Fall For Dusk and Dawn Prague

By Niken Andriani - Dec 31, 2016

Unparalled view of Prague Old Town Square
Terdiam sejenak melihat langit yang bermain dengan gradasi warna. Kota kecil yang begitu memesona mata saat matahari baru tiba di pagi hari dan mulai pergi di sore hari. Prague, kota yang menjadi begitu ramai karena menyamai kota Paris dalam hal kecantikannya. Kota ini menjadi overrated karena sering memerankan latar cerita cinta. Meski begitu, saya tak mengelak kota ini juga membuatku jatuh hati, pada keindahan fajar dan senja nya yang tak dapat dirangkai kata-kata.

Locarasa: Coklat dan Greentea Susu

By Niken Andriani - Dec 29, 2016


Rabu pagi menjelang siang kemarin, saya menjemput teman juga sahabat saya sejak sekolah menengah pertama ini keluar rumah. Oh, berarti pertemanan kita sudah berumur lima belas tahun, jadi ketahuan deh umurnya, hehe. Kami bertolak langsung ke sebuah kafe kecil di Kemang Selatan. Dulu namanya Warung Kopi Sruput, tapi sejak tahun 2016 ini berganti nama menjadi Locarasa Gelato Coffee and Cookies. Duh kepanjangan ya, jadi saya singkat Locarasa saja. 

Singgah Singkat ke Dresden

By Niken Andriani - Dec 28, 2016

Brühl's Terrace

Perjalanan Berlin - Prague yang memakan waktu kira-kira lima jam dengan bus, membuat kami singgah beberapa jam di Dresden, kota tua di Jerman yang berbatasan langsung dengan Republik Ceko. Hanya sekadar singgah, sembari menunggu bus berikutnya yang berangkat ke Prague. Pemberhentian bus ada di Dresden Central Station, di mana kami juga menitipkan tas di luggage storageKami berjalan mengelilingi bangunan-bangunan dengan arsitektur baroque (antara abad 16-18) di bawah langit biru dan sedikit matahari terik.

Just ordinary days in Berlin

By Niken Andriani - Dec 27, 2016



Aktifitas biasa yang bukan jalan-jalan, seperti belanja ke pasar dan supermarket, nyari jajanan, menghabiskan waktu di rumah atau ngobrol dengan si host. Selama perjalanan keliling kota di Eropa, waktu yang paling banyak kami habiskan dengan aktifitas bukan jalan-jalan adalah di kota Berlin dan Reykjavik. Di Berlin, kami main ke Mauerpark ke tempat berkumpulnya warga lokal di akhir pekan, makan currywurst kesukaan warga lokal, menikmati musik jalanan dimana-mana, leyeh-leyeh di pinggir sungai Spree, dan membeli kacamata.

Karena rumah adalah kamu

By Niken Andriani - Dec 26, 2016

Berpindah-pindah. Inilah yang kami berdua lakukan selama dua tahun hidup bersama. Kami fokus mengejar cita-cita, dan mengesampingkan "itu" untuk sementara waktu. Meski dulu kamu sudah mempersiapkan itu, saya tahu, bahwa ada yang lebih penting dari itu. Maka, di manapun asal ada kamu, aku mau hidup dimana saja. Termasuk juga repotnya pindah kesana-kemari. Dan dua minggu lalu, adalah aku berdoa menjadi satu kali terakhir sebelum menetap ke tempat berteduh yang menjadi impian kita.


