Yogyakarta

Belajar Sandboarding di Gumuk Pasir Parangkusumo

By Niken Andriani - Jun 3, 2020


Mau plesiran kemana lagi di sekitar Jogja? Sepertinya sudah nggak bisa dihitung pakai jari lagi berapa kali saya main ke kota yang katanya paling romantis di Indonesia ini. Tulisan ini melanjutkan cerita perjalanan saya ke Jogja bersama Bre tahun 2018 lalu, lelungan dan mangan-mangan in Jogja. Saat itu saya blogwalking dan melipir ke blognya mba Mei, yang lagi menetap di Jogja. Doi nulis tentang gumuk pasir, jadilah saya menawarkan Bre untuk main ke tempat ini. 

Mangan-mangan Ing Jogja

By Niken Andriani - May 14, 2018

Jika saya boleh buat kutipan, Rak mathuk na rak mangan ning pengger ndalan Jogja, yang artinya ngga sedap kalau ngga makan di pinggir jalan Jogja.

Lelungan Ing Jogja

By Niken Andriani - May 13, 2018


Lagi kepingin banget solo traveling, jalan-jalan keliling kota sendirian, karena semua temen yang udah diajakin sampai dirayu-rayu pada ngga bisa. Kenapa? Karena mereka ngga rela kalau harus motong cuti. Semua cuti disimpin buat long trip akhir —white collar problems. Sedih. Ngga dibolehin kalo pergi sendirian. Dilematis juga sama harga tiket akhir pekan. Yasudahlah pasrah saja sama semesta. Di sela-sela penatnya kerjaan, menyelipkan hiburan dengan nonton drama Jepang dan Korea. Akkk! Aku pingin jalan-jalan!

#27 Jungwok

By Niken Andriani - Sep 25, 2015


"He found a new beach, and brought me there after a long ride to Klayar."
Pantai Jungwok, Gunung Kidul Yogyakarta | 2 September 2012

For more stories of how to get there, click here.

Senja kala itu

By Niken Andriani - Jun 6, 2013

Seperti kerinduan akan senja yang tak pernah sama,
Jogja selalu membuatku rindu. (26 Mei 2013)

Melangkah

By Niken Andriani - Feb 6, 2013

90 meters ray of light Goa Jomblang, Jogjakarta
11 Oktober 2011

Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang beraksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan.

Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin.

Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!

~ Edensor, p. 42


Bermimpi menjelajah ke Eropa. Sepuluh Februari dua ribu delapan waktu itu. Lama sekali, hampir lima tahun berlalu. Saat itu, menjelajah Eropa hanya muncul di angan-angan saja karena saat itu saya belum menyadari adanya passion traveling di diri saya. Saat ini tekad sudah melekat, satu atau dua tahun lagi saya akan terjebak di dunia entah berantah, sambil menggendong ransel biru dan membaca peta. Saya akan bertemu dengan orang-orang asing. Saya akan tersesat, menjumpai tempat-tempat yang tak pernah saya lihat. 

Setahun lalu, saya bermimpi untuk bisa menikmati secangkir kopi di Labuan Bajo. Saat itu saya hanyalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang biaya hidup saja masih tergantung orang tua. Setiap merencanakan perjalanan, saya harus pintar-pintar menyisihkan uang jajan saya. Menjelajah Flores saat itu adalah penyemangat saya untuk menyelesaikan tugas akhir. Saya percaya saya akan benar-benar mewujudkannya. Dan benar, kurang dari setahun kemudian saya duduk di balkon paradise bar menghadap laut menikmati kopi flores setelah senja mulai hilang berganti malam..

Tahun ini saya ingin buat resolusi! "Hidup kita membosankan ya, ceu?" Obrolan itu dimulai di sebuah warung kopi. "Tapi kita itu awesome!" Malam itu kami membagi cerita dan keluh kesah. Hujan dan penat bercampur aduk dengan kopi hitam. "I want to make something great, I want to change my life." Kerja kantoran, duduk berjam-jam di depan komputer, sepertinya bukan gue banget!


