Eloknya Pegunungan Himalaya dari Kota Manali

16 Mar 2020


Dari awal tahun 2018, saya dan Genk Wacana sudah mulai merencanakan trip bersama ke Nepal. Ketika itu inspirasinya gara-gara salah satu film yang kita tonton bareng saat open house di rumah saya. Filmnya Bollywood, judulnya rahasia (a.k.a. lupa, nanti saya tanyakan di grup), yang pasti sepanjang nonton scene gunung nya bikin nganga. Saking seriusnya kami sampai memesan tiket Jakarta - Kathmandu PP lewat Rama, salah satu anggota genk yang pekerjaan sampingan nya memang travel agent. Jadi tiket bisa dipesan dan bisa di bayar dalam waktu seminggu. Sudah lewat seminggu namun tiket belum dibayar juga, yasudah nanti pesan lain kali lagi hingga akhir tahun tidak ada kabar dan saya langsung beli tiket ke Korea Selatan untuk April 2019.

Setelah pulang dari Korea, mulai lah saya sundul-sundul grup untuk membahas trip ke Nepal ini hingga akhirnya kami putuskan untuk merubah haluan dari Nepal ke Kashmir. Kenapa ke Kashmir? Salah satu nya karena Rama mau nikah jadi dia undur diri. Berkurang dong porter kita, dan kayaknya saya dan Nisa juga ragu dengan kapasitas kita kalau harus trekking selama 9 hari ke Annapurna. Nisa masih rajin olah raga dan suka naik gunung, kalau aku? Lebih milih naik cable car dari pada trekking

Dan salah satu cara untuk bisa melihat pegunungan Himalaya tanpa harus trekking adalah ke kota-kota yang ada di kaki gunung Himalaya, salah satunya adalah Kota Manali yang berada di negara bagian Himachal Pradesh, India bagian utara. Saya sendiri dapat info kota ini tiga hari sebelum berangkat saat posting mencari teman jalan di grup Facebook Backpacker Dunia. Saya dan Bre berangkat dengan itinerary seadanya. Kenapa kami jadi berdua? Jawabannya bisa dibaca di artikel saya sebelumnya.

Kullu village, 1 jam sebelum sampai ke Manali
Perjalanan ke Manali dari Delhi menggunakan bus memakan waktu sekitar 13-14 jam. Kami berangkat pukul 10 malam, jadi kami bisa tidur di bus dan menghemat biaya penginapan. Sepanjang jalan kami tidur pulas (karena antimo), sampai nggak sadar bus berhenti di rumah makan. Setelah pukul 7 pagi, sepanjang jalan pemandangannya bukit dan gunung. 

Titik kota Manali
Dimana sih letak kota Manali? Kalau dilihat dari Google Maps ternyata kota ini posisinya lebih utara dari Kathmandu. Di tengah-tengah antara Jammu Kashmir dan Nepal. 

Bus kami sampai Kota Manali pukul 11 siang. Saya langsung skip ke hari kedua di Manali ya, karena udah nggak sabar pengen berbagi gimana terpesona nya kita bisa melihat pegunungan Himalaya tanpa harus trekking berhari-hari, hehe. 

Pemandangan dari rooftop hotel
Rata-rata hotel di kota Manali punya rooftop. Saya juga baru ngeh saat hari pertama pas sore-sore iseng ke atas hotel. Esok pagi nya, sebelum berangkat jalan-jalan kami sempatkan dulu ke rooftop. Nampak dari kejauhan pegunungan es begitu syahdu menyapa kami pagi itu. 

View pertama kali setelah melewati kota.
Bermodalkan sewa motor yang sewanya cukup murah dibanding harus sewa taxi, kami puas memandangi pegunungan dan berhenti di mana pun sesuka kita. Di sana lajur jalannya sebelah kiri sama seperti di Indonesia, jadi aman untuk kita yang nggak punya SIM Internasional. 





Aih~ Bagus banget ya kayak Swiss. Saya bilang begitu padahal belum pernah ke Swiss. Setidaknya biaya hidup di sini jauh lebih murah di banding Swiss. Sampai-sampai berasa sultan di sini karena makannya selalu di restoran. Hehe. 


