Senja kala itu

By Niken Andriani - Jun 6, 2013

Seperti kerinduan akan senja yang tak pernah sama,
Jogja selalu membuatku rindu. (26 Mei 2013)

Turnamen Foto Perjalanan Ronde 22: Matahari

By Niken Andriani - Jun 1, 2013


Halo! Temu kembali di turnamen foto perjalanan yang kali ini udah masuk ronde 22! dan saya menjadi tumbal (eh tuan rumah) untuk ronde ini. Awalnya sempat bingung, sejak ronde 5 mulai gak ngikutin lagi karena sibuk aktivitas di kantor dan tentunya traveling sendiri hingga mulai jarang up-to-date. Sekalinya mulai nguplod eh kepilih, thanks @pergidulu yg memilih foto seorang bapak yang sedang berangkat kerja ini buat jadi pemenang di tema jalanan. Jadi hampir seminggu saya ngilang dulu buat semedi di Goa nyari tema yang asik buat ronde 22 ini. Ada beberapa tema yang sempat jadi masukan, dari tentang strangers, self potrait dan ray of lights. Namun akhirnya saya memutuskan satu tema yang semoga selalu menjadi teman setia perjalanan kita, yang selalu dipuja kehadirannya, Matahari!



Mentari, matahari, sang surya. Ia sumber energi, penerang jalan, dan penunjuk bahwa hari masih ada. Ia memiliki banyak cerita di setiap kehadirannya. Menerangi tiap langkah yang kau jalani. Ia pun tidak hanya melulu tentang sunrise dan sunset. Ia berjaga bergantian dengan malam. Menunjukkan adanya kehidupan. 

Bagi para pejalan, matahari selalu menjadi idola. Lihat saja, jika langit mulai gelap, matahari bersembunyi, mungkin pertanda akan turun hujan, sebagian dari kita pasti jadi malas keluar. Padahal keluar dari rumah, adalah langkah awal dari perjalanan yang akan kita lalui. Para pemuja senja dan fajar selalu menanti waktu dengan sabar demi bertemu dengannya. Para travel fotografer selalu menyebut-nyebut matahari sebagai model tercantik yang ada di dunia. Para pendaki gunung, rela mendaki berkejaran dengan waktu demi bisa menikmati semburat cahaya pagi dari puncak. 


Setiap pejalan pasti memiliki interpretasi yang berbeda tentang matahari. Mungkin seperti mengejar cita-cita, menemani setiap langkah, dan melihat dunia. Jadi, mari berbagi ceritamu dengan matahari yang ada di setiap perjalananmu!


Start the day, start to work

By Niken Andriani - May 22, 2013

A misty morning at Pangalengan, Bandung. 
Berjumpa sang surya yang baru terbangun. 
Meniti jalan, melangkahkan kaki demi sesuap nasi. 

Jalan berkabut di pagi, menjadi teman setia memulai hari.

Pangalengan, Bandung 11 Februari 2012

One-day trip to Cigamea

By Niken Andriani - May 19, 2013

Karena terlalu senang main air.. sampai sok-sok an nyelem pake masker. Padahal niatnya mau berburu foto di sana. Akhirnya cuma ini yang bisa ngegambarin kalau air terjun Cigamea yang terletak di Gunung Bunder, Bogor ini patut dikunjungi. Setidaknya ini tempat terdekat dari Jakarta untuk melepas penat. Daripada menghabiskan uang belanja ke mall atau ngopi ke cafe, nyebur di sini bisa buat fresh lagi! Modal naek commuter line sampai stasiun Bogor, dilanjut dengan sewa angkot patungan ber-sepuluh. Perjalanan one-day trip bareng teman-teman kantor dan pacar kecilku si Ibas ini, cukup menyenangkan dan bikin kita ketagihan untuk bikin trip-trip gembel selanjutnya di sela-sela weekend yang selow!

Curug Cigamea dari jalur trekking


Saya menyusur sungai agak kebawah, karena di atas sudah terlalu ramai

Adeeem..

Serius, monyet-monyet di sini nggak kalah galak sama monyet-monyet di Uluwatu.
Watch out your snacks!

Don't do duck diving there!

Ujung sungai dari aliran Curug Cigamea yang menjadi batas untuk dilalui. Bening men!

Someday he'll be a real adventurer.
(Mengikuti jejak sang kakak)

Es krim durian

By Niken Andriani - May 2, 2013

Anak lelaki ini datang tergesa-gesa menghampiriku dengan keringat yang mengucur dari dahinya. Ia menggenggam dua batang eskrim yang sudah mulai meleleh. Ia berikan satu batang eskrim itu untukku tanpa aku minta sambil tersenyum. Dan bibirku pun langsung mendarat di pipi kanannya. 

Sambil menemaniku merebus mie di dapur, dia bercerita sambil menjilat-jilat eskrim yang mulai membuat tangannya belepotan. "Kalo hukum Islam itu harusnya setimpal kan? Kalo ngebunuh ya harus dibunuh kan?" Wah anak seumur gini kok nanyanya berat banget. "Temen aku, si Ali, dia dikata-katain sama si Andi kalo dia kayak monyet. Eh terus si Ali mukul si Andi. Harusnya kalo dalam Islam si Ali ngatain balik dong, jangan mukul."

Sambil mengusap-usap kepalanya aku mencoba memberinya penjelasan. "Kalau hukum Islam memang harus setimpal, tapi itu gak berlaku di Indonesia. Kalau temen kamu dikatain kayak gitu ya sabar aja. Gak harus dibales kan. Nanti dosanya si Ali berkurang lho. Kalau sama-sama mukul nanti sama-sama sakit kan ga enak." Aku mencoba membuatnya paham sambil sesekali nyengir. Ia pun mencoba memahami perkataanku. "Berarti kalo aku dikatain orang atau dijahatin orang aku aminin aja yah. Nanti dosa aku berkurang." Aku pun mengangguk dan memberi senyuman tanda aku mendukung perkataannya. 

Di situ aku terhelak. Jujur saja seharian ini aku kesal. Aku marah. Aku ingin balas dendam ke orang yang hari ini melukai hatiku. Aku pun sempat kepikiran hal yang tidak-tidak. Aku tidak rela, aku juga ingin membuat dia terluka setidaknya sama seperti apa yang aku rasakan. Tapi perkataanku ke anak lelaki tadi membuatku tersadar. Aku malu. Dalam hati "Sudah ken, bersabarlah. Lupakan saja dan bersyukurlah saat ini kau masih bisa berkumpul dan tertawa lepas bersama dengan orang-orang yang kau kasihi." 

Kemudian kami makan mie rebus di mangkuk yang sama berdua. Sesekali aku menjitak ringan kepalanya. Ibas, adik lelaki ku yang paling kecil ini, yang usianya saja belum genap sepuluh tahun menyadarkanku, betapa pun sakitnya kita dilukai oleh orang lain, bersabar saja dan berbahagialah. Tunggu saja, karena Tuhan selalu punya rencana indah yang kita tidak pernah tahu. 

Love you, 
My little angel


Pose ala pangeran tuksedo bertopeng nya Sailormoon