Omah Kayu, Not Just TreeHouse

23 Jul 2015



Setelah puas menikmati terbang tandem di atas Kota Batu, waktu sore kami habiskan di pepohonan rindang tepat di sebelah kiri dari lokasi paralayang. Omah Kayu, salah satu objek wisata yang kini mulai diramaikan oleh para turis lokal. Para sepupu ipar udah ngga sabar menuju ke sana, karena dari awal niat mereka memang ke Omah Kayu, bukan paralayang yang ngelihatnya aja bikin merinding. Katanya sih pengen foto-foto mumpung langit masih terang, lalu sambil menunggu senja sampai gelap sehingga Kota Batu terlihat seperti hamparan bintang-bintang di langit.

Salah satu spot di Omah Kayu yang hanya berupa gazebo


Lagi-lagi karena hari itu masih dalam masa liburan panjang lebaran, semua objek wisata jadi penuh. Setelah masuk melalui lorong kecil untuk membayar tiket yang di design unik dengan kayu-kayu, kami berjalan ke bawah menuju pepohonan pinus yang sudah ramai. Sulit sekali kami untuk bisa masuk ke salah satu pondokan, karena semua penuh dan sudah banyak yang mengantri.



Omah Kayu pada awalnya merupakan tempat peristirahatan yang dirancang dengan konsep back to nature. Tiap kamar merupakan satu pondokan kecil yang dibangun di setiap pohon yang tumbuh dekat tebing. Sehingga hanya diperlukan jembatan kecil atau anak tangga untuk menghubungkan jalan setapak dengan pondokan. Setiap pondokan dilengkapi dengan area balkon yang luasnya lebih lebar dibandingkan kamar tidurnya sendiri. Untuk kamar mandi hanya ada di satu spot di tengah-tengah area dan jumlahnya hanya ada 2. Letak pondokan berbeda-beda level ketinggiannya sehingga privasinya lebih terasa. Satu lagi yang bikin beda dengan rumah-rumah kayu biasa adalah, lokasinya yang berada di tebing tinggi sehingga view dari setiap pondokan adalah lanskap Kota Batu yang bikin mata segerrr..



Tampak samping jalan setapak, pepohonan dan pondokan

Saat ini Omah Kayu fungsinya sudah berubah menjadi tempat umum yang bisa saja dikunjungi oleh siapa saja. Hal itu dikarenakan sepinya pengunjung penginapan yang menganggap tarif per pondokan mahal. Jadi lah Omah Kayu jadi tempat wisata yang umumnya digunakan para turis lokal untuk berfoto-foto di depan rumah dan balkon kayu dengan atau dengan latar Kota Batu.


(Kiri - kanan)
Wulan, Ayu dan Fatin yang ngga bs lepas dari smartphone, tapi selalu siap kalo di foto
Gambar tepat di depan kamar yg berbentuk seperti tenda



Karena kita anti mainstream, kita pasca wedding aja yah!


Untuk bisa menikmati leha-leha di balkon Omah Kayu, sebaiknya datang bukan disaat liburan atau akhir pekan. Kalau pun terpaksa datang di akhir pekan, sebaiknya datang pada pagi hari sekitar pukul 8-9 pagi jadi kita tidak perlu rebutan dan mengantri untuk bisa bersantai di pondokan. Celah untuk bisa masuk ke Omah Kayu tanpa membayar tiket adalah di atas pukul 5 sore, karena penjaganya sudah tidak ada yang melakukan pengecekan, hehe.. Jika sudah mulai gelap, bisa kembali ke lokasi di depan warung-warung makan untuk melihat pemandangan lampu-lampu Kota Batu. Sayangnya kami tidak jadi menghabiskan malam di Gunung Banyak karena perubahan rencana untuk menikmati dingin malam dengan makan roti maryam panas-panas di Alun-alun Kota Batu. 


Ferris wheel yang menjadi ikon di Alun-alun Batu

For your information:
Lokasi: Kawasan wisata Gunung Banyak, Batu
Jam buka: sampai dengan pukul 17:00
Tarif masuk kawasan wisata: Rp 5000/ orang
Tarif masuk Omah Kayu: Rp 5000/ orang
Jumlah maksimal per pondokan: 4-5 orang
Tiket Ferris wheel Alun-alun Batu: Rp 3000/orang


2 komentar

  1. ah sayang ga bisa sewa permalam lagi. Kapan - kapan kesini lagilah *masih belom puas

    BalasHapus
  2. bikin tenda aja lain kali, atau ga hammockan dianatar pohon2 pinus yg romantis!!

    BalasHapus