Makan Jajan di Bogor

Feb 18, 2023


Yahoo— akhirnya nyempetin jalan-jalan meskipun singkat dua hari satu malam, ke kota sebelah Jakarta yang hanya ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Awalnya saya dan Bre berencana ke Bandung atau Cirebon. Melihat kondisi saya yang kurang fit pasca kontrol ke dokter kandungan, kamipun merubah haluan ke Bogor. Sehari sebelumnya saya langsung memesan satu kamar di Swiss Belinn Bogor.

7 Februari 2023

Masih setengah bangun di kasur, nggak nyangka langsung disodorkan sepotong sponge cake Harvest. Saya baru ngeh hari itu ulang tahun saya. Namanya baru setengah bangun jadi masih blank. Seperti ritual tahunan, bangun tidur langsung makan kue. Memang hari itu sudah kami rencanakan untuk trip singkat, setelah terakhir bulan Agustus kami berkemah di Bukit Kabayan dan September tahun lalu main ke Jakarta Aquarium. 4 bulan kami nggak kemana-mana. I need vacation!


Soto Mie Mang Ohim

Kami berangkat agak siang setelah sarapan, wong Bogor deket. Saya cek di map hanya 45 - 50 menit lewat tol. Tujuan kami langsung ke Soto Mie Mang Ohim karena sarapan tadi nggak banyak, jadi kami brunch soto mie khas Bogor. 


Soto mie adalah salah satu pilihan menu saya kalau lagi libur masak dan bingung jajan di aplikasi daring. Tapi Bre jarang sekali ikut beli, dia lebih memilih menu yang lain. Maka kali ini saya mengajaknya makan soto mie langsung di Bogor, siapa tahu nemu yang enak jadi dia bisa suka. Beruntung sekali ternyata dia suka, menurutnya highlight dari soto mie Mang Ohim adalah kaldu kuahnya yang umami dan dagingnya yang banyak dan empuk. Gurih kuahnya bukan dari penyedap rasa dan dagingnya juga daging betulan dengan sedikit urat bukan campuran tetelan dan jeroan. 

Gerobak khas soto mie bogor

Semangkuk soto mie dan kroket kering

Kami memesan 2 soto mie dan 1 nasi. Kalau melihat porsi satu mangkoknya sebetulnya tanpa nasi juga sudah cukup membuat kenyang karena di dalamnya juga sudah ada karbo yaitu irisan kentang rebus dan tentu saja mie kuning. Selain itu ada irisan kol, tomat, emping, daun bawang dan risol. Satu hal yang membedakan soto mie ini dengan yang lain adalah risol yang digunakan. Orang Bogor biasanya menyebutnya kroket bihun atau lumpia, bukan risol. Jadi kroketnya ini kering, sehingga pas nyemplung ke kuah ia tidak jadi lembek dan benyek tapi tetap renyah saat dimakan. Kuahnya makin segar dengan tambahan perasan jeruk limau.


Hello Summer Cafe

Kenyang makan soto, kami lanjut mampir ke Hello Summer sekitar pukul setengah 12 siang karena check in hotel masih lama (pukul 2 siang). Kami memutuskan untuk leyeh-leyeh dulu sambil ngobrol di kafe ini. Lantaran bukan akhir pekan, kafe ini tidak terlalu ramai apalagi masih siang. 


Rancangan kafe ini mengusung ala-ala beach club di Bali. Memang cocok sekali dengan model kafe kekinian yang sering jadi objek foto.


Tidak lengkap nongkrong di beach club tanpa minum kelapa muda utuh.

Menyesuaikan tema kafe ini saya memesan kelapa muda utuh dan tentu saja kesukaan Bre cappucinno, berhubung siang panas jadi pesan yang dingin. Nyemilnya kentang goreng truffle, karena tadi masih kenyang jadi kami tidak makan lagi di sini. 

Area outdoor di lantai atas. Panas yaa.. di sini sih enaknya pas hujan-hujan gerimis

Ruang indoor yang cukup dingin.

