Camping Ceria: Hujan Kabut Ranca Upas

By Niken Andriani - Oct 12, 2021


Sebetulnya saya masih punya PR menulis cerita pengalaman camping di Pasir Reungit untuk melanjutkan cerita perjalanan ke Kawah Ratu sekitar empat bulan silam. Tapi mumpung masih hangat, kali ini saya ingin langsung menulis pengalaman camping lusa lalu ke Ranca Upas, bumi perkemahan di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung. Rencana berkemah ini sudah saya cetuskan sebulan yang lalu, setelah menahan diri untuk tetap di rumah sampai menunggu kelar vaksin kedua di pertengahan bulan September. Awalnya kami berencana kemah di Gunung Kencana, yang lokasinya satu kawasan dengan Telaga Saat dan Telaga Warna di Cisarua Bogor. Sekitar seminggu sebelum berangkat kami dapat info kalau trek ke sana biasa saja. Lalu entah kenapa saat itu saya langsung teringat dengan Ranca Upas.

Saya sudah dua kali berkemah di Ranca Upas, dan tak sekalipun membuat saya kapok. Lalu saat sedang scrolling timeline Twitter ada yang membuat cuitan tentang campervan di Ranca Upas. Woah, pas banget nih, kayaknya asik bisa kemah di samping mobil jadi nggak perlu repot menggendong tenda dan peralatan kemah lainnya yang berat-berat. Akhirnya kami putuskan untuk kemah di sana di hari Minggu - Senin. Kami sengaja mengambil cuti di hari Senin untuk menghindari keramaian pada akhir pekan. Saya mencari info tentang kondisi terkini Ranca Upas, karena terakhir kali saya kemah di sana sekitar satu dekade yang lalu. Ada beberapa hal yang membuat saya ragu, seperti katanya ada pengamen yang keliling dari tenda ke tenda pada malam hari, suara sound system sebuah acara yang digunakan oleh sekelompok orang dan keramaiannya yang seperti pasar. Saya pun mencoba mencari alternatif destinasi lain ke sesama penggiat alam bebas. Tapi dua hari sebelum berangkat, kami memutuskan tetap berangkat ke Ranca Upas. 


Catatan tentang peralatan yang harus dibawa saat berkemah memudahkan sekali packing. I'm thanking myself for taking time to write this years ago. Meskipun sudah sering bolak-balik packing, packing buat kemah itu beda dengan packing pelesiran keliling kota. Tapi kali ini ada yang beda dari kemah biasanya, saya membawa coolbox!

Bersama Pikachu kita melanglang buana.

Kami berangkat Minggu pagi pukul 6 dari Jakarta, lewat jalur bebas hambatan sampai keluar Tol Soreang sekitar 2,5 jam. Dari sini jalanan mulai penuh dan macet karena.. tentu saja ini kan akhir pekan. Pukul 10 kami sudah sampai di gerbang depan Ranca Upas, tapi karena sangat ramai kami tidak langsung belok tapi melanjutkan perjalanan santai bersama Pikachu melewati lekuk-lekuk perbukitan kebun teh yang molek.



Tadinya saya berencana mengajak Brew melihat Situ Patenggang dari atas, tapi ternyata sekarang tiket masuk ke danau sudah diminta dari depan, jadi kami urung dan bablas lanjut terus sampai Warung Kabut, atau sekitar 13 km dari Ranca Upas. Saya sudah bolak-balik ke Ciwidey (sampai nggak bisa dihitung pakai jari karena dulu 5 tahun kuliah di Bandung) tapi baru kali ini saya menemukan kebun teh yang tidak kalah cantiknya dengan kebun teh di Puncak, Bogor. Tak terasa sudah dua jam lebih kami melipir-melipir di sepanjang jalan hingga kami lupa waktunya makan siang. 

Situ Patenggang dari Bukit Kawah Rengganis.
Di sini tidak ada tiket masuk, hanya cukup membayar parkir mobil 10 ribu rupiah.

Salah satu spot view yang tidak sengaja kami hampiri adalah Kawah Rengganis. Hari itu lokasinya sedang ditutup, tapi kami diperbolehkan jalan kaki ke atas bukit. Selain itu saya baru saja googling ada spot lain yang tidak kalah bagusnya namanya spot teletubies di Google Map. Kami sebetulnya melewati spot ini dua kali tapi nggak ngeh.

Pukul setengah satu siang kami check in ke Ranca Upas. Di gerbang depan sudah sepi sih tapi ternyata di dalam masih cukup ramai, terutama pengunjung di lokasi penangkaran rusa. Saya mengajak Bre untuk mendirikan tenda di depan danau, tapi Bre enggan, alasannya danaunya kecil dan banyak kerumunan di sekitarnya karena bersebelahan dengan Kids Zone dan penangkaran rusa. 

