A Magical Moment in Taj Mahal

by - March 30, 2020


Mengunjungi salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini bukan menjadi tujuan utama saya jalan-jalan ke India. Tujuan saya sebetulnya ke Kashmir —yang justru batal karena banyak drama, dan menyisipkan Taj Mahal untuk menghabiskan sisa hari setelah dari Kashmir. 

Taj Mahal berada di Kota Agra, sekitar 250 kilometer dari Delhi atau sekitar 3 jam perjalanan menggunakan mobil. Karena pesawat kami mendarat di India pukul 11 malam, saya berinisiatif untuk mengunjungi Taj Mahal langsung dari bandara, sebagai alternatif untuk menghabiskan setengah hari sekaligus untuk menghemat waktu dan biaya penginapan. Kami berencana menyewa mobil yang mengantarkan kami langsung ke Agra dari Bandara Indira Gandhi. Namun setelah coba mengontak melalui agen resmi Car Rental Delhi (+91 9971350893) dan melalui salah satu kenalan dari blog, Pushkar (+91 82853 26755) kami dapat harga 6500 - 7000 rupee, yang mana cukup mahal kalau harus patungan berdua saja. 


Tepat 3 hari sebelum berangkat, saya dapat informasi dari Kak Tery kalau ke Agra bisa ditempuh dengan jalur kereta. Lebih baik menginap jadi nanti subuh tinggal jalan kaki Taj Mahal. Oleh sebab itu kami memutuskan untuk daytrip dan menginap satu malam di Agra. Sebuah keputusan yang sangat tepat. Akhirnya salah satu bucketlist saya terwujud.

(5 Maret) Baru saja tiba di Jaipur lalu selonjoran di kamar hostel kami langsung memesan bus secara impulsif ke Jaipur menggunakan redbus. Ya, tiket kereta Jaipur - Agra sengaja kami hanguskan dan memilih untuk menggunakan bus. Karena sudah hampir tengah malam dan perbedaan waktu 1,5 jam dengan jam Jakarta, saya tidak bisa menghubungi adik saya dan Hana untuk autentikasi kartu kredit saat proses pembayaran. Kita agak buru-buru booking karena untuk dapat jadwal yang enak, sisa kursi bus nya tinggal sedikit. Untung ya ada temen kerja Bre yang masih on jam segitu minjemin kita kartu kredit nya dan bantuin untuk autentikasi. Thanks, Mas Cipta :)

(6 Maret) Setelah seharian keliling Kota Jaipur pakai Tuktuk, kami berjalan kaki menuju lokasi pool bus yang lumayan agak sulit. Memang dekat sih dari hostel, tapi ternyata banyak sekali pool bus yang berjejer di sepanjang pertigaan jalan dan pasar. Bersyukur juga bawa tas carrier, kalau bawa koper udah belekan semua deh itu rodanya karena Jaipur baru saja diguyur hujan. Tepat pukul 4 sore, bus Sethi Yatra mengantar kami ke Agra dengan total perjalanan 5 jam 30 menit. Nggak berasa, karena sebelum bus jalan saya sengaja minum antimo. Kami diturunkan tepat di depan Surya Hotel Namner Choraha. Kami langsung menyetop Tuktuk di jalan untuk mengantar kami ke Hotel Sidhartha, tempat kami menginap semalam di Agra.

Dengan harga sewa permalam 270 ribu untuk kamar double bed, sudah cukup lumayan karena lokasi nya yang sungguh sangat dekat, hanya 150 meter berjalan kaki ke West Gate Taj Mahal. Waktu kami sampai, jalanan sudah sepi sekali. Dari tempat Tuktuk berhenti, kita diharuskan berjalan kaki karena jalan menuju hotel dibatasi oleh plang-plang besi yang saat siang hari nanti dijaga oleh bapak-bapak polisi yang membawa senjata laras panjang.

Sebelum tidur kami sengaja mandi dulu, biar apa? Biar besok bangun tidur kita bisa langsung cus ke Taj Mahal. Seharian juga kami belum mandi, terakhir mandi di Jaipur tanggal 5. Hehe. Udara dingin memaksa kita untuk jarang mandi karena minimnya kelembaban udara membuat kulit kita mudah kering. Hamdalah, air panas di hotel ini berfungsi meskipun sudah malam. 

ISO 1000, f/2.8, 1/30S
Aslinya memang agak gelap karena masih pagi banget, nggak ada orang kan?
(7 Maret) Sebelum adzan subuh saya sudah terbangun dan langsung packing karena jam check out hotel ini pukul 10 pagi, jadi kami nggak punya waktu banyak untuk packing lagi setelah dari Taj Mahal. Subuh di Agra pukul 5.20, kami langsung sholat dan tepat pukul 5:30 kami langsung berjalan ke West Gate. Saya antrian ke-6 pagi itu. Keren bray! Yaiyalah, saya keluar hotel langit masih gelap. Kami mulai dihampiri beberapa orang yang menawarkan diri sebagai guide. Emm, tiket masuk nya udah mahal banget yah, jadi nggak pakai guide deh. 

