Sebuah perjalanan panjang 5 hari dengan teman perjalanan sejati. Perjalanan tanpa rencana, yang menjadi awal dari segalanya. 


A true travelmate.

Tiga hari sebelum keberangkatan, di situ saya mulai sibuk mencari tiket pulang pergi. Kata kunci Wakatobi, Sumba Barat, Alor, sampai Tanjung Puting saya cari. Saya berinisiatif untuk trip domestik, karena ke tiga destinasi itu lah impian dari dulu sampai hari ini belum kesampaian. Tapi keputusan ada pada si penyumbang dana utama. Perjalanan kita terputuskan Jakarta - Phuket - Krabi - Jakarta. "Harga tiket pulang perginya sama aja kan? Yaudah kasian kan paspor gue masih kosong halamannya. " Katanya sambil tertawa-tawa. Memang delapan bulan sebelumnya saya pernah memaksanya untuk bikin paspor biar kalau tiba-tiba mendadak keluar negri ngga perlu repot-repot bikin sama calo.

Setelah tiket di tangan, ternyata ada kesalahan nama yang baru bisa diberesin selama satu hari. Bolak balik kontak maskapai penerbangan, akhirnya bisa diperbaiki. Ya ampun, mentang-mentang baru seminggu kawin, ngetik nama aja masih salah. Grogi kali. Hahahaha. Sisa satu hari, kami siap in buat packing. Itinerary hanya tinggal kenangan, tidur ngga bisa tidur, kami jadi bangun kesiangan. Penerbangan jam 9 pagi pun kami kebut naik taksi langsung ke Bandara. Yang penting berangkat, urusan di sana ngapain dan gimana, lihat saja nanti. Begitulah pikir kami sambil ketawa-ketiwi saat sudah duduk di dek pesawat. "Hampir telat."

Matahari pagi menyambut kami!
Kami sampai di Bandara Changi tepat waktu. Lho, kenapa pesawatnya turun di Singapur? Jadi si doi katanya pengen banget makan eskrim di Orchard Road. Karena doi belum pernah ke Singapur, saya pun akhirnya sok-sok an jadi guide, bicara soal maju dan rapihnya negara ini, sambil nunjukin ini itu. Seru banget, karena kami harus lari-larian buat ngejar jadwal pesawat ke Phuket (kami cuma punya waktu 4 jam di Sing). Kami cuma duduk manis sebentar di cafe depan patung Merlion, foto lima kali jepret trus balik lagi ke Changi. 

Kesampaian juga meski pun bukan di Orchard Road

Kami sampai di bandara Phuket pukul 9 malam. Oya, selama perjalanan di Thailand, saya hanya booking satu penginapan. Tentu nya yang dekat dari bandara, namanya Cozy Coco Apartment dekat dengan pantai Nai Yang. Untuk sampai kesana dari bandara sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena sudah malam, hanya ada taksi yang bisa mengantar kami sampai kesana. Semuanya nembak 300 baht. Fiuh. Setelah check-in, kami ke 7-11 yang tidak jauh dari penginapan. Karena kebanyakan warung makan sudah tutup. Di sini kami temui, 7-11 yang berbeda dengan yang ada di Jakarta. Tidak ada meja kursi yang bisa digunakan untuk makan. Akhirnya kami bawa balik ke penginapan, dan makan di atas kasur. Hari pertama yang melelahkan, dan disambut cerah pagi yang memudarkan rasa letih.

Selamat pagi! (Dari jendela kamar)

Karena kami benar-benar ngga bikin itinerary, maka setelah bangun tidur, Jemmy dan Mink adalah orang yang pertama kali saya cari. Mereka pasangan suami istri pemilik Cozy Coco, yang dengan senang hati membantu kebutuhan kami. Karena tau kami belum menentukan tujuan wisata, Mink menunjukan beberapa brosur pulau-pulau eksotis di dekat Phuket. Ia ternyata suka bertualang, yang ditunjukan bukan destinasi terkenal seperti phiphi island atau pun maya bay. Ia pun bercerita, ia baru saja kembali dari perjalanan ke Koh Racha, spot diving yang keren di sana. Dari beberapa destinasi turis, kami pun memilih Koh Similan, setelah mengitung budget yang paling cukup. Tanpa diminta, Mink membantu kami untuk reservasi paket trip Koh Similan untuk hari ke tiga kami di Phuket. "Lalu, hari ini kita mau ngapain, Brew?" Lirik saya ke doi, sambil nyengir. 

Kami pun keluar penginapan untuk cari sarapan. "Mending kita mikirnya sambil makan, siapa tau ada ide hari ini mau ngapain." Di dekat penginapan ternyata ada warung makan dimsum yang lumayan ramai. 