Karena ingin melihat langit, Bre memilih untuk mendirikan tenda di area savana. Haa..haa..haa, ini berarti kali ketiga saya camping di area savana. Beberapa kali saya membujuk Bre untuk kemah di pinggir danau, tapi gagal. Sudahlah, perut keroncongan, mana sok-sok-an pasang flysheet untuk jadi bivak gagal, kami langsung gelar saja si flysheet kuning untuk jadi alas tikar. Pukul dua siang kami baru mulai barbecue korea ala-ala. Ini dia harta karun yang ada dalam coolbox, kimchi dan sliced beef.


Waktu kami tiba di area savana, ada beberapa tenda lain yang sedang dibereskan. Dan tampaknya hanya kami berdua yang mendirikan tenda di area ini. Sesekali terdengar suara dentuman senjata api dari jauh, ternyata di belakang sana sedang ada latihan militer. Awalnya membuat kaget tapi lama-lama jadi biasa. Cukup bikin kesal awalnya, tapi better lah dari pada mendengar suara orkes dangdutan seperti sepuluh tahun yang lalu saat kemah di sini. Bau daging panggang ternyata mengundang musang yang bersembunyi di alang-alang tinggi di belakang tenda, namun karena ada dentuman mereka kembali ke sarangnya. Dentuman ini kelar pukul lima sore, setelah itu hanya terdengar suara alam dan satu dua kali suara motor trail. 


Siang kami makan BBQ, sorenya kami makan Indomie rebus telor dengan topping sisa daging panggang.  Makin gelap, udara dingin semakin menusuk. Kami langsung ganti baju dan celana heattech, lalu tambah jaket blocktech untuk menghalau angin yang membuat saya mulai pilek. 
  

Sekitar pukul 7 malam, kami ke toilet dan cuci-cuci piring. Kabut semakin tebal dan mulai membasahi semua barang-barang yang bergelatakan di atas flysheet. Semua kami bereskan dan masukkan ke tenda. Setelah itu kami hanya berdiam diri di dalam tenda, mengatur posisi tidur yang nyaman di atas matras namun ternyata tanahnya bergelombang. Akhirnya terpaksa kami keluar tenda, mencabut semua pasak dan menggeser-geser tenda untuk dapat posisi yang rata. Sepertinya kita memang harus banyak belajar dan lebih sering berkemah lagi. 

Udara yang semakin dingin dan rintik-rintik air karena kabut membuat kami lebih betah di dalam tenda. Sayapun mulai mengeluarkan sleeping bag. Sebetulnya sesaat sebelum berangkat dari rumah, saya mengemas long john tambahan yang saya letakan di mobil. Tapi karena sudah malas keluar tenda, saya berharap sleeping bag cukup untuk menahan dingin hingga dini hari. Namun ternyata tidak, karena kami mendirikan tenda di tengah-tengah savana, angin malam yang berhembus betul-betul menghempas tenda dan membuat saya beberapa kali terbangun karena kedinginan. 




Jam 4 subuh kami terbangun, melihat bulan sabit yang cerah dan bintang-bintang di langit yang mulai nampak. Ingin sekali saya rekam namun karena kebelet pipis terpaksa kami ke toilet dulu sekalian ambil wudhu. Kembali ke tenda, bintang-bintang sudah tidak terlihat dan langit mulai menampakan semburat cahaya berwarna merah muda. 


Saya mengajak Bre untuk mengejar matahari terbit yang ada di sebelah kanan area savana. Saya yang tadinya pakai sendal jepit karena ke toilet sekarang berganti menggunakan kaos kaki dan sepatu. Kami hanya berbekal sebotol air kulkas (yang jadi dingin karena kabut semalaman) dan dua bungkus beng-beng. 
 



Kabut-kabut yang menutup savana perlahan mulai menghilang. Setelahnya, para penikmat alam lain pun mulai berdatangan. Sepertinya mereka mendirikan tenda di area Rasamala dan mungkin beberapa menginap di camp Igloo yang ada di seberang danau. Kami berdua lupa membawa masker (karena mikirnya cuma berduaan saja semenjak subuh tidak ada orang), jadi kami melipir ke arah timur sampai ke pinggir hutan pinus. 


Mandi matahari untuk menghangatkan tubuh.

Semakin ke timur rumput liarnya semakin tinggi. Sepatu saya yang lumayan punya water resistant pun tetap jadi basah hingga kedalam-dalam karena rumput yang basah setelah hujan kabut. 


Pukul tujuh perut saya mulai demo, sebatang beng-beng yang saya makan tadi tidak mampu menahan rasa lapar. Kami pun kembali ke tenda dan berpapasan dengan 5 pasang para calon pengantin yang sedang melakukan photoshoot prewedding. Nggak heran kalau Ranca Upas jadi incaran para fotografer untuk jadi latar foto prewedding, ya karena memang sebagus itu sunrisenya di sini. 


