4 Hari Melancong ke Manali, Kota Bersalju di India Utara

by - March 22, 2020


(29 Februari) Kami berangkat dari Delhi pukul sepuluh malam, menunggu di titik jemput bus Holiday Appeal di depan Stasiun Metro Vidhan Sabha exit 3. Bus ini baru saya pesan sejam sebelum take off dari Bandara Soekarno Hatta. Semudah itu memesan bus di India menggunakan aplikasi RedBus, berbanding terbalik dengan pemesanan kereta yang sungguh makan waktu. 



Setelah sehari di Delhi hanya numpang tidur, beli tiket di stasiun, dan mampir ke Jama Masjid, malamnya kami berangkat ke Manali, salah satu kota yang berada di Himachal Pradesh, negara bagian utara India. Perjalanan 14 jam ini menurut saya nggak berasa karena malam itu saya tertidur pulas sekali. Paginya, pemandangan sepanjang jalan dari Kullu hingga Manali membuat kami yang sudah berbulan-bulan tidak piknik ini jadi terjaga.

(1 Maret) Kami sampai di Terminal Bus Manali pukul setengah dua belas siang, tepat waktu sekali. Kami langsung diserbu supir taksi yang awalnya kami pikir galak ternyata justru mereka sangat kalem, meskipun kekeuh ngikutin kita sampai pinggir jalan. Tanpa nawar, kami langsung setuju naik taksi ke hotel yang jaraknya hanya 1,5km ini, saking malesnya jalan kaki, dengan harga 100 rupee atau sekitar 21 ribu rupiah. Ternyata jalan menuju ke hotel lumayan menanjak. Untung jadi naik taksi, lumayan bisa menghemat tenaga.


Hotel Lonchenpa B&B

Sampai hotel kami langsung pasang baju dan celana hangat kemudian berbaring meluruskan kaki. Hotel yang kami sewa per malam memiliki tarif tidak sampai 250 ribu ini, memiliki jendela lebar yang langsung menghadap pegunungan es. Kamar nya luas, ada kursi dan meja santai untuk ngobrol, ada balkon, ada air panas serta ada pemanas kasur yang membuat kami semakin betah nginep di hotel ini. Di hotel ini juga ada room service jadi kita bisa pesan sarapan, makan siang dan makan malam di kamar. Lokasi nya juga sangat strategis dekat dengan Mall Road. 

View pegunungan yang saya foto sambil berbaring di kasur
Menikmati udara dingin Manali sambil minum Chai
*Bapak di sana juga lagi nge-Chai
Meskipun bertema hotel, Lonchenpa B&B ini juga memiliki dapur dan ruang makan bersama layaknya guesthose atau hostel untuk budget traveler sehingga kita bisa masak sendiri. Namun karena tergiur dengan harga makanan nya yang murah ditambah karena malas nya gerak karena dingin, kami memesan room service untuk makan siang. Begini makan siang kami,

2 telur rebus, aloo prata, 2 chai, dan buah yang kami bawa dari Delhi
Betah sekali kami leyeh-leyeh sampai tak terasa sudah 3,5 jam kami di kamar. Kemudian kami jalan-jalan di sekitar penginapan dan mampir ke toko penyewaan motor yang sudah saya booking melalui chat saat masih di Indonesia.

Kayak bengkel biasa, tapi pelayanan nya oke banget Gulliver Adventure

Berhubung belum pernah pakai motor 350 cc, Bre mau coba-coba dulu nih sebelum dipakai untuk esok harinya. Saya ditelpon langsung oleh Rohit, manajer Gulliver Adventure, karena dia lagi nggak ada di tempat, dan kami diperbolehkan untuk mencoba-coba motor nya ditemani karyawannya Sahih. Lalu janjian, dia mau mengantar motornya besok jam 10. Waduh siang banget kan, saya minta dianter jam 8 pagi. Akhirnya karena jam 8 pagi di Manali anggapannya masih terlalu pagi, dia akan mengantarkan motornya malam ini juga ke Hotel. Yiay.

Dari sana kami kembali lagi ke hotel, karena sarung tangan Bre ketinggalan. Semakin sore ternyata udara dingin semakin menusuk. Kami sekalian mampir beli syal untuk Bre. Saya sendiri juga baru beli syal dua hari sebelum berangkat pakai Tokped dan dikirim pakai Gosend. Sungguh semua nya dadakan. 


