Saat lelah meng-coding, yang saya lakukan adalah berhenti sejenak dan mendengarkan lagu. Menikmati setiap alunan dari suara gitar, piano, perkusi dan alat musik lainnya yang bisa menenangkan jiwa sambil melayangkan pikiran entah ke mana. Atau pada saat di perjalanan ketika sedang di dalam angkot, elf, bus atau metromini di mana saya sendiri tanpa teman berbincang, maka pikiran saya akan melayang jauh. Melamun, itu lah yang saya lakukan ketika sedang menganggur dan memang tak ingin melakukan apa-apa. Lamunan yang paling membuat saya tertarik dan ingin terus tenggelam jauh ke dalamnya adalah lamunan tentang masa depan. Sedang apa saya 10 tahun nanti, bersama dengan siapa, di mana, apa profesi saya, dan tentunya sebahagia apa saya nanti.

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.  
Eleanor Roosevelt

Sesuai dengan jurusan yang saya ambil, saya ingin menjadi seorang programmer handal yang dapat menghasilkan produk-produk IT yang berguna bagi orang banyak. Dan 10 tahun kemudian saya dapat menikmati jerih payah saya di masa muda. Terkadang pikiran itu jauh lebih tidak masuk akal, saya menjadi seorang entertainer yang bekerja di sebuah perusahaan televisi swasta sebagai pembawa acara perjalanan seperti Jejak Petualang. Atau menjadi seorang editor majalah travel. Atau seperti yang ayah saya inginkan, menjadi seorang enterpreneur. Dengan modal yang beliau berikan, saya bisa membuka sebuah cafe di Bandung atau membuka butik berdua dengan teman saya. 

Dan sore tadi ketika selama hampir satu jam berada di metromini jurusan Tebet-Ragunan, pikiran saya melayang semakin tak keruan. Setelah lulus kuliah, saya bekerja di sebuah perusahaan swasta di Belanda selama dua tahun. Dengan modal yang saya miliki setelah bekerja di luar negri, saya membuka usaha restaurant dan melakukan traveling keliling Indonesia bersama dengan seorang teman yang bekerja satu kantor dengan saya di Belanda. Entahlah dia menjadi jodoh saya atau bukan, yang pasti di setiap perjalanan yang kami lakukan kami sangat menikmatinya. Menyelam di Wakatobi, menikmati boat cruising di Raja Ampat, atau bermain bersama jellyfish di Kakaban. 

Bekerja menjadi seorang guru adalah cita-cita saya sejak SMP, ketika pertama kalinya saya mencintai pelajaran Fisika. Dan menjadi seorang pengajar adalah profesi yang saya inginkan setelah menikah dan memiliki banyak anak. Saya urung untuk melanjutkan sekolah lagi, yang artinya saya tak mungkin bisa menjadi seorang dosen. Jujur saya lebih menikmati belajar di "sekolah alam", belajar langsung dengan masyarakat, belajar langsung dari setiap melakukan perjalanan dari pada harus belajar di sekolah atau di universitas. Mungkin ini pikiran dangkal yang dapat saja berubah kapan pun. Pikiran-pikiran dangkal yang muncul ketika lamunan-lamunan saya bermain dengan bebasnya.

Masih banyak lagi hal-hal gila yang terlintas di kepala saya ketika saya melamun, dan pikiran tentang masa depan saya yang paling kuat adalah ketika usia saya mencapai kepala tiga, saya sudah menjelajahi seluruh dunia. Itulah impian yang benar-benar ingin saya wujudkan. 

Saya tiba di Jepara dini hari subuh setelah menjelajahi Kepulauan Karimun Jawa selama 4 hari. Saya menulis tentang perjalanan solo traveling saya ini lebih dahulu karena perjalanan ini masih begitu terngiang di pikiran saya karena baru kemarin sore saya mengucapkan selamat tinggal pada bumi kartini Indonesia, Jepara. Saya melakukan solo traveling di kota ini pada awalnya untuk mengisi waktu kekosongan menunggu keberangkatan bus yang akan saya tumpangi ke Jakarta. Selain itu karena kota ini idak terlalu besar, maka untuk pertama kalinya saya berani melakukan perjalanan sendiri tanpa ditemani siapapun. 

