Trip Impulsif Gunung Batu Jonggol

By Niken Andriani - Jan 29, 2016

Habis badai terbitlah terang

Bagaimana jadinya jika sebuah celetukan iseng ajakan untuk ODT (bahasa gaulnya buat one day trip) ke Gunung Batu betulan terjadi esoknya? Yap! Meskipun hujan mengguyur Jakarta sejak semalam dan awan gelap masih menyelimuti langit, kami rela bangun pagi di hari Sabtu yang dingin. Memang dua jam sebelum waktu ketemuan, beberapa sempat ada yang gundah bakal berangkat atau tidak. Tapi salah seorang pemicu trip ini kekeuh  berangkat meskipun menggunakan jas hujan. Akhirnya dari yang tadinya cuma berempat kami jadi berdelapan berangkat dengan menggunakan kendaraan roda dua. Dengan kostum lengkap menggunakan jas hujan.

Kami sampai di lapangan parkir Gunung Batu yang ada di Jalan Wanajaya sekitar pukul setengah satu siang. Tentu saja rasa lapar sudah melanda kami, langsung tanpa aba-aba kami mendatangi warung makan yang ada di pinggir jalan. Setelah makan siang, kami menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari tempat parkir sembari bersiap-siap untuk trekking.


Hujan-hujan begini, mending tidur dirumah selimutan atau nonton film Korea sambil nyemil.

Begitulah yang ada dalam benak pikiran saya, saat kami memulai perjalanan dan hujan mulai mengguyur lagi. Terpaksa kami trekking lengkap menggunakan jas hujan lagi. Fyuh, jangankan mengeluarkan kamera, kondisi jalanan yang becek dan berlumpur memaksa kita untuk tetap fokus berjalan kaki. Tapi perasaan gelisah karena kondisi yang kurang enak ini hilang sesaat dengan candaan dan keakraban kami yang pecah di antara hujan dan hutan. 

Foto kiri (courtesy Ferga): Geng jas ujan. Foto Kanan atas: Mejeng setelah tanjakan pertama.
Foto Kanan bawah: Tanah lapang lokasi nenda.


Kabut, hujan dan angin kencang.

Jalur trekking yang terus menanjak lumayan membuat kami ngos-ngosan. Sudah beberapa bulan kami tidak naik gunung, alhasil yang biasanya ke alfamart saja naik motor, hanya menanjak satu jam saja rasanya bikin dengkul lemes. Sampai di padang lapang tempat mendirikan tenda, kami memulai petualangan menanjak yang sebenarnya. Tali webbing dan baut yang sudah terpasang di batu menandakan kemiringan jalur yang akan kita lewati lebih dari 60 derajat dan kami perlu alat bantuan untuk melewatinya. 

Kami hadang segala rintang yang menerjang (Courtesy: Narawangsa)
Ada tiga jalur yang menggunakan tali dan kami harus satu persatu bergantian naik, tidak bisa berbarengan kecuali ada yang berani tanpa menggunakan tali (kami tidak ingin mengambil resiko). Sesaat setelah jalur pertama, awan hitam dari utara mulai bergerak kearah kami. Kami pun menghentikan langkah kami dan berlindung di alang-alang atau batu untuk menahan angin kencang dan hujan deras. 

Satu tim yang sudah naik duluan di tanjakan pertama adalah semua kecuali saya dan Brew. Saya sendiri karena punya penyakit takut ketinggan, menunda untuk naik ditanjakan terakhir sampai badai berhenti. Baru setelah hujan berhenti, kami beranikan diri untuk naik pelan-pelan dibantu kawan kami. Dan... Sampai puncak kabut masih menyelimuti. Kami pun hanya duduk-duduk bercengkerama sambil menunggu awan pergi. Meskipun awal perjalanan kami penuh rintangan, rupanya semesta tetap mendukung kami. Awan dan kabut yang menyelimuti langit mulai pergi, landskap yang terlihat dari puncak Gunung Batu jadi sangat jelas. Sungguh kuasa Tuhan, begitu indahnya pemandangan dari ketinggian 875mdpl ini.

Abaikan coretan yang ada di batu
Aku duluan turun kebawah, nanti kamu fotoin aku ya!