Van Vihar National Park

Taman ini adalah tempat wisata yang paling dekat dari penginapan kami. Biaya masuknya hanya 50 rupee saja. 


Ngapain yah kita ke sini? Ya jalan-jalan aja sekalian membiasakan diri dengan udara dingin Manali. Di sini kami ditawari untuk foto-foto mengunakan baju khas Himachal. Sewanya hanya 50 rupee per orang. Saya langsung tertarik dan langsung mengiyakan. Ternyata nggak hanya di sini, di tempat-tempat wisata lain di Manali juga ada, jadi buat yang mau coba bisa dicoba di tempat lain, atau di tempat yang bersalju sekalian. 




Ibu-ibu yang menyewakan baju ini biasanya membawa tas ransel besar. Di tempat lain biasanya mereka langsung menawarkan dan ngikutin kita. Nah, kalau di Van Vihar mereka justru saya lihat begitu santai menunggu pelanggan sambil menyulam. Setelah itu kami ditawari untuk sesi foto-foto dengan fotografer. Kami berdua difoto layaknya lagi prewedding, nggak apa-apan kan udah halal. Kami bayar 250 rupee dapat 15 foto yang langsung dikirim ke ponsel. 

Kayak di Gunung Pancar ya ...
Berhubung hasil foto prewed dari fotografernya biasa saja jadi kita ber-swafoto sendiri


Mall Road

Kami lebih banyak mengeksplorasi Mall Road saat hari terakhir kami di Manali. Tapi memang, setiap sore kami selalu mampir karena di sini memang pusat nya tempat makan. Keluar dari Van Vihar kami langsung mencari mesin ATM. Pertama kami coba ke SBI ternyata mesin ATM nya kosong, lalu tak sengaja ketemu mesin ATM Bank of India. Ternyata menukar uang di bank milik negara rate nya sangat murah (1 rupee = 202 rupiah). Oiya, kartu ATM yang bisa kami gunakan selama di India hanya kartu debit Paspor BCA (tanpa logo Mastercard/ Visa). Justru kartu ATM Mandiri saya yang berlogo Visa hanya bisa digunakan di Malaysia dan tidak bisa digunakan sama sekali di India. 

Samosha dan teman-temannya
Itu si abang nya mletos pani purinya pake jempol tangan, yang digunakan juga buat nerima uang pembeli.
Hadeee~
Sepanjang jalan menuju pasar (kalau di Google Maps namanya Manali Mall Market), banyak sekali jajanan pinggir jalan yang menggugah selera Bre —Bre saja ya karena saya bukan penikmat makanan India. Mulai dari Pani Puri, terus Samosha dan Momo. Saya mencoba menahan nya berkali-kali, mengingatkan nya kalau obat diare yang saya bawa tidak banyak. 

Berikut restoran yang kami sambangi di Mall Road. Makan samosha di Aashiana Restaurant. Lalu makan ikan trout di Gozy Restaurant. Dan nge-chai cantik di Saba Restaurant. Duh! Berasa borju emang jalan-jalan ke India. Hahaha.

Selain turis, ada banyak anak sekolah juga ngeceng di mall

Hati-hati ya kalau jalan-jalan di mall, nanti di eek in burung
Selain banyak tempat makan dan aneka barang dijual, pasar ini menjadi jantung kota Manali. Di ujung utara dan selatan ada alun-alun kecil tempat warga berkumpul. Banyak bangku disediakan untuk para warga dan pelancong yang ingin menghabiskan sore di sini. Toko-toko souvenir juga berjejer. 

Kami kembali ke hotel dan akhirnya malam itu kami pesan room service lagi untuk makan malam karena di pasar tadi kita hanya jajan. Sambil menunggu motor diantar ke hotel.


Solang Valley

(2 Maret) Jam 8 pagi kami sudah siap dengan perlengkapan perang melawan musim dingin. Atasan 1 lapis extrawarm/ longjohn, 1 lapis baju heattech, dan jaket wol. Bawahan 1 celana extrawarm, 1 celana bulu, dan celana outdoor. Serta tidak lupa sarung tangan, syal dan kupluk. Sebelumnya kami sudah sarapan Indomie Goreng, telur rebus dan teh anget. Hari ini kita berencana mau main ski ke Solang Valley, yang jaraknya sekitar 12 kilometer dari Kota Manali.