Setelah hampir 7 jam terombang-ambing di KM Muria dan terkena hembusan angin dingin sejak malam hari, saya tiba di pelabuhan Kartini pukul setengah 5 pagi. Melalui gerbang di dekat warung yang memiliki sedikit celah untuk dilalui, saya masuk ke pantai kartini untuk mencari masjid. Melalui celah gerbang ini saya tidak perlu membayar retribusi masuk ke pantai sebesar 7 ribu rupiah berkat informasi dari seorang nelayan di Karimun, hehe.

Matahari mulai muncul, saya berjalan kaki di sepanjang pantai Kartini. Saya duduk di ujung dermaga perahu sapta pesona yang menyebrangkan turis ke Pulau Panjang. Sambil makan roti yang saya beli di depan masjid, saya melihat ke air laut. Muncul segerombolan ikan, lalu saya lempar sepotong roti untuk mengumpulkan para ikan itu seperti yang pernah saya lakukan ketika snorkeling. Tapi segerombolan ikan itu malah ngeloyor hilang ke dalam laut. Sepertinya perilaku ikan di pinggir pantai yang ramai beda ya dengan ikan-ikan di tengah laut yang sepi. hehe.. Pantai Kartini kelihatan sangat kotor dengan sampah dan banyak sekali berjejalan warung-warung tenda yang menjual makanan. Kata penduduk sekitar, warung-warung non-permanen ini hanya ada pada saat habis lebaran sampai lebaran ketupat, yaitu seminggu setelah hari raya Idul Fitri. Nanti setelah perayaan lebaran ketupat, warung-warung ini akan bubar dan pantai Kartini akan kembali bersih seperti sebelumnya.



Saya melanjutkan mencari sarapan karena sebungkus roti tidak cukup memenuhi perut saya hehe. Saya menikmati semangkuk mie ayam bakso yang dijual persis di sebelah Kura-kura Ocean Park. Saya sedikit geli dengan pemandangan penyu besar yang dinamakan Kura-kura Ocean Park, jelas-jelas itu patung penyu kenapa namanya kura-kura..haha!


Kura-kura (*Penyu) Ocean Park

Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke pulau Panjang yang letaknya hanya 15 menit dari pantai Kartini. Untuk menuju pulau Panjang, kita harus membeli tiket seharga 12 ribu rupiah. Lagi-lagi saya adalah pembeli pertama selain di warung mie ayam bakso tadi. Karena masih pagi, belum banyak pengunjung yang datang jadi saya diharuskan menunggu hingga perahu penuh dengan penumpang. Saya menunggu hampir satu jam. Hal ini saya manfaatkan dengan berbincang-bincang dengan bapak-bapak abk pengantar turis ke pulau Panjang. Di tengah obrolan, seorang bapak asal Sulawesi sempat menakut-nakuti saya dengan kejadian penemuan mayat seorang wanita. Kalau saya takut untuk melakukan perjalanan, saya gak akan bisa kemana-mana pak, hehe.. seperti kata pepatah "Worrying gets you nowhere". Saya pun kemudian diberi kesempatan untuk menjadi announcer dengan mengajak para pengujung untuk membeli tiket ke pulau Panjang. Untung suara saya sudah kembali seperti semula setelah hilang waktu di Karimun, hehe.

Perahu ke pulau Panjang

Jadi announcer

Pulau Panjang dengan pasirnya yang putih, untuk masuk ke pulau ini ternyata kita dimintai lagi retribusi yaitu sebesar 5 ribu rupiah. Hmm tapi dengan kondisi pantai yang penuh dengan sampah membuat saya membayar dengan terpaksa. Di pulau Panjang terdapat sebuah makam dan sebuah mercusuar. Ada beberapa orang yang sengaja melakukan ziarah ke makam ini. Terdapat jalan setapak di sepanjang pulau. Kita dapat memutari pulau ini dalam waktu setengah jam. Tapi saya urung, mengingat kondisi tubuh saya yang mulai melemah gara-gara duduk semalaman di dek atas KM Muria.