Ini ceritanya mampir ke warung nyobain makanan kecil asli sana, yang mirip-mirip sama lepet.

Thai tea. Pokoknya selama perjalanan disana kita selalu pesan ini. Suka!

Berhubung kami ngga nyiapin apapun, kami membeli kartu sim Dtac yang berlaku seminggu. Waktu itu sih kami beli dengan harga 199B. Berguna banget buat browsing sama ngakses gps, jadi sambil makan saya coba browsing kira-kira hari kedua perjalanan kami bakal dihabisin buat ngapain. Ternyata, Phuket Town ngga jauh dari bandara. Sekitar satu setengah jam perjalanan menggunakan roda dua. Maka saat kembali ke penginapan, kami mencari info penyewaan motor. Mink kaget, karena kami berencana pergi ke Phuket Town hari itu juga dan kembali lagi ke penginapan sorenya. Kamipun tertawa, kalau satu setengah jam sih di Jakarta itu biasa aja, mbak. Mink juga heran, karena biasanya tamu yang menginap di Cozy Coco hanya semalam. Tidak ada turis yang sengaja menginap lebih dari sehari di dekat bandara. Tentu saja, kami terjebak karena ngga bikin itinerary!

Ternyata tempat sewa motornya ngga dekat. Seorang ibu paruh baya yang sedang berhenti di pertigaan jalan pun saya tanyai, dengan bahasa tubuh yang acak kadul, karena warga disana tidak terlalu fasih berbahasa inggris. Ia pun mengerti, lalu menawarkan saya untuk memboncengnya. Saya pun diantarnya ke penyewaan motor. Baik sekali si ibu. Di penyewaan motor, ternyata kami ngga bisa nego! Untuk 12 jam, kami dikenai 300B. Langsung lah kami berangkat ke Phuket Town, dengan modal gps dan motor sewaan. 

Jalan yang kami lalui adalah jalan lintas kota, jalan lurus dimana kanan dan kiri banyak pertokoan dan kompleks rumah warga. kami mencari masjid lalu sampailah ke sebuah gang kecil yang warganya bermayoritas muslim, untuk menunaikan sholat Jumat. Saya duduk di warung kecil yang beratapkan dedauan pohon tepat di samping masjid. Memesan makanan, entah apa namanya, penampakannya seperti lumpia yang digoreng trus dipotong-potong dan diberi bumbu kacang. Ibu Sakina, si empunya warung, menyapa saya dan memulai percakapan kami dengan bahasa Malaysia campur aduk bahasa Inggris. Obrolan kami panjang sekali, saya sampai lupa kalau kami baru saja bertemu, namun sudah seperti saudara. 



Ibu Sakina, yang suka tersipu malu saat ingin bertanya sesuatu dalam bahasa inggris, namun ia bingung bagaimana mengungkapkannya.

Langsung berburu food stall pinggir jalan, pas jam 12 teng kami sampai di Phuket Town

Perjalanan kami lanjutkan. Sesampaikan di Phuket Town, yang terlihat seperti kompleks terkotak-kotak yang rapih. Kami parkir motor di sembarang tempat di sisi jalan yang sudah ditandai marka parkir. Sebenarnya, selama di Phuket belum nemu tukang parkir. Jadi aman-aman saja sepertinya parkir di mana pun. Muter-muter lah kita berjalan kaki di bawah terik matahari. Sambil bercerita, dan tertawa ria. Sesekali berhenti di satu toko, memanjakan mata dengan souvenir-souvenir lucu dari negeri gajah. 

Ngadem bentar

Kami mampir ke Casa Blanca Boutique Hotel untuk reservasi besok malamnya di Phuket. Di arah perjalanan kembali ke Cozy Coco, terdapat banyak sekali pantai-pantai sepanjang Phuket bagian barat. Kami pun mampir ke Patong Beach. Saat menuju kesana, kami takjub dengan suasana jalanan yang meliuk-liuk dan turun yang penuh dengan hostel-hostel, toko-toko, benar-benar kawasan turis. Berbeda sekali dengan yang ada di dekat bandara. Dalam hati pun menyesal, kenapa ngga nginep di Patong Beach aja. Banyak yang bisa di eksplor, dan banyak tempat makan seafood yang bisa dicobain. Ya sudahlah, di mana pun kan yang penting sama kamu. Hahaha, dan senja pun kami nikmati di atas bebatuan pantai yang memanjang mengikuti garis pantai. Sambil nyemil jajanan pantai yang dijual juga di sepanjang trotoar.


