Lagi kepingin banget solo traveling, jalan-jalan keliling kota sendirian, karena semua temen yang udah diajakin sampai dirayu-rayu pada ngga bisa. Kenapa? Karena mereka ngga rela kalau harus motong cuti. Semua cuti disimpin buat long trip akhir —white collar problems. Sedih. Ngga dibolehin kalo pergi sendirian. Dilematis juga sama harga tiket akhir pekan. Yasudahlah pasrah saja sama semesta. Di sela-sela penatnya kerjaan, menyelipkan hiburan dengan nonton drama Jepang dan Korea. Akkk! Aku pingin jalan-jalan!
Hari ini begitu produktif. Meskipun bangun agak kesiangan, dari pagi hingga saat saya menulis ini sudah banyak hal yang saya kerjakan. Setelah sarapan pagi ala enggres —roti panggang dan teh manis anget, saya mendapat pesan singkat dari grup WhatsApp untuk mengecek tiket pesawat. Saya buka laptop dan mulai rempong membahas harga dan ketersediaan tiket yang bikin gundah gulali. Pukul setengah sembilan, saya terheran-heran melihat Bre masih tidur-tiduran baca buku. Kok ni orang ngga siap-siap berangkat ngantor sih. Ealaaah~ ternyata hari ini tanggal merah toh. "Mentang-mentang ngga ngantor jadi ga tau hari libur." Nisa ngeledek di telepon, Bre senyum-senyum sambil guling-gulingan di kasur.

Ini sudah kali ke empat ditanyain gimana caranya transfer antar bank bebas biaya. Sebenernya ngga perlu nanya ke aku sih, kan ada Mbah Google, bisa menjawab lebih cepat dari pada nanya ke saya yang lagi sibuk-sibuknya ngerjain proyek buat beli tiket ke *****. Tulisan ini ku persembahkan untuk teman-teman yang suka nanya lewat WhatsApp. Jadi biar nggak bolak-balik ngasi taunya, aku tulis lewat sini ya fren. Ada beberapa aplikasi gratis yang bisa kita gunakan, seperti ipotpay.com, flip.id, bebasbayar.com, shivapp.com dan payfazz.com. Salah satu yang sering saya gunakan adalah flip.id. Ini bukan tulisan berbayar yah, hanya tulisan iseng buat ngebantu teman-teman yang suka riwih dan sering transfer beda bank.

Saat tak ada ide menulis seperti ini, saya mencoba melihat daftar draft yang ternyata lumayan banyak, ada sekitar tujuh puluh judul tulisan yang tidak pernah tersentuh. Beberapa diantaranya hanya judul dan ada pula yang sudah sampai beberapa paragraf namun tidak memiliki judul seperti tulisan berikut. Sudah hampir 5 tahun tulisan ini terlantar tanpa judul, tentu saja saya lupa. Saya mencoba mengingatnya, karena saya sudah dua kali baca tulisan ini namun saya tidak ingat dengan siapa saya berbicara dan ini tentang siapa. Saya baca ulang lagi untuk ketiga kalinya, dan saya baru ngeh di kalimat terakhir. Dan saya sontak tertawa setelah mengingatnya. Oh, saya pernah galau juga ternyata!
Halo, Mar!
Ini bulan Maret, ya. Bulan yang penuh kasih sayang karena dalam sebulan ini orang-orang terdekatku merayakan hari kelahirannya. Mulai dari si partner hidup, mama, bapak & bapak mertua, Hana, Nisa, dan teman-teman main ku yang lain di penghujung bulan Maret. Jadi Maret adalah bulan bagi-bagi hadiah untuk mereka termasuk juga menghadiahi diri sendiri. Salah satunya adalah rak gudang. Saya meyakinkan untuk beli karena punya redeem poin sampai 250 ribu, yang mana pas beli jadi setengah harga *mak-emak banget*
Waktu itu masih saya masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama. Berawal dari keisengan saya saat main ke rumah Laili, saya tertarik membaca salah satu komik yang dia koleksi. Judulnya Flash of Wind (versi Jepangnya Kaze Hikaru). Komik ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang menyamar jadi laki-laki (Seizaburo Kamiya) untuk bisa masuk menjadi anggota samurai karena jatuh cinta dengan gurunya (Soji Okita). Sejak pertama kali baca Kaze Hikaru, saya mulai mengoleksinya hingga hari ini. Untuk terbitan versi Indonesia baru sampai volume 32, sedangkan di Jepang sendiri buku ini tamat di volume 40 pada Mei 2017.
Kami menyusun rencana perjalanan yang cukup lebih rapi di hari ketiga di Kyoto (16/11/2017). Alhamdulillah sudah ngga ada lagi drama nyasar seperti hari sebelumnya. Hari itu kami menjelajah Fushimi Inari, menapaki jejak sejarah Shinsengumi, jalan-jalan di sekitar Gion dan mengakhiri hari di tepi sungai Kamo.
List itinerary selama di Kyoto sebetulnya banyak. Karena emang dari awal kita mau lama-lamaan di kota yang touristy ini. Tapi ada drama yang bikin kita jadinya hanya mengunjungi spot mainstream saja selama di Kyoto. Dan juga karena kita ngga bisa mengalahkan cuaca dingin yang bikin mager, jadi yang harusnya jam tujuh pagi kita udah di lokasi tujuan, jam segitu kita masih angop-angopan dibalik selimut yang anget.







