Tanaman Sirih Gading adalah tanaman pertama yang aku punya. Motek dari rumah Mama terus tunclep aja langsung ke pot. Tumbuhnya pun cepat dan perawatannya tidak manja, cukup disiram-siram saja tiap pagi. Tapi tahu nggak sih kalau Sirih Gading punya beberapa nama? Kalau mama ku bilang namanya Sirih Belanda. Nah, nama latinnya sendiri adalah Epipremnum Aureum atau E. Aureum. Biasanya kebanyakan menyebutnya Pothos.
![]() |
| Cincau Jelly hasil panen sendiri featuring Susu Full Cream Greenfields |
Menanam tanaman ketahanan pangan rasanya beda jika dibandingkan menanam tanaman hias. Apalagi saat panen pertama, rasanya bangga pada diri sendiri. Meskipun hanya Kangkung dan Bayam, saat sampai di meja makan rasanya usaha menyiram dan menunggu pun terbayar. Sebelum menanam Kangkung dan Bayam menggunakan raised bed, saya sudah terlebih dahulu menanam Cincau. Tanaman yang dari dulu saya idam-idamkan untuk ditanam setelah melihat kawan ku, Galuh Ashri, sering posting bikin minuman cincau sendiri.
—Beware! Banyak foto narsis saya di tulisan ini.
Tulisan ini adalah bagian ke dua dari postingan ini, terinspirasi setelah tergelitik membaca celotehan Mbak Trinity yang juga mengalami hal yang sama seperti yang saya alami lima tahun lalu. Postingan tersebut rentang waktu nya antara tahun 2010 - 2015. Jika saya kumpulkan lagi foto jalan-jalan saya rentang tahun 2016 - 2020 tentu saja sudah ganti setelan, karena berat badan saya sudah tentu berubah (naik 5 - 7kg!).
Berkebun menjadi trending saat pandemi. Kegiatan yang tentu saja banyak dihabiskan di rumah ini menjadi alternatif bagi kita yang memang tidak bisa melakukan banyak aktivitas di luar rumah. Sekarang berkebun jadi hal yang banyak digemari. Dampak yang paling terasa adalah harga tanaman hias yang melonjak dratis. Apakah saya menjadi salah satu korban kebiadaban harga tanaman? Ah, menurut saya tidak. Tanaman hias termahal yang pernah saya beli baru Pohon Ketapang Kencana setinggi 1,2 meter, seharga 65 ribu rupiah (tanpa ditawar).

Mau plesiran kemana lagi di sekitar Jogja? Sepertinya sudah nggak bisa dihitung pakai jari lagi berapa kali saya main ke kota yang katanya paling romantis di Indonesia ini. Tulisan ini melanjutkan cerita perjalanan saya ke Jogja bersama Bre tahun 2018 lalu, lelungan dan mangan-mangan in Jogja. Saat itu saya blogwalking dan melipir ke blognya mba Mei, yang lagi menetap di Jogja. Doi nulis tentang gumuk pasir, jadilah saya menawarkan Bre untuk main ke tempat ini.
Seperti informasi yang saya peroleh dari teman-teman yang sudah trip ke India, tidak banyak destinasi wisata yang bisa di eksplor di Kota Agra, salah satu dari Golden Triangle India. Selain Taj Mahal ya Agra Fort. Itu sebabnya rata-rata turis singgah ke kota ini pulang-pergi, seperti rencana saya sebelumnya. Namun, rencana berubah saat kami memutuskan untuk menginap semalam di Agra. Tidur yang cukup di hotel, kemudian menjelang matahari terbit kami bergegas ke Taj Mahal untuk mendapatkan momen magis di salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini.
Belum move on dari serial drama Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo, saya jadi kepikiran untuk menulis lagi tentang perjalanan ke Korea Selatan setahun yang lalu. Serial drama yang saya tonton ini bertema Sageuk "Historical drama", membuat saya jadi ingin menulis tentang Hanok, rumah tradisional Korea yang sempat saya datangi selama 12 hari berkeliling di dua kota, yaitu Seoul dan Gyeongju. Tentu saja tidak lengkap bertamasya Korea Selatan tanpa mengunjungi Hanok. Di Seoul kami ke Bukchon Hanok Village, sedangkan di Gyeongju namanya Gyochon Hanok Village.








