Welcome, Sumatera!

14 Jun 2012

Kami berkumpul di terminal Kampung Rambutan sejak jam 8 malam (16/5). Menunggu untuk bertemu dengan teman-teman seperjalanan kemudian berangkat menuju Merak pada tengah malam. Saya bersama dengan 12 orang lainnya yang baru saja saya kenal melalui komunitas Backpacker Indonesia, melakukan perjalanan ke tanah sebrang, ke Lampung, Sumatera. Itinerary dan budget yang sudah lengkap yang dibuat oleh mbak Sharie, menjadi bekal kami untuk mengeksplor Lampung. 

Setelah tiga jam berdempet-dempetan di dalam bus, kami tiba di pelabuhan Merak.    Pemandangan di pelabuhan ini sangat berbeda dengan yang sering saya lihat di televisi saat musim mudik tiba, tentu lebih rapi dan bersih. Kami beli tiket ekonomi kemudian di upgrade lima ribu rupiah untuk dapat tambahan fasilitas AC. Menjelang pagi, matahari mulai menampakan wajahnya, membuat teluk Sumatera terlihat jelas. Kapal feri berlabuh, kami tiba di pelabuhan Bakaheuni. Ini lah kali pertama saya menapakkan kaki saya di tanah Andalas. Welcome, Sumatera!

Disambut lembayung fajar saat tiba di Sumatera


Dengan menyewa angkot setelah dua kali bernegosiasi, kami menuju Bandar Lampung. Menurut saya, tak ada yang nampak berbeda dari tanah Lampung ini dengan tanah Jawa. Banyak bangunan, jalan raya, debu, orang-orang yang bahasanya saya kenali (*bahasa jawa dan nasional), becak, dan tukang bakso! Mungkin yang saya lihat agak berbeda adalah angkot yang kami sewa, meski fisiknya tidak dimodif seperti yang ada di Padang, atau kota lain di Sumatera, angkot kami ini punya soundsystem yang mantep. Lumayan untuk mengisi kebosanan kami di jalan, karena angkot ini jalannya sangat lambat sampai kami jadi akrab meski ada beberapa diantara kami yang belum kenal. Saya pun jadi ikutan akrab sama Bang Doli, pak Supir *karena duduk di sebelahnya, hehe.

Perjalanan ke kota Bandar Lampung ditempuh hampir dua jam, kami mampir sarapan nasi uduk di pasar. Sudah jauh sampe Sumatera, sarapan yang sama seperti di rumah. Mungkin saya harus ke Palembang, propinsi yang berada di atas Lampung supaya tau rasanya berada di tanah Sumatera kali ya. Hehe.. Karena petualanganku di pulau Sumatera takkan berhenti hanya di Lampung saja!


1 komentar

  1. kesan saya waktu pertama menyusuri Bakaheuni ke Bandar Lampung ini adalah panas dan debu :)

    pernah saya tulis disini : http://ginanjaryuwana.blogspot.com/2012/03/bus-siput-dan-panasnya-lampung.html

    BalasHapus