Kali kedua saya mampir lagi ke warung kopi yang sama, bersama dengan sahabat-sahabat saya di kantor. Berkenalan dengan Mas Deni, barista paling cool di warung kopi itu. "Kita itu hidup pasti bekerja, siapapun dan sampai kapanpun. Uang adalah bonus, yang terpenting adalah kita menikmatinya atau tidak." Kata-katanya itu jleb membuat saya semakin ingin bergerak. Melangkah, maju atau mundur, cepat atau lambat, yang pasti saya tidak ingin tetap dalam posisi nyaman seperti ini. Saya ingin sesuatu yang berbeda yang bisa membuat saya meletup-letup. Kerja = passion. Itu adalah target saya tahun ini untuk menjadi jejak langkah dan bekal menuju mimpi saya ke Eropa. Dan saya percaya, semesta mendukung! 

Cerita Yogyakarta

By Niken Andriani - Sep 22, 2012

Weekdays on the job and weekend on the trip. Membuat saya jadi jarang meluangkan waktu untuk menuliskan isi hati atau sekedar mencatat jurnal perjalanan yang akhir-akhir ini menjadi singkat karena sulit sekali untuk bisa dapat libur yang panjang. Nah, karena saat ini saya sedang nabung untuk next trip yang panjang makanya sudah dua akhir pekan saya habiskan dengan belajar berenang di kolam dekat rumah (*bukan empang lho) dan ber-leyeh-leyeh di rumah. Ketika berencana menulis tentang pantai Klayar, saya malah terhanyut dalam cerita tentang sebuah kota.

Pertama kalinya nge-backpack ke Yogya (2009)
Sampai begitu alay nya foto di depan stasiun

Yogyakarta. Kota yang adem tentrem buat menghabiskan waktu di masa tua ini adalah salah satu destinasi yang membuat siapa pun akan terkenang dengan memorinya seperti yang terkutip dalam lirik lagu Kla Project. 


pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu..
masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna..
terhanyut aku akan nostalgi,
saat kita sering luangkan waktu
nikmati bersama suasana jogja...
...



Dan yang membuat saya tahun ini dua kali mengunjunginya. Yang kedua baru saja tiga minggu yang lalu. Saking seringnya main ke Yogya, sampai ada yang mengira saya ini orang Jogja.  Maka seandainya ada yang bertanya saya ini orang asli mana, maka dengan pedenya saya akan menjawab, "Gue dari Gunung Kidul, Yogyakarta." Hahaha.. Memang kelihatan ndeso, tapi jujur saya sangat bangga sekali dengan kabupaten ini. Meski kawasan karst makanya daerah ini sangat tandus dan miskin, tetapi pantai-pantainya yang perawan, goa-goanya yang megah, penduduknya yang ramah serta udaranya yang sejuk membuat saya tak pernah bosan main ke sana. 

Ray of light di Goa grubuk
Di pantai ini, pertama kali nya saya tidur beralaskan pasir dan beratapkan langit.

Tahun lalu, ketika saya mendapat kesempatan jalan-jalan gratis dari ACIdetikcom, destinasi yang saya eksplor salah satunya adalah Yogyakarta. Selama 5 hari saya habiskan waktu di  Kaliurang atas, Kota Gede dan Gunung Kidul. Di ulang tahunnya yang ke-255 saya pun mendapat kesempatan untuk merayakannya bersama warga Yogya.  

Pentas seni antar daerah yang diadakan malam sebelumnya di depan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret


Kalau saya ingat-ingat lagi, pertama kali ke Yogya adalah ketika studi tour SMA(2006). Tapi hanya semalam sehingga saya hanya tau Malioboro. Setelahnya, bersama dengan keluarga, dengan teman kuliah, dan sendiri. Sehingga di blog saya tersebar cerita-cerita tentang Yogya.  Cerita saya dengan sahabat-sahabat di Yogya yang saya tulis bulan April lalu saat saya singgah di kota ini. Tentang Mangunan, bukit dengan view yang sangat waaah. Atau gara-gara film saya sampai terdampar di tempat yang sejuk ini di Sendang Sono. Serta beberapa tulisan saya di blog detik. Dan tentunya tentang pantai-pantainya yang tak ada habisnya untuk digagahi, seperti pantai Jongwok,  pantai Timang, pantai Indrayanti dan Pok Tunggal, pantai Sundak, pantai Kapenpantai Baron, dan Parang Tritis. Aaah pantai-pantai di Yogya benar-benar menghipnotis. Maka saya punya satu mimpi: menyusuri seluruh pantai di pesisir Gunung kidul dari barat ke timur!