Pantai Pulau Panjang

Jalan setapak di pulau Panjang

Setelah mencapai makam, saya beristirahat sembari mengobrol dengan seorang pengunjung yang membawa keluarganya ke sana. Setelah hampir satu setengah jam, saya melanjutkan perjalanan ke lokasi mercusuar.   Namun, semakin jauh saya berjalan kaki, ternyata semakin sepi dan tak ada orang lain selain saya. Karena rasa lelah dan sedikit takut karena sekeliling jalan adalah hutan, akhirnya saya berhenti dan kembali ke dermaga untuk kembali ke pantai Kartini. Dari pantai Kartini, dengan menyewa becak 10 ribu rupiah saya diantar ke terminal Jepara untuk membeli tiket kembali ke Jakarta. Di perjalanan si bapak tukang becak menawarkan saya untuk mengitari Jepara selama sejam. Selain ke terminal, saya diajak jalan-jalan ke Pasar Jepara 1, memutar-mutar daerah Pengkol mencari ATM, ke alun-alun dan terakhir ke Museum Kartini. Berikut foto yang saya ambil dari becak.



Suasana rindang kota Jepara

Untuk masuk Museum Kartini, saya membeli tiket sebesar 3 ribu rupiah. Di dalam museum ini berisi sejarah tentang Kartini dan barang-barang yang digunakannya selama masa hidupnya. Di sini saya beristirahat di kursi panjang di bawah pohon besar. Suasana yang sepi dan rindang membuat saya hampir tertidur. Matahari sudah di atas kepala, saya meninggalkan museum Kartini untuk mencari masjid. Tak jauh dari museum Kartini ada masjid milik tentara. Setelah sholat zuhur saya melanjutkan perjalanan untuk mencari makan siang sekaligus kuliner.




Setelah mendapat info dari seorang teman di Jepara, di belakang museum Kartini ternyata ada Shopping Center Jepara, atau sering disebutnya SCJ. Saya menemukan sebuah warung sate Solo yang agak ramai. Namun, karena masih penasaran dengan warung-warunmg lain DI SCJ saya berjalan-jalan mengitari SCJ. Tapi sepertinya tidak ada yang membuat saya tertarik dan akhirnya saya kembali ke warung sate Solo tadi. Warung itu sudah ramai sekali. Saya pesan satu porsi, tapi kata si penjual sudah habis. Oh tidak, saya sudah tak sanggup lagi melangkah karena lelah dan lapar. Akhirnya saya hanya duduk di samping warung sambil merasakan aroma asap dari sate yang sedang dipanggang. Saya bertemu dengan ibu pemilik warung. Tanpa saya sadari saya merayu-rayu si ibu untuk menyisakan 5 tusuk sate saja kalau ada. Sepertinya si ibu kasihan dan menyuruh saya menunggu. Dan ternyata memang masih tersisa 8 tusuk. Ah bahagaianya saya waktu itu. Hehehe.. tapi lagi-lagi hal buruk menimpa saya, nasi putihnya habis. Hanya tersisa satu centong saja alias seperempat porsi saya biasanya. Ah ya sudahlah, berarti saya memang diharuskan untuk makan lagi di luar.

SCJ - Shopping Center Jepara

Dalam waktu kurang dari 15 menit saya menghabiskan satu porsi sate kambing yang rasanya..hmm enak sekali. Andai saja bisa nambah. Setelah itu si ibu menyuruh para karyawannya untuk bersih-bersih. Saya masih sangat lelah untuk langsung meninggalkan warung itu. Jadi saya memohon pada si ibu untuk tetap tinggal di warung itu sementara para karyawannya membersihkan warung. Saya berbincang-bincang dengan si ibu. Ketika saya menanyakan tentang lokasi Taman Makam Pahlawan, si ibu menawarkan saya untuk diantar oleh anaknya. Tentu saja saya tidak menolak, dari pada saya harus berjalan kaki sepanjang 300m menanjak, hehe!

Ternyata karyawan di warung satenya itu adalah anak-anak dari si ibu. Si ibu tidak mau memberi tahu namanya, karena di sana masih ada guna-guna, jadi warung satenya hanya dinamakan Warung Sate Kambing Solo. Saya diantar ke TMP, seperti seorang tour guide mereka menjelaskan kepada saya tentang TMP tersebut, kemudian tentang benteng Portugis yang ada di sana, serta GBK atau Gelora Bumi Kartini yang letaknya bisa terlihat dari TMP. Dari TMP jg bisa terlihat pesisir sepanjang Jepara, ada pantai Kartini dan pantai Bandengan. Saya tidak sempat ke pantai Bandengan karena jam 5 sore saya harus sudah di terminal. Setelah itu saya diantar ke pusat seni ukir di desa Mulyoharjo yang letaknya tidak jauh dari TMP.