Sebelum jalan kami sempatkan dulu ke rooftop hotel. Kece banget pemandangannya.
Sebelum keluar dari kota kami sempatkan mampir ke pom bensin dahulu untuk mengisi petrol. Berhubung kami hanya menyewa untuk 2 hari dan tidak jauh-jauh lokasi destinasinya, kami isi 300 rupee atau sekitar 4 liter. 


Baru 15 menit mengendarai motor, kami disuguhi anggunnya Pegunungan Himalaya. Masha Allah. Saya langsung menyuruh Bre berhenti. Biarpun batal ke Kashmir, rasanya Semesta begitu mendukung perjalanan kita hari ini. I'll never forget the first time I see the Himalayan. Bre nyesel nggak punya Gopro, saya langsung ngirim foto ke Mama dan Hana



Sebelum sampai ke Solang Valley, banyak toko penyewaan baju dan alat ski di sepanjang kanan kiri jalan. Mereka menggunakan nomor yang jadi pengenal toko. Semua toko menawarkan harga yang sama untuk sewa baju dan alat ski, 2000 rupee untuk sepasang. Saya mencoba berhenti di salah satu toko, tapi ternyata kita dikasih harga yang tidak sesuai standar. Kita disuruh nambah lagi 500 rupee untuk sewa trainer. Yaudah deh kita cari tempat lain lagi. Nemu deh yang cocok, lokasi nya di simpang perbukitan. 

Untuk sewa baju, sepatu boot dan alat ski lengkap sepasang couple serta trainer kami bayar sesuai yang ada di plang toko yaitu 2000 rupee ditambah 100 rupe untuk tambahan sewa kaus kaki lagi 2 pasang. Untuk guide/ trainer nya nanti mereka nunggu di pinggir jalan di Solang Valley. Saya juga minta nomor ponsel si trainer. Sebelum jalan, jaket-jaket, syal dan tas Bre yang berisi barang yang tidak perlu kami titipkan ke si ibu. Tidak sulit kok untuk bertemu sama si trainer ini di jalan karena kayaknya mereka ini sudah satu paguyuban. Saya awalnya sempat takut karena disamperin bapak-bapak yang bukan trainer kita, tapi ternyata mereka semua temenan. Hahaha. 

Ini beneran meluncur bukan foto ala-ala
Mau foto ala-ala susah karena rame
Akhirnya jadi juga foto ala-ala main ski nya
Saya nggak tahan lama main ski, karena capek saat harus balik ke posisi atas lagi. Kalau awal-awal diajarin sama trainer nya dia mau ndorong kita ke atas tapi cuma satu-dua kali aja, sehabis itu dia ngilang. Bre masih main saya nongkrong aja nge-chai di warung yang ada di situ. Malah jadinya di samperin abang-abang yang jualan safron. Ada mungkin 5 orang sampai saya bete dan akhirnya beli. Oiya saat itu semua toilet umum nya tutup (nggak tahu kenapa!) jadi kalau pipis cari tempat sepi.


Selain aktifitas main ski, ada juga paragliding, jetski, ban seluncur dan flying fox. Aduh nggak kebayang itu dinginnya angin saat meluncur. Sehabis main ski saya mengajak Bre jalan-jalan ke daerah lembah nya. Awalnya dia ogah-ogahan karena masih kepingin main ski. Saya bilang, kasian mereka yang mau pakai alat ski nya. Meskipun kita diperbolehkan main seharian, tapi saya lihat alat ski nya hanya ada beberapa saja jadi harus gantian. Udah lah yuk cari tempat sepi saya kepingin pipis. 


Nengok kiri langsung amazed
Semakin menjauh ke arah lembah ternyata semakin sepi. Puas banget kita foto-foto di sini. Foto-foto keindangan Pegunungan Himalaya sudah saya unggah di artikel sebelum ini.


Dari lembah kami langsung kembali ke hotel karena saya udah kebelet pipis dan nggak nemu tempat yang benar-benar sepi (karena selalu disamperin abang-abang yang jualan safron). Balik ke hotel, melepas hajat lalu Bre jalan-jalan sendiri motoran nyari jajan ke Mall Road. Malam nya setelah berisitrahat cukup, kami mampir ke Hadimba Temple yang lokasinya dekat dari hotel tapi jalan menuju kesana nya sangat menanjak. Di dalam candi kuno ini ada goa dan batu yang masih dipelihara. Candi yang ukuran nya tidak terlalu besar dan letaknya di tengah hutan pinus ini adalah dedikasi untuk Hidimbi Devi, istri dari Bhima, salah satu legenda dari kisah Mahabharata. 