Gerbang tepat dibuka pukul 6 pagi, kita tinggal scan tiket yang ada di ponsel. Berhubung masih sangat pagi, saya tidak sempat untuk menukar tiket dengan air mineral dan cover sepatu. Tapi tenang saja, nanti kita tukar cover sepatu di dekat pintu masuk masjid sebelah barat. Jajanan yang dikantongin Bre terpaksa ditinggal di pintu masuk karena kita dilarang membawa makanan, hanya boleh bawa botol minum. 

Masjid Kau Ban yang terletak di sebelah barat Taj Mahal
Para wisatawan biasa nya langsung fokus sama Taj Mahal jadi mereka berkumpul tepat di tengah-tengah depan kolam yang menghadap langsung ke Taj Mahal. Berkat saran dari Kak Tery, kami langsung ke masjid yang ada di sebelah barat/ kiri Taj Mahal. Karena banguan yang di sebelah kanan Taj Mahal sedang direnovasi. Untuk masuk ke masjid kita harus melepas sepatu atau menggunakan cover sepatu yang bisa diambil ke petugas yang berjaga. Berhubung petugas nya masih siap-siap jadi kami nyekeran aja deh pakai kaos kaki. Di sana saya hanya berbarengan dengan 2 cewe bule yang membawa fotografer. 


Agak gak fokus ya.. :))
Ketidakfokusan ini berlanjut ke foto berikutnya



Setelah hampir 50 kali jepret yang rata-rata hasilnya out of focus ini, kami menikmati matahari yang terbit persis di sebelah timur Taj Mahal. 




Sebagai informasi, Taj Mahal adalah bangunan makam, bukan masjid. Memang atapnya dirancang mirip dengan kubah masjid, tapi jangan salah, banyak kok bangunan-bangunan di Eropa yang arsitekturnya mirip dengan kubah masjid. Ukuran Taj Mahal tidak begitu besar, jadi jangan ekspektasi kalau bangunannya akan terlihat megah dan besar. Yang membuat kami tertegun dan terpesona dengan Taj Mahal adalah simetris yang presisi dari bangunan nya itu sendiri. Dan juga arsitekturnya yang terlihat begitu modern meskipun dibangun pada abad ke-16. 

Keindahan Taj Mahal adalah wujud dari rasa cinta dan rindu Shah Jahan terhadap mediang istrinya, Mumtaz Mahal, yang meninggal setelah melahirkan anaknya yang ke-14. Romantis ya? Nggak sih menurutku, kalau memang cinta ya wujudin nya pas masih hidup dong, hehe. Ya namanya juga kangen, itulah yang membedakan raja sama kita rakyat jelata.


Sebagai raja ke-5 dari Dinasti Mughal, Shah Jahan dikenal sebagai seorang yang jenius dalam taktik perang dan memiliki jiwa seni yang tinggi. Selain membangun Taj Mahal, Shah Jahan juga membangun Masjid Jama yang ada di Delhi. Bangunannya mirip dengan Masjid Kau Ban, yang ada di sebelah barat  Taj Mahal.

Di dalam kompleks Taj Mahal terdapat tiga bangunan, yaitu Mausoleum, bangunan utama yang berada di tengah-tengah yang dibangun dengan menggunakan batu marmer putih, lalu di sebelah barat/ kiri nya Masjid Kau Ban dan di sebelah timur/ kanan nya Mehmaan Khana atau rumah singgah untuk tamu kerajaan. 

Setiap bagian Mausoleum diukir dengan rangkaian bunga dan dedaunan. Di beberapa sisi terdapat kaligrafi ayat-ayat Al-Quran dan puisi dalam bahasa Persia. Makam Mumtaz terletak di tengah-tengah Mausoleum, lalu di sebelah kirinya adalah makam Shah Jahan sendiri, yang membuat bangunan ini tidak bisa dikatakan simetris sempurna. Oiya, kami dilarang untuk memotret di dalam Mausoleum. 



Petugas penjaga Mausoleum nya juga pengen swafoto
Mungkin ini hari pertama doi bertugas di sini
Di sebelah utara Taj Mahal mengalir Sungai Yamuna yang memanjang dari kota Agra hingga ke Delhi. 