TMP


Pusat Seni Ukir Jepara

Kembali ke SCJ, saya diajak minum es gempol khas Jepara di warung-warung tenda di depan SCJ. Dulunya PKL atau pedagang kaki lima di sana berjualan di alun-alun tapi saat ini sudah dipindah ke depan SCJ. Jika hari mulai sore, di sana akan sangat ramai.


Sate kambing Solo dan Es Gempol

Jam menunjukkan pukul setengah 5 sore, saya pamit pada ibu pemilik warung dan kedua anaknya. Terima kasih ibu, mas agus dan mas wahyu yang sudi mengantar saya keliling Jepara. Suatu saat saya akan kembali ke warung ibu menikmati sate terenak di Jepara!

Perjalanan yang dilakukan sendiri. Begitu saya mengartikan solo traveling. Saya sudah tiga kali melakukan solo traveling ke Semarang, Jogja dan ke Malang, tapi menurut saya itu bukan solo traveling, karena toh pas di kota yang saya tuju saya bertemu dengan teman saya dan mengelilingi kota ditemani dia juga. Oleh karena itu, saya bercita-cita ingin sekali solo traveling ke suatu tempat. Bepergian sendiri, mengeksplor suatu tempat sendiri dan mengalami banyak hal-hal baru sendiri. Hanya satu hal yang membuat saya ragu untuk melakukan solo traveling, yaitu rasa aman dalam perjalanan. Alasan lain seperti takut bosan bukan jadi penghalang untuk melakukan perjalanan. Jujur saja saya tidak memiliki kemampuan bela diri. Dulu pernah sih belajar silat, tapi tidak sampai setahun. Itupun masih smp, jadi sekarang sudah lupa ilmunya. Hehee. Karena ragu itu lah saya sering urung niat pergi sendiri, paling tidak mengajak satu teman.

Melakukan perjalanan sendiri pastinya memberikan kesan yang berbeda. Mungkin kita biasa tertawa bersama teman-teman seperjalanan yang sudah kita kenal dekat. Berbeda dengan perjalanan sendiri di mana kita mencoba mengeksplor sesuatu dengan sudut pandang kita sendiri. Inilah yang akan saya lakukan di akhir minggu ini, solo traveling ke Karimun Jawa, Jepara. Mungkin terlalu nekat untuk traveling sendirian kesana mengingat budget yang tidak sedikit jika kita kesana sendirian. Oleh karena itu, saya mendaftar paket backpacker untuk satu orang di sini. Dengan 400 ribu rupiah, saya bisa menikmati keindahan kepulauan Karimun Jawa untuk 4 hari 4 malam. Solo traveling yang akan saya lakukan adalah mengeksplor Jepara. Berhubung bus yang saya pesan untuk kembali ke Jakarta baru berangkat sore hari dan kedatangan saya di pelabuhan dari pulau karimun jawa adalah dini hari, jadi dari pada saya terkatung-katung tak jelas di sana maka saya berencana mengeksplor kota yang katanya tidak perlu setengah jam untuk memutarinya.
Seorang teman memberikan nasihatnya pada saya, jangan keliatan ragu atau bingung dalam melangkah, senjata utama dalam bepergian adalah percaya diri dan doa. Saya baru tersadar akan kata-katanya itu karena saya sempat sedikit ragu untuk solo traveling mengingat 'senjata' yang biasa saya bawa tertinggal di kost. Hal ini tidak akan membuat saya berhenti untuk melakukan perjalanan. Ya, tak ada yang bisa membuat langkahmu berhenti kecuali Tuhan yang memberhentikan langkahmu untuk menuju ke pangkuan-Nya.