Siapa yang tak suka Yogya? Coba tonton video empat episode ini tentang Yogya. Mungkin buat yang menganggap Yogya itu biasa-biasa saja jadi bisa berubah pikiran. Atau malah tiba-tiba mesen tiket kereta ke sana. Seperti teman saya Ryan, asli Sumatra, yang sampai ketularan bisa bahasa Jawa, katanya "Mlaku-mlaku, dab!" Hahahaa.. buat saya, Yogya tak pernah ada habisnya untuk dijelajahi. Happy traveling!

Kim Jong-wok

By Niken Andriani - Sep 9, 2012



Jangan kusut dulu membaca judul postingan ini. Serius murni nggak ada hubungannya sama sekali dengan Korea. Hanya saja judul ini merujuk pada sesuatu yang berbau korea. Pantai terakhir yang saya kunjungi seminggu yang lalu di pesisir Gunung Kidul, punya nama yang pasti setiap orang dengar akan merujuk ke negara yang terkenal dengan oplas nya itu. Nama pantainya Jongwok. Tuh kan, pasti saat kamu denger nama itu langsung kepikiran SNSD atau Suju hahaha.. Lalu, kenapa saya beri judul Kim Jongwok?

Siang itu, matahari sudah di atas kepala. Perjalanan saya dari Pacitan menuju Yogyakarta memaksa saya untuk singgah di pesisir Gunung Kidul. Saya mencapai pantai Wediombo, pantai yang terletak paling timur setelah pantai Sadeng setelah dua jam duduk di motor menatap jalanan. Pantai Wediombo yang sudah tidak perawan ini bukanlah tujuan saya melipir di pesisir Gunung Kidul. Tetapi pantai perawan yang tersembunyi di balik bukit di sebelah Wediombo. Info pertama yang saya dapatkan tentang pantai  Jongwok ini bukan dari dunia maya, tapi langsung dari travelmate saya di Yogya yang kebetulan beberapa bulan sebelumnya telah mencapai pantai perawan itu. Ya, sesuai dengan judulnya pantai perawan, pantai ini benar-benar masih virgin, lihat saja plang penunjuk jalan untuk menuju pantai ini. Hanya bermodalkan sisa kardus mie, spidol hitam dan dipasang menancap di batang pohon dengan paku karatan. 

Setelah diambil buat foto, saya tancepin lagi kok!
Dari pantai Wediombo, kami menuju timur atau belok ke arah kiri sampai bertemu dengan plang itu. Kemudian kurang dari lima ratus meter, kami berjalan kaki di bawah terik matahari melewati pematang sawah yang sudah panen dan bukit-bukit kecil. Keringat yang mengucur di dahi pun tersapu oleh angin laut. Lelah setelah perjalanan dari Pacitan pun hilang saat kami disajikan warna biru laut dan langit serta suara desiran ombak yang mengalahkan segala jenis musik yg terputar di ipod saya. Pantai Jongwok, merangsang saya untuk menggagahinya. Ah cukup saja dengan foto yang terekam di kamera dan memori yang terekam di kepala.


Saat tiba di sana, ada empat tenda dome yang salah satunya dimiliki oleh dua pasang anak muda dari kota Yogyakarta. Karena barang bawaan saya sebuah keril setinggi kepala saat digendong, mereka mengira saya akan kemping di pantai Jongwok. "Maunya sih, tapi kereta saya berangkat sore ini juga." Kalau saja saya masih free dan tidak terikat kontrak kerja di Jakarta, saya pasti udah nggelar ponco, leyeh-leyeh di pantai sampai sunset. Ah tapi siang itu terlalu terik, saya dan Galang pun mencari tempat berteduh. Jangan berharap ada warung atau toilet di tempat se-virgin ini. 



Matahari yang menyengat membuat saya malas bergerak dari tempat kami berteduh  di balik tebing yang menghalau cahaya matahari. Kami cuma bengong, lalu mulai nggak jelas, dan akhirnya terpaku ke keong kecil yang ukurannya sebesar kuku jari kelingking saya. Keong itu lincah sekali, nggak mau diem saat saat berada di telapak tangan saya karena mau difoto. Pantai Jongwok yang tadinya sepi mulai ramai dengan teriakan-teriakan saya yang gemes bermain dengan si keong kecil.  Saya akan membawanya ke Jakarta, menemani perjalanan saya sendirian di kereta. Kasih nama siapa ya? Galang nyeletuk, Kim Jong-wok

