitas Brawijaya (yang akhirnya membuahkan hasil keterima, Alhamdulillah). Ceritanya mudik sekalian juga nemenin si adek jalan-jalan di Malang. Jujur aja udah puas banget hampir dua minggu di Malang, dari naik gunung, turun gunung ke kota, sampai ke pantai. Dari cwie mie, baso mercon, susu murni sampai roti maryam. Karena di hari-hari terakhir tinggal berdua sama si adek, setelah jam ujian kelar, tercetuslah ke Museum Angkut yang lokasinya tidak begitu jauh dari kampus Unibraw. 

Memori kamera cuma dua giga, udah sengaja dikosongin karena dari info Tante nya si doi yang emang hobi jalan-jalan kalau ke Museum Angkut siapin kamera sama memori gede. Di postingan ini saya bakal ekspos foto-foto selfie untuk menghibur diri saat baca-baca lagi tulisan dan foto-foto sendiri. Lebih tepatnya bakalan lebih banyak foto dari pada tulisan sih. Hahahaha.. Sebagai pembuka foto berikut adalah hasil kelelahan dari pagi kena macet dan kepenatan si adek setelah enam bulan intensif belajar dan kurang piknik.


"Tolong mbak kepala nya jangan miring." Kata petugas kelurahan.

Setelah kekenyangan makan di Bakso Damas, kami langsung bergegas menuju Batu. Jam menunjukan pukul 1 siang, matahari sedang begitu cerahnya. Menggunakan sepeda motor kira-kira setengah jam lewat jalur alternatif belakang kampus UMM. Meski terik, namun tidak begitu terasa karena udara sejuk Malang, salah satu yang bikin si adek pengen banget kuliah di sana. Untuk lokasi parkir, dari manajemen Museum Angkut sudah menyediakan parkir resmi yang tarifnya hanya dua ribu rupiah saja. Dari sana, kami langsung di suguhi banyak warung-warung makan yang ada diatas air!

Gerbang Pasar Apung, lebih kece dibanding bagian depan Museum Angkutnya sendiri

Pasar apung adalah salah satu objek di Museum Angkut yang biaya masuknya gratis. Dari lokasi parkir, pasar apung menjadi lintas masuk menuju Museum Angkut. 

Cuma di Pasar Apung si adek nggak mau narsis, katanya phobia air warna hijau

Si bro lagi di Jakarta, jadi fotonya sendiri ajah!


Dari Pasar Apung, kami langsung menuju loket untuk membeli tiket. Berhubung weekday jadi kami tidak perlu mengantri panjang. Setelah itu, kami tidak bisa berkata-kata lagi. Jeprat-jepret gaya ini gaya itu.. Tralalalala.. 

Udah cucok lah jd model foto


 Ahaai, sampe jogja bisa berubah jadi betis tukang becak


Foto-foto preweding di sini asik juga kali


Setelah merasa aneh dengan poster mbak-mbak dan mas-mas di pojok kanan,
baru ngeh pas diliat difoto kayak beneran di kantor pos


Watch out! Satenya gosong!


Capek motoin si Adek, foto di kaca yuk


"HELP MEEEE!"
Jalanan di Amerika jaman dulu
Asik ih kayak di manaaa gitu..


Abis dari Amerika belok Eropa!


Haa haa haa .. *Capek bikin caption


Mbak, mbak.. Kalau ngga beli jangan duduk situ.
Tempat ini sebenernya beneran cafe di dalam Museum Angkut

Aduh adeknya aja cantik gimana kakaknya
Gedubrak praaang brak!

Di beberapa spot dibuat ala Universal Studio, tiap bagian dari objek Museum Angkut merepresentasinkan beberapa belahan dunia seperti Eropa, Amerika, Inggris, China Town, Batavia dan Las Vegas. Tiap objek memiliki keunikan tersendiri, begitu juga dengan spot makan yang di design seperti di luar negeri. Ada yang indoor dan outdoor. Meskipun outdoor, karena lokasi Museum Angkut berada diatas gunung, jadi tetaplah adem. Ngga bikin keringetan dan makin keranjingan foto.

Dan ini foto terakhir sebagai perwujudan bukti nyata kelelahan si adek setelah berbulan-bulan gak kemana-mana, dan sempat sendirian di rumah ditinggal mudik sekeluarga selama seminggu. Kasian!

Melepas lelah di pangkuan Ibu Ratu Elizabeth. Kapan lagi coba?

For your information
Tarif tiket masuk per orang : Rp 60.000 (Weekday) Rp 75.000 (Weekend)
Tarif kamera (SLR/gopro/pocket) : Rp 30.000

#25 Ungapan

By Niken Andriani - Aug 13, 2015

First time left footprints in his hometown beach
Ungapan Beach, Malang, East Java Indonesia | July 25th 2015

Omah Kayu, Not Just TreeHouse

By Niken Andriani - Jul 23, 2015



Setelah puas menikmati terbang tandem di atas Kota Batu, waktu sore kami habiskan di pepohonan rindang tepat di sebelah kiri dari lokasi paralayang. Omah Kayu, salah satu objek wisata yang kini mulai diramaikan oleh para turis lokal. Para sepupu ipar udah ngga sabar menuju ke sana, karena dari awal niat mereka memang ke Omah Kayu, bukan paralayang yang ngelihatnya aja bikin merinding. Katanya sih pengen foto-foto mumpung langit masih terang, lalu sambil menunggu senja sampai gelap sehingga Kota Batu terlihat seperti hamparan bintang-bintang di langit.