"Lupakan kolesterol, kapan lagi menikmati seafood semurah dan se-fresh ini!"


Setelah senja pergi, kami menikmati malam dengan memesan seafood yang dijual di sepanjang jalan. Di bawah lampu jalanan yang agak remang dan suara ombak yang dikalahkan oleh ramainya pengunjung. Ah, tapi kami tak bisa lama di sana karena harus kembali ke Cozy Coco dan awan di ujung sana mulai gelap pertanda hujan. Kami menyusuri jalan pulang dari Patong beach ke penginapan dengan jalur yang berbeda saat kami ke Phuket Town. Dari Patong beach, jalanan yang kami lalui adalah jalan perbukitan yang meliuk-liuk naik turun. Sebelah kanan hutan dan sebelah kiri menghadap laut. Banyak hotel dan resto mewah yang berjejer sepanjang jalan. 


"Our" first beach.
Patong Beach, Phuket Thailand | 28 November 2014

Lima belas menit sebelum sampai ke Nai Yang, hujan pun turun dengan deras. Membuat saya sedikit ketakutan, karena jalan yang kami lalui sangat lah sepi. Mana gelap dan banyak sekali petir. Sampai di tempat penyewaan motor, kami kembali ke penginapan dengan berjalan kaki. Hujan sudah sedikit reda meski rintik, menyisakan dingin menusuk kulit. Berdua kami di bawah payung, sesekali saling melemparkan senyum. Malam pun menjadi hangat. Bau hujan dan rumput.


Bersambung ..




"Our" first beach
Patong Beach, Phuket Thailand | 28 November 2014





"Sudah sering, nikmatin aja."


Begitu kamu bilang, waktu saya mengajakmu untuk foto bareng dengan latar pantai Dolphin. Mendirikan tenda serambi menikmati senja. Mengajarimu berenang bebas tanpa rasa takut. Bercerita di atas kapal mengalahkan suara mesin. 


Di malam yang terang dengan bayang-bayang pepohonan oleh cahaya bulan, kamu bilang, "Aku mulai suka sama laut." Sambil nyengir, karena selama ini yang saya tahu kamu hanya suka naik gunung, ke pantai tuh panas dan gerah. Hahaha, you've been trapped!

Belum ke Malang kalau belum nyobain bakso bakar.

Dikutip di majalah aneka yess, kira-kira saya masih SMP waktu itu. Budhe Nik yang asalnya memang dari Malang melirik majalah yang sedang saya baca, lalu menjanjikan saya bakso bakar jika saya mau main ke Malang. Dua kali ke Malang, tapi janji itu tak juga ditepatinya, mungkin karena beliau sibuk mengurus anak-anak nya yang masih kecil. Kesempatan itu akhirnya saya dapat bersama Brew saat main lagi ke kota Malang. 





Swimming here, don't wanna leave this place..
Pulau Kambing, Sulawesi, Indonesia | November 18th 2013

Amusement Park. Taman bermain atau taman ria adalah salah satu favorit destinasi saya.
Tapi tidak untuk wahana yang satu ini.


BNS. Singkatnya begitu, dari tahun 2009 waktu pertama kali solo traveling ke Malang, muncul keinginan menggebu buat main ke BNS. Yang akhirnya baru kesampean enam tahun kemudian. Waktu itu sih mikirnya tempat ini kayak taman-taman lampion gitu. Tapi ternyata BNS itu tempat wahana bermain mirip BCL (Bandung Carnival Land) yang hanya buka mulai dari sore hari hingga tengah malam. 

Jam menunjukan pukul 4 sore, di warung bakso bakar Pahlawan, mangkuk kedua, sambil kepedesan, saya iseng mengajak Brew ke BNS (baru inget dulu pengen banget ke sini). Toh hari itu malam terakhir di Malang jadi kami memutuskan ngga pergi ke tempat-tempat yang ekstrim kayak bromo dan sekalian ngobatin paralayang yang gagal. Lokasi menuju BNS sangatlah mudah di capai, karena berlokasi tidak jauh dari Jatim Park. Di tengah jalan kami juga sempat berhenti, sekedar menikmati udara sejuk dan pematang sawah dibawah langit yang mulai senja.


Jadi teringat buku gambar SD


Sampai di BNS, kami langsung menuju loket tiket. Untuk masuk saja kita dikenakan biaya 25 ribu rupiah (weekend). Jika kita hanya membayar tiket masuk, maka untuk setiap wahana kita diharuskan membayar tiket lagi per wahana, rata-rata per wahana adalah 10-15 ribu rupiah. Jadi kita diberi opsi lain dengan membeli tiket terusan sebesar 90 ribu rupiah untuk semua wahana kecuali Go Kart, The Battle Area dan Banji Trampolin. Tentu saja kami beli tiket terusan, karena rempong kalau harus buka-buka dompet setiap mau masuk wahana. 