Camping Ceria: Loji Bogor

By Niken Andriani - Nov 29, 2016

Ceritanya hanya obrolan iseng di suatu kedai kopi di Jakarta, tempat kita biasa kopdar impulsif di sela-sela waktu setelah pulang kerja. Sudah beberapa kali kami melakukan perjalanan sendiri-sendiri dan kadang jadi kangen pengen jalan-jalan bareng. Jadi kemana kita sehabis ini? Trip yang murah meriah yuk karena budget trip tahun ini sudah mulai habis. Tercetuslah jalan-jalan ke Purwakarta, naik gunung Lembu dan rekreasi di sekitaran waduk Jatiluhur. Hari H minus seminggu, ternyata ada yang labil ngajakin ke Loji. Apaan tuh Loji, saya googling gambar yang muncul rata-rata pohon pinus dan jembatan. Bagus sih. Kami pun di grup whatsapp yang menamakan diri "Kapan kita kemana" yang ngga pernah ganti nama sejak setahun lalu dibentuk ini pun jadi galau. Sampai H minus sehari, kami masih labil dan akhirnya memutuskan untuk ke Loji. Kita piknik-piknik cantik aja karena lagi males naik-naik gunung.

Loji, perpaduan lebatnya hutan pinus dan eloknya canopy


Postcards from Berlin Wall

By Niken Andriani - Nov 13, 2016

EAST SIDE GALLERY
-








Trekking ke Burg Eltz

By Niken Andriani - Nov 9, 2016


Tidak jauh dari Cochem town, berdiri Burg Eltz, sebuah kastil yang berada di atas bukit di kelilingi oleh hutan dan sungai. Burg Eltz adalah kastil jaman pertengahan yang masih dimiliki oleh House of Eltz, keluarga bangsawan Jerman. Dari beberapa kastil yang berdiri di sepanjang sungai Rhein, Burg Eltz merupakan salah satu kastil yang masih berdiri kokoh dan masih dijaga.

Memperlambat Waktu di Lembah Mosel, Cochem

By Niken Andriani - Nov 8, 2016


Satu tahun yang lalu Mei 2015, saya terdampar di tulisan nya mbak Patricia  deBagpacker saat blogwalking. Sejak itu, saya pasang foto tempat ini jadi wallpaper di ponsel saya. Saat itu saya bertekad, kalau saya ke Jerman saya pasti akan ke tempat ini. Dan jadilah hari itu (17/08/2016) kami benar-benar terdampar di kota kecil, yang kata orang jerman asli, seorang kenalan di jalan, you've come to the cutest town in Germany.

Down the road - Iceland

By Niken Andriani - Oct 31, 2016

Road trip — a way to draw closer the feeling of being far away from home. I enjoyed every moment when we take the road trip. Thus It's hard for me to fall asleep when we're on the road. And that is the time when my random thoughts circling around my head. 

Driving the ring road in Iceland by ourselves was our plan. But both of us cannot drive, so the only thing we can do to enjoy the road in Iceland is by taking bus tour. At first, we thought that we couldn't fully enjoy because of the "tour" thing. But, luckily we got an awesome driver and a tour guide that take us to some places that is not in the list and stop wherever there is a nice view (even it's just for 5 or 10 minutes). We also got the front - right seat, where Bre and I could see the road clearly without any obstacles. 

Some sceneries will take my eyes for long time. Then I'll take a deep breath, to make sure this isn't a dream.

Jó reggelt, Budapest!

By Niken Andriani - Oct 24, 2016


Tidak ada yang menyapa kami pagi itu, kecuali supir bus yang membawa kami ke Fisherman Bastion yang ada di puncak bukit. Host kami pun masih tidur, karena jam 6 pagi kota ini belum bangun. Kami baru sampai Budapest sore kemarin, namun ia telah memikat hati kami. Maka esoknya kami bangun lebih pagi untuk menyapa Budapest yang memesona. Jó reggelt, Budapest! (Selamat pagi dalam bahasa Hungaria).

Blusukan ke Pasar-pasar di Eropa

By Niken Andriani - Oct 16, 2016


Pasar. Saya suka sekali pasar. Pasar itu berwarna. Di pasar banyak hal yang bisa kita lihat. Di pasar warga lokal berinteraksi satu sama lain. Di pasar saya menemukan banyak hal.