Foto terakhir di puncak Gunung Batu yang berselimut kabut

For your information
Jalur berangkat : Gramedia Depok - Jalan Juanda - Jalan Raya Bogor - Jalan Sentul Raya - Babakan Madang - Jalan Gunung Pancar - Jalan Desa - Jalan Wanajaya - Gunung Batu Jonggol
Jalur pulang : Gunung Batu Jonggol - Jalan Wanajaya - Jalan Gunung Batu - Jalan Selawangi - Jonggol - Cileungsi - Cibubur 


Purwokerto, Tidak Sekadar Singgah

By Niken Andriani - Jan 22, 2016

Jadi ceritanya akhir tahun 2015 kami ngga kemana-mana, karena ya taulah tiap minggu terakhir bulan Desember bertepatan dengan libur natal ditambah cuti bersama dan hari kejepit pasti jadi hari libur yang panjang. Dan imbasnya pasti dimana-mana macet dan tempat-tempat wisata jadi rame. Belajar dari pengalaman tahun sebelum nya, kami putuskan untuk tidak repot-repot ngurusin liburan akhir tahun. Dan pas sekali, di awal bulan Desember, saya dapat undangan dari salah seorang sahabat kuliah saya yang mengadakan resepsi pernikahannya di Purwokerto pada akhir bulan. Langsung lah saya berburu tiket kereta, karena tau pasti tiket di tanggal 23 - 31 Desember pasti sudah ludes. 

Beruntung sekali kami dapat dua kursi terakhir pulang pergi Jakarta - Purwokerto, meski tiket kepulangan saya harus duduk jauh dari suami. Berangkat tanggal 25 Desember dengan kereta Serayu Malam, ini menghabiskan waktu perjalanan 5 jam lebih lama dari waktu biasanya. Dan kembali dari Purwokerto tanggal 27 Desember dengan kereta Kutojaya Utara Tambahan. Kami tanpa menginap, karena kereta dari Purwokerto berangkat tengah malam. 

Tantangan trip kami ke Purwokerto adalah kondangan. Yap kondangan, dimana kami diharuskan tampil kece tentunya untuk menghormati yang punya acara. Ngga etis kan masa kita kondangan pake sendal jepit sama kaos an. Jadilah kami rararempong di stasiun buat numpang mandi sama dandan ala kadarnya. Kami menyulap diri dari gembel jadi ..... . Demi kamu loh, Dik. Hihihi. 

Berikut catatan trip kami selama kurang dari 15 jam di Purwokerto:
  • Kondangan Dika
  • Lumpia Bom (sekitar kampus UNSOED)
  • Bakso Pekih
  • Kebun Raya Baturraden
  • Nasi Goreng Oplosan Aah
  • Soto Ayam Jalan Bank
  • Bakso dan Soto Sami Asih
  • Sate Kambing Putra Saudara
  • ChocoKlik Choco House and Cafe
  • Alun-alun kota
  • Oleh-oleh Khas Purwokerto di Sawangan


Kebun Raya Baturraden

Sehabis kondangan (dan kuliner all you can eat) di resepsi nya Dika dan Alwin, kami pamit pulang lalu mencari masjid di sekitar lokasi untuk sholat dzuhur sekalian ganti kostum. Ngga mungkin kan saya pake rok panjang keliling kota. Bisa repot dunia per-traveling-an. Setelah cukup waktu beristirahat, kami meluncur ke Kebun Raya Baturraden. Kali ini kami pake GPS, biar ngga nyasar-nyasar karena waktu kami singgah di kota mendoan ini sangat lah singkat. 

Baturraden sendiri itu sebetulnya adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Banyumas. Lokasinya terletak di sebelah utara kota Purwokerto dan tepat di selatan lereng Gunung Selamet. Kalau dari pusat kota Purwokerto jaraknya tempuhnya kurang dari satu jam dengan kendaraan roda dua. Jalan yang dilalui juga lumayan mulus. Bonceng motor berdua berasa pacaran kayak anak-anak muda jaman sekarang, hehe.. 

