Terjebak di Kyoto

January 26, 2018


List itinerary selama di Kyoto sebetulnya banyak. Karena emang dari awal kita mau lama-lamaan di kota yang touristy ini. Tapi ada drama yang bikin kita jadinya hanya mengunjungi spot mainstream saja selama di Kyoto. Dan juga karena kita ngga bisa mengalahkan cuaca dingin yang bikin mager, jadi yang harusnya jam tujuh pagi kita udah di lokasi tujuan, jam segitu kita masih angop-angopan dibalik selimut yang anget.

Cuaca cerah (tapi tetep dingin) di hari ke Fushimi Inari
Selama di Kyoto kita jalan suka-suka, ga nutut itin yang udah kita buat. Makanya kita juga udah ready dengan membeli 3 tiket bus day pass yang berlaku tiga hari dengan asumsi hari ketiga kita mau muter-muter Kyoto lagi sebelum pindah ke Osaka. Tiketnya kami beli di hostel tempat kami numpang mandi sama tidur doang beberapa jam, namanya JHoppers Kyoto. Host nya asik banget diajak ngobrol (fasih banget bahasa Inggrisnya —which is rare in Japan), hostelnya juga nyaman banget dan lokasinya ngga jauh dari Kyoto station (bisa ditempuh jalan kaki). 

JHoppers Kyoto
Setelah cukup beristirahat sepulang perjalanan jauh dari Shirakawa go, esoknya kami bersiap mengeksplor Kyoto. Kami hanya menginap satu malam di hostel ini, sorenya kami pindah menggunakan Airbnb. Menginap di apartemen kecil di pinggiran sungai Kamo (persis kontrakan yang ada di drama-drama Jepang). Jadi hari itu kami menitip tas di JHoppers dan jalan-jalan keliling Kyoto. 

Day 1:  Togetstuko Bridge — Tennryuji temple — Bamboo forest — Koto-in temple — Kinkaku-ji temple — Sannenzaka Ninenzaka slope — Kiyomizudera 

Day 2: Fushimi Inari Taisha — Kifune Shrine — Kimono rental — Shinshegumi walking tour — Kamo river — Gion district

Kami menuju ke terminal bus yang menyatu dengan Kyoto station. Dari sini lah petualangan "kesasar" kita dimulai. Selama di Tokyo kita ngga pernah nyasar meskipun tanpa mobile device dan GPS. Tapi di Kyoto ini, udah ngga keitung lagi berapa kali kita nyasar. Karenanya kita terpaksa mencoret beberapa destinasi tujuan kita karena kita terlalu lama muter-muter di dalam mal! Yak, betul mal. Kita memang nyasar di dalam mal.  

Bagian selatan Kyoto station
Jadi Kyoto station itu guede banget, menyatu dengan terminal bus, pusat perbelanjaan dan tempat makan. Selain itu stasiun ini terhubung juga ke pusat elektronik, Kyoto tower, Aqua fantasy dan beberapa mal yang ada di sekitarnya (Aeon mall, Kyoto Avanti). Posisi hostel tempat kita menginap ada di selatan Kyoto station, masih satu arah dengan tempat pemberhentian bus antar kota. Makanya waktu kita baru sampai Kyoto tengah malem, kita masih aman-aman aja saat menuju hostel. Beda ceritanya saat kita akan menggunakan bus dalam kota, yang lokasi terminalnya ada di sebelah utara Kyoto station. 

Peta kota Kyoto yang .... bikin pusing bacanya.
Source: https://semangkuksuphangat.files.wordpress.com/2013/04/kyoto-bus-navi-map.png
Waktu itu masih pagi, masih agak sepi. Sekitar setengah jam kita hanya muter-muter di dalam stasiun saat mencari letak bus stop yang menuju Arashiyama. Karena belum terlalu ramai, "dimensi ruang" kita masih bisa dipercaya untuk menentukan arah, tanpa harus kembali ke tempat yang sama sampai tiga kali. Saat berhasil keluar dari area stasiun dan tiba di terminal, kami bahagia luar biasa. Ketemu sama turis lainnya yang lagi ngantri bus ke Arashiyama. 

Kenapa ngga nanya sama orang aja sih? 
Jawab: Pas nyasar di dalam mal waktu itu masih sepi banget jadi belum ada yang buka dan ngga banyak orang lewat situ. 

Kenapa harus lewat mal yang ada di bawah tanah? Kenapa ngga coba lewat atas di luar stasiun? 
Jawab: Stasiun nya gede banget, muterin nya berarti jarak tempuhnya 1,5 km. Sedangkan kalau memotong lewat mal hanya 500m. Ini yang akan ku sesali sore nantinya.