Melanglang Ke Bruges Kota Dongeng

By Niken Andriani - Oct 10, 2016


Kalau ditanya berapa persen perjalanan 50 hari keliling Eropa kami yang sesuai dengan rencana, saya akan jawab hanya 30%. Sisanya adalah kejutan. Begitu juga dengan Belgia, saya tidak memasukkan nya ke itinerary perjalanan kami. Jadi ceritanya sebelum berangkat, saya mencoba menghitung kembali anggaran selama di Eropa dan ternyata biaya hidup di Belanda lumayan tinggi. Maka saya mencoba memangkasnya dengan menyelipkan negara Belgia selama empat hari tiga malam. Tidak akan terpikir kota-kota cantik di Belgia seperti Ghent atau Antwerp akan masuk ke dalam itinerary, hanya Brussels, ibu kota Belgia yang terlintas di kepala saya waktu itu.

Belgium: How To Eat Like Tourist

By Niken Andriani - Oct 8, 2016


The best chocolate in the world. The best ... blablabla.

Saya kira kebanyakan guide atau beberapa tulisan mendeskripsikan sesuatu secara berlebihan sebagai the -est / the most -paling. Mungkin tujuannya biar kita "mau mencoba" atau "mau merasakan" sesuatu yang baru sehingga wajib kita masukan ke bucket list. Padahal bisa jadi hal-hal tersebut sebetulnya subjektif. Tapi pada akhirnya, memuaskan rasa penasaran, mencoba hal baru, dan menambah pengalaman merupakan hal yang lumrah bagi para pelancong. Dan memanjakan perut adalah wajib selain memanjakan mata saat mengunjungi suatu kota. 

Bukan Akhir Perjalanan

By Niken Andriani - Sep 27, 2016



Saya menggunakan atasan baju lapis dua, sweater dan jaket polar. Untuk bawahan celana semi jeans dengan sebelumnya saya lapisi celana triatlhon yang menempel di kulit. Tak lupa kaos kaki dan sarung tangan polar. Semua itu tetap saja tak mampu menahan dinginnya bandara Keflavik di tengah malam. Yap, kami menginap di bandara setelah kembali dari 14-hours tur ke South Coast dan Jokulsarlon.

Melepaskan Mimpi-mimpi

By Niken Andriani - Sep 8, 2016



aku pergi jauh
melepaskan mimpi-mimpi
melumpuhkan ketakutan 
menapaki jalanan
tersesat dalam labirin-labirin sempit
terjebak rumit kehidupan
lalu berhenti sesaat lelah
dan kembali menapaki jalanan
semakin jauh,
semakin aku sadar aku tak tahu apa-apa

Adem Ayem Kota Utrecht

By Niken Andriani - Sep 7, 2016


Waktu yang kami habiskan di Utrecht lebih banyak di rumah Marije, host kami selama di Utrecht. Hujan yang sejak kemarin belum berhenti bikin kita males keluar rumah. Jadi kami di rumah nyuci baju, ngejemur dan masak-masak. Ngirit banget lah pokoknya selama di Utrecht. Dari empat hari di sana, kami ke pusat kota hanya dua kali, itu pun setengah hari. Suasana perumahan tempat kami nginep pun sepi dan tenang banget. Marije, yang suka yoga ini bercerita, kadang kala saat dia nginep di rumah pacar nya di Amsterdam dia suka kangen sama Utrecht, rasanya damai di sini. Kalau alasan saya kenapa milih kota ini sih sepertinya random banget. Pernah baca di majalah (lupa apa majalahnya) kota ini kota pelajar, jadi ngga terlalu rame dan bising. Dan berikut tempat-tempat yang kami kunjungi setelah secara random memilih Utrect sebagai kota persinggahan kedua kami di Eropa.

Zaanse Schans

By Niken Andriani - Aug 31, 2016


Rasanya menjadi suatu wajib ke Belanda untuk mampir ke Zaanse Schans, desa kecil yang lokasi nya sekitar satu jam dari Amsterdam menggunakan transportasi umum. Desa yang nampakin ke-Belanda-an ini punya semua yang jadi khas Belanda. Ada kincir angin, sungai-sungai kecil, sepatu bakiak, dan keju (yang ngga ada Red Light District). Untuk ngelilingin desa ini kita ngga dipungut biaya, masuk ke rumah keju nya aja free, kita bebas nyobain testernya. Kecuali untuk masuk ke museum-museum nya baru kena biaya. Dan juga toilet umum ke charge rata-rata toilet €0.5 - 1, duh lumayan banget kan sekali pipis kena 8 ribu! Di sini air gratis (tap water di mana pun bisa diminum), tapi pipis bayar. Hahaha.