Kothi Village

(3 Maret) Esok hari kami bangun pagi lebih bugar mungkin karena efek olah raga main ski kemarin. Saya mengecek daftar destinasi di luar Kota Manali yang sudah saya buat saat di Delhi. Di antaranya Air Terjun Jogini, yang jaraknya hanya 6,5 kilometer dari hotel, tapi setelah saya cek pagi itu untuk ke sana butuh trekking kira-kira 4 jam pulang pergi. Saya coret lah dari itinerary. Lalu Palchan Ski, yang lokasi nya juga lebih dekat dari Solang Valley. Saya coret juga dari itinerary karena emang nggak sempat aja kesana. Akhirnya kami memutuskan ke Gulaba Village. 


Masih ngepul asap nya.
Kami melakukan perjalanan lebih pagi dari kemarin, jadi kami sarapan di jalan. Kami berhenti di salah satu kedai yang seperti nya baru buka. Memang betul, kami pelanggan pertama di kedai kecil ini. Kami memesan menu sarapan seperti biasanya, roti omellete dan Chai. Sungguh pagi itu adalah Chai terenak yang pernah kami minum selama di India. Bukan karena view pegunungan yang ada di depan kedai, tapi memang seenak itu. Kami menduga karena susu nya berasal dari susu sapi murni. 

Shanag Bridge
Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan dan mampir sesaat untuk merasakan nyebrang di jembatan gantung dan balik lagi. Sejujurnya saya baru tahu nama jembatan ini saat membuat tulisan ini. Dari sana kami langsung menuju Gulaba Village yang jalurnya semakin menanjak dan meliuk-liuk. Tiap sudut di jalanan ini rasanya saya kepingin berhenti terus.


Kami berhenti sebentar di situ lalu diikuti si anjing putih sampai ke Kothi Village. Anjingnya nggak galak, seneng banget dikasih biskuit. 

Ternyata jalanan ditutup sampai April - Mei. Saya dihampiri seorang bapak berkumis tebal yang tampak seram. Saat mengajak ngobrol ternyata orangnya suka bergurau. Saya sempat-sempatnya memotret sepatu si bapak karena sepatu kita samaan. Beliau membolehkan kami ke Gulaba Village dengan syarat berjalan kaki. Kalo dari peta sih masih sekitar 6,7 km lagi. Yaudah deh kami mikir-mikir dulu sambil jajan di warung yang satu-satunya hanya buka di situ. 


Si bapak tadi tiba-tiba kembali sudah menggunakan seragam. Oalah ternyata beliau pak polisi. Saya lumayan kaget, yakali ngajak becanda Inspektur Mohan. Habis itu kita foto bareng, buat kenang-kenangan. 

Bapak-bapak yang menyewakan Sothi atau tongkat kayu
Kami diberikan tongkat untuk trekking, yang sungguh sangat berguna saat digunakan untuk berjalan di atas balok es. Saya kira dijual karena kan dari kayu gitu, ternyata hanya disewakan seharga 20 rupee atau 4 ribu rupiah saja. 


Awalnya kami jalan nggak ngikutin Google Maps, tapi iseng menaiki bukit yang ada di sebrang pos yang saya pikir adalah jalan pintas ke Gulaba. Sepanjang jalan mataku terbelalak. Ya Allah bagus banget kayak Swiss, padahal belum pernah ke Swiss.




Ternyata semakin jauh jalan setapaknya tertutup salju. Berhubung nggak ada yang lewat lagi selain kita, saya numpang pipis di situ. Maaf ya guys, ini adalah pertama dan terakhir kalinya saya pipis di tempat terbuka di India. View nya emejing sekali. 


Kami kembali melalui jalan setapak lain yang berujung ke jalanan beraspal. Ada beberapa pejalan kaki juga yang seperti nya berniat ke Gulaba Village. Jalan ini adalah satu-satunya jalan menuju Rohtang Pass dan Leh, Ladakh. Baru berjalan tidak sampai satu kilometer kami berhenti. Nggak asik trekking di jalan beraspal mana makin terik pula. Bre juga bersin-bersin, saya cek keningnya mulai hangat. Yaudah kita balik aja deh. Kami menghangatkan badan dengan minum Chai di pos. Lalu melanjutkan perjalanan ke Solang Ropeway, yang baru saya googling sambil nge-chai. Di sepanjang jalan ternyata semua restoran tutup (efek karena penutupan jalan ke Gulaba). Kami langsung ciao ke Solang Ropeway.