Kebun Raya Baturraden

Baturraden adalah taman wisata yang awalnya berupa hutan dan air terjun disulap menjadi kebun raya. Tempatnya sangat rapih, meskipun ramai oleh pengunjung, suasana sejuknya masih terasa. Banyak keluarga yang berpiknik, ada juga rombongan tour dari beberapa daerah di sekitar Purwokerto. Kontur daerahnya naik turun bukit, sehingga beberapa tempat terlihat dari kejauhan. Fasilitas yang disediakan oleh pengelola sangat memadai. Seperti kamar mandi dan tempat-tempat khusus para penjaja makanan menjual dagangannya. Selain taman, air terjun, dan hilir sungai ada juga sumber air panas. Satu lagi yang jadi tujuan paling ramai di Baturraden adalah kolam renang buatannya yang terletak di sebelah barat kebun raya. 

Kami berada di Baturraden ini sampai sore. Ngapain sih? Ya tidur, bercengkrama, lalu tidur lagi sambil menikmati suasana sejuk pepohonan lereng Gunung Selamet ini. Untuk menghindari daerah ramai, berjalanlah ke atas ke bagian paling utara dari kebun raya ini. Yang ada hanya aku, kamu dan rumput yang menjadi saksi. Halah.

Adem-adem sejuk ini emang bikin ngantuk

Biar afdhol alaynya kita foto bareng


Bakso dan Soto Sami Asih


Hawa dingin membuat kita cepat lapar. Dari Baturraden kami turun bukit menuju Purwokerto. Karena jalur ke Baturraden melewati kampus UNSOED, tadinya kami mau sekalian mampir untuk mencicipi lumpia bom. Tapi tengok kanan kiri sepanjang jalan tidak kelihatan sama sekali kuliner yang katanya wajib dicoba di Purwokerto ini. Langsung saja kami ngebut menuju Pasar Wage untuk menjajal kuliner bakso. Letaknya di belakang pasar, tepatnya di Jl. Pramuka. 

Nyengir aja pakdhe nyadar di foto yah
Berhubung lagi libur panjang, warung bakso ini sangat dipadati pengunjung. Waktu kami memesan bakso, kami pun diberi tahu kalau antriannya sudah panjang. Bayangkan demi bakso ini, kami nunggu satu jam! Orang yang baru datang dan duduk didepan kami pun tidak jadi memesan, hanya menghabiskan es teh nya lalu pergi meninggalkan warung. Hahaha.. Tapi kesabaran kami memang terbayar. Yang bikin beda dari bakso-bakso lain yang pernah kami coba adalah kuahnya. Rasanya sambil menulis inipun saya menelan ludah membayangkannya saja. Kalau bakso nya sendiri, benar-benar berasa dagingnya. Untuk sotonya kami belum nyobain, next time mampir ke Purwokerto kami harus kesini lagi!

Baru liat kuahnya aja, bikin ngiler.

ChocoKlik - Choco House and Cafe

Udah cukup kenyang, kami menghabiskan sisa hari dengan nongkrong unyu di cafe ChocoKlik. Dapet recommend dari Dika, karena katanya ChocoKlik ini tempatnya asik dan harganya juga mahasiswa banget. Kami memesan es coklat klasik, es kopi coklat, dan chocoklik cake ditambah coklat batangan Inyonk tidak sampai lima puluh ribu rupiah. Coklat batangan nya mirip-mirip sama coklat Monggo dari jogja, tapi lebih enak Monggo sih (-penggemar monggo sejati). 

Kami bertukar pikiran, berbicara tentang masa depan, dan menikmati sisa hari

Oleh-oleh Khas Purwokerto di Sawangan

Mendoan! Rasanya ada yang kurang kalau ngga makan kuliner khas Purwokerto ini langsung di tempatnya. Sebetulnya banyak penjaja mendoan di Baturraden, tapi kami memilih untuk membelinya di Sawangan, jejeran toko oleh-oleh di sepanjang Jl. Pahlawan. Di sini juga dijual paket mendoan plus tepung bumbu dan cocolannya untuk dibawa pulang. Jadi kita tinggal goreng sendiri di rumah. Tapi karena harganya ngga make sense untuk ukuran tempe gitu loh, jadi kita beli mateng buat ngeganjel makan malam. Kami ngga beli oleh-oleh sih, cuma iseng aja mampir nyobain mendoan nya. Rasanya.. enak. Mirip-mirip sama buatan nyokap. Bedanya si karena makannya aja di Purwokerto. Hehe.

