New Year, Better Me!
Sebuah tag dari kalender gratisan yang saya dapat dari toko belanja bahan makanan favorit ibu-ibu.
Warnanya cerah ya, semoga tahun depan bisa secerah sinar mentari.

Saya berterima kasih sekali kepada teknologi fotografi, karena tanpanya, beberapa memori dan cerita bisa luput dari ingatan saya. And thanks to aplikasi Photos, saya tinggal scroll-scroll ke atas untuk melihat cerita-cerita apa saja yang terjadi di tahun ini. 




Prolog: Penghuni-penghuni baru di rumah

Selama pandemi kami jarang pelesir tapi entah kenapa kami jadi lebih boros. Tentu saja faktor utama nya adalah karena sebagian besar waktu kami habiskan di rumah. Renovasi sana-sini, upgrade barang ini-itu. Kalau ditotal sama saja dengan biaya jalan-jalan, bedanya kalau buat pelesir nggak banyak mikir ngeluarinnya.  Di tahun 2020, mesin air kerendem dan terpaksa musti dibenerin dan pindah posisi. Lalu renovasi sebagian atap samping yang bocor. Setelah itu tiba-tiba saya jadi punya treadmill, alasan beli supaya Bre mau olah raga.

Saya pun kepikiran cita-cita yang sejak lama terpendam yaitu punya mesin espresso dan robot vakum. Alhamdulillah tahun 2021 dua-duanya terwujud. Untuk mengurangi rasa bersalah karena terlalu banyak mengumpulkan alat brewing kopi, semua perintilan kopi saya jual, lumayanlah dapat hampir 500 ribu buat beli grinder rumahan wkwk. Lalu saat Harbolnas (hari belanja online nasional) saya membeli robot vakum atau roomba merk Ecovacs tipe Ozmo 920 dengan potongan harga yang lumayan fantastis (thanks 11.11!).


Pertengahan tahun 2021 ini saya dan Bre ke Malang lagi. Niatnya sih mudik pas lebaran, tapi untuk menghindari keramaian akhirnya kami memilih untuk berangkat pada akhir bulan Juni. Ini adalah perjalanan darat pertama kali kami ke Malang menggunakan kendaraan pribadi. Biasanya untuk menghemat tiket pesawat kami naik kereta. Kali ini kami bersama Pikachu, si cabe rawit merah bertenaga 1250cc, yang melaju selama 3 hari dari Jakarta sampai Malang. Loh kok lama banget sampai 3 hari? Soalnya kami mampir dulu ke Dieng dan Temanggung. Cerita trip ke Dieng dan Temanggung akan saya tulis di part khusus karena pengalaman di sana sungguh memorable.


Semenjak sering pulang kampung ke rumah mertua, mampir ke Bromo sudah menjadi ritual saya dan Bre tiap kali ke Malang. Jarak tempuh yang tidak sampai dua jam dan kondisi jalan yang cukup baik membuat kami tidak pernah bosan mengunjungi tempat ini. Tahun ini kami mengunjungi Bromo tiga kali! Pertama di bulan Januari kami menginap semalam di Dusun Cemoro Lawang. Lalu di awal bulan Juli kami berdua melakukan perjalanan singkat ke Cemoro Lawang untuk pertama kalinya bersama Pikachu. Dan yang ketiga bersama dengan keluarga Bre kami jalan-jalan ke view point di pintu masuk Bromo jalur Tumpang.

Tulisan ini ditulis oleh Bre, suami dan teman perjalanan saya ke Eropa selama 50 hari. 

— 


Juventus, siapa yang tidak tahu klub bola paling legendaris di Italia ini. Saya sendiri sudah jadi Juventini, penggemar klub Juventus, sejak mengenal sepak bola kira-kira kelas 2 SD. Alasan saya menyukai klub ini, mungkin karena pada saat itu Liga Italia sedang ramai-ramainya ditayangkan di televisi dan Juve adalah klub yang paling banyak menjuarai liga ini. Jika saat itu Liga Inggris yang ditayangkan, mungkin saya jadi Cityzens, penggemar klub Manchester City.