Kami memilih untuk bersantai di ruang indoor yang ber-AC. Untuk bagian outdoor tersedia juga di lantai 2. Bagian ruang indoor cukup luas dan tidak terlalu terang sehingga nggak bikin sakit mata meskipun jendelanya besar. Sayangnya kursi dan meja di ruangan indoor yang cocok untuk kerja kurang banyak. Sebagian besar lebih cocok untuk bersantai dan merebahkan punggung. Untuk ambience musiknya siang hari ini masih enak di telinga, jadi tidak mengganggu jika kamu ingin bekerja di kafe ini.


Lumpia Basah Taman Kencana

Setelah check in rasanya malas keluar lagi, apalagi ini pertama kalinya saya menginap di hotel bintang 4. Awalnya saya memesan kamar tipe deluxe dengan harga 850,000 permalam pakai diskon di OTA jadi 600,000. Padahal  dua hari saya mengecek harganya tidak berubah, setelah sore hari entah kenapa jadi murah. Beruntung sekali saat check in kamar mendapat upgrade gratis jadi tipe superior yang biasanya seharga 1,000,000 per malam. Wuah! Senang sekali, jadi seperti hadiah ulang tahun. Kami pun dapat di kamar lantai atas yang pemandangannya cukup menyenangkan meskipun membelakangi gunung.


Makin sore akhirnya saya mulai lapar. Lantaran malas keluar hotel, saya memesan lumpia basah lewat aplikasi daring. Jajanan gerobak ini cukup populer saat saya masih kuliah dulu di Bandung sekitar tahun 2007. Seperti jadi jajanan wajib sore penahan lapar. Lumpia basah adalah camilan khas Bandung yang berisikan tumisan toge, telur, dan manisan bengkuang yang dilapisi dengan kulit lumpia. Dari info penggiat kuliner, lumpia basah di Bogor yang enak itu namanya Lumpia Basah Gang Aut 1972 (silakan cari di Google Map). Jadi saya nggak ekspektasi bakalan wah dengan yang saya order di aplikasi daring. Betul saja rasanya agak gosong, terutama bengkuangnya.


Menghabiskan sisa sore, Bre berenang di kolam. Saya nggak ikutan karena saran dokter untuk menghindari olahraga dulu. 


De' Luit Bogor

Waktunya makan malam nih, saya ingin sekali mencoba nasi jambal, nasi yang dimasak dengan santan dan potongan kecil-kecil ikan asin jambal. Tadinya saya sudah berencana ke restoran Gurih 7, namun kami urungkan karena suasananya lebih cocok dinikmati siang atau sore hari. Kami pun mencari alternatif lain dan menemukan restoran sunda lain namanya Hujan Rempah dan De' Luit yang lokasinya saling berdekatan dan tidak jauh dari hotel. Rating resto yang pertama lebih tinggi dari yang kedua, jadi kami langsung mampir ke Hujan Rempah. Namun sayangnya restoran ini sepi dan terkesan lebih mirip seperti restoran keluarga biasa, tidak terasa vibes sunda nya. Saya pun coba lihat buku menu dan harganya too pricey! Awalnya kami berdua bingung, mau tetap makan di sini atau pindah restoran karena sudah pukul setengah sembilan malam dan restoran sebelah setengah jam lagi tutup. 


Kami langsung bergegas ke De' Luit, di sana beberapa pengunjung mulai keluar parkiran. Alhamdulillah kami masih bisa order menu. Saya memesan nasi jambal dengan lauk empal daging dan Bre dengan lauk ikan bayi, ikan mas kecil-kecil yang digoreng kering. Untuk minumnya saya memesan Es Pala, salah satu manisan favorit saya saat kecil dulu. Saya tak menyangka bisa menemukannya di restoran ini. Setahu saya minuman ini biasa dijual di trotoar di gerobakan bersama dengan Es Mangga. Beruntung sekali bisa nemu di sini, karena saya masih belum berani jajan sembarangan saat hamil.

Nasi Jambal dan Es Pala

Nasi jambal biasanya didampingi dengan lauk pauk seperti ayam goreng, empal daging, tahu goreng, oseng oncom, sambal terasi dan satu lauk pendamping yang wajib ada yaitu bakwan jagung. Saya jujur suka sekali dengan bakwan jagungnya De' Luit. Bakwannya agak tipis, jagungnya masih lumayan empuk tapi tetap renyah serta rasa asinnya yang pas dengan nasi jambal. Bre suka sekali ikan bayinya, renyah dan cocok sekali dengan nasi jambal. 

