Nusa Tenggara Timur




Masih tentang cerita petualangan saya di Flores Barat, November 2012 kemarin. Setelah sampai Labuan Bajo, maka petualangan saya berlayar dari Lombok sampai Flores pun berakhir saat senja nampak di balik kapal besar yang sedang berlabuh. Dari kapal, saya terburu langsung menuju dermaga demi mengejar sunset dari atas bukit. Namun, senja pun pergi meninggalkan langit, menyisakan kegelapan yang malam itu membuat saya sedikit kecewa. Kenapa kecewa? Karena saya tidak akan lama berada di Labuan Bajo, hanya satu hari (jadwal penerbangan siang hari yang enggak enak banget!), dan yang nggak akan memungkinkan saya bertemu senja lagi di sini.


Setelah malam hari dihabiskan dengan farewell party bersama teman-teman seperjalanan selama empat hari di laut, saya kembali ke penginapan pada tengah malam dengan kondisi badan yang kelelahan. Ojek yang tadinya saya mau sewa untuk antar jemput ke bukit untuk melihat matahari terbit pun saya batalkan. Dan benar, esok paginya saya terbangun memang agak kesiangan, ditambah dengan incident "amukan kamar mandi" membuat saya   malas keluar pagi-pagi. Tetapi, teman saya Tata, yang baru saya kenal dekat di hari terakhir sailing trip, mencoba menenangkan saya dan mengajak saya jalan-jalan keluar berdua. Lalu kami berdua menyewa motor dan langsung ciao menuju Pasar Labuan Bajo untuk hunting kopi Flores. 

Tata, perempuan kalem dan ramah ini selalu membuat saya terhibur.
Terima kasih, Ta :)

Ternyata untuk menuju pasar pun lokasinya tidak begitu jauh, kita bisa menggunakan jasa ojek yang hanya mengeluarkan kocek lima ribu rupiah saja. Ternyata di pasar, lebih banyak ditemukan penjual kopi Flores yang mentahan. Untuk bisa memperoleh kopi yang fresh kita harus memesan minimal sehari sebelumnya, atau dengan membeli satu merk kopi yang banyak dijual di toko-toko. Dari pasar, kami berdua pun langsung bergegas menuju Goa Batu Cermin dengan modal bertanya dengan orang-orang yang kami temui di jalan. Dan memang ternyata lokasinya pun tidak begitu jauh.  

Pak Roni, guide yang menemani kami menyusuri goa.
Saya tak akan banyak bercerita tentang Goa batu cermin, jadi saya lampirkan saja foto-foto yang bisa saya ambil dengan bantuan lampu senter ini, karena memang di beberapa spot berzona gelap abadi. 




Fosil penyu

Dari foto-foto diatas pun kita bisa melihat bahwa Goa batu cermin adalah sisa peninggalan yang memberi bukti bahwa dulu labuan bajo masih bagian dari laut. Terlihat dari adanya fosil penyu, fosil ikan (foto bersama Tata) dan beberapa batuan stalakmit/ stalagtit yang mirip dengan biota laut. Saya pun sempat diantar Pak Roni ke lokasi yang bisa memunculkan cahaya Tuhan sama seperti ray of light yang ada di Goa Jomblang. Namun dia bilang, hal tersebut sangat jarang sekali muncul. Dia sendiri yang sudah empat tahun jadi guide disana belum pernah bertemu. 

Salah satu batuan yang memunculkan kristal.


Goa batu cermin ini tidak seperti goa-goa lain, di mana kita harus melangkahkan kaki menuju kebawah sehingga posisi kita berada di bawah tanah. Beberapa kali kita harus menaiki anak tangga untuk menyusuri goa ini. Setelah sekitar 2 jam menyusuri goa ini, saya pun pamit dengan rekan-rekan petugas di Goa batu cermin yang membuat saya betah ngobrol di sana. Karena jadwal yang mepet saya, diantar Tata menuju penginapan untuk segera bergegas ke Bandara. Sampai jumpa lagi Labuan Bajo! Ah saya yakin, suatu saat saya pasti mampir ke sini lagi. Mungkin janji untuk minum kopi dengan teman lama yang belum sempat terlaksana. 