#12 Timang

By Niken Andriani - Aug 18, 2012



"Pertama kalinya ke pantai itu butuh perjuangan yang keras.. "
Pantai Timang, Gunung Kidul Yogyakarta | 17 Maret 2012

#10 Baron

By Niken Andriani - Jul 18, 2012



"First time we met after 5 years. You're cozy like your name, always :)"
Pantai Baron, Gunung Kidul | 20 Agustus 2010

Ramai dan sepi pantai di Gunung Kidul

By Niken Andriani - Apr 16, 2012

Kali kedua setelah dari Pantai Timang dua hari sebelumnya, saya mampir lagi ke desa yang seluruh pesisir selatannya dianugerahi pantai-pantai yang cantik ini. Karena rencana ke pantai Klayar yang gagal, saya diajak lagi untuk berpetualang menemukan pantai yang belum banyak terjamah. Sepertinya saya makin terbiasa duduk lama di kendaraan roda dua sejak touring ke Ujung Genteng. Dua jam naik motor sampai Gn Kidul? Kecil itu sih!

Berkat modal catatan kecil di buku jurnal "lonely planet" saya, kami menuju pantai Sundak, pantai yang bersebelahan dengan pantai Indrayanti. Dari pertigaan antara Sundak dan Siung kami belok ke arah Sundak. Katanya, pantai Indrayanti ini pantai kuta-nya Gunung Kidul. Ya memang benar, sampai disana tentunya ramai pengunjung dan suasana yang kami dapati sangat "berfasilitas" sekali, mulai dari parkir motor yang rapi dan warung-warung yang tersusun pada tempatnya. Ada juga restoran dengan suasana yang mantai.

Malas untuk langsung ke pantai, saya naik bukit kecil di sebelah barat. Begini pantai Indrayanti dari atas. Sudah seperti resort kan? Semoga pantai ini masih milik orang Indonesia, hehehe..

Pantai Indrayanti dari atas bukit

Di bawah bukit yang saya naiki, ada tebing-tebing yang bisa jadi objek foto. Atau dengan menyusuri pesisir pantai yang panjangnya sekitar 200 meter ini kita bisa berleyeh-leyeh dimana saja. Tapi jangan merasa terganggu jika banyak orang berseliweran, karena pantai ini memang ramai. Hal ini pun yang membuat saya merasa harus "pindah tempat". Berkat info dari tukang parkir (*jadi traveler itu harus gaul lho) saya mendapati sebuah pantai yang jaraknya hanya tiga kilometer ke arah timur dari Indrayanti, pantai Poh Tunggal namanya. Tanpa basa-basi kami menuju kesana mengejar sunset. 

Karena pantai ini belum banyak terjamah, plang bertuliskan "Poh Tunggal" pun hanya papan kayu sepanjang setengah meter dengan tulisan tangan. Kalau kita tidak awas, pasti kelewatan, sama ketika kami ke pantai Timang. Itu pun plang sedang tidak menancap, karena warga sekitar sedang bergotong royong membangun jalan seadanya. Jalan yang dilalui juga lumayan licin karena batuan kapur sehingga saya harus beberapa kali berjalan kaki. Tapi justru hal ini yang membuat senyum saya melebar, berarti pantai ini tak banyak orang, begitu pikir saya. Dan memang benar, di sana hanya ada satu motor milik pengunjung dan satu pondokan kecil milik seorang warga yang juga menjaga motor kami. Di pantai ini, kami cuma berlima. Saya dan teman saya, bapak penjaga, dan sepasang muda-mudi yang sedang memadu kasih di bawah pohon memandang ke laut. Romantis sekali, uyeah!

Bangku untuk berdua yang menghadap ke matahari tenggelam

Pantai Poh Tunggal
Semua pantai di pesisir Gunung Kidul bagi saya indah, tergantung kita mau pilih yang ramai berarti mudah diakses atau yang sepi tapi butuh perjuangan untuk mencapainya. Dan hari terakhir di Jogja pun, saya mendapati senja di pantai. Terima kasih Jogja! Thanks, I've got many memories here..

Saat menanti senja..

