Momiji Shirakawa-Go

January 17, 2018


Dari tahun 2015 saya dan Nisa sudah mulai hunting tiket ke Jepang. Waktu itu kami hampir dapat tiket promo pas Spring 2016, tapi kehabisan di tanggal yang kita pengenin. Saya meyakinkan Nisa untuk merubah timing ke musim gugur aja. Kita ngepasin tanggal yang enak musim gugur di dua perfektur (Kanto dan Kansai) karena puncak musim gugur di Jepang ngga merata. 



Akhirnya kami beli tiket di bulan November 2016 dengan rute KL - HND dan KIX - KL dan berangkat setahun setelahnya (penantian yang panjang). Tiket pulang pergi Jakarta - Kuala Lumpur kami beli mendekati hari H. Kami bikin itin yang se-slow mungkin agar lebih intim sama Jepang, makanya kami ngga beli JR Pass. Berangkat Tokyo Haneda, pulang Osaka Kansai. 

Rencana nya 4 hari di Tokyo dan 5 hari di Kyoto. Tapi yang namanya rencana tidak mutlak harus terjadi. Begitu lah dengan trip kami ke Jepang pas musim gugur tahun kemarin, itin berubah total. Tujuan nya tetap sama tapi jadi banyak transitnya. Rute kami sebelumnya Tokyo — Fuji — Kyoto — Osaka. Berubah jadi Tokyo — Fuji — Tokyo — Kanazawa — Shirakawa go — Takayama — Kyoto — Osaka. Semua ini terjadi karena cerita dari Gusma yang baru balik dari Jepang dan diperkuat dengan keisengan Nisa nge-share postingan ini, aku pun jadi ngiler. 


Siapa yang ga ngiler ngeliat kayak gini
Mula-mula ngeja nama desa ini suka kebalik-balik antara Shikarawa go dan Shirakawa go. Karena namanya panjang banget, eh tapi masih lebih mending lah dari pada ngeja Eyjafjallajökull. Untuk menggapai desa ini, kita dikasi saran untuk booking dulu bus yang menuju Shirakawa go beberapa hari sebelumnya. Karena kalau ngga, pas hari H suka kehabisan. Ngga ada jalur kereta yang langsung menuju Shirakawa go. Kita bisa memilih transit di kota Kanazawa, Takayama atau Toyama. Baru dari ketiga kota itu kita naik bus ke Shirakawa go. 

Tokyo — Kanazawa
Shinjuku Expressway Bus Terminal, Nov 14 2017, 22:35
Kanazawa station west gate, Nov 15 2017, 06:15 

Kanazawa — Shirakawa go
https://japanbusonline.com/en
Kanazawa station east gate, Nov 15 2017 08:15
Ogimachi terminal, Nov 15 2017 09:25

Shirakawa go — Takayama
https://japanbusonline.com/en
Kanazawa station east gate, Nov 15 2017 14:35
Takayama Nohi Bus Center, Nov 15 2017 15:25

Takayama — Kyoto
http://willerexpress.com/en
Shinjuku Expressway Bus Terminal, Nov 15 2017, 16:50
Kanazawa station west gate, Nov 15 2017, 21:15 




Dari itin yang kita buat tadi, kita tidur di bus saat perjalanan dari Tokyo ke Kanazawa. Memang bus yang kami pesan fasilitasnya buat bobok nyaman banget. Sampai ada tudung kepalanya di tiap kursi macam stroller bayi. Sedangkan dari Takayama ke Kyoto kami pesan bus biasa, bisa aja sih pakai bus malam, tapi kami memilih untuk menghemat tenaga dengan memilih jadwal sore. Imbasnya jeda waktu kami di Shirakawa go hanya 5 jam. Jadi nya kami ngga masuk satu-persatu ke rumah traditionalnya.

