Jangan kusut dulu membaca judul postingan ini. Serius murni nggak ada hubungannya sama sekali dengan Korea. Hanya saja judul ini merujuk pada sesuatu yang berbau korea. Pantai terakhir yang saya kunjungi seminggu yang lalu di pesisir Gunung Kidul, punya nama yang pasti setiap orang dengar akan merujuk ke negara yang terkenal dengan oplas nya itu. Nama pantainya Jongwok. Tuh kan, pasti saat kamu denger nama itu langsung kepikiran SNSD atau Suju hahaha.. Lalu, kenapa saya beri judul Kim Jongwok?
Siang itu, matahari sudah di atas kepala. Perjalanan saya dari Pacitan menuju Yogyakarta memaksa saya untuk singgah di pesisir Gunung Kidul. Saya mencapai pantai Wediombo, pantai yang terletak paling timur setelah pantai Sadeng setelah dua jam duduk di motor menatap jalanan. Pantai Wediombo yang sudah tidak perawan ini bukanlah tujuan saya melipir di pesisir Gunung Kidul. Tetapi pantai perawan yang tersembunyi di balik bukit di sebelah Wediombo. Info pertama yang saya dapatkan tentang pantai Jongwok ini bukan dari dunia maya, tapi langsung dari travelmate saya di Yogya yang kebetulan beberapa bulan sebelumnya telah mencapai pantai perawan itu. Ya, sesuai dengan judulnya pantai perawan, pantai ini benar-benar masih virgin, lihat saja plang penunjuk jalan untuk menuju pantai ini. Hanya bermodalkan sisa kardus mie, spidol hitam dan dipasang menancap di batang pohon dengan paku karatan.
![]() |
| Setelah diambil buat foto, saya tancepin lagi kok! |
Dari pantai Wediombo, kami menuju timur atau belok ke arah kiri sampai bertemu dengan plang itu. Kemudian kurang dari lima ratus meter, kami berjalan kaki di bawah terik matahari melewati pematang sawah yang sudah panen dan bukit-bukit kecil. Keringat yang mengucur di dahi pun tersapu oleh angin laut. Lelah setelah perjalanan dari Pacitan pun hilang saat kami disajikan warna biru laut dan langit serta suara desiran ombak yang mengalahkan segala jenis musik yg terputar di ipod saya. Pantai Jongwok, merangsang saya untuk menggagahinya. Ah cukup saja dengan foto yang terekam di kamera dan memori yang terekam di kepala.
Saat tiba di sana, ada empat tenda dome yang salah satunya dimiliki oleh dua pasang anak muda dari kota Yogyakarta. Karena barang bawaan saya sebuah keril setinggi kepala saat digendong, mereka mengira saya akan kemping di pantai Jongwok. "Maunya sih, tapi kereta saya berangkat sore ini juga." Kalau saja saya masih free dan tidak terikat kontrak kerja di Jakarta, saya pasti udah nggelar ponco, leyeh-leyeh di pantai sampai sunset. Ah tapi siang itu terlalu terik, saya dan Galang pun mencari tempat berteduh. Jangan berharap ada warung atau toilet di tempat se-virgin ini.
Matahari yang menyengat membuat saya malas bergerak dari tempat kami berteduh di balik tebing yang menghalau cahaya matahari. Kami cuma bengong, lalu mulai nggak jelas, dan akhirnya terpaku ke keong kecil yang ukurannya sebesar kuku jari kelingking saya. Keong itu lincah sekali, nggak mau diem saat saat berada di telapak tangan saya karena mau difoto. Pantai Jongwok yang tadinya sepi mulai ramai dengan teriakan-teriakan saya yang gemes bermain dengan si keong kecil. Saya akan membawanya ke Jakarta, menemani perjalanan saya sendirian di kereta. Kasih nama siapa ya? Galang nyeletuk, Kim Jong-wok!
Kalau ingin menjumpai pantai "tergerah" di Bali kita bisa ke pantai Kuta. Nah, kalau di Jakarta kita bisa ke pantai Ancol. Pantai yang mungkin perbandingan jumlah orang dan luas tanahnya hampir satu banding satu. Hehe. Dan urutan kedua setelah Ancol, menurut saya adalah P. Untung Jawa yang bisa ditempuh kurang dari satu jam dari Tanjung Pasir, Tangerang.
![]() |
| Ternyata ada tiket masuknya, dan kami pun lolos ngga bayar karena saking ramenya ngga ada yang merhatiin :p |
Ketika sampai di sana [15/7], kami benar-benar dipadati orang. Rasanya mau leyeh-leyeh dipantai pun tidak bisa, keburu diinjek orang saking ramainya. Tapi kenapa ya saya ingin ke pulau itu? toh saya tidak bisa bersantai dan berjemur di sana. Dan jawabannya apalagi kalau bukan karena penasaran. Di sana saya menemukan otak-otak favorit di jaman SMA dulu kala, dan banyak lagi tukang jualan yang sering ditemukan di sekitaran rumah kita seperti tukang bakso, somay, warkop, sampai tukang jualan mainan anak-anak.
![]() |
| Elang laut yang melintas di atas kepala saya |
Informasi tentang adanya Pulau Rambut tak sengaja saya peroleh ketika sedang asyik scrolling TL twitter. Dan tak sengaja pula, keesokan harinya saya diajak untuk mampir ke pulau yang terkenal dengan surganya para burung itu. Pulau Rambut masih masuk dalam kelurahan Kep Untung Jawa yang masih masuk dalam provinsi DKI Jakarta. Sebenarnya tak mudah untuk bisa masuk ke Pulau Rambut, karena pulau yang luasnya 20ha itu adalah konservasi atau cagar alam bagi burung-burung yang tinggal didalamnya. Hanya para akademisi yang memiliki surat ijinlah yang dapat memasuki pulau itu untuk melakukan penelitian. Dan bagaimana cara kita masuk? ini saja sih prinsip yang kami terapkan dimanapun kami berada. Selama tidak mengambil apapun selain gambar, tak meninggalkan apapun selain jejak kaki dan tak membunuh apapun selain waktu, tentu kami bisa masuk ke sana. Karena tidak semua orang bisa menerapkannya kan. Hehee..