Sisa Hujan di Jordaan District

By Niken Andriani - Aug 22, 2016


Kalau malam sebelumnya Bre mengajak saya mengintip Red Light District yang sangat ramai dan penuh sesak, pagi ini saya memilih untuk menikmati suasana pagi di kompleks para seniman dan studio seni di Jordaan District. Cukup berjalan kaki dari hostel, karena memang hostel kami berada di pinggiran Central Amsterdam.

First Taste of Europe in Amsterdam

By Niken Andriani - Aug 13, 2016

Belanda itu sepeda, sungai, jembatan, kincir angin, sepatu bakiak, dan keju.


Pertama kali (2016/08/09) kami menginjakkan kaki di Eropa adalah Belanda, yang dulu nya pernah ngejajah negeri kita tercinta ini lama banget lho. Makanya sebagian bahasa nya mirip-mirip kayak korting, gratis, keran (kraan), apotek (apotheek), kassa, dan lain-lainnya yang bisa dijumpai di beberapa tempat. Kalau kenapa kami memilih Belanda sebagai pintu masuk pertama adalah karena aplikasi visanya mudah. Lewat imigrasi Belanda di Schipol Airport kami juga ga lama-lama, hanya dicek paspor saja.

On the way to reach the dream

By Niken Andriani - Aug 11, 2016


8 Agustus 2016. Pagi yang sendu karena hujan, kami diantar ke Bandara Soekarno Hatta. Baru kali ini Mama dan Bapak meminta untuk mengantar kami, karena biasanya solo traveling pun saya selalu berangkat sendiri tak ada yang mengantar. Mungkin karena perjalanan ini bukan sehari dua hari, bukan seminggu dua minggu. Seperti mau pergi jauh, kali ini saya dan bapak berpelukan erat. Begitu dengan mama, peluk dan cium. "Mah, impian kakak terwujud. Makasih ya mah udah mendukung sampai saat ini.

Bersama full time-travel mate di Terminal KLIA Malaysia, menunggu penerbangan ke Doha. 

Menyapa Pagi, Melepas Kangen Bromo

By Niken Andriani - Jul 21, 2016


Malang, kota tercinta. Tempat Bre dilahirkan dan dibesarkan hingga merantau ke Jakarta. Kota yang sekarang menjadi kota yang selalu bikin kangen karena sejuknya dan hangatnya keluarga. Sudah hampir satu tahun kami tidak pulang. Bre yang sudah jadi anak perantauan kembali pulang melepas kangen. Saya pun jadi ikutan kangen juga dengan Bromo.

Destinasi Andalan Weekend Escape Dari Jakarta

By Niken Andriani - Jul 1, 2016

Selain banyaknya mall yang tersebar di setiap sudut jalan, variasi kuliner dan wahana bermain yang ada di Jakarta, kita ngga akan pernah kehabisan ide untuk menikmati akhir pekan di Jakarta (selama punya duit). Terus kalau misalnya sudah bosan dan kantong lagi kempis, kemana dong? Saya akan jawab berdasarkan pengalaman pribadi menghabiskan tiap akhir pekan dengan anggaran minim namun sarat petualangan yang ngga jauh-jauh dari Jakarta. 

Weekend Escape: Canopy Trail Gunung Gede



Kepingin ngeliat yang hijau-hijau dan menghirup udara yang segar? Ngga perlu harus naik gunung. Cukup ketemuan sama teman-teman di Stasiun Bogor, paksa salah seorang buat minjemin mobil dan ajak temen yang jago nyupir, lalu meluncur lah ke Cibodas. Kalau mau piknik bisa masuk ke taman, kalau mau lebih kece dan lagi mainstream cobain canopy trail. Cerita lengkap dan foto bisa diintip di sini.

