Menapaki Jejak Sejarah Shinsengumi

February 18, 2018


Waktu itu masih saya masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama. Berawal dari keisengan  saya saat main ke rumah Laili, saya tertarik membaca salah satu komik yang dia koleksi. Judulnya Flash of Wind (versi Jepangnya Kaze Hikaru). Komik ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang menyamar jadi laki-laki (Seizaburo Kamiya) untuk bisa masuk menjadi anggota samurai karena jatuh cinta dengan gurunya (Soji Okita). Sejak pertama kali baca Kaze Hikaru, saya mulai mengoleksinya hingga hari ini. Untuk terbitan versi Indonesia baru sampai volume 32, sedangkan di Jepang sendiri buku ini tamat di volume 40 pada Mei 2017.


Lalu apa hubungannya Kaze Hikaru dengan Shinshengumi? Meski pun buku ini bertema romansa, latar belakang yang digunakan oleh Taeko Watanabe, penulis Kaze Hikaru, adalah berdasarkan sejarah, yang bercerita tentang Shinsengumi. Di buku komik lain seperti Rurouni Kenshin, Shinsengumi digambarkan sebagai kelompok samurai yang kejam. Sedangkan di Kaze Hikaru, Taeko Sensei menceritakan kehidupan sehari-hari para tokoh Shinsengumi dengan alur yang komikal. Secara tidak langsung, kita belajar sejarah secara menyenangkan. Semua tokoh yang dicitrakan dalam buku adalah orisinal, kecuali satu tokoh fiktif yaitu Seizaburo Kamiya yang memang menjadi bumbu cerita cinta. 1 volume Kaze Hikaru sudah lebih dari 10 kali saya baca. Never get bored, always make my day. 

Bring this 13 year old book to the same place like its background
Kaze Hikar風光る
(n.) a warm breeze of spring that follows after a dark cold winter, comes and breathes gently upon the skin, as if like a shining radiance.

Maka dari itu, saat Nisa sudah fix beli tiket ke Jepang, saya sudah berencana akan mampir setidaknya ke salah satu lokasi bersejarah tentang Shinsengumi.

Pintu selatan Nishi Honganji
Sekilas Sejarah Shinsengumi

Kyoto, tahun 3 Bunkyoku (1863 Masehi) adalah akhir pemerintahan Bakufu. Saat itu keadaan Jepang sangat kacau. Lalu dibentuklah kesatuan untuk melindungi Shogun. Mereka adalah Samurai Mibu, yang kemudian dikenal sebagai kelompok Shinsengumi. Kelompok Samurai terakhir yang hidup di Jepang. 
___________

Diceritakan Shinsengumi pada awalnya adalah sekumpulan lulusan sekolah pedang dari Edo (sekarang Tokyo) yang kemudian mendirikan kelompok samurai di Kyoto. Di dalam buku banyak sekali dipaparkan latar belakang kehidupan mereka selama di Kyoto. Jadi di dalam itin Kyoto, saya memasukan Shinsengumi sebagai daftar wajib. 

Sungguh bukan saya banget kalau bercerita tentang sejarah. Karena pelajaran yang paling tidak saya suka adalah sejarah, membuat saya selalu mengulang tes (remedial). Tetapi sejarah Shinsengumi ini menarik, karena banyak muncul dalam novel, komik, dan film Jepang. Habis nulis ini kayaknya saya mau nonton anime Peacemaker Kurogane (udah baca manganya) dan nonton film When the last sword is drawn. Keduanya berlatar belakang Shinsengumi. 

The old and mighty Ginko tree in the yard of Nishi Honganji
Nishi Honganji - Main Building
Napak tilas lengkap Shinsengumi di Kyoto bisa ditelusuri di situs ini. Saya hanya bisa mengunjungi satu lokasinya saja yaitu Nishi Honganji, markas terbesar dan terakhir yang diduduki Shinsengumi. Ada beberapa scene dalam buku yang betul-betul sama dengan yang ada di sini. How nostalgic, langsung keinget waktu Kamiya ngumpet di bawah lantai saat dicari-cari Guru Okita. 

Di sini waktu Guru Okita akhirnya menemukan Kamiya ngumpet dibawah lantai.
Captured by Nisa
Captured by Nisa
Captured by Nisa
Capture by Nisa
Senengnya akhirnya foto-foto saya banyak di kamera Nisa karena Nisa baru beli kamera baru. Hehe. Sejujurnya saya lagi melankolis banget saat di sini, jadi males jeprat-jepret. 

Penulis memaparkan deksripsi latar cerita persis aslinya seperti yang ada dalam situs ini. Saya ingin sekali ke Mibudera (Desa Mibu) dan Maekawa House yang ternyata lokasinya ada di tengah-tengah kompleks perumahan. Karena takut nyasar dan hari juga sudah semakin sore, setelah dari Nishi Honganji kami berfokus untuk mencari ramen otentik dan jalan-jalan ke Gion. 