Solang Valley

Di hari kedua di kota ini kami menghabiskan waktu di Solang Valley untuk main ski dan menikmati salju. Maklum, salah satu bucketlist saya adalah pegang salju jadi lumayan norak saat ketemu salju. Dulu di Iceland pernah lihat salju di puncak gunung Eyjafjallajokul (nggak perlu dieja, bikin lidah kelu) tapi jauh banget lihatnya. Kan pengen nyentuh gitu biar lebih intim. Akhirnya terwujud juga saat main ke Solang Valley. Solang Valley terletak 12 km dari Manali, tidak terlalu jauh, bisa kami tempuh dalam waktu setengah jam. Cerita tentang belajar main ski nanti saya lanjut di lain cerita. Kita norak-norak an dulu main salju.



Setelah main ski, kami jalan-jalan ke daerah lembah. Awalnya iseng karena di tempat main ski rame banget kayak pasar. Semakin jauh kita jalan ke arah lembah ternyata pemandangannya semakin membuat takjub, kata Bre. Lebay banget sih mas. Iya lebay bodo amat! Ketahuan kurang piknik ya. Sejujurnya saat itu saya nahan pipis karena nggak ada toilet. Mau pipis di sembarang tempat pun nggak berani karena suka tiba-tiba ada abang-abang pedagang liar nyamperin, kan horor. Lagi pula ribet banget karena masih pakai baju ski. 

Masih pakai baju ski. Baju koneng ku kalau di zoom itu di pantat bolong, bulu angsanya keluar-keluar.
Sarung tangan di sebelah kiri di lepas karena habis pegang salju.


Karena matahari makin terik, sedangkan baju dalaman sudah double extrawarm dan heattech nya Uniqlo, saya mulai gerah. Kami kemudian melepas baju ski dan menanggalkan nya di atas batu (ponsel saya tertinggal di baju ski). Saya tinggal saja gitu, tapi hamdalah aman. Kami berjalan semakin ke ujung sampai jembatan. Makin jauh view nya semakin uhuy


Saat kita kembali eh kita buru-buru disuruh pergi, ada yang lagi bikin video prewed pakai drone
Saat itu di lembah ini hanya ada kami berdua dan pasangan yang sedang prewedding itu. Awalnya sesekali ada yang baru turun membawa carrier besar, mungkin habis camping di puncak Solang. Kami kembali ke tempat main ski. Bre sebetulnya masih mau lanjut main ski tapi saya bergegas ingin kembali ke hotel, sudah tak tahan lagi untuk melepas hajat.

Esok hari kami lanjut jalan-jalan lagi menggunakan motor yang kami sewa selama dua hari. Beberapa tempat yang rencananya mau kami kunjungi sudah kami tulis di buku, diantaranya Jogini Waterfall, Gulaba Village, dan Palchan Ski. Semuanya nggak ke checklist, karena ternyata semesta punya rencana lain.


Beas River

Sungai yang mengalir sejauh 470 km di sepanjang Himachal Pradesh hingga Punjab ini memiliki pesona yang tak kalah menarik. Saat musim semi menuju musim panas ada kegiatan ekstrim seperti rafting di buka di sini. Saat kami di sana sih hanya ada beberapa flying fox, tapi kita nggak melihat ada yang rafting karena aliran air masih belum begitu deras. Di daerah hilir warna sungai bening dan kebiruan tapi di daerah hulu warnanya justru coklat. 


Kamu bisa menemukan semua sudut sungai dari mana saja. Dari pinggir jalan malah kita bisa langsung ke sungai. Anyway, kami nggak main ke sungai karena sudah pasti air nya dingin puol.

Shanag Bridge

Nama jembatan ini Shanag Bridge, yang baru saya tahu setelah barusan googling, hehe. Kami mampir ke jembatan ini karena di hari sebelumnya kami sempat lewat dan saya tandai. Karena masyarakat di sini mayoritas Budha, jadi tidak heran banyak di gantung Prayer Flag atau bendera warna-warni yang menyimbolkan doa mereka agar terbawa oleh angin.




Semua kendaraan bisa melewati jembatan ini dengan sistem satu arah bergantian. Motor, mobil, traktor juga pejalan kaki. Jadi musti hati-hati dan menepi karena jembatan lumayan bikin goyang saat kendaraan besar lewat. 