Disana kami lupa, kami kembali menjadi anak-anak. Berlari-lari ke sana kemari layaknya pasangan muda yang jatuh cinta. Halah.. Kami mulai dengan wahana Kora-kora kalau di Dufan mereka bilang. Disco Bumper Car, dimana kami main bom bom car diiringi musik dangdut pantura. Lucu nya dari semua wahana kebanyakan kami cuma naik berdua saja, jadi waktu teriak-teriak itu aneh karena cuma saya saja yang teriak.


Ghost Stories

Di BNS, ada wahana yang unik namanya Art Trick. Seperti dua foto di atas, kami lumayan lama berada di dalam sana. Selanjutnya Gravitron, yang bikin Brew ketagihan. Kalau saya sih ngga, karena sensasi ngambang setelah diputer-puter dengan kecepatan tinggi itu bikin mual. Salah satu wahana yang paling antri adalah Sepeda Gila, sama seperti di BCL kami menaiki sepeda di atas ketinggian. Yang membedakan di BNS adalah jalurnya memutari taman bermain dan di sebelah kiri kami disuguhi pemandangan bukit bintang. Lokasi BNS memang diatas bukit di malam hari pun view kota Batu terlihat dari sana.


Lampion Garden, tujuan utama kami ke BNS
Setelah menaiki beberapa wahana yang bikin ngos-ngos an, kami pun beristirahat di Lampion Garden. Banyak bangku taman yang disediakan. Lampion yang dibuat pun beraneka ragam dan unik. Ada yang memang diletakan di kolam air mancur dan ada yang dibuat terbang seperti hot air balloon. Permainan kami akhiri dengan mengunjungi Night Market dimana kita bisa berbelanja souvenir bertema kota Batu dan Malang. Harganya pun sangat murah menurut saya. Berbeda sekali dengan souvenir yang dijual di taman bermain di kota besar seperti Dunia Fantasi atau USS di mana terkadang harga souvenir lebih mahal dari harga tiket masuk. Begitu juga dengan harga makanan yang dijual di Food Court, lebih murah daripada jajan di kantin kantor. Hehehe. 

And the final attack is Hot Rodeo! Wahana ini jadi tontonan banyak orang. Tadinya sepi banget wahana ini, lalu tiba-tiba jadi ramai setelah saya coba naikin dan berkali-kali jatuh ngga berhasil. Brew ternyata ngga boleh naik wahana ini karena berat badannya melebihi 70 kilo. 


Detik-detik mau jatuh


Bermain di taman hiburan, entah itu di Pasar Malam, atau di taman hiburan kota, semua menyenangkan. Menyadarkan kita bahwa kita masih memiliki jiwa kekanakan. Melatih adrenalin dan menguras keringat. Ada satu permainan yang membuat saya tertantang, yang menontonnya saja membuat saya sesak napas. The Streaming Condor, roller coaster berbentuk U yang kecepatannya bisa mencapai 122km/jam. Wahana ini pernah ditayangkan di episode Running Man. Mungkin next challenge kalo mampir ke Taiwan? Let's see.


Sedih rasanya begitu melihat catatan jurnal di tahun kemarin, cuma 6 artikel. Yap! enam artikel dari 365 hari yang sudah terlewati sia-sia tanpa diisi waktu dengan menulis. Apa karena terlalu sering jalan-jalan sampai ngga ada waktu buat ngeblog? Atau karena tahun kemarin lagi deadline kerjaan kantor sampai lupa diri kalau menulis cerita sebenarnya hobi bukan tuntutan? Atau karena lagi sibuk-sibuknya ngurusin kawinan sendiri? Hahaha opsi terakhir kayaknya deh yang bener. Jadi tahun ini ngga ada alasan lain buat nunda-nunda nulis jurnal. Ini udah Maret dan cerita perjalanan seharusnya makin seru karena tahun ini penulis sudah nggak hidup sendirian. She is on the journey, a never ending journey, with a lifetime partner, to make a story for tomorrow!

Jadi sebelum nulis perjalanan di tahun 2015, saya akan tebus dosa-dosa karena ngga nyempetin waktu buat nulis dan sering ditagih sama temen-temen dan juga suami. Berikut perjalanan tahun 2014 yang menyenangkan karena sebagian besar waktunya penulis masih single, hehehe. 