Flower display in front of Nishi Honganji
Tahukah kamu bahwa bunga Krisan (Kiku) bagi orang Jepang adalah simbol orisinal dalam budaya mereka, bukan bunga sakura. Coba aja lihat paspor orang Jepang :D


Halal Ramen Gion Naritaya
Dari Nishi Honganji kami kembali ke Kyoto Station dengan maksud untuk nyari tempat sholat. Tapi kami takut nyasar lagi di dalam, jadi kami putuskan untuk langsung bergegas ke daerah Gion karena katanya ada satu restoran halal yang menyediakan tempat sholat. Namanya Gion Naritaya yang lokasinya ada di Shinbashi Dori. Waktu kami mau masuk, eh ternyata mereka lagi tutup dan baru buka lagi jam 5 sore. Saat itu kami tiba satu jam sebelumnya. Terus kami coba ke restoran Yakiniku yang ada disebelahnya yang juga halal, tapi ternyata mereka ngga nyediain tempat sholat. Yodah deh, akhirnya saya minta ijin untuk numpang sholat dulu di Gion Naritaya, dan mereka ngebolehin. Saya dan Nisa bergantian sholat karena ruangannya sempit banget cuma bisa buat 1 orang. Yaampun, jepang banget deh. Hahaha. 

Ngefans sama Onii-chan yang berdiri tengah. Tapi kok ngga mau dibuka sih maskernya :(
Sebetulnya restoran ini buka 2 sesi dalam 1 hari, makan siang dan makan malam. Nah kita kebagian yang jam makan malam. Bosen banget sih nunggu sejam sampe restorannya buka. Lalu ada satu turis dari Cina yang ikutan ngantri dibelakang kita. Ngobrol dikit lah kita yang berakhir ngobrol ngalor ngidul haha hihi sampe lupa waktu. Doi ternyata hari sebelumnya udah ngantri di sini selama hampir setengah jam tapi akhirnya nyerah lalu sengaja datang lagi hari ini biar bisa dapat antrian pertama. Niat banget nih si encik.  Setelah kami bertiga, entah tiba-tiba datang berkelompok orang yang langsung berdiri dibelakang kita. Dan memang ternyata Gion Naritaya ini selalu bikin pengunjungnya ngantri panjang. 

Kiri: Signature Dish Gion Mazesoba
Kanan: Spicy Miso Ramen
Sebelum kita masuk, ada satu pelayan yang langsung membuat daftar nama dan mengatur posisi duduk kita. Di meja juga sudah disediakan air putih dan gelas bersih, kita tinggal nuang sendiri. Ini adalah kali pertama kami nyobain ramen otentik. So far rasanya ngga bikin kaget, berbumbu banget, tapi mie nya ngga banyak, yang banyak kuah nya. Kelar mengisi perut kami kembali ke jalan raya, berpisah dengan si encik yang katanya sengaja datang ke Jepang untuk ikutan Osaka Marathon, dan ke Kyoto cuma mau wisata kuliner. "Habis ini kalian mau kemana?" Tanyanya. "Yang pasti kita ngga mau ke kuil atau temple lagi." Jawabku. Lalu kita bertiga pun melontarkan kata-kata yang sama. "Temple is boring!" Hahaha. Sehari tadi kami sudah ke Fushimi Inari Shrine dan Nishi Honganji Temple. 


Kami pun balik lagi menyusuri Shinbashi Dori, karena ternyata distrik Gion selurusan dengan jalan ini dan tembus ke sungai Kamo. Suasana di sini ngga jauh beda sama Takayama Old Town. Bedanya di sini berjejer toko, restoran dan Machiya (Tea House). Gion merupakan Yukaku (Red Light District)  atau distrik para Geisha karena kebanyakan Geisha melakukan pekerjaan mereka sebagai entertainer di Machiya ini. 



Bicara tentang sejarah Yukaku di zaman Edo dimana Shinsengumi saat itu masih ada, tidak terlepas dari para geisha. Distrik yang populer pada zaman itu adalah Shimabara di Kyoto dan Yoshiwara di Edo (Tokyo). Di buku diceritakan kalau para tokoh Shinsengumi terutama Harada Sanosuke suka banget "main" ke Shimabara sampai dia bosen lalu bertemu dengan gadis tomboy yang biasa saja. Dia kejar-kejar gadis ini sampai akhirnya si gadis mau dilamar dan dia nikahi dan mereka berujung happy ending! Sanosuke love story line is the most fun in Kaze Hikaru. Shimabara saat ini hanya menjadi area turis saja, sedangkan geisha yang masih aktif hingga saat ini, beroperasi di Gion. Selama setengah jam kami berkeliling di sana kami tidak beruntung bertemu dengan geisha. 

Gion Tatsumi Bridge
Kami meneruskan pelancongan kami ke sungai Kamo yang ada di ujung jalan. Makin malam semakin dingin. Kami duduk di pinggir sungai sambil menahan angin dingin yang berhembus. Nisa buru-buru mengajak saya menjauhi sungai karena udaranya yang menusuk kulit. Saya enggan, saya ingin menikmati malam terakhir di Kyoto ini sambil bermelankolis ria. Sambil melihat aliran sungai di latar belakangi rumah-rumah traditional Jepang, di telingaku terdengar lagu sepanjang masa, Hitomi no Jyuunin.  


P.S.
Anyway, pas SMA saya punya teman yang saya (paksa) ajak berbagi cerita tentang Kaze Hikaru sampai saya punya nickname Soji dan dia Hajime. Haha, it's kind of cute, isn't it?

You Might Also Like

0 comments