Baru kali ini saya mengadakan perjalanan dengan membawa lebih dari 10 orang. Acara pelantikan tambahan untuk calon anggota UKM pecinta fotografi di kampus saya. Kebetulan karena saya belum sempat dilantik secara resmi maka saya dan kedua teman saya diharuskan membuat acara hunting gede ini. Setelah melakukan voting tempat yang menjadi destinasi hunting, akhirnya diputuskan untuk hunting ke Pesisir Pamengpeuk, Garut. Sebenernya saya sudah "bosan" kesana, karena next trip di dalam list saya tertulis pantai Sawarna, Banten. Tapi mau gak mau saya harus mengikuti 13 suara yang memilih Pesisir Pamengpeuk. Tapi hal itu tidak mengurangi semangat saya. Meskipun sudah dua kali kesana, saya percaya pasti ada hal baru yang akan saya alami nanti.
Berangkat jam 9 malam, saat itu berkumpul di depan atm kampus. Keberangkatan tertunda karena harus menunggu mobil pinjaman yang baru sampai kampus jam 11 malam. 2 mobil dengan kapasitas 14 orang, cukup membuat kaki pegal-pegal tapi saya masih bersyukur kalau dibandingkan harus naek ELF yang selayaknya diisi 15-18 orang terpaksa diisi sampe 30 orang+binatang-binatang peliharan yang tak jelas baunya. Hahaha. Mobil berhenti di sebuah pelataran yang disekilingnya terdapat warung-warung kecil. Setelah keluar dari mobil, udara dingin langsung terasa karena angin laut mulai menyapa daratan. Melihat langit yang dipenuhi bintang menandakan bahwa hari ini akan cerah. Karena hari masih terlalu pagi, maka kita putuskan untuk berleha-leha dulu di warung kopi sambil bercerita dan berbagi tawa. Jujur saja saya dan kedua teman saya ini adalah angkatan tertua di kelompok pecinta fotografi itu, tapi kami baru saja mau dilantik karena kami baru masuk tahun 2010. tidak ada kata terlambat untuk belajar! Bersama dengan angkatan baru yang masih fresh-fresh, saya merasa seperti anak muda lagi. Hehe!
Setelah sholat subuh, kami menuju ke timur dengan berjalan kaki. Sampai di pantai semuanya mulai autis dengan kamera masing-masing. Sh*t! this is when I hate the most. Semua membawa kamera canggih, hanya kamera saya saja yang masih pocket, jadi untuk merekam di saat cahaya sangat sedikit, kamera saya pasti tidak mampu. Semua berlomba-lomba untuk memperoleh gambar terbaik. Mungkin bagi saya yang tidak terlalu fanatik dengan fotografi, menikmati salah satu keagungan Tuhan ini adalah dengan melihatnya langsung dengan kedua mata saya. Kamera saya masih terlalu malas untuk bergerak. Saya hanya bersandar di atas ponco yang selalu saya bawa kemana-mana. Baru kali itu saya menikmati suara ombak di waktu fajar.
Matahari mulai menampakan sedikit pesonanya. Setelah sekian kali saya ke pantai, baru kali itu saya melihat matahari terbit tanpa mendung. Ah bahagianya saya saat itu.. setelah menikmatinya sambil merasakan udara dingin dari laut, akhirnya kamera saya bergerak.
Photobucket

Photobucket
Sudut pantai sayang heulang di sebelah barat (atas) dan timur (bawah)

Sinar matahari mulai menyengat tubuh, kami kembali ke tempat parkir mobil. Saya dan Burid teman saya langsung menuju penginapan. Penginapan yang setahun lalu pernah saya singgahi untuk bermalam saat backpacking bersama Dito dkk. Karena kami hanya berniat untuk istirahat dan masak-masak maka kami nego satu kamar seharga 50 ribu sampai sore hari. Baru kali itu pula saya masak untuk 14 orang. Dibantu Fani untuk sarapan dan makan siang. Itu pun saya yang jadi leade, karena yang bertanggung jawab untuk acara itu. Setelah sarapan sebagian bermain ke pantai, dan saya karena capek membuat sarapan maka saya mandi kemudian tanpa sengaja tertidur.
Saat saya bangun, saya mendengar cerita dari teman saya yang baru saja kembali dari bermain di pantai. Pada saat Wiwid berenang, dia dihampiri "benda yang tak boleh disebut namanya" yang masih mengapung dan utuh. Saat itu masih pagi, pasti taulah apa benda yang tak boleh disebut namanya itu. Maksud saya benda itu adalah kotoran manusia, ya saya ga salah menuliskannya sebagai benda yang tak boleh disebut namanya. Hahahaa. Karena mendengar namanya saja bisa menghilangkan nafsu makan. Saya pun pernah tak sengaja mengucapkan nama benda itu waktu siaran, dan alhasil banyak protes dari para pendengar, ternyata ada diantara mereka yang sedang minum jus mangga. Wkwkwk Pertama kalinya saya tau ternyata di pantai bisa juga ada benda seperti itu. Selain perasaan jijik, saya juga senang karena teman saya yang menjadi korban, benda yang tak boleh disebut namanya itu mengapung persis di sebelahnya. Wkwkwk.. Sampai perjalanan pulang pun, cerita itu masih saja jadi bahan tertawaan.
Siang hari yang terik, membuat saya haus. Dengan mengeluarkan kocek 2500 saya menikmati kelapa muda langsung dari batoknya dan ditemani semilir angin laut. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Guha. Pantai curam ini letaknya tidak jauh dari pantai Rancabuaya. Seperti lapangan bola, dihidupi oleh rumput hijau membuat pantai ini begitu berbeda dibandingkan pantai-pantai yang ada di pesisir Pamengpeuk. Karena terlalu menikmati pemandangan indah dari pantai curam ini, saya hanya memperoleh satu gambar.