Kebun Buah Mangunan Jogja

Ini salah satu destinasi tak terduga ketika saya maen ke Jogja. Iseng buka kaskus, teman saya mengajak saya ke kebun buah Mangunan di daerah Imogiri. Kurang dari satu jam kami sampai ke sana. Lewat jalan ke arah parang tritis kemudian belok kiri ke arah Imogiri. Jangan takut nyasar, karena plang hijau bertuliskan kebun buah mangunan pun berdiri gagah di simpang pertigaan menuju perbukitannya. Jalan kesana juga bisa diakses kendaraan apa saja. Jalan yang mulus dan suasana yang sejuk membuat beberapa orang melaluinya dengan bersepeda.

Sampai disana kami hanya bertemu dengan buah jeruk! Ya ternyata pohon yang tumbuh dis ana kebanyakan masih setinggi tubuh saya. Beberapa waktu lalu salah seorang teman kuliah saya kesini katanya baru bibit saja. Beruntunglah kami sudah bertemu dengan pohonnya, meski belum bertemu dengan buah yang katanya kebun buah, hehehe..

Update status dulu ya mbak?

Tapi kami tak kecewa, pemandangan ngarai dan perbukitan yang luas memanjakan mata kami. Di salah satu sisi bukit memang dibuat area untuk memandangi karya Tuhan yang megah ini. 

Pemandangan ngarai



Tak bosan, sampai matahari mau tenggelam pun kami duduk santai sambil berbincang disana. Sampai kami menjadi pengunjung terakhir sore itu. Tak disangka memang, dari kota Jogja yang penuh ramai ada pemandangan yang mirip ngarai sianok di Sumbar, hmmm.. mirip ga sih? Nanti kalau saya kesana saya cocokin deh :D

pose kenikmatan ala saya -yang merusak lanskap

Sendang Sono

By Niken Andriani - Apr 4, 2012

Salah satu yang mempengaruhi seseorang untuk memilih destinasi adalah karena FILM. Begitu juga saya, setelah menonton film 3 hari untuk selamanya karya Riri riza tahun 2007. Saya terinspirasi mendatangi salah satu tempat yang mereka kunjungi pada saat road trip dari Jakarta ke Jogja. Sendang Sono, adalah tempat ziarah kaum Nasrani di sekitaran Jogja dan Jateng. Bagi orang Indonesia, melihat seorang berhijab seperti saya mungkin aneh mendatangi tempat ini. Tetapi dengan bahasa tubuh yang lebih ampuh dari sebuah kata-kata, senyum, saya lemparkan. Saya disambut ramah.






Perjalanan ke Sendang Sono disuguhi pemandangan hijau sawah dan kebun pohon naga. Sendang Sono terletak di barat laut dari kota Jogja, tepatnya di desa Kulon Progo. Perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam dengan kondisi jalan yang bagus. Saya berangkat sabtu pagi bersama dengan sahabat saya. Ada beberapa orang yang sedang melakukan ziarah. Setelah berkeliling, saya duduk berlama-lama di tumpukan tangga di bawah pohon rindang persisi seperti dalam scene saat Ambar dan Yusuf duduk berdua. "Kalo lu mikirin sesuatu, dan lu belum bisa nemuin jawabannya padahal lu udah usaha. Ya berarti saat ini, saat lu mikir, lu belum bisa tahu."



Saya kembali ke Jogja saat matahari mulai berada di atas kepala, melanjutkan perjalanan ke Gunung Kidul. Sebelumnya kami sempat mampir ke Warung Sido Semi, dekat pasar Kota Gede. Saya kangen sekali es tapenya. Hmm dan juga perjalanan tepat 4 bulan lalu bersama dengan teman-teman ACI yang juga mampir dan berbincang di warung ini. 
Es tape dan bakso, perpaduan yang pas

Jogja dan sahabat-sahabat saya

By Niken Andriani - Mar 27, 2012

Untuk kesekian kalinya saya mampir ke kota Jogja. Tak sekalipun saya merasa bosan, mungkin ini alasan kenapa saya ingin sekali meniti karir di sana, merasakan hidup berdampingan dengan orang jogja. Berangkat dari Jakarta, saya mampir ke Bandung sekedar mengecek administrasi terakhir setelah menyelesaikan masa studi yang hampir lima tahun ini. Hari itu juga dari sore hari "Go Show" di stasiun Kiara Condong, Bandung, saya berdua dengan sahabat saya, Galang, dapat dua tiket ekonomi Kutojaya jurusan stasiun Kutoharjo, Jogja. 