Nah, kalau ke Purwokerto jadi tempat singgah para pendaki gunung yang ingin ke Gunung Selamet, Gunung Prau atau Dieng, tidak ada salahnya jika kita menyempatkan waktu menjelajah kota mendoan ini barang sejenak. Karena, pastinya setiap sudut kota punya cerita.



Info sewa motor di Purwokerto
Arbi Rental, lokasinya sekitar 1 km dari stasiun Purwokerto, cukup naik angkot jika ingin mengambil sendiri motornya. Harga per 24 jam tergantung jenis motor. Untuk helm tidak include dalam harga sewa motor, jadi jangan lupa untuk menambahkan sewa helm, satu helm kena charga 10ribu. Untuk antar jemput kena charge 20ribu sekali jemput. Setelah nimbang-nimbang jadi kayak diperas juga yah. Hahaha.. Oya dan pengembalian malam hari maksimal jam setengah 10 malam.

Macau, The Little Europe and Las Vegas of Asia (Part 2)

By Niken Andriani - Jan 21, 2016

We wander for distraction, we travel for fulfillment. - Hilaire Belloc

Banyaknya bangunan peninggalan Portugis menjadikan Macau mirip dengan sebuah kota kecil di Eropa. Itinerary hari kedua kami di Macau adalah menjelajah dan merasakan euforia Eropa dengan mengunjungi situs bersejarah nya. Tidak hanya di Macau Peninsula, kami juga berencana ke Taipa dan mengakhiri hari di Coloane. Kami juga menyempatkan waktu untuk menjajal kuliner Macau yang masih kental dengan pengaruh Portugis. 


Ruins of St Paul

Ngga afdhol ke Macau kalau ngga mampir ke bangunan ini. Tapi jangan sekali-kali ke Ruin of St Paul pada siang atau sore hari karena situs tersebut sangatlah dipadati para pelancong. Makanya kami sengaja bangun lebih pagi untuk bisa menikmati bangunan bersejarah itu sambil mendengarkan suara-suara burung di taman yang ada di samping situs Ruin of St Paul. Brew pun tampak syahdu sambil menunggu saya mengambil gambar. Di taman ada beberapa warga lokal usia lanjut yang sedang taichi. Menambah syahdu suasana pagi itu. Oiya bangunan ini mirip sekali denga istana Noland The Liar yang ada dalam cerita komik kesukaan kami, One Piece. Bangunan yang hanya ada bagian depannya saja, seperti gerbang atau papan.

Sejuknya pagi hari di Macau saat autumn, memulai petualangan kami sampai ke Coloane.

Suasana pagi yang sepi di Ruins of St Paul


Senado Square, Dominic Square dan Augustine Square

Turun dari situs Ruin of St Paul, kami melewati banyak pertokoan yang masih tutup lalu menembus ke Senado Square yang merupakan kawasan area terbuka dimana banyak berjejer pertokoan dan restoran yang dibangun dengan arsitektur bekas Portugis. Bangunan-bangunan itu masih terawat dan menjadi tujuan wisata. Selain Senado Square, ada Augustine Square dan Dominic Square yang lokasinya saling berdekatan, cukup jalan kaki saja.

St Dominic Church
Senado Square yang dihiasi dengan pernak pernik untuk perayaan Natal

Kami engga lama-lama di sini karena toko juga belum ada yang buka. Lokasi tiga situs ini pun dekat sekali dengan penginapan kami jadi kami bisa balik kapan aja. So, the next destination will be Guia Hill. Mari kita nanjak-nanjak lagi!

Guia Light House

Baru sadar tulisanku makin kebawah makin ngirit. Di setiap sudut kota Macau kami punya banyak cerita yang ngga bisa saya tuang semua. Petualangan kami ke Guia Hill sudah saya tulis sebulan lalu di sini, karena masih anget-anget nya. Nemu tempat ini iseng-iseng pas browsing di tripadvisor. Mau spot yang berbeda di Macau? wajib banget ke Guia Hill! 