Sebetulnya saya masih punya PR menulis cerita pengalaman camping di Pasir Reungit untuk melanjutkan cerita perjalanan ke Kawah Ratu sekitar empat bulan silam. Tapi mumpung masih hangat, kali ini saya ingin langsung menulis pengalaman camping lusa lalu ke Ranca Upas, bumi perkemahan di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung. Rencana berkemah ini sudah saya cetuskan sebulan yang lalu, setelah menahan diri untuk tetap di rumah sampai menunggu kelar vaksin kedua di pertengahan bulan September. Awalnya kami berencana kemah di Gunung Kencana, yang lokasinya satu kawasan dengan Telaga Saat dan Telaga Warna di Cisarua Bogor. Sekitar seminggu sebelum berangkat kami dapat info kalau trek ke sana biasa saja. Lalu entah kenapa saat itu saya langsung teringat dengan Ranca Upas.


Your cheap flight ticket is on your hands now. I said cheap because we usually book the flight months before the trip. The next thing to do is planning your trip. Sometimes, creating itinerary is so much fun that you'll be more excited even before going to your destination trip. Thus booking your lodging is one of the trip plan. 


I'm not really into culinary when traveling because of the budget. The higher the cost of living of a country, the more I will try to tighten the budget by cooking our meals. But occasionally I try some local foods to satisfy my curiosity.  


I started to love exploring places when joining URAL, an extracurricular activity in my senior high school focusing on nature and environmentalist. As time goes by, I love taking photos of places I visited as well. At first, it is just to record the detail of the trip. Taking photo is much easier and quicker than writing down the information we get while we explored.

Airport, terminal and train station will be the starting line before we travel. Maybe they are just stopover places and we don’t take photos of them. For example, KLIA Kuala Lumpur International Airport, I’ve been there many times as a stopover before continuing to other destination countries (I am Air Asia cheap flight hunter). There is no special feeling for this place other than as a stopover.

11 hours of transit in KLIA before continuing the flight to Amsterdam (2016)

Empat hari ini senyum melebar tertampak di wajah saya. Ada perasaan campur aduk, seperti sedang melakukan long trip ke sebuah kota atau negara. Padahal saya hanya di rumah saja, duduk di kursi atau rebahan di kasur sambil menatap layar yang hanya berukuran sebesar 11 inch. Lalu apa yang membuat rasa kangen traveling ini terobati hanya dengan menatap layar laptop? Tentu saja karena menonton film!

Source image here


It's been a tough year for all of us. Especially for someone who likes to go outside and explores around. I talked about my self of course. But now I will tell you a story of my last trip with my little brother, Nibras, the boy I adore so much. My sisters and I called him Ibas since he was born because his name is uncommon, and it is easier to call him Ibas.  


After getting two courses of travel writing from Trinity, one month ago, I decided to take an English writing course at LBI UI. The reasons are I want to be better on writing English and to create a good travel journal in English, especially for destinations in Indonesia. In this time of pandemic, I believe we cannot travel overseas and can only visit domestic places. 


Seminggu lalu saya menyuruh Bre mengambil cuti satu hari kerja di minggu pertama April. Kami berencana pelesiran ke luar kota yang tidak jauh dari Jakarta. Nggak ada tujuan khusus sih, yang penting keluar rumah. Pernah terpikir untuk ke Sukabumi, piknik lucu di depan danau Situ Gunung. Tapi saya sudah tiga kali ke sana. 


Menyusun itinerary adalah hal yang paling mendebarkan sebelum perjalanan, setidaknya bagi saya. Sama rasanya saat berburu tiket promo, menyusun rencana perjalanan juga. Namun sedetil apapun rencana yang kita buat, pasti akan ada banyak perubahan. Kalau tidak banyak berubah berarti Anda ikut agen perjalanan yang semua destinasi nya sudah jelas di awal. Di sini saya akan beberkan rute perjalanan keliling Eropa tahun 2016 lalu. Buat siapa sih? Tentunya untuk saya baca sendiri karena saya pelupa. 