Memesan Penginapan dengan Air BnB

By Niken Andriani - Jun 22, 2016

Sebelum membooking penginapan, baiknya menyusun itinerary terlebih dahulu. Tanggal berapa kita akan menginap, lokasinya, dan aktivitas apa saja yang akan dilakukan saat berada di sana. Sehingga kita bisa menentukan pilihan terbaik akan menginap di mana. Belum tentu penginapan AirBnB lebih murah dari hotel atau hostel. Terkadang harga penginapan di hotel atau hostel bisa lebih murah dibandingkan penginapan AirBnB, contohnya saat kami memesan penginapan di Cochem, listing AirBnb yang tersedia di kota kecil di Jerman itu paling murah seharga 1juta-an rupiah permalam, sedangkan hostel dengan double bed per malam memiliki tarif 600-700 ribu rupiah. Ternyata tarif hostel lebih murah dari AirBnB. 

Juga soal lokasi, kebanyakan listing AirBnB yang memiliki tarif rendah, lokasinya jauh dari pusat keramaian kota. Harus pintar-pintar mengatur strategi karena semakin jauh lokasi dari pusat kota maka akan ada biaya transportasi lebih untuk commute. Saya memilih penginapan yang lokasinya tidak jauh dari stasiun, trem dan halte bus. Setidaknya dapat ditempuh dengan berjalan kaki kurang dari 2km. 

Membuat akun dan verifikasi 

Buka dulu halaman https://www.airbnb.com/c/nandriani7 sebelum mendfatar biar kamu bisa dapat kupon
Lumayan kan? :)

Resah Gelisah Mengurus Persiapan Visa Schengen

By Niken Andriani - Jun 15, 2016

Segala preketek berkas untuk ngajuin visa

Alohaaaa.... Akhirnya visa kita granted! 

Baru deh saya posting artikel ini. Selama dua minggu menunggu hasil visa, perasaan campur aduk. Rasanya sudah ngga terhitung lagi berapa kali saya diare karena kebanyakan pikiran. Berikut adalah pengalaman kita (lebih tepatnya curcol) mengurus persiapan visa schengen selama kurang lebih empat bulan.

Candi Muaro Jambi, Candi Hindu-Budha Terluas Di Indonesia

By Niken Andriani - Jun 11, 2016

Candi Tinggi, salah satu candi di kompleks Candi Muaro Jambi
Sumber: http://destinasian.co.id/ Foto oleh Muhammad Fadil

Meski saya suka mengunjungi situs bersejarah, tapi saya sendiri bukanlah pecinta sejarah. Mungkin karena dulu pas sekolah nilai pelajaran sejarah saya selalu bikin remedial. Hehe.. Maka nya jarang sekali saya menulis tentang sejarah. Tapi mencoba menulis tentang sejarah menjadi sebuah tantangan. Harus mencari berbagai sumber dan mencoba menyatukannya menjadi sebuah tulisan yang mampu menyampaikan informasi. Kali ini adalah tentang Candi Muaro Jambi, Candi Hindu Budha terluas yang ada di Indonesia.

Janji Temu Apply Visa Schengen Kedutaan Belanda

By Niken Andriani - Jun 2, 2016

Lembar entry check dan lembar urutan berkas

Pagi yang cerah, seperti biasa di hari kerja jalanan penuh ramai kendaraan roda dua dan empat yang beradu kayak balapan. Saya dan Bre memilih untuk memarkirkan si kuda merah di Halte busway Ragunan. Ikut mengantri bus berbarengan dengan para pekerja 9-5 di ibukota. Pukul setengah tujuh, kami memilih antrian berdiri agar lebih cepat dapat bus. Seperti biasa saya pasang ipod, volume suara setengah, dan sembari mengobrol dengan Bre. Beberapa topik dibahas agar kami lupa akan gugup yang menerjang sejak semalam. Perjalanan hampir satu jam itu akhirnya tak terasa karena kami sudah sampai Halte Kuningan Timur, halte busway terdekat dari Kedutaan Belanda. Masuk ke Kedutaan Belanda lewat pintu samping (Jalan Besakih), yang ternyata hanya berjarak 400 meter dari halte.