Januari



Trip ke Jogja bareng dua perempuan gila traveling yang mau diajak kemana aja. Sebenernya saya sih yang diajak buat jadi guide mereka ke pantai Klayar, hehehe. Berhubung saya murahan buat diajak kemanapun maka bersama Nisa dan Chintya selama empat hari kita habiskan waktu keliling kota dan touring ke tepi samudera hindia. Selain pantai Klayar, kami juga singgah ke pantai Timang. Muter-muter malioboro, kulineran sate klathak Pak Pong, main ke pasar buku, gaya-gayaan ke Mirota, nongkrong-nongkrongan di angkringan dan makan mie ayam di antah berantah.

Perjalanan yang dimulai dengan sangat dahsyat ini membuat kami nggak akan pernah lupa gimana rasanya berjam-jam duduk di jok motor ujan-ujanan. Sambil kedinginan dan pantat kram, kami tetap bisa melebarkan senyum meski matahari tenggelam yang kami kejar dari Jogja sampai Pacitan ini nggak mau muncul karena masih ditutup mendung. Perjalanan menuju pantai klayar ngga hanya kami bertiga, ada Uchank, Wahyu dan Jalil, pahlawan yang berhasil nganter kita sampai ke sini.

Esoknya matahari pun muncul memenuhi janjinya pada kami
yang sudah bersusah payah menuju kesana. (P.S. ada kuncen jogja nebeng foto)

Februari

Jalan-jalan ke Bandung sama temen kantor. Bukan jalan-jalan sih tapi sekalian karena ada kondangan di sana dan kami mampir ke Kopi Ireng. Niatnya mau makan-makan di HDL Cilaki cuma berdua sama (calon) suami (waktu itu), malah jadi ngopi-ngopi di cafe yang lokasinya ini paling atas di bukit dago pakar timur. Oya, bulan februari ini saya berulang tahun yang ke-25, dan dapet hadiah spesial polaroid z2300 dari (calon) suami (waktu itu). Berkesan deh ngopi yang harusnya berdua di Kopi Ireng ini malah jadinya rame-rame. 

Dia menulisnya penuh perjuangan karena ia sadar tulisan tangannya jelek,
apalagi gambar gitarnya hahaha


Maret

Di bulan inilah awal mula saya dan (calon) suami (waktu itu) mulai jadi sering jalan-jalan bareng. Kenapa sering, karena dia ini manggut aja kalo diajak kemana-mana. Kan ngga gampang juga ngajak temen yang selalu kapanpun bisa diajak kemana-mana (sampe bolos kuliah sama bolos kerjaan). Kami ke Sukabumi, jalan-jalan naik kereta. Ya, iseng aja naik kereta Bogor-Sukabumi sambil bawa bekal. Ngobrol sepanjang 2 jam, bercerita tentang apa saja. Sampai di Sukabumi kami pun dadakan ke air terjun Cibereum. Nggak sampe air terjunnya, karena hujan terus deras dan sendal jepit yang dipake (calon) suami (waktu itu) putus. Sekarang udah dijahit lagi dan masih dia pake kemana pun pergi ngetrip sama penulis.

Di akhir bulan, saya juga dengannya, jalan-jalan trip sehari ke Kep Seribu yaitu pulau Cipir, Onrust dan Kelor  Kami ikutan trip murah meriah yang udah di organisir, jadi kami tinggal ikutin aja deh itin mereka sampai akhirnya terpaksa ikutan games lucu-lucuan yang jayus. Hahaha..

Si (calon) suami (waktu itu) sambil meluk pacar kecilnya.


Mei

Sebenarnya saya udah lama kepengen naik gunung Semeru, nah skalian sama (calon) suami (waktu itu) yang katanya mau naik Semeru juga sama temen-temennya disana pas long weekend (25-31 Mei). Jadi lah kami naik gunung Semeru dan lalu dilanjut ke pantai Papuma di Jember. Aduh nikmatnya jalan-jalan ngeteng plus ngga ada beban bawa barang berat. (P.S. semua peralatan kemah dan beberapa baju nitip di (calon) suami (waktu itu). Cerita tentang Papuma sudah saya tulis di sini. Lalu cerita tentang Semeru, yang akhirnya saya berdua dia saja yang berangkat karena hmmm.. Saya simpen saja ya buat anak cucu kami. Hehe.

Pada suatu hari, disini lah, cerita itu dimulai..


Juni

Mendekati bulan puasa, Bang Rahmat yang udah terkenal di dunia per-traveling-an karena suka banget naik gunung (namun nggak naik-naik ke pelaminan) ini ngajakin saya kemping di gunung Krakatau. Niatan ini udah dari tahun 2012 waktu kami berdua pertama kali ketemu di trip Krakatau juga. Di sini kami benar-benar kemping di kaki gunung anak krakatau. Bersama dengan para pejalan lainnya, menikmati malam penuh bintang, menepis mentari pagi yang begitu syahdu di atas gunung, dan tentunya alam bawah laut gunung krakatau yang begitu indah. Di sini saya nemu ubur-ubur besar!