Maaf ya ganteng, gak fokus. Motret kamu bikin deg-deg an.
Setelah tiga hari terombang-ambing di laut, lalu pagi, siang dan sore nyemplung, saatnya berwisata safari. Horee..! Kalau anak-anak akan riang diajak bermain ke kebun binatang Ragunan, maka kami para young traveler memilih kebun binatang yang lebih eksotis dari kebun binatang di mana pun. Karena kami akan berjumpa dan bercengkerama dengan naga terakhir di bumi, Komodo. 


Pulau Komodo dan Pulau Rinca adalah salah satu destinasi utama di Flores Barat. Setelah menikmati matahari terbit di hari ke empat sailing trip (18/11/2012), kami sarapan pagi bersama di atas kapal dengan menu pancake sederhana dengan selai nanas dan stroberi. Setelahnya, pelayaran dilanjutkan ke Pulau Komodo. Kami pun sempat melihat dari kejauhan desa di Pulau Komodo yang terletak di tepi pantai. 


Desa di Pulau Komodo yang bermayoritas Islam.
Dermaga di P. Komodo yang baru setengah jadi
Pulau Komodo, dikenal juga sebagai Loh Liang atau tempat pusat wisata dimana para wisatawan dapat melihat langsung satwa reptil terbesar di Pulau Komodo. Beberapa saat lalu di tahun 2011-2012 sempat terjadi gempar tentang new seven wonders untuk satwa ini yang saya sendiri tidak terlalu ambil pusing. Mungkin setelah kejadian itu, ada baiknya karena beberapa tahun terakhir, pulau ini mengalami perkembangan yang maju. Ya tentu harus bagus dong! Karena wisatawan dari seluruh dunia akan datang kemari melihat satwa naga terakhir di bumi yang satu-satunya hanya ada di negara kita ini. Tetapi dibalik itu ada "gerutu" dari beberapa teman saya tentang biaya masuk untuk Kamera DSLR dan pocket kamera sebesar lima puluh ribu rupiah. Hahaha.. 

50 ribu buat foto di sini! Cincay, berpikir positif aja lah buat kemajuan taman nasional ini :)
Kalau nggak mau bayar yaudah motret pake kamera ponsel saja.


Medium Trek, salah satu jalur trekking yang kita pilih. Kami ditemani Alvin, sang Ranger yang bahasa Inggrisnya jago uy! Beberapa kali kami melihat si Ganteng ini berkeliaran. Namun, semakin kamu mendaki justru tak satupun si Ganteng ini menampakkan wajahnya. Pendakian kami pun terhenti sebentar di Sulfurea Hills. Lanskap laut flores terlihat dari atas sana.

Yeah Tom, we didn't take a bath for 4 days yet!
Setelah turun dari Sulfurea Hills, kamu justru menjumpai banyak Komodo yang sedang berleyeh-leyeh di bawah rumah panggung yang kata Alvin adalah dapur. Kami pun berkumpul mengelilinginya, sambil menahan bau menyengat yang katanya bau kotoran Komodo. Saya pun sempat mendekati si Ganteng untuk merekam kedip matanya. Baru dua langkah maju, si Ganteng ini tiba-tiba menoleh ke saya dan... Hup! semuanya kaget lalu saya mundur dengan sigap. Fyuuh. my life shorten by 10 years..

Ngadem ya bang?
Terdapat sebuah cafe kecil di pulau ini yang dirancang untuk para wisatawan yang setelah lelah trekking dapat menikmati minuman dingin yang dijual. Sebenarnya jalur trekking medium tidak begitu panjang. Namun, panasnya matahari dan jarang sekali adanya pohon berwarna hijau membuat saya gerah dan ingin sekali meneguk teh botol dingin. Selain itu, ada beberapa penginapan yang berbentuk rumah panggung (tentu dibuat begitu biar si komodo nya ga sembarangan bisa masuk) yang bisa kita sewa jika ingin mengadakan penelitian di taman nasional ini. Sebelum meninggalkan pulau ini, jalur keluar menuju dermaga pun dirancang sehingga ada pasar kecil yang menjual souvenir si Ganteng.

Dari pulau Komodo, kami langsung ciao ke Pulau Rinca atau Loh Buaya. Tidak terlalu jauh dari Loh Liang. Kata Bang Adi, guide kami, Komodo di Loh Buaya jumlahnya lebih banyak di banding yang ada di Loh Liang. Hoho, apakah lebih ganteng? Kayaknya sama aja sih. Sama-sama menakutkan, takut di caplok tiba-tiba. 