An ode to the sea and the beach

By Niken Andriani - Jun 1, 2016

The way to find serenity
~
I always have bizzare feelings everytime I see the beach. I don't know why. I really can't explain them with words. But, the feeling of peacefulness fill in my entire body and soul. 




Dream

By Niken Andriani - May 20, 2016

I can see it very clearly now.
My dream is real and very beautiful.
It’s so beautiful that it’s driving me crazy.
I’m looking forward to the day I can realize that dream.
And also, the process of accomplishing that dream has been very enjoyable.


~SSD

#29 Similan

By Niken Andriani - Apr 25, 2016

5 days for forever. A beach to remember.
December 30th 2014 | Similan Islands, Phang Nga Thailand

Camping Ceria: Cerita Bulu Babi Pulau Sepa

By Niken Andriani - Apr 21, 2016



Judulnya harusnya sih Papatheo bukan Sepa, karena dari awal kami (saya dan Nisa) berdua bikin trip kemping ceria, tujuan utama weekend escape kemarin adalah Pulau Papatheo, salah satu pulau pribadi yang terletak di utara Kepulauan Seribu. Setelah coba bernegosiasi dengan si penjaga pulau Papatheo, beliau melarang kami mendirikan tenda di sana karena memang si "empunya" pulau tidak mengijinkan. Kakak Nisa masih mencoba bernegosiasi, saya sendiri sih udah males karena melihat kondisi pulau Papatheo nampaknya kurang keceh. Apalagi dengan banyaknya sampah di bawah dermaga dan juga kondisi pulau yang nampak kurang diperhatikan.

Pulau Papatheo yang digenangi sampah (Courtesy Bang Zuhal)
Beberapa daftar alternatif pulau yang sudah kami siapkan untuk jaga-jaga seandainya ijin kemping di Pulau Papatheo ngga dapet. Ada Pulau Semut, Melinjo, Perak dan Sepa (3 pulau pertama sudah saya jajaki). Setelah meminta petunjuk Pak Wawi, guide sekaligus yang empunya kapal, kami disarankan ke Pulau Sepa, nanti beliau yang akan mengurus ijin. Jadilah kami bertolak ke Pulau Sepa. Dadah Papatheo, gagal deh hammockan di pohon kelapa. 

Dermaga yang panjang di Pulau Sepa. Langsung ngeces pengen nyebur.

Sampai di Pulau Sepa, saya dan Nisa serta Pak Wawi langsung menghampiri bapak-bapak para penjaga pulau. Setelah bernegosiasi kami pun sepakat untuk membayar retribusi kemping sebesar 20.000 per orang. Ijin sudah dapat, siap angkut-angkut barang ke lokasi kemping!

Katanya kemping, kok bawa-bawa nasi box?
Ah~ namanya juga kemping ceria

Pulau Sepa adalah pulau resort, di mana sudah dibangun beberapa cottage yang ada di sebelah barat pulau. Kalau digambarkan dari arah dermaga pulau terbagi dua kanan dan kiri yang diberi pembatas berupa dinding tinggi. Kami diberi ijin untuk berkemah di sebelah timur pulau, yang berarti kami ngga bisa menikmati sunset. Pas kami sampai Pulau Sepa, udah banyak bule-bule bertelanjang dada yang lagi ber-selfie ria di dermaga. 

Kakak Nisa pun ngga mau kalah ama bule-bule tadi. Kumat deh narsisnya.
Setelah beres membangun tenda, kami makan siang bersama-sama sambil bermain. Meledek Andis yang sudah di cap jadi Chef karena dari gosip kakak Chin sih dia jago masak. Chef Andis ngga ikutan kami keliling pulau dan snorkeling, katanya mau jagain tenda sama barang-barang kami sekaligus mencari inspirasi buat makan malam nanti. Kami pun bersiap ganti kostum dan membawa peralatan perang untuk nyebur. 