Photobucket

Matahari mulai menepi menuju barat, kami pun bergegas menuju pantai Rancabuaya. Karena dari sana view matahari tenggelam benar-benar indah. Dan memang benar, kali kedua saya kesana saya benar-benar dibuat terpesona lagi oleh warna jingga dari matahari yang ingin menggapai garis horizon bumi. Peristiwa ini begitu singkat, 5 menit saja matahari sudah tenggelam.
Setelah itu saya bertiga dengan teman saya dilantik sebagai anggota, walaupun pada akhirnya saya lebih sering jalan-jalan sendiri dibanding kumpul di komunitas itu hehehe. Mereka para pecinta fotografi pun puas dengan matahari yang hari ini membuat mereka memperoleh banyak sekali gambar digital. Dan saya pun bersyukur masih bisa melihat keindahan pesona matahari dari mulai terbit hingga tenggelam.

Terima kasih matahari!

Photobucket
Masih ku ingat di sana. Ku kayuh sepeda memutari pinggiran pulau. Menuju perhentian di sudut barat. Sudah terlihat lembayung di langit trawangan. Sepasang kekasih yang baru saja berkenalan di pulau itu memadu kasih bagai sepasang suami istri. Aku sendiri hanya tersenyum dan membayangkan suatu saat nanti aku ingin kembali ke sini, tapi tidak sendiri. Tersadar dari lamunan, terdengar ombak menerpa karang tidak jauh dari tempatku bersandar. Untuk kesekian kalinya aku dibuat terpesona oleh warna jingga yang memikat mata. Matahari pun akhirnya melewati horizon meninggalkan berkas senja.
Sampai jumpa matahari terbenam di Gili Trawangan.
14 Januari 2011

Begitu banyak pertanyaan tentang gimana caranya gw bisa lolos ACI2011. Hehehe akhirnya gw putuskan untuk gw post lewat blog. Beberapa dari temen gw sampe iri ngeliat gw lolos, sampe dihujam beratus-ratus pertanyaan *lebay*. Semua pertanyaan itu bisa gw jawab, hanya satu pertanyaan tentang "Kemana?" itu yang belum bisa gw jawab, paling hanya dengan celetukan "Kemana aja boyee.." bikin orang jadi penasaran hihi. Di sini gw akan bercerita mulai dari gw daftar ACI sampe bisa lolos.