Guia Light House and Chapel

Dari Guia Hill kami turun ke jalanan di sekitar situs makam St Miguel. Nyasar-nyasar lagi deh tembus-tembus ke komplek sekolah dan balik lagi ke Circle K ketemu lagi sama mba Nana. Serunya get lost tanpa GPS, kami nemuin hal-hal yang tak terduga. Makan Indonesian fried noodle, favorit warga-warga disekitar komplek Guia, yang sebenarnya itu mie instan merk Sedaap yang dijual di CK. Berjalan di sepanjang kompleks pertokoan barang-barang branded, narik ATM, dan tembus-tembus di tempat yang tak terduga -yang tak ada di itinerary. 

Makan mie sedaap lalu nyasar-nyasar



A Ma Temple & Moorish Barrack


Setelah berjalan menyusuri komplek Guia sampai ke depan jalan Hotel Grand Lisboa, tanpa pikir panjang kampung langsung menumpang bus untuk menuju A Ma Temple yang juga masih satu kompleks dengan Lilau Square dan Mandarin's House. Siangnya yang terik membuat kami berteduh dibawah pohon-pohon yang rindang di samping Mandarin's House. Terus ngapain aja di A Ma Temple? Kami cuma numpang duduk di pekarangan tadi menikmati angin sepoi-sepoi, sambil makan Portuguese egg tart dan minum air dingin. Mau coba masuk ke A Ma temple tapi udah terlanjur males karena mulai rame. 

A Ma Temple & Mandarin House.
Saat kami kesana, Moorish Barack masih sedang di renovasi.

Rua Do CunHa

Dari A Ma Temple, sebenarnya tujuan kami ingin ke Taipa House Museum. Tapi kami salah turun di di sebuah gang yang ramai dipadati pelancong. Sempat dapet info dari majalah 3sixty yang ku baca pas di pesawat, gang ini memang jadi spot yang wajib didatangi di Macau. Penasaran juga sih akhirnya saya dan Brew coba iseng masuk ke jalan ini, dan ternyata kanan kiri adalah toko souvenir dan cafe-cafe yang menyajikan kuliner Macau. Yang paling ramai tentu aja Koi Kei Bakery yang menjual oleh-oleh yang banyak dibeli turis asal Cina selatan.

Gang Ruo Do CunHa yang dipadati turis

Di belakang Brew itu gang Ruo Do CunHa, dan ini tangga menuju Taipa House Museum

Saya sendiri hanya membeli kartu pos Macau untuk saya sendiri, hehe. Brew pengen banget nyobain Serradura yang ada di sebuah toko yang kami lewati. Penasaran karena tidak ada harganya, kami coba masuk ke dalam cafe dan ternyata harganya ngga masuk akal, untuk satu cup kecil berdiameter 8cm dihargai HKD50 (sekitar 90ribu). Ada sekumpulan pelancong *kayaknya masih SMA* yang iseng membelinya dan setengah menyesal setelah ditertawai teman-temannya diluar toko karena harganya yang mahal tapi mungkin rasanya biasa aja. Hahaha.. Kami pun urung membeli Serradura di sana, dan tetep.. membeli lagi egg tart buat nahan lapar. 

Egg tart lagi.....! Untungnya Brew doyan. Jadi tiap laper belinya ini.
Nyari makanan halal itu susyah nya minta ampun, jadi kemana-mana kita makannya kalo ga roti ya kue
Ini yang namanya Serradura, kami dapat di Lord Stow Bakery yang ada di Coloane Village
Sumber: http://itsmacau.com/5-must-try-macau-foods/


Taipa House Museum

Setelah makan egg tart di Ruo Do CunHa, kami bergegas ke komplek Taipa House Museum. Tidak begitu jauh sih tapi lumayan berjalan kaki. Sampai di sana, sedang ada sesi foto wedding yang ruamenya lumayan lah, mungkin ada sekitar 5-6 pasangan. Saya pun jadi ikutan nonton.