Leyeh-leyeh sehabis makan siang
Udah ganti kostum, siap-siap nyebur!
Membelah lautan

Saat tiba di spot pertama ada sedikit kecelakaan. Brew yang udah ngga tahan pengen nyemplung, langsung nyebur gitu aja pake gogle. Jatuhlah itu kacamata renang nya ke laut karena lupa dikencengin karetnya. Saat itu kapal kami bersandar di ketinggian 6-7 meter. Kami pun sama-sama mencoba mencarinya di karang-karang. Warna nya yang coklat kehitaman membuat samar dengan warna karang. Setelah kira-kira 5 menit baru deh ditemukan sama Bang Zuhal yang jago nyelem. Masbro ngga sabaran, awas kolor nya jangan lupa di kencengin juga nanti kalau lepas tiba-tiba kan bahaya!

Spot kedua karang yang keceh
Spot pertama sedikit sekali ikannya, engga sampai setengah jam kami langsung pindah ke spot kedua yang ikannya berlimpah. Ngga perlu pake roti, tuh ikan-ikan udah pada ngumpul kayak arisan.

Niken on action!
Udah berapa bulan ya ngga nyemplung
Putri duyung dan dugong


Setelah puas nyemplung sampai 3 spot, kita balik ke Pulau Sepa. Tadinya mau hunting sunset di Pulau Perak tapi akhirnya kita memilih untuk nongkrong-nongkong cantik di dermaga Pulau Sepa. Saya lupa kalau view sunset cuma bisa dinikmati dari area resort. Jadi deh cuma tinggal saya bertiga dengan Brew dan Nisa yang masih jeprat jepret di ujung dermaga. Yang lain pada rebutan mandi dan ada yang udah mulai masak-masak. 


Ngga jadi mau so sweet so sweet -an keburu mataharinya ngumpet dibalik pulau
Matahari pun akhirnya bersembunyi di balik pulau, kami kembali ke lokasi kemah. Bermain di pinggir pantai, memperawani Klymit nya Nisa yang baru dibeli di Indofest kemarin. Mengetesnya langsung buat ngambang-ngambang cantik di pinggir pantai. Ternyata... kurang balance dan memang cocoknya buat alas tidur saja. Payah!

1... 2... 3... Bukannya ngambang malah nyemplung.

Chef Andis dikelilingi para asisten mempersiapkan kayu bakar untuk memanggang

Tidak hanya Chef Andis saja yang sibuk masak, kami semua juga turut membantu. Halima yang sibuk bikin sambel korek, Wiwin, Asih dan Muly yang sibuk bikin scrambble egg dan sup sapo, saya yang sibuk bikin sambel kecap, Agil sibuk manggangin marshmellow, Mpok leli sibuk masak nasi, Ujang, Roy, Arul, Alan, Nando, dan Bang Zuhal yang repot nyari bulu babi dan ngurusin duri-durinya sambil manggang cumi dan ikan bakar, Chintya sibuk ngerecokin Chef Andis, Nisa yang sibuk kesana kemari entah ngapain, dan Brew yang sibuk ngeliatin saya ngiris-ngiris cabe. Dari segala rupa keruwetan memasak kami ternyata menghabiskan waktu sampai dua jam, beginilah hasilnya!

Sebelum dan sesudah makan
Makan malam di Pulau Sepa menurut kami sangatlah glamour. Gimana engga, dibandingkan dengan sehari-hari kami makan, lauk pauk hasil kreasi kami ini lebih istimewa. Ada nasi liwet ala Chef Andis, cumi bakar, kakap bakar dan pepes, sup sapo, omelette, sambal korek dan kecap yang langsung ludes ngga pake itungan menit. Semuanya kelaparan, semua lauknya enak dan kebersamaan yang membuat suasana makin hangat malam itu. Lalu di mana menu bulu babinya?