Siap-siap buat trekking lagi. (12 pm. Panasnya gilaa!)
Saya, di sebelah kiri.
Kami memilih jalur medium lagi, karena tak mau berlama-lama dan ingin segera nyebur lagi ke Pantai Merah (-lagi, karena kemarin tak puas berenang di sana). Entah faktor beruntung atau tidak, justru di Loh Buaya kami tidak menjumpai banyak komodo. Dari ranger (saya lupa namanya), kami mendapat cerita neneknya beberapa bulan lalu pernah digigit komodo. Cerita lengkapnya saya lupa lagi, sudah hampir 6 bulan lalu sih, nyesel kan ngga langsung ditulis. Intinya sih dari perjalanan wisata safari demi ketemu si Ganteng ini membuat saya jadi benar-benar keling (hitam legam) dan bangga kalau udah ketemu Komodo. Hmm.. Kapan lagi? Keburu punah kan?

I couldn't be closer anymore!

Sekarang sudah 2013, memasuki bulan kedua pula. Sudah lewat hampir tiga bulan lalu, catatan perjalanan saya ke Flores terhenti di pulau Sumbawa. Tentu saja sebelum benar-benar basi atau jadi lupa. Hehe.. Sailing trip adalah pilihan paling tepat untuk saya, karena saya ingin lebih dekat dengan laut, beromansa, bersetubuh dan merasakan setiap lekuk dan aromanya. Selama empat hari, makan dan tidur di kapal, menikmati terik mentari, timbul dan tenggelam, fajar dan senja dari kapal. Untuk menuju Flores saya memilih berlayar dari Lombok selama empat hari.

Selamat pagi!


Flores menyambut ku pagi itu(17/11). Apa kamu ingat? pertama kali kamu bilang tanpa berpikir panjang, saat sedang minum kopi flores di warung kopi depan kampus. Ah simpan biji kopinya di dompet, siapa tau bisa sampe sana. Pagi ini yang menyapamu adalah mentari bulat-bulat dari laut timur. Bukan mimpi, ini nyata. Saat awak kapal dan teman-teman seperjalanan masih puas tertidur setelah delapan belas jam pelayaran dari laut Sumba, saya sudah terbangun dan duduk di dek depan menunggu mentari. Saat paling intim dengan merasakan angin laut timur dan menikmati suara debur ombak yang menabrak dinding kapal.

Sedikit pose ala "saya seorang pelaut"
Bintang-bintang yang berkedip di malam sebelumnya menandakan bahwa esoknya, hari ketiga dalam perjalanan sailing trip ini akan cerah. Benar saja, biru langit meneduhkan sepanjang pelayaran kami untuk mengeksplor bagian barat pulau Flores. Kalau pulau-pulau lain terlihat hijau dari kejauhan, maka pulau di Flores terlihat lebih mentereng dengan dominasi warna coklat atau kemerahan. Ini lah yang menjadi ciri khas pulau-pulau di Flores. 

Saat di pulau Jawa sudah memasuki musim hujan, pertengahan November di Flores ternyata masih kering. Meski sempat hujan di malam pertama sebelum memasuki Sumbawa, di Flores saya tidak menemui hujan serintik pun. Matahari menjadi kawan setia selama 3 hari terakhir saya di kepulauan paling barat dari Nusa Tenggara Timur ini.

Can't stop looking at you..
Setelah tiba di laut Flores, kami menuju perbukitan tinggi Gili Laba untuk melihat view Flores dari atas.  Membutuhkan sedikit trekking untuk mencapai puncaknya. Sendal jepit saya pun semakin longgar karena beberapa kali harus menahan beban di kemiringan dan menabrak batu-batu. Beberapa teman saya yang pakai flip-flop pun akhirnya nyeker berpanas-panas ria. Nggak masalah kali buat bule yak, trekking aja pake bikini. Hahahay..

Kepulauan barat Flores dari atas.
So, what are you doing here, Niken? 
I feel like in another world..
"How many days did you need when climb Mt Rinjani?" He said 3 days. Gilaaak.. Keren abis lah orang-orang dari negeri barat ini, karena orang Indonesia butuh 5 sampai 6 hari untuk naik turun gunung Rinjani. Saya pun mempercepat langkah kaki untuk menuju puncak. Sambil terengah-engah kepanasan, apalagi beberapa spot ada yang terbakar membuat keringat mengalir di kening. 