Solang Ropeway

Tepat di depan area ski, ada kantin yang tidak terlalu ramai. Kami mulai begah sama bau kari jadi Bre memesan Nasi Goreng Manchurian dan saya memesan Chicken Burger. Entah karena memang lapar atau karena hawanya yang dingin, makan siang kami sangat lahap. Setelah beberapa hari saya tidak nafsu makan, ini makan terenak selama di India. Bre pun tiba-tiba sembuh. Setelah saya perhatikan, bukan si nasi goreng yang membuat nya sehat tapi syal bulu Yak yang membuatnya alergi. 




Beberapa kali saya melihat Tandem Paragliding mendarat di sini. Asik banget ya, saya cek di Google harga tandem paragliding juga nggak mahal-mahal banget, malah lebih murah dari paralayang di Batu. Tapi suhu dingin membuatku urung terbang-terbang di langit. Mending kita berpelukan aja sambil naik gondola ke puncak gunung.


Harga tiket naik-turun gondola menurutku agak mahal sih, tapi cukup memuaskan karena durasi nya lumayan panjang sekitar 8 menit naiknya. Sampai di atas, semua nya salju!




 

Kami menghabiskan waktu hingga 2 jam di puncak ini saja, sampai matahari bersembunyi di balik bukit. Selain main salju ya kami duduk-duduk saja sambil memandang jauh ke pegunungan salju yang membentang luas. 



Peci khas Himachal ini namanya Topi, sering aku lihat bapak-bapak di sana pakai ini
Sore sebelum Magrib kami kembali ke hotel. Setelah sholat dan ngemil secukupnya di hotel, kami menyempatkan untuk mampir ke Museum of Himachal Culture and Folk Art yang ada di sebrang Hadimba Temple. Alhamdulillah masih buka, kami menghabiskan waktu di museum sambil mencocokan waktu untuk mengembalikan motor yang kami sewa. 

Ikan salmon bumbu padang
Setelah mengembalikan motor yang dijemput langsung di hotel, kami kembali jalan-jalan ke Mall Road. Awalnya kami bingung mau makan apa malam itu sampai akhirnya kami sepakat makan ikan trout untuk merayakan keseruan jalan-jalan kita hari itu. Makan malam paling mahal selama di India, seekor ikan trout dihargai 600 rupee atau sekitar 130 ribu rupiah. Lumayan enak karena bumbunya rasa bumbu Padang. 

Sebelum kembali ke hotel kami mampir ke warung kelontong beli mie, telur, dan jajanan kering. Berhubung saya hanya membawa dua bungkus Indomie goreng yang sudah saya masak kemarin pagi, jadi kami beli lagi Maggie yang sering kami lihat di kedai-kedai dadakan di pinggir jalan. 



(4 Maret) Keesokan hari nya kami lebih selow, bangun lebih siang sambil menunggu jam check out pukul 11 pagi. Kami berdua masak sarapan pagi, Maggie dan telur rebus serta teh hangat rasa Blackberry yang saya bawa dari Indonesia. 



Setelah menitipkan tas di hotel kami jalan-jalan ke Mall Road (lagi). Pertama, kita ke Tourist Information. Waks! Udah mau pulang baru mampir ke Tourist Information? Abisnya bingung mau kemana lagi. Kayaknya 4 hari di Manali kelamaan deh. Ups, nggak ding, kalau bisa extends stay satu malam lagi kita pasti bahagia banget, karena besok nya hujan salju turun di depan hotel!



Selanjutnya di belakang Tourist Information Center, kami mampir ke Tribes India, toko souvenir resmi milik Kementrian Budaya Pemerintah India untuk berburu oleh-oleh. Harga nya memang agak lumayan mahal tapi terjamin keasliannya. Beberapa syal dan selimut dari bahan Yak atau bison nya Tibet, dan dari domba ada di sini. Dari salah satu karyawan di sana saya dapat info tentang warung yang menjual safron dan bumbu-bumbuan khas India. 