Photobucket
Bukti otentik dengan foto andalan waktu terpilih 60 Petualang ACI2011
Let's start!
Pertama ikutan ini diajakin sama ryan. Doi emg paling aktif di dunia maya, apalagi kalo ada info-info lomba atau event. Maka, gw sangat berterima kasih sama dia karena udah ngebagi info tentang ACI2011 ini, secara gw jarang update. Setelah dapet info itu, saat itu juga pun gw langsung daftar di hari pertama detikcom membuka pendaftaran. Form terakhir tentang Alasan kenapa harus terpilih itu yang buat gw agak sedikit mikir. Gw harus bikin kata-kata yang menarik nih. Yang gw masih inget kalo gak salah awal kalimat gw bilang "Saya adalah wanita tangguh yang haus akan petualangan ... blablabla" Kemudian gw upload foto andalan gw, foto gaya ketek hehe waktu di Lombok. Setelah itu gw post. Dan beberapa jam kemudian gw baru sadar setelah nyari-nyari info buat lolos seleksi pertama yang ternyata kita harus bikin kata-kata semenarik mungkin di bagian alasan kenapa harus terpilih itu. Oh no! gw terlalu cepat buat daftar tanpa mikir-mikir panjang bakal bilang apa di bagian itu. Si ryan aja sampe nunda buat daftar sebulan kemudian. Hahahaa.. 200 karakter sangat sedikit, sehingga kita harus jeli buat ngisi alasan kenapa kita harus terpilih.
Ok next adalah gw terpilih lolos seleksi 750 besar kandidat petualang ACI2011. Pengumuman tentang peserta yang lolos seleksi tanggal 13 Juli kalo ga salah. Gw tau berita tentang lolosnya gw jg dari ryan lewat mentionnya di twitter. Doh ga update banget sih gw. Dia sampe ngutuk2 gw karena gw lolos dia enggak, hehe. Untuk memastikan gw lolos, harus check email dari detikcom. Karena sempat kejadian kalau nge-check lewat smartphone ada eh ternyata lewat kompi ga ada. Akhirnya gw check email dan ternyata ada! Alhamdulillah.. 750 dari sekian puluh ribu orang akhirnya gw terseleksi. Setelah baca email, gw langsung konfirmasi jadwal wawancara Sabtu 23 Juli jam 12.30. 2 hari kemudian gw baru sadar kalo tanggal segitu itu tanggal wisuda temen-temen gw..aaargh akhirnya gw hubungin lagi langsung kantor detik dan dapet sesi Senin 25 Juli jam 8 pagi!
Proses selanjutnya adalah wawancara di Jakarta. of course, gw lebih milih untuk dateng wawancara. Karena gw yakin face to face bisa lebih meninggalkan kesan yang mendalam dibanding harus lewat video kiriman. Karena gw sempet baca tentang peserta ACI2010 yang sampe bela-belain dari lampung ke Jakarta naek bis karena video yang dia ga terlalu prepare buat videonya. Lagian Bandung-Jakarta deket, sekalian mo ke rumah karena udah berbulan-bulan ga pulang haha. Yang pasti untuk sesi wawancara gw udah nyiapin skenarionya. Bukan skenario yang dibuat-buat, tapi skenario untuk ngegambarin diri gw yang sebenarnya. Karena gw sering lupa dan ga bisa ngatur kata-kata yang bagus buat bikin orang jadi tertarik *karena efek cuek* Skenario yang gw bikin gw samain aja sama persyaratan video kiriman dengan ngejawab 3 pertanyaan :
1. Ceritakan singkat tentang diri Anda
2. Aku Cinta Indonesia, karena ...
3. SAya harus terpilih, karena ...
Nah dari situ gw mulai mengatur kata-kata bijak, pengalaman gw selama traveling, profesi yang berhubungan sama traveling, kayak nulis, fotografi dan siaran radio, gw cinta Indonesia kenapa, dan pastinya kenapa gw harus terpilih *lagi-lagi pertanyaan ini*
Setelah dapat masukan dari beberapa temen tentang skenario gw ini, akhirnya gw siap berangkat minggu sore dari Bandung naek travel biar cepet. Sampe di rumah istirahat, dan dini hari bangun buat siap-siap berangkat ke kantor detik di warung jati barat. Berangkat pake baju merah panjang hasil pinjeman adek gw dan jilbab coklat, rada ga nyambung sih tapi gw cuek aja haha. Sampe di sana ternyata gw adalah peserta ketiga yang dateng paling pagi. Sampe-sampe panitianya aja belum ada yang datang. Hahaha.. Ketemu dua orang tante-tante gw sok-sokan aja akrab ngajak kenalan. Kemudian setelah nunggu hampir satu jam, berkumpulah para peserta yang katanya hari itu sangat sedikit dibanding hari-hari lainnya. Macem-macem profesinya, ada yang mahasiswa, dive master, jurnalis, aiiih keren-keren, kayaknya cuma gw yang pengangguran stuck di skripsi. Hehe!
Pertama kita dikasih no urut, terus foto bareng. Abis itu kita dikasih form isian tentang data diri lengkap, pernyataan kesanggupan kalau seandainya nanti diterima, dan cerita singkat tentang pengalaman traveling yang paling menarik. Yang pasti gw bercerita tentang road trip gw san temen-temen gw selama 9 hari ke 5 pulau di Indonesia. Setelah itu secara bergiliran kita disuruh buat video diri. Dengan pede gw ngomong dengan volume tinggi, biar eksis gitu lho hoho. Sampe-sampe peserta lain teralihkan perhatiannya gara-gara suara gw yang melengking ini waktu kamera standby. Hehe! Awalnya ga gugup, tapi pas diakhir-akhir gw mulai gugup waktu bilang kenapa gw cinta Indonesia. Si mas-mas yang ngevideoin jadi ikutan senyam-senyum malah bikin gw makin grogi. Akh! Setelah itu gw kenalan dengan anak UNHAS yang katanya dia jurnalis di majalah kampus. Dia terpesona waktu ngeliat gw bikin video diri. Tips gw kalo bikin video diri itu minimal kita harus pede, ngomong kenceng biar kedengeran karena kita ga dikasih mic jadi jangan harap kalo kita kayak ngomong biasa suaranya bisa terekam di kamera, terus tinggalkan kesan yang mendalam pada kata-kata terakhir. Kayak gini ...