Taipa House Museum
Museum ini berisikan informasi sejarah dan budaya Macau. Di dalamnya dibangun ruang-ruang yang lengkap dengan furnitur asli yang mengidentikan suasana rumah kala itu. Kami diperbolehkan masuk untuk mengintip, dan tentu saja tanpa dipungut biaya. Setelah itu kami menikmati angin desa Taipa dengan duduk-duduk di bangku taman yang menghadap ke padang ilalang yang dibelakangnya tampak bangunan-bangunan megah kasino dan hotel.

Hari mulai sore di Taipa
Dari Taipa House Museum kami melanjutkan petualangan kami ke Coloane. Niat awalnya sih mau nikmatin sunset gitu di pantai Hac Sa atau Cheoc Van yang ada di Desa Coloane. Namun karena kami nyasar-nyasar lagi dan terpaksa selama sejam menunggu bus yang menuju Coloane akhirnya senja di Macau kami nikmati dari halte bus. Sedih sih, tapi petualangan kami belum berakhir. Petualangan paling romantis kami di Macau akan lanjut di Desa Coloane.


Bersambung . . .

Berkeliling Kota Macau
Macau, The Little Europe and Las Vegas of Asia (Part 1)
Macau, The Little Europe and Las Vegas of Asia (Part 2)
Mengabiskan Sisa Hari Di Coloane

Postcards From Macau

By Niken Andriani - Jan 20, 2016











Macau, The Little Europe and Las Vegas of Asia (Part 1)

By Niken Andriani - Jan 4, 2016

Macau, The Little Europe and Las Vegas of Asia.



Memulai petualangan kami di Macau dengan perasaan campur aduk karena hari sudah semakin sore dan kami belum menentukan akan menghabiskan sisa hari di mana. Avenido do Oceano, tempat kami terdampar karena menghindari keramaian kota Macau semakin sepi saja. Dari sana kami putuskan untuk mencari halte bus terdekat dan rute bus ke Venetian Resort. Brew menyemangati saya, "Udah nikmatin aja, asik kan kalo gini jadi banyak cerita."

Halte bus yang ada di antah berantah itu sangat sepi. Hanya ada dua orang bapak-bapak, yang satu sedang makan dan satunya lagi menemaninya mengobrol. Setelah acak kadut mencoba berkomunikasi dengan mereka, akhirnya kami naiki saja bus no. 15 itu sambil menunggu tidak pasti kemana bus ini akan melaju. Dan saat bapak yang baru selesai makan tadi tau-tau duduk di kursi pengemudi barulah kami memastikan apakah bus ini menuju Venetian dan bapak itu hanya mengangguk dan langsung tancap gas!

Venetian Resort

Setelah menempuh liak-liuk jalanan di pulau Cotaipa, kami disuguhkan pemandangan hotel dan resort yang megah. Lalu berhenti persis di bus stop yang bersebrangan dengan Venetian Resort. Kenapa saya kekeuh pengen ke sini? Karena bangunan-bangunan dan sungai yang dibuat didalamnya mirip-mirip sama kota Venesia di Itali. Dan saya baru tahu pas di sana, ternyata langitnya artifisial bukan asli! Jadi di tengah-tengah resort dibangun sungai dan atasnya diberi langit (palsu) biar suasananya serupa aslinya.

Suasana Food Court Venetian Resort

Waktu pertama kali masuk resort, kami sempet dibuat bingung karena yang ada justru malah kasino-kasino yang tersebar merata di lantai 1. Setelah muter-muter di dalam kasino, ternyata ada eskalator khusus untuk menuju lokasi perbelanjaan dan makanan. Rasa lapar yang bikin jadi baper sepanjang jalan dari penginapan tadi memaksa kita makan di tempat yang harga makanannya lumayan nguras kantong ini. Setelah makan, kami bisa tersenyum kembali. Saya mulai cerewet, dan Brew mulai tertawa terbahak-bahak setiap kita membahas petualangan-petualangan kami mulai dari Jakarta dua hari lalu. Ternyata segala kalut tadi adalah gara-gara lapar yah. 