Pagi kami sarapan Indomie goreng, mecin favorit yang wajib dibawa saat camping. Tiba-tiba saya dihampiri seorang mas-mas yang pakai jaket dan tas gunung. Dia minta difoto dengan latar tenda oren kami. Si tenda oren ikutan mejeng juga nih di Instagram orang. 

Selesai sarapan, perut saya langsung mulas. 2 hari lalu saya tidak bisa pup, tapi kimchi yang semalam dan barusan saya makan langsung membuat perut saya bereaksi. Ini adalah kali pertama saya pup saat camping. Mungkin dengan meninggalkan jejak di Ranca Upas artinya saya cukup menyukai tempat ini. 

Penangkaran rusa

Kalau yang ada tanduknya ini jantan, yang nggak ada tanduknya betina.
Jumlah rusa di penangkaran ini ada 44 ekor.

Saya mengajak Bre main ke penangkaran rusa karena tiket yang kami beli sudah termasuk ke tempat ini. Sebelum masuk kami ditawari untuk membeli wortel yang satu ikatnya dihargai 10 ribu rupiah, atau satu keranjangnya 20 ribu rupiah. 


Berawal dari memberi wortel ke satu rusa, yang lain pun ikut-ikutan.

Saya juga beberapa kali diikuti rusa, mungkin karena baju saya yang warnanya mirip wortel.

Dari penangkaran rusa, kami jalan-jalan ke arah depan, melewati danau yang jadi incaran saya kemarin. 

Camp Igloo yang permalamnya kena tarif sekitar 400-600 ribu rupiah.

Kepinginnya camping di sebelah mobil gini kayak di film seri The Road to Red Restaurants List.
Tapi sepertinya ditutup untuk umum.

Setelah jalan-jalan sebentar kami kembali ke tenda dan mulai berkemas. Area savana tempat kami mengejar sunrise tadi pagi sekarang sudah diberi garis kuning oleh anggota militer. Dari penjaga toilet saya dapat info kalau area savana sudah dibooking sejak hari Sabtu lalu hingga Kamis depan. Kami beruntung saja bisa menginap semalam. 

Bahan memasak Okonomiyaki


Karena matahari cukup terik, kami bergegas untuk memindahkan barang bawaan ke mobil. Tapi tentu saja kami tidak langsung pulang. Kami memindahkan Pikachu dari parkir Savana ke area parkir Edelweiss yang ditumbuhi pohon-pohon pinus. Di sana kami menggelar kembali si flysheet kuning di sebelah Pikachu dan mulai main masak-masakan lagi. Brunch menu kita adalah rujak cireng dan Okomoniyaki. Biasanya saya nggoreng bakwan, kali ini kami naik level bikin bakwan jepang alias Okonomiyaki. 



Sepuluh tahun semenjak terakhir berkemah di Ranca Upas, tentu banyak perubahan yang terjadi. Bagusnya sekarang sistem pembelian tiket sudah bisa melalui OTA seperti tiket.com dan Klook. Harga tiket masuk di OTA dan offline sama, perorang dikenakan 11 ribu rupiah per sekali kedatangan, jika berkemah membawa perlengkapan sendiri dikenakan 33 ribu rupiah. Mobil yang menginap juga dikenakan biaya yang sama. Fasilitas kamar mandi sudah layak dan banyak tersebar di area-area camping. Fasilitas lain banyak yang dibangun, seperti onsen pemandian air panas, ATV, kegiatan berkuda, Agrowisata Strawberry, kolam renang dan paintball. Gaya berkemah mewah seperti Bobobox dan Igloo camp juga menambah keunggulan Bumi Perkemahan Ranca Upas. Parkir liar sudah tidak ada, kalaupun ada kita bisa menolak (anjuran dari petugas ticketing). Yang saya sayangkan adalah masih adanya tarif toilet. Saya enam kali bolak-balik pipis karena dingin, yang ditotal berdua habis 24 ribu rupiah. Untuk protokol kesehatan cukup baik, kami diminta bukti vaksin sebagai syarat untuk masuk ke Ranca Upas. 

Dalam setahun ini kami sudah dua kali berkemah, dan tentu saja sepulang dari Ranca Upas kami mulai merencanakan lagi untuk camping ceria berikutnya. Saya pun jadi menyesal dua kali membeli alat masak yang abal-abal, jadi teflonnya lengket waktu pertama kali digunakan untuk memanggang daging. Saya kira kami bukan frequent campers, tapi nyatanya berkemah itu bikin nagih, apalagi sekarang sudah ada Pikachu yang bisa mengantar kami kemana saja tanpa perlu ribet ke terminal dan repot mengangkut barang bawaan.

Nggak mau kalah dengan yang tadi foto prewedding.
Kami difoto oleh fotografer kita tentu saja tidak lain dan tidak bukan, si gorilla pod :))

No comments

Post a Comment