Sudah lama tidak update lagi tentang berburu kafe nih. Kali ini saya akan berbagi cerita tentang salah satu kafe di sudut Selatan Jakarta. Setelah pulang dari Bali, terakhir saya ngafe di Twin House Cipete sekitar bulan September tahun kemarin. Tapi bukan kafe ini yang akan saya bahas di sini. Tepatnya seminggu yang lalu saya dan Bre mampir ke coffee shop yang juga berada di daerah Cipete (yes, Cipete adalah area kafe yang paling menjamur di Jaksel). Namanya Dipuri, mengambil namanya dari nama jalan di mana letak kafe ini berada, Jalan Puri Mutiara Raya, Cipete Selatan. 


Yahoo— akhirnya nyempetin jalan-jalan meskipun singkat dua hari satu malam, ke kota sebelah Jakarta yang hanya ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Awalnya saya dan Bre berencana ke Bandung atau Cirebon. Melihat kondisi saya yang kurang fit pasca kontrol ke dokter kandungan, kamipun merubah haluan ke Bogor. Sehari sebelumnya saya langsung memesan satu kamar di Swiss Belinn Bogor.


Sebelum memulai cerita perjalanan selama tahun ini, mari kita tengok resolusi yang saya tulis akhir tahun 2021 lalu di tulisan ini.

Resolusi 2022? Saya kepingin jago bawa mobil. Terus yang sederhananya, snorkeling ke pulau seribu. Selama pandemi ini jangankan laut, saya sama sekali belum ketemu kolam untuk berenang.

Alhamdulillah yang kedua terwujud, pertengahan tahun ini saya dan Bre berkesempatan snorkeling di Nusa Penida. Dapat bonus istimewa pula, berenang bersama manta. Belajar menyetir mobil biar lebih mahir sudah saya coba, tapi hanya sekali. Setelahnya saya jadi malas, karena yang ngajarin (Bre) nggak sabar. Sepertinya lebih baik sewa supir dan cari lapangan khusus belajar setir mobil. Tahun ini saya mulai belajar bikin roti tawar dan ikut kelas membuat roti sourdough. Membuat roti sendiri, yang tentu kualitas bahannya lebih bagus dan rasanya lebih enak, menurut saya adalah sebuah pencapaian yang cukup besar karena tiap dua-tiga hari sekali kami selalu menyetok roti dari toko roti untuk sarapan.

Selain itu tidak ada pencapaian yang banyak saya lakukan. Malah, di tahun ketiga pandemi ini saya dan Bre lulus jadi sarjana Covid 19 tepat sepulang dari perjalanan Bali ke Malang. Lumayan cukup stres kami isolasi mandiri di rumah mertua. Selama 2 minggu hanya di kamar, keluar sesekali untuk ke kamar mandi dan mengambil makan. 

Melihat album foto di ponsel dan tulisan-tulisan di blog selama satu tahun, saya menyadari ternyata tidak banyak yang terjadi. Selain trip panjang ke Malang dan Bali selama dua bulan, kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan berkumpul bersama keluarga setiap akhir pekan. Hidup berjalan biasa-biasa saja. Sampai sekitar awal bulan Oktober kami mendapat kabar yang begitu menggembirakan, penantian selama tiga tahun kami akhirnya datang juga. Sebuah titik awal mulainya perjalanan baru yang sangat menegangkan. 

Banyak sekali cerita selama tiga bulan terakhir di tahun 2022 ini, semua saya tulis di timeline kalender di buku harian saya. Lika-liku memiliki peran baru dan beradaptasi dengan perubahan drastis. Saya dan Bre belajar hal baru dan juga banyak berdoa akan harapan-harapan baru di tahun depan. Ada satu-dua hal yang akan kami kejar di tahun depan, namun tentu saja fokus kami adalah anugerah yang dititipkan Allah ini. Terima kasih karena sudah hadir di hari-hari kami yang biasa ini, sampai jumpa tahun depan.


Setelah melanglang selama 3 hari di Nusa Ceningan, kami melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida, pulau yang letaknya tepat di sebelah tenggara Nusa Ceningan. Jadi dari Ceningan kita tinggal menyebrang menggunakan speed boat


Dapat payung cantik nih harusnya, selama sebulan di Bali saya tiga kali ke pantai ini. Lokasinya hanya 20 menit dari kostan. Dari parkiran tinggal ngesot bisa langsung nyebur. Yup, biasanya kalau mantai saya hanya rebahan saja di atas tikar. Tapi beningnya air laut membuat saya tidak tahan untuk berenang dan main ombak. 

28 Mei, 16 dan 19 Juni 2022 | Melasti Beach, Ungasan Bali


Menurut saya rasanya tidak lengkap melancong ke pulau dewata tanpa mencoba pijat relaksasi tradisional Bali. Apalagi jika punya banyak waktu luang, seperti perjalanan kami selama sebulan di Bali pada bulan Juni lalu. Tapi pilihan untuk pijat di tempat yang ramah muslim tidak banyak, kalaupun ada biayanya cukup menguras kantong. Akhirnya kami memilih untuk berendam air panas saja di Toya Devasya sambil melemaskan otot-otot setelah 4 minggu melanglang di Bali. 


Melanjutkan postingan minggu lalu Berburu Kafe dan Perkopian di Bali Part 1, ada 5 kafe lagi yang kami kunjungi selama tinggal satu bulan di Bali. Daftar kafe-kafe ini masih cocok dijadikan sebagai tempat #WFC atau Work From Cafe

Kehilangan kunci sudah jadi hal yang lumrah buat saya dan Brew. Alasan saya yang pasti karena ceroboh dan terburu-buru. Sedangkan Bre mungkin karena dia pelupa. Sudah dua kali kami membobol pintu rumah karena kehilangan kunci. Saya sendiri sudah berulang kali kehilangan kunci kostan saat kuliah di Bandung. Ibu kost sudah hafal hingga menyimpan beberapa kunci cadangan. Ingat betul, kunci kostan saya sering tertinggal di Jakarta, dan saya baru sadar saat sudah di depan pintu kost. Pernah juga saya menjatuhkan kunci di got kampus (seperti gorong-gorong) padahal sudah saya pasangkan dengan lanyard agar bisa digantung di leher. 


Untuk menuju tempat yang indah dibutuhkan usaha yang juga tidak mudah. Tapi bukan itu poin saya tentang pantai ini. Saya tak pernah lupa bagaimana Bre seru sekali bermain ombak di bawah, sampai tidak sadar kalau celananya melorot. Melorot semelorot-melorotnya. Sampai mas-mas bule di sebelah saya ikutan ketawa ngeliatnya.

10 Juni 2022 | Nusa Penida, Bali
Postingan Lama