Agustus

Ceritanya kami nggak upacara tujuh-belasan, tapi upacara lamaran di rumah tercinta di Ciganjur. Nggak percaya deh ternyata tanggal 17-Agustus bakal gampang buat diinget keluarga kita masing-masing. Sore hari selepas lamaran, keluarga (calon) suami (waktu itu) minta diajakin muter-muterin jakarta karena calon mertua dan tante mertua baru pertama kali ke Jakarta. Jadilah ke Monas, terus lanjut ke PGC. Hadeuh, namanya ibu-ibu ya ngga bisa kedip liat pusat perbelanjaan.  

November

Kenapa ngga ada cerita di bulan September-Oktober? Ya tentu karena persiapan nikah yang cuma dikasih waktu 3 bulan. Tiap weekend bolak balik kesana kemari ngurusin tetek bengek kawinan. Dan Alhamdulillah, di akhir bulan November kami diberi kesempatan buat jalan-jalan juga akhirnya. Berdua sama suami ke Phuket dan Krabi. Sempet Mampir bentar di Singapur karena suami pengen banget naek Subway (aduh kamu ini selama hidup kemana aja sih?) juga mampir ke Penang kulineran. Cerita di Thailand mungkin nanti akan saya bahas di tulisan berikutnya, mungkin lho mungkin hehe. Jadi teasernya foto ini saja dulu ya..

Pulau Similan. Pemandangannya ajiiib!!


Desember

Di bulan Desember kami (lagi-lagi berdua suami, iyalah kan partner traveling sejati) mengambil libur long weekend natal. Seharusnya di bulan-bulan hujan begini naik gunung dihindari, tapi ya namanya lagi pengen, ujan-ujan juga tetep dihajar buat ngejar sunrise dari Gunung Prau. 

Dimulai dengan perjalanan yang melelahkan dari Jakarta, karena kami harus bolak-balik nyari bus jurusan Wonosobo. Sempat menyerah setelah hampir 2 jam mencari dan menunggu, akhirnya dapat juga bus pariwisata yang tarifnya 2 kali lipat dari harga normal. Lalu dilanjutkan dengan perjalanan yang tak berujung, karena macet sepanjang jalur pantura. Dan kamipun sampai di kota Wonosobo jam setengah 2 pagi (17 jam !!). Bayangkan jam segitu kami harus nyari hotel sambil jalan kaki sampe masuk-masuk daerah pasar dan akhirnya dapat juga. Petualangan yang tak terlupakan itu pun berlanjut dengan pendakian gunung Prau yang hujan sepanjang jalur. Dan kabut, yang terus menemani sampai pagi esoknya. Hanya 2 jepretan yg saya ambil, karena background yang disediakan alam hanya kabut. Hiks. Perjalanan itu nggak bikin partner sejati saya ini menyesal, dia bilang masih penasaran dengan view magis saat matahari terbit. Dia mau ke sana lagi, harus pokoknya. Saya cuma merengek sedih, "tanjakannya.... nggak tahan!!"


"Kita harus kesini lagi!!"

A story of the mountain and the sea that falling each other.
Krakatau, Lampung, Indonesia | June 22nd 2014

White isn't always mean beautiful. Sometimes black is.

Because there’s nothing more beautiful than the way the ocean refuses to stop kissing the shoreline,
no matter how many times it’s sent away. 

~Sarah Kay

Mengintip pagi dari dalam tenda,
Betapa rindunya menjelajah suatu tempat dengan cara "ngeteng". Bersama dengan teman-teman seperjalanan yang menyenangkan, yang rela duduk di atas kap mobil kena angin karena terpaksa hitching (Hai Dito, apa kabar lo?). Atau karena cape jalan kaki numpang di truk kayu yang gedenya ampun deh naikinnya aja susah banget! Ya saya rindu sekali dengan perjalanan-perjalanan itu. Akhirnya perjalanan itu pun saya ulang kembali. Di warung baso Cak Kar, yang ternyata memberikan fasilitas free-wifi, saya iseng browsing "pantai-pantai eksotis di Jawa Timur". Jyaleaaah.. Mode alay on! Dan nemu lah pantai ini.

Biru nya pesisir pantai dari sebelah timur. Foto ini diambil di jalan masuk ke pantai.

Pantai lagi.. pantai lagi.