Terakhir saya ke kota ini bulan Oktober saat menjalankan misi dari "Aku Cinta Indonesia" yang sebagian besar waktunya dihabiskan di Wonosari. Kali ini saya bersama dengan sahabat saya, menikmati liburan usai tugas akhir di kota kelahirannya. Mengingat sahabat saya ini memang tak pernah jalan-jalan. Semua destinasi yang saya rencanakan, tak ada satupun yang pernah dia kunjungi. Dasar.. padahal dia orang jogja aselik. Karena uang saku yang saya bawa benar-benar seadanya, saya pun selama 5 hari numpang tidur di rumah sahabat saya *selama dulu pernah maen ke jogja, memang selalu numpang sih, hehehe. Keluarganya sangat terbuka dengan kedatangan saya. Sebagai orang yang senang berpergian jauh, mendapat tumpangan untuk beristirahat dan makan bagi saya ini anugerah. Terima kasih ibu Endang, bu lek, mbak Ratri, Yudha dan Laras, sampai berjumpa lagi, kalo ke Jogja pasti saya mampir, Gondolayu Lor sebelah Hotel Santika :D

Hari pertama di Jogja, saya menghabiskan waktu hingga malam hari dengan menikmati kopi campuran coklat dan kayu manis di warkop semesta dengan mbak rosa, petualang ACI asal jogja. Saya kira obrolan kami hanya akan berlangsung satu atau dua jam saja, namun ternyata sampai diatas jam 9 malam kami masih saja asik ngobrol entah ngomongin apa dari A sampai Z. Mengenal seorang perempuan yang jiwa "pecinta alam" nya sangat tinggi, suka naek gunung, pencetus dan petinggi program 1 buku untuk Indonesia, yang suka membawa vespanya kemana-mana dan seorang teman yang asik diajak bercerita. Kalau saya jadi cowo, saya pasti mau banget jadi pacarnya hehehe. Dari mbak rosa, ide untuk ke pantai Timang itu muncul, dan esok harinya benar-benar kejadian hanya dengan bermodalkan info minim dari dia. Terima kasih mbak, sampai jumpa di lain waktu :)

Pagi kedua di Jogja, saya bangun lebih pagi untuk persiapan ke Sendang Sono, sebuah situs ziarah Katholik di daerah Kulon Progo. Lokasinya di barat laut dari kota Jogja. Berawal dari menonton film "3 Hari Untuk Selamanya" karya Riri Riza tahun 2007, terdapat satu adegan yang lokasinya di Sendang Sono. Saat Ambar dan Yusuf saling terbuka dengan masalah mereka. Siang hari kami pun bergegas menuju Gunung Kidul. Menuju pantai yang sudah saya idam-idamkan dari beberapa minggu sebelumnya. Perjalanan yang tidak mudah dan dengan kondisi cuaca yang tidak bersahabat. 

Malam minggu, via sms *old skool sekali ya* saya hampir saja berantem sama Uchank, sahabat saya di Jogja dari SMA, gara-gara sepeda. Tapi akhirnya janjian untuk sepedahan bareng di Sunmor dan keliling Jogja jadi juga esoknya. Obrolan kami sangat banyak, seperti biasa ketika kita hanya bisa berhubungan lewat messenger. Mengenal orang seperti dia yang menurut saya kadang-kadang bisa menjadi sangat bijak saat dibutuhkan, hampir 6 tahun kami berteman, sudah banyak sekali saya merepotkan dia. Pesanmu yang akan selalu ku ingat, "Lihatlah di kaca saat wajahmu sedang sedih dan menangis perih, tapi jangan kuatir ada saatnya kala ini kan berakhir". Terima kasih chank, ada satu janji kamu yang saya tunggu nanti kalo kita ketemu lagi. Sampai jumpa nanti :)

Klayar, salah satu destinasi yang saya idamkan dari berbulan-bulan yang lalu. Tapi ga jadi, karena rasanya kurang fun kalo ga nginep di sana. Wen, teman kuliah yang sempat saya jumpai malam sebelumnya sambil minum kopi dan berbagi cerita, pun membatalkan rencana dadakan ke sana. Ga kehabisan akal, Galang pun mengajak saya ke pantai Indrayanti, yang katanya "kuta" nya Jogja. Sehabis dari sana kami pun bertanya sana-sini tentang pantai yang belum terjamah. Tadinya kami mencari info tentang pantai Trenggale, tapi nihil. Kami malah disarankan untuk ke pantai Poh Tunggal yang jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari Indrayanti. Dan memang, di sana sangat sepi sekali.  Saya pun di suguhi matahari tenggelam yang cantik di sana. Hari terakhir di Jogja. Terima kasih matahari!