Sebelum hunting oleh-oleh lagi kami mampir makan siang di Saba Restaurant. Sebenarnya agak malas makan di restoran kalau bukan karena nyari tempat makan yang bersih. Hampir semua restoran di India semua karyawannya selalu mengamati kita makan. Baru kelar sesendok terakhir, belum turun tuh nasi dan lauk pauk ke perut, mereka udah nyamperin dan menawarkan diri untuk ngebersihin meja. Padahal restoran tidak ramai, malah banyak meja yang kosong. Sedangkan kalau kita makan di kedai atau warung kecil gitu, malah bisa nyantai. Agak kesal tapi lama-lama jadi terbiasa.  



Lokasinya ada di gang kecil ini, tidak jauh dan masih sejajar dengan Tourist Information Center
Bre kebelet pipis lalu mencari toilet umum di pasar. Kami janjian ketemu di toko souvenir yang ada di sepanjang Mall Road. 



Muka India, syal Arab, peci Himachal

Kelar mborong selimut dan souvenir gantungan kunci, kami duduk-duduk saja di alun-alun. Saya perhatikan orang-orang asli Manali ternyata sipit-sipit tidak seperti orang India asli yang hidungnya mancung dan matanya besar. Mereka seperti orang Tibet atau Nepal yang campuran mandarin. Semua bapak-bapak di sini yang berwajah mandarin suka pakai Topi, atasan kepala yang bentuknya mirip peci yang diberi tempelan dengan corak khas Himachal.

Tulisan berikut saya tulis dalam Bahasa Inggris, in case dibaca sama Shalini, manajer Hotel Lonchenpa, jadi dia nggak mabok-mabok banget lah baca tulisan saya.

In the afternoon, we're back to the hotel. I asked Shalini if we can rent a room for 1-2 hours because we need some space to clean ourselves and take afternoon prayer. She said we don't need to rent and she gave me a private bathroom in one of the hotel room. I take my time to pee and then what... I was locked inside the bathroom! I tried to knock the door hard but no one was hearing me. But then Shalini realized I was took a long time and then helped me by going through the window's bathroom from the balcony. We're laughing non stop. "You're a spiderwoman!" I shouted and thanked her. After that incident, Shalini and I shared toughts about many things, spent much time before we're going back to Delhi.

Kami kembali ke hotel, membereskan tas dan packing ulang oleh-oleh yang baru kami beli kemudian bersih-bersih secukup nya. Kami ke terminal menggunakan taxi, karena melihat cuaca sudah mau hujan. Setelah diturunkan di terminal, saya mencari-cari bus Holiday Appeal. Karena tidak ketemu dan badai angin debu bertebaran, saya langsung menghubungi nomor telepon yang tertera di tiket. Saya diberi nomor telepon  kantor Holiday Appeal di Manali. Saya menghubungi nya langsung dan disuruh untuk berjalan kaki sejauh sekitar 500 meter ke arah Delhi, ternyata kantor nya ada di ujung terminal. 

Saya lebih suka makan di kedai seperti ini
Hujan mulai agak deras. Setelah menaruh tas ke bagasi bus kami mampir ke warung di samping kantor Holiday Appeal. Kami memesan Maggie lagi yang ternyata rasanya sangat endes karena dicampur dengan rempah-rempah tambahan, sayuran kol dan kacang polong serta cabe. Untuk menghilangkan rasa pedas, kami minum chai lagi. Sayang sekali hujan yang turun air bukan salju. Bre udah ngarep kepingin melihat Snowfall. Yah, lain kali saja lah. Kalau memaksakan extends stay, rencana yang sudah saya buat untuk 3 hari road trip 3 kota Jaipur - Agra - Delhi bisa ambyar nanti. 

Anyway, selamat tambah umur sobat jalan dan sobat hidupku! Seru banget sih ulang tahunnya di rayain di Pegunungan Himalaya. Huh, bikin iri saja!








You May Also Like

4 comments

  1. baca ini jadi makin sakaw jalan jalaaaan... ya Allah semoga wabah Covid ini segera berlalu... AAMIIN

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin.. semoga cepat berlalu mir. sambil nunggu mari kita nulis cerita jalan2 kita yg telah lalu yg mungkin belum sempet ketulis, buat ngobatin kangennya jalan2

      Delete
  2. Wah cukup murah juga ya traveler lewat India, hotel dengan fasilitas seperti itu cuma 250 ribu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. murah bangett om, makannya juga murah2. biasanya kami selalu ngindomie klo ngetrip ini makan di restoran terus wkwkwk yg mahal disana cuma transport karena bensin di sana harganya 2x lipat sini

      Delete