Tentu saja kami memilih pantai, karena hari sebelumnya kami baru turun gunung. Dan saat menemukan pantai ini di google saya teringat kembali ketika pelesir ke pantai Klayar di Pacitan, keinginan untuk menjelajah pantai di Jawa Timur begitu menggebu. Sedikit lagi setelah pantai Klayar pasti sudah menyentuh tanah timur jawa, demi project 100 pantai yang pastinya masih berlanjut selama bumi ini masih berputar. So here the story.... Semalaman kemah di Pantai pasir putih malikan atau singkatnya PaPuMa!


Bus kami berangkat dari Terminal Arjosari, Malang pukul 9 malam. Tadinya kami mau langsung naik jurusan Jember, tapi sepertinya sudah tidak ada. Kami pun menaiki bus jurusan Banyuwangi yang jalurnya melewati Jember. Kiranya sampai Jember pagi hari jadi kami ngga perlu menginap, eh ternyata kami sampai jam 2 pagi. Hayaaah.. Masih gelap. Antimo yang baru diminum 4 jam yang lalu pun masih menyisakan rasa kantuk yang tiada tara. Baru saja turun bus, kami dihadang banyak orang yang menawarkan jasa ojek. Saat kami bilang kami mau menuju pantai papuma di pagi hari, si bapak malah memaksa kami menginap di motel. Kami pun buru-buru meninggalkan bapak itu, tetapi bapak itu malah mengikuti kami menawarkan jasa ojek yang tarif nya main tembak saja. Jadi, trik supaya ngga diikutin dan ditanya-tanya terus adalah pura-pura menelepon teman di Jember minta dijemput. Hahaha... Kalo ngga gitu pasti urusan jadi panjang. Akhirnya bapak itu pun pergi dan kami memutuskan tidur bergantian di teras Musholla di depan terminal, bersama dengan para gelandangan. 


Setelah sholat subuh, kami tidur lagi. Benar-benar ya antimo itu ternyata nyiksa juga kalo minumnya telat. Kami pun memulai perjalanan kami pagi hari itu sambil bertanya-tanya dengan para petugas dishub di terminal soal angkutan umum menuju Terminal Ajung. Tak dinyana, kita malah ditawari jasa ojek lagi. Langsung nembak pula harganya. Karena males berdebat tidak jelas dengan "calo" saya langsung bertanya pada ibu kios sambil beli minuman ringan. Untuk menuju terminal Ajung kita naik angkutan umum 2 kali. Lagi-lagi ditengah jalan ditawarin jasa ojek, karena kami berdua kelihatan lama menunggu angkutan umum berikutnya. Gak deh. Setelah sampai Terminal Ajung kami naik angkutan pedesaan yang udah ngga tau lagi gimana bentuknya menuju Ambulu. Duduk sumplek-sumplekan bareng sayuran, ayam, dan ibu-ibu serombongan mau kondangan. 

Sesampainya di Ambulu, kami cari sarapan sambil bertanya-tanya ke penduduk sekitar soal angkutan umum ke PaPuMa. Ternyata di sana hanya tersedia dua jenis angkutan umum, yaitu ojek dan bentor (becak motor). Kami pun dihampiri beberapa tukang ojek, sambil nego harga. Inilah seninya traveling di  Indonesia, ngga ada harga patokan jadi kita harus pintar-pintar nawar. Karena perundingan berlangsung alot, bapak-bapak ojek pun meninggalkan kami. Kemudian kami mencoba alternatif ke dua yaitu bentor. Ternyata kalo naik bentor itu hanya sampai perbatasan pertigaan antara pantai Watu Ulo dan pantai PaPuMa. Tadinya mau ngirit ongkos malah jadi kemahalan. Hahaha.. Lalu kami putuskan naik ojek saja ke bapak ojek yang tadi. Pas kami hampiri ke pangkalan ojeknya, si bapak sudah ngga ada! Kami pun panik dan mencoba menyusuri jalan raya sambil cari ojek lain.



Tapi yang namanya jodoh, akhirnya kami bertemu lagi dengan si bapak setelah berjalan kaki beribu-ribu kilometer! Kita sepakat 100 ribu untuk 2 ojek pulang pergi Ambulu-PaPuMa, yang artinya sekali jalan kita kena dua puluh lima ribu. Si bapak juga dengan senang hati menjemput kami ke lokasi esok harinya. Ternyata Pak Selamet ini orang baik. Bersyukur sekali kami bertemu dengan nya. Sampai di PaPuma pukul 11 siang, kami membayar tiket masuk sebesar 12 ribu. Setelah pamitan dengan pak Selamet, kami langsung menuju bibir pantai. 

