South Korea


Belum move on dari serial drama Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo, saya jadi kepikiran untuk menulis lagi tentang perjalanan ke Korea Selatan setahun yang lalu. Serial drama yang saya tonton ini bertema Sageuk "Historical drama", membuat saya jadi ingin menulis tentang Hanok, rumah tradisional Korea yang sempat saya datangi selama 12 hari berkeliling di dua kota, yaitu Seoul dan Gyeongju. Tentu saja tidak lengkap bertamasya Korea Selatan tanpa mengunjungi Hanok. Di Seoul kami ke Bukchon Hanok Village, sedangkan di Gyeongju namanya Gyochon Hanok Village. 



Sebuah kolaborasi catatan perjalanan musim semi yang saya abadikan dan 
dinarasikan oleh teman seperjalanan saya, Hana.

Saya mencoba menulis rincian perjalanan ini mumpung masih berada di tahun yang sama, April 2019 kemarin selama 11 hari kami keliling negeri gingseng ini saat musim semi. 


Mastakimchi goes to Korea



Kami ngga kepikiran sama sekali untuk menginap di Hanok —rumah tradisional Korea, karena tujuan kami ke Korea yang penting kuliner dan melihat bunga sakura. Lagipula, apa gunanya sebuah penginapan saat melancong selain hanya sebagai tempat numpang tidur saja?



"Kok nggak ke Busan? Kok nggak ke Jinhae? Di mana tuh Gyeongju?"

Jadi beberapa hari sebelum berangkat, saat sedang menyusun itinerary ke Korea, Hana tiba-tiba menunjukkan saya foto penginapan hanok di instagram yang membuat kita akhirnya secara impulsif memutuskan untuk mengubah haluan destinasi dari Hwagae dan Jinhae ke Gyeongju saja. Karena untuk mencapai dua kota tersebut menggunakan transportasi umum sangatlah ruwet, sedangkan ke Gyeongju kita cukup menggunakan satu kali bus yang berangkat dari Seoul.


Kata banyak traveler, musim semi paling cantik itu di Jepang dan musim gugur paling anggun di Korea. Tapi kunjungan saya ke kedua negara itu justru terbalik, menyesuaikan dengan tiket promo yang didapat saja. Jadi 2 tahun lalu saya berdansa dengan daun-daun momiji dan ginko di Jepang, dan sebulan yang lalu Alhamdulillah diberi kesempatan untuk bercumbu dengan bunga sakura di Korea. Tapi keduanya bagi ku tetap sama-sama memesona, karena di negara tempat saya lahir ini dua pohon itu nggak ada. "So, the reason you visited Korea is to see Cherry Blossoms?" Tanya bapak host di tempat kami menginap di Seoul. Kami menggangguk antusias sambil sarapan sebelum jalan ke Yeouido park. Si bapak lanjut bertanya "Then, what kind of trees in Indonesia we don't have?". Saya pun sejenak berpikir dari sekian banyaknya jenis pohon di tanah yang subur ini apa ya kira-kira. Lalu teringat yang menjadi andalan wisata di Indonesia kan pantai dan lautnya, saya pun menjawab dengan pede. "Coconut trees!". Harusnya mah saya jawab pohon pisang ya, kalau pohon kelapa kayaknya di pulau Jeju juga ada. Hahaha.


Mengurus "ribet" nya persiapan visa Korea Selatan ternyata berlanjut dari sulit nya mengurus visa Schengen tiga tahun yang lalu. Kali ini saya mengalami lagi satu fase galau dalam menunggu hasil visa, yang jauh lebih epic dari pada nyari tiket promo. Sudah seminggu saya sakit perut tak kunjung reda. Setiap ada kesempatan buka laptop saya selalu mengecek status visa saya.
Older Posts