Sepanjang perjalanan dari Kanazawa kami dibuat terkesima dengan pemandangan bukit-bukit warna-warni musim gugur. Sampai di Ogimachi, hal pertama yang kami lakukan adalah buru-buru mencari loker untuk menyimpan rucksack yang kami bawa selama perjalanan di Jepang. Dari baca-baca info katanya suka penuh, kalau penuh kita bisa titip ke Tourist Information Center (yang menyatu dengan terminal). Dan betul, kita keabisan loker. Pas nanya ke petugasnya, eh ternyata ada lagi tempat penitipan tas (bukan loker) yang dikelola secara mandiri sama penduduk lokal. Letaknya ada di belakang Tourist Information Center. Di sana kami dikasi selembar kertas dengan mengisi jadwal keberangkatan dari Shirakawa go. Kalau ngga salah inget sekitar 400 yen untuk 1 tas. Kalau masuk ke Shirakawa go nya sendiri sih gratis, yang penting jangan buang sampah sembarangan yak (Bring your own litter!)






Jangan lupa ambil peta gratisan yang ada di Tourist Information Center. Baru banget keluar dari terminal udah gerimis. Saya ngeluarin payung yang saya beli di Akihabara, dan Nisa buru-buru nyari payung di minimarket yang tidak jauh dari terminal. Dari sini kami sempat kepisah (lagi setelah di Tokyo seharian misah) dan janjian untuk ketemu di View Point (observatory). Kami ketemu terus foto bareng dengan latar desa Shirakawa go dari atas dan pisah lagi. Baru ketemu lagi ngga sengaja di dekat jembatan. 

Kalau jodoh sih pasti ketemu (meskipun tanpa teknologi)


Menjelajah waktu, kita masuk ke Jepang zaman dulu. Kayak di film Oshin yak.



Saya baru ngeh pas nulis ini, ternyata banyak sendal dijual. Kenapa waktu itu aku ngga beli sendal jepit aja yak, soalnya sepanjang mengitari desa turun hujan dan sepatu ku basah tak terkira. Eh tapi kalau pake sendal, jari-jari ku pasti udah beku.


Ada Kaonashi sama Totoro

Dingin-dingin gini makan eskrim?
Apa  yang menarik dari Shirakawa go? Karena sebetulnya Shirakawa go ini unik nya dikunjungi saat musim dingin. Rumah-rumah traditionalnya (Gasshou-zukuri) berjejer ditumpuki salju putih. Suasana pedesaan yang tenang dan damai. Seminggu setelah kami balik ke Jakarta ternyata turun salju di Shirakawa go!


Cita-cita punya taman belakang model jepang kayak gini



So calm~
Biarpun banyak turis, suasana nya sepi ngga berisik. Mungkin karena faktor hujan juga jadi banyak yang berteduh ke kedai-kedai kecil.

Tiap lewat kedai gini baunya menggoda

Time for bento and a cup of coffee
Saya dan Nisa ketemu tak sengaja setelah saya kembali dari menyusur sungai dan mulai kelaperan. Kami memesan minuman hangat dan makan onigiri yang kami beli di Kanazawa. Kepengen banget nyobain Hida beef yang katanya khas dari desa ini. Tapi ngga tahu halal haramnya jadi kami urung.  Kami udah coba browsing saat di sana tapi ngga nemu kedai halal. Dan barusan saya googling ternyata ada beberapa spot kedai halal di Shirakawa go. Telat! (kayaknya websitenya baru update sih).

Click image to enlarge.
Ternyata Nisa belum tau kalau ada jembatan yang bikin gemes buat dijadiin background foto. Saya balik lagi ke sana nemenin dia. 




Abis itu langit makin gelap dan hujan makin deras.

Foto ini diambil pas ujan deres. Tapi karena hujannya ngga ketangkep kamera terpaksa iseng ku tambahin efek hujan. Arigato Shotoshoppu san!
Lalu matahari cerah lagi. Sampai muncul pelangi.







Meskipun kami ngga dapet uniknya Shirakawa go (saat musim salju) tapi kami dapat musim gugur di Shirakawa go yang tak terlupakan. Di tambah gerimis yang membuat suasananya makin syahdu. Di sini saya dan Nisa memunguti momiji yang berjatuhan di bawah pohon untuk disimpan di dalam buku catatan perjalanan kita.


They are turning red. There is a chill in the air and warmth in my heart.
They remind me how beautiful it is to let things go.

You Might Also Like

0 comments