Salah satu spot di Omah Kayu yang hanya berupa gazebo


Lagi-lagi karena hari itu masih dalam masa liburan panjang lebaran, semua objek wisata jadi penuh. Setelah masuk melalui lorong kecil untuk membayar tiket yang di design unik dengan kayu-kayu, kami berjalan ke bawah menuju pepohonan pinus yang sudah ramai. Sulit sekali kami untuk bisa masuk ke salah satu pondokan, karena semua penuh dan sudah banyak yang mengantri.



Omah Kayu pada awalnya merupakan tempat peristirahatan yang dirancang dengan konsep back to nature. Tiap kamar merupakan satu pondokan kecil yang dibangun di setiap pohon yang tumbuh dekat tebing. Sehingga hanya diperlukan jembatan kecil atau anak tangga untuk menghubungkan jalan setapak dengan pondokan. Setiap pondokan dilengkapi dengan area balkon yang luasnya lebih lebar dibandingkan kamar tidurnya sendiri. Untuk kamar mandi hanya ada di satu spot di tengah-tengah area dan jumlahnya hanya ada 2. Letak pondokan berbeda-beda level ketinggiannya sehingga privasinya lebih terasa. Satu lagi yang bikin beda dengan rumah-rumah kayu biasa adalah, lokasinya yang berada di tebing tinggi sehingga view dari setiap pondokan adalah lanskap Kota Batu yang bikin mata segerrr..



Tampak samping jalan setapak, pepohonan dan pondokan

Saat ini Omah Kayu fungsinya sudah berubah menjadi tempat umum yang bisa saja dikunjungi oleh siapa saja. Hal itu dikarenakan sepinya pengunjung penginapan yang menganggap tarif per pondokan mahal. Jadi lah Omah Kayu jadi tempat wisata yang umumnya digunakan para turis lokal untuk berfoto-foto di depan rumah dan balkon kayu dengan atau dengan latar Kota Batu.


(Kiri - kanan)
Wulan, Ayu dan Fatin yang ngga bs lepas dari smartphone, tapi selalu siap kalo di foto
Gambar tepat di depan kamar yg berbentuk seperti tenda



Karena kita anti mainstream, kita pasca wedding aja yah!


Untuk bisa menikmati leha-leha di balkon Omah Kayu, sebaiknya datang bukan disaat liburan atau akhir pekan. Kalau pun terpaksa datang di akhir pekan, sebaiknya datang pada pagi hari sekitar pukul 8-9 pagi jadi kita tidak perlu rebutan dan mengantri untuk bisa bersantai di pondokan. Celah untuk bisa masuk ke Omah Kayu tanpa membayar tiket adalah di atas pukul 5 sore, karena penjaganya sudah tidak ada yang melakukan pengecekan, hehe.. Jika sudah mulai gelap, bisa kembali ke lokasi di depan warung-warung makan untuk melihat pemandangan lampu-lampu Kota Batu. Sayangnya kami tidak jadi menghabiskan malam di Gunung Banyak karena perubahan rencana untuk menikmati dingin malam dengan makan roti maryam panas-panas di Alun-alun Kota Batu. 


Ferris wheel yang menjadi ikon di Alun-alun Batu

For your information:
Lokasi: Kawasan wisata Gunung Banyak, Batu
Jam buka: sampai dengan pukul 17:00
Tarif masuk kawasan wisata: Rp 5000/ orang
Tarif masuk Omah Kayu: Rp 5000/ orang
Jumlah maksimal per pondokan: 4-5 orang
Tiket Ferris wheel Alun-alun Batu: Rp 3000/orang


I’m flying.. Like a bird!

By Niken Andriani - Jul 22, 2015

Begitu teriak si abang Nicholas Saputra waktu landing skydiving di Thailand dalam iklan “Journey to overcome the fear” dari salah satu produk shaver yang dipakai sehari-hari sama suami. Hahaha.. paralayang menjadi suatu wajib buat langkah pertama sebelum benar-benar impian buat skydiving terwujud (Amiin!). Dari beberapa kali wacana, kemarin akhirnya jadi juga.


Brew saat terbang tandem, melihat pemandangan kota Batu di bawah langit biru yang cerah

Rencana awal menyisir pantai-pantai di Malang yang batal karena beberapa hal, membuat Mas Nug berinisiatif mengajak kami paralayang. Wah, pas sekali karena saya dan Brew memang benar-benar udah ngebet dari awal tahun. Dengan lokasi yang tidak begitu jauh dari rumah Brew, kami berangkat berenam bersama dengan sepupu-sepupu ipar yang memang doyan jalan. Menggunakan sepeda roda dua, kalau menggunakan roda empat di libur panjang lebaran gini, bisa-bisa 4 jam baru sampai daerah Batu karena kondisi lalu lintas menuju Wisata kota Batu dan Puncak Bogor tidaklah jauh berbeda.