Es Palanya tentu saja segar dan enak, tapi Bre tidak tertarik karena katanya rasanya seperti jamu. Es Pala ini isinya hanya irisan tipis-tipis manisan buah pala, es batu dan air. Karena ukuran gelasnya yang cukup besar, sisanya saya bawa kembali ke hotel. Saya simpan di kulkas kamar hotel, lalu besoknya saya bawa balik ke Jakarta. Masih tetap segar dong!

8 Februari 2023

Roti Unyil Venus

Dulu biasanya saya memesan kamar hotel sekalian dengan sarapannya, alasannya tentu saja lebih murah dibanding pesan sarapan di hari H di hotel. Tapi lama-lama jadi mikir, rasanya kok sayang jadi nggak bisa jajan makanan-makanan unik pagi hari di kota yang kita singgahi. Jadi sekarang saya sudah jarang memesan sarapan hotel, kecuali jika memang ingin staycation dan malas kemana-mana.


Kali ini di Bogor saya kepingin jajan sarapan roti kampung. Tadinya kepingin ke Delicious Bakery Bogor sayangnya agak jauh dari hotel dan baru buka jam 7 pagi. Bre akhirnya belok ke Roti Unyil Venus yang ada di Jalan Raya Pajajaran. Toko buka jam setengah 6 pagi, pas sekali saya sudah kelaparan semenjak subuh. Roti unyil ini enak tapi menurut saya isiannya terlalu banyak dan manis. Padahal dasar rotinya saja sudah cukup menggugah untuk sarapan pagi. Saya beli 1 dus isi 30 seharga 54,000 rupiah, kebanyakan jadi sisanya saya bawa balik ke Jakarta.


Kopi Nako dan Warung Djati

Kami lanjut nge-brunch ke Kopi Nako yang ada di daerah atas Bogor, yang lumayan cukup jauh sekitar 13 kilometer dari Swiss Belinn Bogor. Pas sampai, ternyata sudah lumayan banyak pengunjung padahal masih pagi dan ini bukan akhir pekan. 

Teras kafe Kopi Nako yang menghadap Gunung Salak
Mendung tapi perlahan gunungnya mulai nampak

Suasana rindang di bawah pohon jati

Kopi Nako adalah franchise kafe yang awalnya berdiri di Jalan Pajajaran, Bogor pada tahun 2016, sebagai bagian dari Warung Nako. Sekitar 2-3 tahun lalu saya dan Bre menyempatkan mampir ke kafe pertamanya ini. Saat ini Kopi Nako sudah mulai menjamur di mana-mana, bahkan cabangnya ada di dekat rumah kami di daerah Cinere. Kali ini kami sengaja mampir ke Kopi Nako Kebon Jati yang lumayan cukup nge-hits di Bogor karena selain kopinya yang memang enak, kami disuguhkan pemandangan Gunung Salak dan suasana rindang pepohonan jati. 

Foto kiri: Booth Kopi Nako dengan kafe yang ada di lantai 2
Foto Kanan: Teras pelataran menghadap gunung

Bre langsung memesan Cappucinno panas dan saya tentu saja karena sedang puasa ngopi, memesan Es Rosberi, fusion teh rosella dan jus stroberi. Untuk camilannya kami jajan gorengan bala-bala, bakwan jagung dan tahu. Sayang sekali gorengannya tidak hangat, mungkin karena ini di daerah perbukitan jadi hawanya lebih dingin. 

Teras pelataran yang menghadap gunung.
Masih pagi namun berkabut sehingga Gunung Salak belum terlihat.

Kita bisa duduk-duduk di teras pelataran yang menghadap gunung pada pagi atau malam hari. Karena saat matahari mulai naik, kita akan merasakan panas dan terik matahari yuang menyilaukan mata. Jangan lupa bawa sunglasses jika memang ingin rebahan di kursi bean bag. Kami lebih suka duduk-duduk di bawah pohon jati, merasakan semilir angin hutan sambil ngobrol.

Kalau tiba-tiba hujan, pindah ke rumah-rumah segitiga itu

Selain menu kafe di Kopi Naki dan makanan rumahan di Warung Djati, di sana juga ada kedai lain yang menyediakan jajanan khas Jawa Barat seperti Cuanki, Bakso dan Somay. Ada juga kedai eskrim. Kedai ini berada di rumah atap segitiga yang juga berfungsi sebagai area duduk-duduk. 