Bagi saya tidak masalah dimanapun nanti saya dikirim, karena bagi saya dimanapun memiliki kesan dan daya tarik yang indah dan berbeda, karena tempat itu adalah Indonesia, negara kepulauan terbanyak di dunia dengan berbagai suku dan budayanya.
Kemudian sesi berikutnya adalah wawancara. Gw wawancara berdua sama anak gundar, cewe, imut cantik yang ternyata dia juga petualang. Bisa ga ya gw kayak gitu, tampil sexy tapi adventure bangets! wkwkwk, keburu jebol betis gw karena gw suka jalan kaki kemana-mana haha. Wawancara yang memakan waktu hampir satu jam ini bikin gw kelaparan. Di sesi wawancara ini kita langsung berhadapan sama 3 panitia. Pertanyaan yang masih teringat di kepala gw adalah :
- Ceritakan tentang diri kamu
- Berapa lama perjalanan yang pernah kamu lakukan?
- Tempat mana yang pengen kamu kunjungi?
- Kalau seandainya ada temen seperjalanan yang sakit, apa tindakan kamu?
- Kamu adalah leader, seandainya ada beda pendapat apa yang kamu putuskan?
- Abis perjalanan kamu diharuskan bikin artikel, kan capek tuh. Gimana?
- Merk kamera kamu apa?
Lho lho lho..hehehe dan yang pasti pertanyaan terakhir adalah, buat mereka yakin kalo kita pasti terpilih. So, buat temen-temen yang belum lolos, masih ada kesempatan taun depan. Jangan sia-sia kan! Cintai negrimu dengan menjelajahnya sendiri, jangan sampai kejadian lagi kita dijelajah bangsa lain. Kalau bukan kita yang mencintainya, siapa lagi?

Aku cinta Indonesia!
Terima kasih ACIdetik.com!
Salam,
Mahasiswa jurusan IT yang bercita-cita jadi full-time traveler.

Target Juli gagal. Target prasidang ga jadi, program belum beres. Dan akhirnya snorkeling di Karimun Jawa pun gak jadi. Salah siapa?

Bulan Ramadhan tiba,
Pikiran lebih fokus, target bulan Juli kemarin harus bisa diselesaikan bulan ini. Sampai terharu dosen pembimbing bilang dia pengen banget ngelulusin gw secepatnya. Gak tega kali yah udah ampir 4 bulan ini gw ga traveling kemana-mana, karena memang kesepakatan sebelum prasidang ga boleh jalan-jalan. Bulan ini harus bisa!


Photobucket
Matahari terbit di Puncak Guha, Garut

Photobucket
Cikoneng, sudut kampus telkom yang jadi tempat favorit terdekat buat hunting

Setelah terpilih jadi 750 kandidat petualang ACI 2011, kini saatnya mempersiapkan buat wawancara Senin depan. Persiapan yang sangat mendadak mengingat waktunya tinggal sehari lagi. Sore ini berangkat ke Jakarta, dan besok subuh memontoran menuju kantor detikcom di Gedung Aldevco Lantai 2 Jl. Warung Jati Barat No. 75 Jakarta Selatan. Registrasi ulang jam 8 pagi, harus berangkat subuh mengingat jalan sepanjang dari rumah menuju warung jati barat pasti macet. Jalur yang sama waktu jaman sma berangkat ke sekolah jam setengah 6 pagi biar gak kena macet.

Ini peta yang diambil dari maps google, biar ga kelewatan ntar pas kesana. karena kalo lewat muternya bisa jauuuh banget hahahaa




Apa aja persiapannya? Hmm rahasia dongs, hehe yang pasti gw harus terpilih. Keliling Indonesia sudah jadi salah satu impian gw. Negara yang paling gw cintai, meskipun gw belum pernah menjejakkan kaki di luar tanah air, gw yakin gak ada negara yang lebih indah di mata gw selain Indonesia.