Done. Drama pagi ini cukup bikin perut laper. Perjalanan ke Arashiyama pun cukup lama, sekitar satu jam karena banyak pemberhentian bus. Kami turun di halte bus yang ada tepat di depan Togetsukyo bridge, diajak sama pelancong dari Malaysia saat kita di dalam bus. Cuaca nya lumayan mendung. Sepatuku yang udah basah sejak dari Shirakawa go menambah dingin sekujur badan. Beberapa kali saya lepas-pakai-lepas-pakai kaos kaki karena ngga nyaman. Tapi pemandangan perbukitan Arashiyama melupakan sejenak dilema sepatu ku yang basah itu. Pemandangan yang dulu hanya berupa gambar hasil comotan dari google dan aku share berulang kali ke Nisa, kini terlihat di depan mata.



Di belakang kita Togetsukyo bridge
Berdiri lama-lama di pinggir sungai membuat muka ku perih. Anginnya kenceng dan dingin. Ada beberapa stal makanan di pinggir sungai Katsura. Bau asap nya menggoda, kami samperin deh tapi ternyata yang dijual babi-babian. Makin krucuk-krucuk deh perut. Kami menyebrangi sungai melewati jembatan ini. Dan ternyata di sebrang lebih banyak lagi toko-toko yang menjual berbagai macam makanan. Salah satunya yang membuat kita tanpa mikir panjang beli adalah stal "sweet potato" yang kalo orang Jepang bilang Yakiimo, atau ubi kukus. 

Kameranya goyang-goyang ikut mbak nya ketawa sih
Sambil menunggu Nisa yang kebelet pipis (melulu), saya duduk bertiga di bangku taman di sebelah pohon gede di pinggir sungai Katsura. Bertiga dengan sepasang suami-istri yang lagi memadu kasih. Saya ngga jadi obat nyamuk kok, tapi senang mendengar cerita mereka yang ternyata sudah 48 tahun menjalani hidup pernikahan. Hampir golden anniversary kan. Jadi kangen pacar. Katanya mereka dari perfektur Gunma, udah pensiun jadi duitnya diabisin buat jalan-jalan. Tipikal orang Jepang banget, karena ngga hanya satu-dua pasangan usia senja saya lihat selama di Kyoto. So sweeeeet~


Si bapak yang saya lupa nanyain namanya tadi ijin pamit duluan. Saya disuruhnya ngajak ngobrol mas-mas  ber jas yang lagi duduk sendirian di bangku sebelah. Katanya dia bahasa Inggris nya. Saya iseng ajak ngobrol deh dan ternyata si mas nya itu guru yang lagi ngedampingin murid-murid SMP yang kayaknya lagi studi tur dan dapat tugas dari sekolah. Waktu kita mau ajak foto bareng, dia menawarkan dirinya untuk motoin kita, ya jangan lah, kan kita mau nya foto sama si mas nya. Wkwkwk.  

Anyway, selama di Kyoto kita agak shock sama kelakuan turis-turis dari negeri bambu. Beberapa kali saya lihat mereka suka seenaknya memfoto dan menyuruh anak-anak sekolah itu untuk berpose. Tanpa menyapa apa lagi mengajak ngobrol. Even the most simple greeting like "Arigatou". Juga saat aku dan Nisa lagi menikmati sejuk angin sambil melihat perbukitan Arashiyama, kami diteriaki sama "Shoo shoo" sama bapak-bapak yang motoin grupnya karena kita ngga sengaja jadi photo bomb di background foto yang menurutku biasa aja. Fuyuh~

Jinrikisha, becak khas Jepang yang ditarik orang
Arashiayama itu ternyata luaaaas banget (kalau dikelilingin pakai jalan kaki). Terus tiba-tiba keputer lagunya Mr. Big. If I should stumble on my moment in time, how will I know. If the story's written on my face, does it show? Am I strong enough to walk on water? Smart enough to come in out of the rain or am I fool? Going where the wind blows. 









Kami ngga bawa bekel, jadi jajan-jajan seru
Dari Togetsukyo bridge, kami jalan kaki mengikuti arah angin sambil makan seafood skewer. Foto-foto di atas saya ngga tahu ngambilnya di mana. Karena tujuan sebenernya ke Tennryuji temple tapi kok ngga sampe-sampe. Ternyata kita nyasar lagi. Setelah menyusuri labirin-labirin di sebuah kuil yang saya lupa namanya, tau-tau kami ketemu sungai Katsura lagi. Ngga terasa dan ternyata sudah lewat jam 12. Kita lanjutkan jalannya tapi kok lama-lama sepi. Akhirnya kita balik lagi dan ketemu jalan raya. Kita putuskan untuk naik bus aja untuk menghemat waktu ke Bamboo forest. Tapi ternyata bus di sini lewatnya tiap dua puluh menit sekali (karena macet). 