Foto sebelah kiri: Pasangan yang lagi sibuk berswafoto
Foto sebelah kanan: Pasangan yang truly enjoyed the moment

Foto di atas saya ambil tadi pagi saat baru masuk Taj Mahal, beruntung sekali belum ada kabut. Karena setelah pukul 8 pagi langit mulai mendung dan kabut mulai meyelimuti Taj Mahal. Turis juga semakin ramai, mereka berebut posisi untuk bisa foto di depan kolam ini. Tadinya kami mau mampir ke Taj Museum tapi tidak jadi karena museum baru buka pukul 9. Sedangkan perut kami sudah keroncongan, dan jam 10 kami harus segera check out

Berikut beberapa tip yang berhasil saya rangkum untuk mempermudah trip kamu ke Taj Mahal:
  • Menginap di sekitar Taj Mahal, saya dapat lokasi yang cukup bersih karena lokasi hotel sudah masuk dalam area gate. 
  • Beli tiket melalui agen travel seperti Klook. Saya beli 2 hari sebelumnya, setelah proses pembayaran terverifikasi tiket tidak langsung terbit ya. Tiket saya terbit setelah 7 jam, beberapa kasus lain ada yang sampai 24 jam, jadi berikan jeda waktu. Siapkan tiket di ponsel (tidak perlu dicetak) dan pastikan baterai ponsel penuh.
  • Jangan membawa tas, tripod (termasuk gorilla pod) dan makanan. Bawa barang seperlunya yang bisa diletakkan di jaket, seperti paspor dan kamera. Jika terpaksa membawa tas, tas harus dititipkan di depan gate.
  • Gate buka setelah matahari terbit atau sekitar pukul 6:30, kami menunggu dari pukul 5:30, and it was really worth it! Kita nggak perlu ngantri panjang. 
  • Siapkan baterai kamera cadangan yang sudah terisi penuh
  • Antrian pria dan wanita terpisah, jadi buat janjian untuk ketemu supaya kalian nggak terpisah
  • Kepingin dapat foto yang beda? Setelah masuk jangan berlama-lama di depan kolam, langsung saja ke arah Masjid Kau Ban di sebelah kiri Taj Mahal
  • Dan yang terakhir, jangan lupa untuk menikmati keindahan Taj Mahal. Karena bisa jadi kita hanya memiliki kesempatan satu kali ke sini. Enjoy the timeless scenery


Setelah jalan-jalan ke Agra Fort, kami kembali ke hotel untuk mengambil tas sekaligus numpang ke toilet (sebisa mungkin menghindari toilet umum dan manfaatkan toilet hotel). Sebelum berangkat ke Stasiun Agra Cantt, kami mampir ke masjid di dekat hotel. Namanya Masjid Fatehpuri, berdiri persis di samping West Gate Taj Mahal.

Masuk ke pelataran masjid yang ada di lantai atas

It was a magical moment. Setelah sholat, saya termenung duduk menghadap pelataran masjid melihat bapak-bapak yang tampaknya sedang asyik bercengkrama sambil berjemur di bawah terik matahari dan ditemani burung-burung dara. Saya kilas balik 9 hari yang lalu, pertama kali nya menyentuh salju dan melihat pegunungan terindah (versi saya) di kaki gunung Pegunungan Himalaya, lalu beradu dengan klakson dan debu di Kota Jaipur, dan trip kami yang terakhir, mengunjungi Taj Mahal.

Semua berjalan seperti semesta menjawab, melebihi dari apa yang saya inginkan. Rencana sedemikian rupa pun tak mampu mengalahkan apa yang sudah ditakdirkan. Dari perjalanan ke India ini saya belajar, terkadang apa yang tidak kita rencanakan justru akan memberikan banyak kejutan. Jika itu menyenangkan maka kita nikmati, jika sebaliknya maka saya belajar jadi lebih legowo. India juga tidak seseram yang dibayangkan. Ada teman bilang, "Saya tidak akan pernah mau ke India." Kenapa? Padahal di beberapa bagian India banyak keindahan yang Allah ciptakan yang membuat kita sampai tidak berhenti mengucap syukur. Di sana kami juga bertemu dengan banyak orang baik dan banyak dibantu oleh orang yang baru atau tidak saya kenal. Saking serunya pengalaman selama di India, baru pertama kali ini saya kepingin jadiin buku. Ah nggak deh, sudah rajin ngeblog aja udah syukur.

You May Also Like

4 comments

  1. Ah foto-fotonya cakep.
    Itu yang foto berdua nggak pake tripod berarti ya? Kece!

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi kak, gorilla pod & tripod ga boleh dibawa masuk. nah kebetulan ada fotografer lokal yg udah 2-3x ke taj mahal kak lint, dia mau motoin kita ^^

      Delete
  2. Taj mahal emang cakep ya.. dan mahal tiketnya sesuai namanya.. tapi sekali seumur hidup worthed lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk mahal artinya palace om, cakep tapi ga segede yg dibayangin si om. kesana jadi tahu selama ini salah sangka, ta kira mesjid ternyata makam

      Delete