Kimbab nya si halal, tapi ngga tau kuahnya deh. Hahaha.. 
Segala kesedihan sejak tadi siang sampai Macau terobati saat kami berjalan menyusuri sungai artifisial yang kanan kirinya berdiri toko-toko yang di design ala bangunan Eropa. Yang ada di kepala kami saat itu adalah, tahun depan kita bisa sampe Venesia beneran. Amiin! 

Mau coba naik Gondola? Cukup bayar MOP108 (sekitar 190ribu)
Dapet bonus lagu romantis dinyanyikan dengan suara seriosa yang menggema
Foto kiri: Brew di dalam Venetian Resort
Foto kanan: depan Hotel Grand Lisboa
Setelah hampir jam 10 malam kami keluar dari Venetian Resort dan berniat kembali ke Macau. Kami dengan pedenya langsung menaiki bus no 26A dari bus stop yang sama saat kami berhenti tadi, karena kami pikir jalurnya satu arah, jadi tinggal naik aja. Tapi ternyata kami salah, kami dibawa sampai ke bus stop Hac Sa Beach di ujung di pulau Coloane dan harus membayar lagi jika ingin ke Macau. Dan lucunya ternyata saat perjalanan ke Macau kami melewati lagi Venetian Resort. Hahaha.. Muter-muter ini tho namanya. Dari sini kami belajar jadi warga lokal, musti paham betul rute-rute bus di Macau. Kami sampai mulai hafal tarif bus nya yang di bedakan bukan berdasarkan jarak tapi berdasarkan naik nya dari pulau apa dan turunnya di pulau apa. Kalau masih satu pulau tentunya lebih murah, dan masing-masing pulau punya tarif yang berbeda. 


Wynn Fountain Show

Untungnya bus-bus di Macau supirnya garang jadi meskipun kami muter-muter dari ujung ke ujung kota, waktu tempuhnya tidak terlalu lama. Kami kembali lagi ke Praca Ferreira Amaral, bus stop yang lokasinya di pusat kasino Macau. Sudah tidak seramai siang tadi, karena kebanyakan para pelancong hanya singgah di Macau tanpa menginap. Kami juga sempat bertemu dengan pelancong dari Indonesia yang hanya mampir di Macau beberapa jam saja karena memang jika ke Hong Kong tujuan mereka rata-rata ke Shenzen dan Guangdong. Macau hanya jadi tempat transit untuk menumpang pesawat pulang ke Indonesia. Saya sendiri lebih memilih untuk tinggal lebih lama di Macau, karena di kota ini lah terasa banget sisa-sisa peninggalan arsitektur Eropa. 


Malam pertama di Macau, kami habiskan dengan duduk-duduk unyu di taman depan air mancur Hotel Wynn. Sambil menikmati pertujukan air mancur yang menari-nari diiringi musik cina klasik. Makin berasa lah Cina jadulnya, pas diputerin lagunya Teresa Teng. Pertujukan air mancur depan Hotel Wynn ini berlangsung tiap lima belas menit sekali mulai dari jam sebelas pagi sampai tengah malam. 

Macau Tower

Tidak jauh dari air mancur, kita bisa berjalan kaki di sepanjang pesisir Nam Van lake (Avenida do Sagres) dan di seberang nya terlihat Macau Tower yang berdiri menjulang. Tidak seperti sore sebelumnya saat kami hunting Macau Tower di Avenida do Oceano. Setelah bersusah payah nyari spot Macau Tower di Taipa, justru dari samping Hotel Wynn, view Macau Tower terlihat lebih menarik.

Pemandangan kota Macau dengan towernya yang menjulang itu, serta lagu Teresa Teng yang masih keputer di kepala, kami bawa pulang sampai ke hostel. Sepanjang jalan kami masih ngobrol dan tak henti-hentinya bercerita tentang kompleks nya hari pertama kami menjelajah Macau. Esok pagi masih menunggu dan kami tak sabar untuk segera bangun pagi. Good night, Macau!

Macau Tower dan jalan layang Nobre de Calvalho

Bersambung . . .

Berkeliling Kota Macau
Macau, The Little Europe and Las Vegas of Asia (Part 1)
Macau, The Little Europe and Las Vegas of Asia (Part 2)
Mengabiskan Sisa Hari Di Coloane