Lokasi Paralayang Batu terletak di Wisata Gunung Banyak. Petunjuk jalan menuju kesana lumayan banyak, jadi kita tidak perlu kesulitan untuk menuju kesana karena ternyata banyak sekali warga lokal yang berkunjung ke sana. Cari saja petunjuk bertuliskan “Paralayang”. Tidak hanya bagi para penggemar olahraga ekstrim, namun lokasi take off paralayang ini menjadi favorit bagi para turis lokal karena view nya yang amazing selain objek wisata Omah Kayu (akan saya tulis setelah ini).


Banyak turis lokal mengabadikan diri dengan latar kota Batu


Untuk mengalahkan rasa takut sama ketinggian, olahraga paralayang ini bisa jadi pilihan dengan biaya yang lumayan terjangkau. Saat sampai di lokasi, kami pun langsung menuju booth pendaftaran paralayang yang ternyata sudah ramai. Untuk mendaftar sangatlah mudah, cukup menuliskan nama dan berat badan, kami memperoleh nomor urut. Oleh team yang ada di booth, kami diperbolehkan untuk makan dan jalan-jalan dulu, atau menuju lokasi take off dengan mengantri. Kami pun mampir dulu ke warung Bakso Paralayang yang tidak jauh dari lokasi take off. Menikmati semilir angin gunung sambil menikmati semangkuk bakso panas. 


Syereeem..

Awalnya kami berniat terjun sesaat sebelum matahari tenggelam, agar warna langitnya sedikit kekuningan. Namun ternyata, kondisi angin agak mulai buruk karena di balik bukit ada banyak awan mendung. Jadilah pukul setengah 3 siang kami bersiap-siap di lokasi take off. Kami dipinjamkan monopod a.k.a. tongsis yang bisa dipergunakan dengan smartphone. Saya pun menolak karena dari awal saya hanya membawa kamera SLR untuk dokumentasi sebelum terbang saja, dan untuk smartphone saya juga tidak terbiasa selfie menggunakan tongsis, yang ada nanti saya malah tidak menikmati sensasi terbangnya. Saya pun dipaksa oleh si Mas Tandem, "Ntar nyesel lho." Begitu katanya. Mas Nug pun meminjamkan smartphone nya plus dengan bluetooth remote nya. Ia mengajari saya sebentar, karena beberapa kali saya sudah dipanggil oleh team yg sudah ready di ujung landasan pacu. Makin dag dig dug serr lah karena saya giliran pertama sebelum Brew.


Persiapan sebelum take off


Brew saat take off dibantu salah satu club team


Sebelum tiba di landasan, dibawa muter di atas rumah-rumah

Waktu terbang tandem berkisar antara 10-15 menit, mungkin tergantung angin atau mood tandem nya kali ya. Karena jujur aja, kayaknya kami ngga sampe 10 menit terbang. Cepat saja waktu berlalu tahu-tahu sudah landas. Posisi saat akan landas adalah kaki diangkat ke atas. Setelah landas, kami berkumpul di lahan parkir menunggu ojek yang akan mengantarkan kami kembali ke lokasi wisata Gunung Banyak. Oiya, selain gift certificate, tongsis dan pilot tandem, satu paket paralayang tandem seharga 350 ribu ini sudah termasuk pengantaran kembali ke lokasi take off yang jaraknya kira-kira 5 kilometer dari lokasi landasan yang berada di Songgoriti. Karena liburan panjang, antrian ojek pun menjadi rebutan antara pilot tandem dan peserta. Saya pun menyempatkan diri mengobrol sejenak dengan para senior pilot yang pengalaman terbangnya sudah tak terhitung lagi. Untuk bisa terbang tandem, seorang pilot harus sudah 1000 kali terbang dengan 120 kali terbang dengan teman pilot. Mas Taufik, salah seorang pilot pun menawarkan saya sekolah paralayang agar bisa terbang sendiri. Waduh mas, terbang bukan passion saya sih kecuali kalo ada yang mau bayarin hehe. Sekarang target supaya bisa berani skydiving, karena jujur saja saya takut ketinggian. Yang penting sekarang udah berani terbaaaaang ... 

Ini saya, "Woohoooo..!"
Sambil teriak begitu, lalu Mas Ryan mencoba manuver, "Ayo teriak lagi." Begitu katanya. Hahaha..


For your information
Lokasi take off: Kawasan Wisata Gunung Banyak, Batu
Lokasi landing: Jalan Arumdalu 20 Songgoriti, Batu
Harga per orang: Rp 350.000
Berat badan maksimal: 90Kg
Jam buka: sampai dengan pukul 17:30
Untuk book bisa langsung menuju booth pendaftaran