Bulu babi hasil tangkapan iseng di pinggir pantai berhasil dihabiskan oleh para bujang yang nongkrongin api panggangan. Katanya sih enak, warnanya kuning, yang dimakan itu bagian telornya. Sempat terjadi perdebatan apakah itu beneran telornya atau eeknya. Tapi biar euforia castaway nya semakin berasa jadi ya dimakan aja. Biar keren gitu, "Gue udah makan bulu babi lho."

Hayoo ada yang pegang-pegangan tangan. Romantis banget.
Kenyang makan, kami membereskan lesehan dan bersiap ngopi-ngopi cantik. Sambil main tepok nyamuk sampai perih karena banyak yang mainnya nyusup. Malam pun semakin benderang karena terang bulan. Kelar bosen main kartu, kami duduk di pinggir pantai, menikmati semilir angin laut, suara ombak dan bintang-bintang yang berkelip. Beberapa sudah ada yang terlelap di tenda, Brew tidur nyenyak sampe berbunyi di hammock. Saya dan kakak Nisa episode curcol sambil leyehan di pinggir pantai. Andis ngeliatin bintang jatuh lalu tidur. Ujang, Bang Zuhal, dan Alan yang ngebahas beraneka ragam cerita mulai dari ikan patin sampai ilmu astronomi. Tak terasa mereka baru tidur jam 3an. Malam pun berlalu, kami bangun pagi lebih segar.

Masak-masakan pagi
Akhirnya bisa masang hammock di ranting pohon depan tenda, setelah berkali-kali percobaan jatuh terus

Paling asoy memang hammockan di atas laut. Abis selfi-selfian pohonnya ampir rubuh.

Sehabis sarapan kami berberes packing untuk siap-siap snorkeling lagi sekalian kembali ke Pulau Harapan. Langitpun mulai gelap di pagi hari. Saat kami bersiap masuk kapal di dermaga, hujan pun mulai turun dengan derasnya. Beberapa sepakat untuk langsung kembali ke Pulau Harapan, saya pun berbisik ke Nisa dan Roy dan memutuskan untuk mampir ke Pulau Perak. Kapal bersandar di Pulau Perak. Saya, Brew, Roy dan Nando langsung nyebur. Bang Zuhal yang tadinya cuma ngeliatin aja pun ikut nyemplung juga. Yang lain hanya duduk-duduk saja di kapal sepertinya mulai sebal, tapi dimulai dengan Agil yang naik ke dermaga yang lain akhirnya ikutan keluar juga pakai payung. Pada jajan dan main ayunan di Pulau Perak. Lumayan lama juga kami main di Pulau Perak sampai pukul sepuluh akhirnya kapal kami bertolak ke Pulau Harapan.

Sampai Pulau Harapan, hujan memang berhenti, tapi setelah selesai membereskan barang-barang dari kapal hujan mulai turun lagi dengan derasnya. Ngga cukup basah-basahan di laut, kami basah-basahan lagi di darat. Sebagian pada jajan cilor dan sebagian mandi di rumah Pak Wawi. Kapal besar yang membawa kami kembali ke Jakarta berangkat tepat pukul 12 siang. Ngga pakai delay, langsung cus menuju Jakarta. Hal pertama yang diinget waktu sampai rumah masing-masing dan masih dibahas adalah nasi liwet dan bulu babi. Ah~ bulu babi, itu yang dimakan telur apa eeknya?

Foto kami versi lengkap setelah berberes packing. Kangen bulu babi!
(Courtesy photo by Bang Zuhal)
Notes:
Selain bulu babi, ternyata masih ada cerita  lain yang baru dibahas di group chat, yaitu adanya banyak penampakan "makhluk lain" yang dilihat beberapa diantara kami. Meskipun tidak mengganggu tapi merinding juga karena kemunculannya saat kita asik-asikan main tepok nyamuk. Hanya saja mereka ga mau cerita dan baru dibahas hari ini. Hiiiy~ ternyata bukan cuma kami yang camping di Pulau Sepa.