Kothi Village

Ada satu lagi destinasi di dekat Manali yang menyita perhatianku. Namanya Gulaba Village. Saya sudah bertanya ke guide lokal yang mengajarkan kami main ski kemarin dan katanya tidak banyak yang ke sana jadi harus bawa kendaraan sendiri. Lokasinya masih satu jalan ke arah Solang Valley.


Setelah melewati jalanan yang lebih menanjak dan berliuk-liuk, kami sampai di Kothi Village, satu desa sebelum Gulaba. Sayang nya, akses kendaraan menuju Gulaba Village di tutup sampai April. Jika masih ingin kesana kita diharuskan berjalanan kaki sejauh kira-kira 6-7 kilometer. Jalan menuju Gulaba adalah satu-satu nya rute jika kita ingin roadtrip ke Leh, Ladakh. 


Trek nya tertutup salju, jadi aku hanya numpang pipis disitu
Dari pos terakhir kami parkir motor, kami mencoba menaiki bukit yang ada di sebrang pos. Pikir kami saat itu adalah jalan pintas ke Gulaba. Sepanjang jalan kami trekking ala-ala menggunakan Sothi atau tongkat kayu yang disewakan seharga 4 ribu rupiah saja sama bapak-bapak di pos. Semakin ke jauh ternyata jalurnya tertutup salju. Balik lagi lah kita ke jalan utama yang berupa jalanan beraspal. Baru jalan sekitar 700 meter, Bre mulai bersin-bersin dan agak demam. Kami putuskan untuk tidak lanjut ke Gulaba dan mencari makan siang ke Solang karena di sini semua restoran tutup.

Solang Ropeway

"Gue butuh nutrisi biar sembuh. Pokoknya harus banget makan nasi." Begitu celoteh nya semenjak gagal trekking ke Gulaba. Saya teringat kalau selama di Manali kita belum coba gondola. Maksud saya sekalian kita cari makan sekalian aja cari tempat yang asik. Saya coba searching dan ternyata ada, lokasinya pun tidak jauh dari Solang Valley. Pas sampai di sana ada restoran yang berjejer di depan Solang Ropeway, langsung saja kita parkir motor di depan nya. Menu makan siang kali itu  terenak selama di Manali, Nasi Goreng Manchurian dan Chicken Burger. Bre lahap abis itu langsung sembuh. Ternyata gara-gara bulu syal yang membuat dia bersin-bersin. 

Kelar makan kami langsung naik gondola. Dengan tarif 130 ribu rupiah untuk naik dan turun, kami sampai di puncak dalam waktu 15 menit. Masha Allah, seandainya semua gunung punya gondola, pasti aku sudah sampai puncak Rinjani sejak dulu. Hehehe. 




Sayangnya matahari keburu bersembunyi dibalik bukit. Semakin sore pengunjung pun semakin sedikit. 



Selanjutnya saya kepengen foto ala-ala hippie menggunakan Himalayan Poncho (yang sebenernya syal yang dipakai Bre dan bikin bersin-bersin) tapi gagal karena matahari udah ngumpet. Dan waktunya kami untuk kembali ke kota sebelum Magrib. Semakin sore suhu semakin menurun.



Puas sekali selama dua hari penuh ini kami menikmati jejeran pegunungan Himalaya yang dulu hanya lewat mimpi saja. Apakah kita kepingin balik lagi ke India? Tentu saja jawabannya iya —kalau ke Himalaya lagi. Hehe. Shalini, manager Hotel Lonchenpa, ngilerin aku sama kota kelahiran nya, Kinnaur. "You must visit my hometown. It's more beautiful. " Ya ya, aku masukin ke bucketlist dulu. Musti kerja sama nabung lagi.


3 komentar

  1. Wah ini kalau diniatin jalan lebih lama bisa jadi beberapa tulisan nih.. tempat2nya emang keren-keren pasti gak puas nih didatangin satu kali. apalagi denger harganya yang masih masuk akal bikin ngiler euyy...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget om, berasa hura2 disana karena makan sama penginapannya bisa dibilang lebih murah dari di Indonesia. pengen balik lagi roadtrip ke Leh Ladakh. bisa nggak inget pulang om ^^

      Hapus
  2. Yaaah tuh kan, mau nangis lihatnya Niken, pemandangannya cantik sekali masha Allah :'))))) Kinnaur juga yampuuunnn! Makasih Niken, bikin aku happy baca tulisannya.

    BalasHapus