 Maybe we do not remember days, but we remember moments.

Esoknya, ketika saya harus pulang ke Bandung pagi-pagi menuju stasiun Kutoharjo saya bangun kesiangan. Tiket ekonomi Kutojaya yang gambling ada atau gak pun membuat saya memutuskan untuk kembali ke Bandung naek kereta Kahuripan di stasiun Lempuyangan. Tapi tak disangka, ekonomi Kahuripan pun sudah habis untuk hari itu juga. Mau naik bus Bandung pun sudah telat karena sudah jam tiga lewat. Akhirnya saya putuskan naik kereta bisnis Lodaya malam meski harus merelakan sisa-sisa uang saya di dompet. "Yaelah, gak papa sih. Yang penting kan di Jogja koe udah jalan-jalan, bareng aku lagi." begitu kata Galang. Sore itu sembari nunggu jadwal kereta berangkat masih 4 jam lagi, kami mampir ke Kasongan, makan mie ayam di pinggir jalan, bolak balik Bantul - Kota nyari ATM, dan  bercerita sambil bersedih-sedih karena kami bakal susah lagi ketemu. Terima kasih sudah menjadi sahabat saya makan bakso, tugas akhir dan jalan-jalan di Jogja.

#2 Sundak

By Niken Andriani - Mar 25, 2012

Inilah pantai pertama saya, ketika saya mulai jatuh cinta. Gambar yang saya ambil hanya menggunakan kamera ponsel dua megapiksel, dulu ketika saya belum punya kamera. Lihat saja, dengan pedenya saya jepret dengan mode potrait. Bagi saya, pantai ini punya dua cerita, saya dengan pantai, dan saya dengan dia.

"They call it, love at the first sight.."
Gunung Kidul, DI Yogyakarta | 1 Februari 2009

Saya sebut namanya Timmy

By Niken Andriani - Mar 19, 2012

Saya tidak mencari pantai yang cantik. Tidak pula harus yang berpasir putih. Semua pantai untuk saya indah selama ia sepi.

Setelah melihat salah satu postingan seorang teman di media sosial tentang pantai yang memiliki gondola di salah satu bukitnya, tanpa basa basi saya langsung bergegas ke Jogja. Apalagi pantai itu belum ada di peta. Meski sudah 3 kali ke Gunung Kidul, saya tak akan pernah bosan.. Dan kali keempat saya kesana, meski mendung saya tetap menikmatinya. Pantai Timang yang mereka bilang, memiliki sebuah laguna kecil yang di samping kanannya terdapat bukit tempat gondola itu ada. 

Untuk menuju kesana, jalan yang dilalui tidak mudah. Dari sepanjang empat kilometer, tiga kilometer harus dilalui dengan hati-hati karena kondisi jalanan yang berbatu licin. Kata Ibu Supiyanti, yang saya temui di jalan, dulu jalan ini hanya setapak tanah. Namun karena akan dibangun dengan cor blok maka batu-batu yang tak beraturan itu sengaja disebar. Disarankan untuk membawa mobil. Karena saya kesana menggunakan kendaraan roda dua, terpaksa saya un berjalan kaki sepanjang tiga kilometer. Jalanan yang harusnya bisa ditempuh 5 menit, kami lalui selama hampir satu jam. Pengorbanan yang terbayar saat kami sampai di bukit.

Angin berhembus kencang, mendung dan sore. Tak perlu banyak kata untuk mendeskripsikan tempat ini.

Gondola, yang bisa beroperasi pada jam-jam tertentu
Timmy, saya menyebutnya karena ia kecil dan pasirnya berwarna jingga.

Vandalisme

Sayang memang, saya hanya sebentar mampir. Kebiasaan untuk leyeh-leyeh di pantai tidak saya lakukan saat itu. Kondisi cuaca yang tidak memungkinkan dan langit yang sudah gelap membuat saya harus bergegas kembali ke kota Jogja.



Road trip!

By Niken Andriani - Nov 30, 2011


My first travel video. A road trip around Central Java and Yogyakarta.



Thanks a lot to ACIdetikcom for supporting us,
Float and 3 Hari Untuk Selamanya for inspiring me.

It's not about the destination, it's about the journey. -Trinity