Menjelajah Sumba, sebuah pulau di timur Indonesia adalah impian saya sejak 9 tahun silam. Bisa berkuda di Sumba, rasanya mimpi banget. Ya memang masih mimpi sampai sekarang. Hehe. Tapi kali ini saya mendapat kesempatan naik kuda, untuk pertama kalinya. 

Setelah menghabiskan pagi di Seruni Point —menikmati Bromo dari ketinggian, kami berencana kembali ke Kota Malang melalui jalur Tumpang. Dari penginapan kami langsung menuju Gerbang Masuk Cemoro Lawang Bromo, di sini kita baru memperlihatkan lembar konfirmasi tiket yang sudah kita beli online beberapa hari sebelumnya, serta Surat Keterangan Sehat dari puskesmas. Dari gerbang ini sampai ke padang pasir Bromo ternyata sangat dekat. Ini sih kalau mau ke Bromo tinggal jalan kaki daripenginapan juga bisa sebenarnya. 

Belum ada keinginan untuk punya kendaraan roda empat karena sekarang sudah banyak jasa transportasi online. Butuh mobil tinggal klik-klik saja di gawai. Tapi semenjak wabah Covid-19 menyerang, kami mau tidak mau butuh kendaraan pribadi agar tidak insecure saat bepergian. Karena dana yang belum cukup dan tidak mau mengambil cicilan, akhirnya kami putuskan untuk membeli mobil bekas dengan cara cash. Berikut pertimbangan kami membeli mobil bekas:

  1. Untuk menjangkau mobil baru sekarang berarti kami harus mengambil kredit. Tapi cicilan di leasing kan riba. Kami sedang belajar untuk menghindari itu.
  2. Perhitungan kredit mobil baru sudah jelas merugikan. Meskipun dengan dalih harga kredit lebih murah dari pada harga cash, setelah dihitung total tetap saja harga kredit jauh lebih mahal.
  3. Mobil bekas jika dijual lagi tidak akan mengalami kerugian yang signifikan. Tapi lebih ke penggunaan saja.
  4. Sudah banyak jasa inspeksi mobil yang bisa meyakinkan kami untuk memutuskan membeli mobil bekas tahun lama.
Awal nya sempat trauma dengan barang bekas karena dulu Bapak saya pernah membeli mobil bekas yang menyusahkan. Sejak itu saya bertekad tidak akan mau membeli barang bekas sampai saya membeli kamera bekas tahun 2014 silam. Dari situ saya belajar, beli barang bekas justru menguntungkan asal kita paham, apalagi jika berencana mau dijual lagi.

Untuk mobil, kami sempat ragu karena tidak mengerti sama sekali tentang mobil. Kami juga tidak punya kenalan atau saudara yang bekerja di bidang otomotif. Tapi semenjak ada jasa inspeksi mobil, kami jadi mantap untuk membeli mobil bekas. Sebelum memutuskan mobil yang diincar, tentu saja Bre bolak-balik menonton review mobil di kanal Youtube. Beberapa nama Youtuber otomotif seperti Mas Wahid dan Ridwan Hanif sering muncul. Setelah yakin dengan merk, tipe dan tahun mobil yang diincar baru kami mencari ke diler. 

Kata om saya yang pernah membeli mobil bekas, lebih baik mencari mobil bekas di diler resmi mobil. Di Jakarta ada Mobil88, Bendi21, Toyota Trust dsb. Namun setelah berkeliling di internet dan datang langsung ke diler tersebut, mobil yang kami incar dan sesuai budget sangat sulit dicari. Akhirnya kami menggunakan OLX Indonesia yang merupakan platform jual beli otomatif dan properti terbesar di Indonesia. Cukup banyak pilihan mobil yang kami incar, tapi tentu saja kita tidak bisa bertransaksi melalui platform ini. Di OLX kita hanya berkomunikasi dengan penjual melalui chat. Untuk transaksi jual beli dilakukan di luar aplikasi.