Perjalanan yang menyusahkan dan semuanya terbayar! Birunya langit siang itu, memantulkan warnanya pada laut selatan. Serta awan putih yang memberik corak langit. Angin laut yang menghempas serta suara ombak yang menderu mengobati segala kerinduan. "Ah pantai.. aku kangen sekali sama kamu." Sambil memeluk orang di sebelah saya. Eh ngga kok ini cuma perumpaan aja pengen meluk pantai biar romantis tapi ngga bisa. Hehehehe.. 




Matahari pun semakin bergerak ke atas, menunjukan waktunya sholat Jumat. Di pantai tidak ada pengunjung lain, hanya ada para pedagang dan penjaga toko. Brew yang kebingungan karena di pantai tidak ada masjid pun akhirnya bertanya kesana-kemari. Tidak ada orang yang terlihat akan pergi ke masjid, ia pun berencana jalan kaki sambil cari tumpangan. Lebih baik usaha daripada tidak. Beruntungnya, di jalan ada anak kecil yang sedang mengendarai motor meninggalkan pantai dan mau menumpanginya sampai ke masjid. 





Pengen berenang di sini ngga bisa. Jadi liatin si bapak mancing sambil nyanyi-nyanyi.

Matahari nya ketutup bukit. Sayang sekali!
Menunggu sunset, kami menghabiskan waktu mengelilingi ujung pantai PaPuma dari sebelah timur sampai ke barat. Bentuk pantai papuma itu seperti V terbalik jika dilihat dari bukit. Setelah senja mulai memudar, kami makan malam di sebuah warung kecil yang menawarkan sajian ikan segar untuk dikiloin. Seporsi cumi bakar dengan bumbu sambal nya menguras keringat di dahi. Setelah makan, kami tiba-tiba dihampiri seorang laki-laki yang usianya mungkin tidak jauh dari kami. Dia mengenalkan dirinya sebagai Iwan. Seorang pemuda asal Surabaya yang bekerja sebagai petugas lingkungan di pantai PaPuMa. Kami bertiga pun berbagi cerita, berbagi pengalaman kami dalam perjalanan. Malam itu kami pun langsung diajak ke kantor nya untuk lapor kalau kita akan camping semalam. Kami tidak dipungut biaya apa-apa kok, hanya membayar 3000 rupiah saja untuk retribusi. Di kantor pun kami malah jadi ngobrol dengan bapak-bapak petugas yang lain. Dan malam pun kami habiskan dengan berbincang-bincang dan bercerita. Milky way malam itu jadi agak samar semakin gelap menuju pagi.

Pemandangan dari pintu tenda. Ajib kan?
Bangun tidur ku kucek mata terus melongo, sambil nguap dan ngelamun.
Aktifitas pagi nelayan.
Sebelum di jemput oleh pak Selamet, pagi hari pukul 8 pagi setelah sarapan dan packing, kami berencana hiking ke bukit di utara. Sesuai dengan info yang diberikan oleh mas Iwan bahwa ada satu spot yang jarang sekali dikunjungi wisatawan lokal. Jalan yang dilalui beraspal namun hancur dan sudah ditumbuhi banyak tanaman liar. Tiba-tiba ada bapak petugas yang sengaja menghampiri kami menggunakan motor kopling. Kami pun disuruh menumpangi motornya, dan ia mau mengantar kami sampai atas. Baik sekali bapak nya! Memang trek nya lumayan curam. Baru sepersepuluh perjalanan saja kita sudah ngos-ngosan.

Pantai PaPuMa yang dilihat dari atas bukit

Itulah spot dimana kita bisa melihat keseluruhan pesisir pantai PaPuMa dari ujung barat sampai timur. Sayangnya masih terlalu pagi sehingga buih dilaut membuat horizon tidak begitu terlihat. Setelah sejenak menikmati view yang luas itu, kami pun beranjak pulang dengan dijemput oleh pak Selamet dan temannya. Perjalanan menuju Jakarta pun tidak mudah, dimulai dengan bus Jurusan Jember-Jakarta yang sudah habis dihari itu, sehingga kami terpaksa cari bus menuju Surabaya dulu. Sampai di Surabaya pun kami kehabisan bus ke Jakarta jadi terpaksa kita manaiki bus menuju Cirebon. Tidak henti sampai disitu, di Cirebon kita kehabisan tiket kereta dan terpaksa naik bus lagi dari Cirebon sampai Jakarta. Setelah dihitung dari Jember - Jakarta total perjalanan darat 32 jam! Tak mengapa, karena ini lah seni nya dari traveling, menikmati setiap sudut perjalanannya karena Suatu saat nanti aku pasti akan merindukan ini lagi