Kita sampe di gang kecil jalan masuk menuju Bamboo forest. Ruameee banget. Kita berasa jetlag dari Tokyo ke Kyoto. Karena di Kyoto ini ngga hanya turis luar yang berseliweran, banyak juga turis lokal terutama anak-anak SMP dan SMA yang berwisata ke kota ini. Ngga bisa cari tempat sepi buat foto-foto di hutan ini. Pasti bombing semua. Hahaha.



Saya memborong kartu pos di sini. Tadinya cuma ada kita berempat, saya, Nisa, Kinji-san sama satu cewe dari Spanyol. Karena kita berempat haha-hihi rame sendiri, akhirnya spot jualan kartu pos Kinji-san jadi rame. Berkah yaaa.



Lama-lama di hutan Bambu ngapain? 


Tadinya sih sempat syahdu mendayu-dayu waktu ngelewatin salah satu music performance di sini. Seirama banget sama batang-batang pohon bambu yang berayun-ayun tersentuh angin. 

Kami bergegas kembali ke kota. Mengingat tas kami yang masih dititip di hostel. Dan saat sampai di stasiun Kyoto, lagi-lagi drama nyasar di dalam mal ini terulang. Kali ini lebih dari satu jam kami terjebak di dalam sini.  Sungguh menyita tenaga dan waktu. Nanya ke orang pun sulit karena ngga banyak yang bisa bahasa Inggris. Omae wa mou shindeiruuuuuuu....... (means: you're already dead *too much cancer from 9gag).



Saat kami berhasil keluar dari stasiun, hari sudah mulai gelap. Kami mengambil tas yang kami titip di JHoppers. Melangkahkan kaki ke arah sungai Kamo sambil menggendong tas yang cukup berat dan menahan udara dingin. Muka kita masih setengah bete karena udah cape. Tapi senja sore itu, dari ujung sungai Kamo, menghilangkan sejenak rasa lelah kita. 


Tempat kami menginap ada di dekat vending machine yang berwarna biru
Kami tiba di kompleks apartemen tempat kami menginap yang sudah saya pesan lewat Airbnb. Lingkungan nya benar-benar seperti yang ada di drama-drama Jepang. Kontrakan sempit, vending machine dan sepeda. Sampai di kamar kami langsung merebahkan badan. Rencana mau dinner di pinggir sungai Kamo ngga jadi. 


Setelah makan malam kami pun berencana ke Ninenzaka slope yang lokasinya tidak begitu jauh dari sungai Kamo. Kami naik bus dari Tofukuji Bus stop, ngga perlu ke stasiun Kyoto dulu untuk naik bus. No more drama nyasar di dalam mal lagi. 


Sannenzaka slope
Kok sepi ya? Di sini kalau siang ternyata rame banget. Ngga beda jauh sama Arashiyama. Karena kita sampenya udah malem, jadi toko-toko sudah banyak yang tutup. Agak spooky juga kalau kita coba masuk ke gang-gang sempit yang ada di sini. Itu lah yang akhirnya membuat kita urung ke Ninenzaka slope dan langsung ke Kiyomizudera. Jalannya menaik terus hingga kita sampai di depan kuil yang warnanya merah mencolok.


Kami masuk ke area Kiyomizudera dengan membayar uang masuk sebesar 400 yen. Kami udah ekspektasi gede banget karena tiap nyari info tentang Kyoto yang nongol pasti foto Kiyomizudera dengan latar fotonya yang ketjeh abis. Kami terus berjalan kaki menyusuri jalan yang jaraknya lumayan jauh. Hingga akhirnya kita sampai di spot panorama yang ......

Sungguh bikin kuciwa
Omaygaaat, lagi ada konstruksi. Pantesan kok kayaknya banyak petugas berseliweran pakai yukata yang kayak lagi ngawasin pengunjung, ku kira lagi ada festival apa gitu. Ternyata lagi ada perbaikan. Tapi lumayan lah, pohon-pohon musim gugur di sini dikasih lighting up yang cukup mewah.


Malam makin dingin, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan sebelum jadwal bus berhenti beroperasi (nggak berani naik taksi di Jepang karena mahal). Dari halte bus, kami mampir ke Sevel untuk belanja makanan. Jalan menuju ke kompleks sepi banget, kami menyebrangi rel kereta Tofukuji JR Station. Ketemu sungai Kamo lagi, dan sampai di rumah saya mandi air anget biar bisa tidur nyenyak. Oyasumi!

You Might Also Like

0 comments