Matahari mulai terik menuju ubun-ubun. Rasanya berlama-lama di sini saya masih betah.
Tapi lebih baik nyebur, warna biru lautnya menggoda!
Dan tripod yang sengaja dibawa sampe atas pun akhirnya berguna juga buat foto bareng. Say cheeseee!! 


Setelah berpanasan di Gili Laba, saatnya nyebur! Lokasi snorkeling yang sudah ditunggu-tunggu, Pantai Merah atau terkenal dengan nama Pink beach. Di kapal saya selalu stand bye menggunakan drysuit. Kalau tiba-tiba kepengen nyebur kan tinggal nyebur, enggak repot-repot ganti baju, hehe. Pantai merah di sini arusnya besar. Kapal besar dilarang bersandar di tepi pantai, sehingga berenang menuju pantainya butuh tenaga ekstra. Baru kali itu saya berenang tanpa pengaman atau penanda(torpedo marker, bukan life jacket), karena beberapa kali sempat kelibet-libet sama talinya makanya saya malas. Saya pun berenang, snorkeling dan sesekali mencoba freediving sendirian. Yang alhasil membuat beberapa teman saya khawatir. Hahaha..

Pantai Merah dari kejauhan
Dinamakan pantai merah, karena memang pasirnya mengandung batuan berwarna merah. kalau diamati dari dekat tampak sekali pasir-pasir halus berwarna merah. Saat menyelam pun bisa terlihat batuan merahnya. Alam bawah laut pantai merah ini sudah tak diragukan lagi. Ketinggian satu meter saja segala jenis ikan dan koral berwarna warni bisa ditemui. Mengikuti saran teman saya yang sudah duluan sampe di isni pun akhirnya selama trip saya dua kali ke pantai merah! Daftar snorkeling di pulau Kelor pun dicoret. Hehe..

Mawar laut
Segala jenis ikan saya hanya sempat merekamnya dengan video.
Tunggu ya!
Sepertinya saya harus berlatih memotret di dalam air. Beberapa hasil rekaman video underwater saja banyak yang shake (wishlist 2013: punya gopro). Yasudahlah, saya memang ditakdirkan harus menikmatinya saja, tak perlu repot-repot merekamnya. Walaupun jelek, tapi masih bisa masuk proses editing, kok. Jadi tunggu ya videonya, saat menulis ini videonya masih digodok, belum matang. Hehehe.. Pun cerita petualangan saya di Flores masih panjang. Masih berlanjut di episode berikutnya. Seperti takkan habis untuk diceritakan. Bisa berenang bebas di laut Flores adalah impian saya yang kesekian yang sudah terwujud. Ah.. Thanks dreams! Because of you, I had many wonderful journeys!

Berlayarlah dengan apa yang kau genggam saat ini.


Sepenggal kalimat dari seorang teman, empat bulan lalu, membuat saya memutuskan untuk langsung membeli tiket pesawat ke Flores. Yang ada digenggaman saya saat itu hanyalah tiket pulang pergi Jakarta-Lombok, Labuan bajo-Jakarta. Entah ada pikiran apa yang merasuk ke kepala saya hingga membuat saya benar-benar jatuh cinta dengan laut. Saya ingin berlayar. Saya ingin mengarungi lautan. Saya ingin menjelajah samudera. 


Lembayung fajar di selat Sumbawa


Setelah tiket di tangan, saya belajar berenang dan tentunya mengumpulkan uang jajan. Sambil sedikit-sedikit membeli peralatan menyelam. Kalau saya ingat lagi, saya tak habis pikir karena dulu saya adalah orang yang takut air, maksud saya berada di dalam air yang bervolume tinggi seperti kolam renang. Dan mimpi saya ke Flores, membuat saya mengalahkan rasa takut itu. Selain itu, saya pun mulai belajar teknik freediving. Meski saat ini saya hanya mampu menyelam di kedalaman lima meter. Ya, rasa takut itu membuat pengalaman menyelam saya menjadi lebih berharga. Dan Rabu sore minggu lalu (14/11) saya berangkat ke Lombok dengan transit semalam di Bali. Awal perjalanan sailing trip ini pun disambut hujan deras di Jakarta.

Flores Sea
A journey of a thousand miles begins with a single step. Said Lao Tzu, a Chinese philosopher. A single step is just a beginning of the journey. What makes the journey becomes real is a dream. And my dream, sailing from Lombok to Flores, comes true! Every journey has a story. I'll tell you how really wonderful it is to sail through Flores sea for four days.
Postingan Lama