Menu prasmanan di Warung Djati

Lantaran kafe ini hits maka tidak heran ada banyak rombongan ibu-ibu dan keluarga yang berdatangan setiap saat. Semakin siang, antrian di Warung Djati pun akan semakin mengular. Namun karena penasaran, akhirnya kami ikut mengantri untuk mencoba nasi lauk-pauknya. Secentong nasi, orek tahu tempe, oseng jantung pisang, gorengan paru, serta tiga buah bala-bala ini ternyata menghabiskan hampir 50,000 rupiah. Mahal pisan euy! Setelah saya perhatikan, jika ingin makan di sini sebaiknya makan berdua, karena ambil sedikit atau banyak harganya sama saja. Rasanyapun menurutnya so-so, seperti makan di warteg.

Gurih 7

Biar makin lengkap, perjalanan kuliner di Bogor kami akhiri di restoran sunda dan Gurih 7 adalah salah satu yang terkenal di kota ini. Lokasinya juga sekalian jalan pulang ke Jakarta, tidak jauh dari pintu tol ke Jakarta. Waktu terakhir ke Bogor kami sudah ada rencana mampir ke restoran ini, tapi saat lewat di depannya saya agak sangsi karena tidak terlihat sama sekali seperti restoran sunda. Ternyata pas kami masuk, yang terlihat dari depan hanyalah toko oleh-oleh dan parkiran kecil. Restorannya sendiri berada di belakang dan terletak di bawah jadi memang tidak kelihatan dari jalan raya. 


Lumayan lah, Bre 20 menit bobok di sini.

Senang sekali meskipun kami hanya berdua kami bisa dapat spot duduk di saung. Jadi saya bisa rebahan dan Bre bisa numpang tidur sejenak menghilangkan kantuk. Bogor yang mendung ditambah suara deras aliran air membuat kita betah bersantai di restoran ini. Temanya mirip dengan suasana resto sunda lain seperti Gubug Mang Engking. Ah bulan depan mau ngajak keluarga ke sini.  


Berhubung saya sudah terlanjur makan nasi di Warung Djati, kami hanya memesan camilan saja di Gurih 7. Bre memesan Karedok karena sedang diet karbo, saya memesan bakwan jagung, singkong garlic dan Es Goyobod. Karedoknya segar, bumbu kacangnya pas dan porsinya juga cukup besar jadi lumayan bikin kenyang. Bakwan jagungnya terlalu tebal sama tepung. Untuk singkong garlicnya terbaik ini sih. Rasanya lebih mirip ubi karena manis dan empuk, bumbu garlicnya mirip bumbu cabe garam, rasanya gurih dan pedas enak. Nah yang terakhir es goyobod, ini adalah minuman khas Jawa Barat, dulu saya sering banget beli saat kuliah di Bandung. Untuk menu makan besarnya belum ada yang saya coba, tapi sepenerawangan saya, kalau camilannya saja enak pasti menu utamanya juga enak.

Singkong Garlic dan Otak-otak Bangka

Oiya ada satu lagi, saya memesan otak-otak. Sebetulnya saya sudah lama mengidam otak-otak khas Bangka ini, yang dibungkus daun dan dibakar kemudian dimakan dengan dicocol sambal kacang. Camilan ini biasa ditemukan di dekat stasiun oleh abang-abang pakai sepeda. Nah biasanya di restoran sunda juga ada camilan ini sebagai pembuka, makanya saya bela-belain ke sini karena belum berani beli di kaki lima, takut nanti isinya bukan dari ikan tenggiri tapi ikan sapu-sapu. Wkwk.

Dari semua kuliner 2 hari kami di Bogor, yang paling membuat Bre mau balik lagi adalah... tentu saja.. Soto Mie! Padahal di Jakarta dia sangat menghindari soto ini. 3 minggu setelah trip ini saya mengajaknya ke Gurih 7 untuk makan-makan dengan keluarga saya, tiba-tiba dia bilang, "Kenapa kita nggak ke Soto Mie Mang Ohim aja?" 

No comments

Post a Comment