Setelah berminggu-minggu berkomunikasi dengan beberapa penjual, kami memperoleh 2 pilihan mobil bekas dengan merk, tipe dan tahun yang sama. Hanya berbeda warnanya saja. Lalu Bre janjian dengan penjual untuk melihat ke lokasi. Dua mobil tersebut dimiliki oleh penjual yang berbeda, yang pertama diler resmi OLX Autos dan yang kedua diler independen yang dimiliki oleh orang pribadi.

Setelah melihat kedua mobil tersebut baru kita memesan jasa inspeksi mobil. Kami menggunakan Otospector karena sudah banyak review nya. Jasa ini tidak bisa langsung digunakan tapi harus menunggu antrian dan jadwal yang diatur oleh Otospector. Berikut cara memesan jasa inspeksi di Otospector:

1. Isi form di laman https://otospector.co.id/ 

    


Selain suhu dingin Malang, salah satu yang membuat saya betah tinggal di sana adalah harga perkopian nya yang murah. Dibandingkan kafe-kafe di Jakarta, harganya bisa lebih murah sekitar 10-20 ribu rupiah. Banyak sekali kafe yang bisa ditemukan di tiap sudut Kota Malang. Selama dua bulan tinggal di rumah mertua, saya beberapa kali mampir ke kafe, menemani Bre yang kadang jenuh kerja dari rumah. 

Berikut beberapa kafe yang sempat saya kunjungi saat di Malang. Dari foto-foto nanti terlihat kafe yang kelihatan sepi. Memang kami sengaja memanfaatkan waktu paling pagi kafe buka, mengingat kondisi pandemi saat ini yang bikin insecure kalau terlalu lama bersama orang asing dalam satu ruang. Seperti yang sudah saya tulis dalam postingan sebelumnya, kafe-kafe di Malang lebih ramai dipadati saat menjelang sore hingga malam hari. 3 dari 6 kafe yang ada di sini juga sudah saya tulis di postingan tersebut. 


Setelah empat kali ke Bromo, akhirnya saya punya catatan rute perjalanan lengkap yang bisa dipilih menyesuaikan kondisi dan tujuan ke sana. Catatan yang saya buat lebih sesuai untuk kamu yang melakukan perjalanan mandiri tanpa menggunakan tur.

Bromo adalah salah satu gunung aktif yang masuk ke area TNBTS atau Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Lokasinya berada di antara empat wilayah kabupaten yaitu Pasuruan, Lumajang, Probolinggo dan Kabupaten Malang. 



Semenjak pandemi, proyekan sepi. Saya pun jadi punya lebih banyak waktu luang. Di antara sedih dan gembira juga sih. Dan agar tetap waras saya pun menyibukkan diri dengan proyek Masta Kimchi, berkebun, ngeblog, belajar fotografi makanan dan belajar mengolah sampah sendiri a.k.a. composting. Dua list terakhir belum saya mulai sih, baru niat aja. Hehe


Tulisan ini khusus saya buat untuk warga DKI Jakarta yang sudah kena pajak progresif untuk kendaraan bermotor. Apa sih pajak progresif itu? Kenapa saat ini baru DKI Jakarta yang menerapkan sistem pajak progresif ini? 


Tahun 2020 lalu yang terasa begitu cepat terlewati. Banyak perjuangan dan pengorbanan. Mengawali tahun ini saya dan Bre mendapat kesempatan untuk menyapa Bromo kembali. Semenjak 4 tahun silam mengunjungi Bromo, melihat Cemoro Lawang dari kejauhan, saya berkeinginan untuk menginap di Cemoro Lawang, sebuah desa di atas awan yang berada di lereng pegunungan Tengger. Akhirnya terwujud setelah melalui banyak pertimbangan karena kondisi pandemi yang membuat sangat rentan untuk berwisata.