Jawa Barat


Yahoo— akhirnya nyempetin jalan-jalan meskipun singkat dua hari satu malam, ke kota sebelah Jakarta yang hanya ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Awalnya saya dan Bre berencana ke Bandung atau Cirebon. Melihat kondisi saya yang kurang fit pasca kontrol ke dokter kandungan, kamipun merubah haluan ke Bogor. Sehari sebelumnya saya langsung memesan satu kamar di Swiss Belinn Bogor.


Sebetulnya saya masih punya PR menulis cerita pengalaman camping di Pasir Reungit untuk melanjutkan cerita perjalanan ke Kawah Ratu sekitar empat bulan silam. Tapi mumpung masih hangat, kali ini saya ingin langsung menulis pengalaman camping lusa lalu ke Ranca Upas, bumi perkemahan di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung. Rencana berkemah ini sudah saya cetuskan sebulan yang lalu, setelah menahan diri untuk tetap di rumah sampai menunggu kelar vaksin kedua di pertengahan bulan September. Awalnya kami berencana kemah di Gunung Kencana, yang lokasinya satu kawasan dengan Telaga Saat dan Telaga Warna di Cisarua Bogor. Sekitar seminggu sebelum berangkat kami dapat info kalau trek ke sana biasa saja. Lalu entah kenapa saat itu saya langsung teringat dengan Ranca Upas.


It's been a tough year for all of us. Especially for someone who likes to go outside and explores around. I talked about my self of course. But now I will tell you a story of my last trip with my little brother, Nibras, the boy I adore so much. My sisters and I called him Ibas since he was born because his name is uncommon, and it is easier to call him Ibas.  


Seminggu lalu saya menyuruh Bre mengambil cuti satu hari kerja di minggu pertama April. Kami berencana pelesiran ke luar kota yang tidak jauh dari Jakarta. Nggak ada tujuan khusus sih, yang penting keluar rumah. Pernah terpikir untuk ke Sukabumi, piknik lucu di depan danau Situ Gunung. Tapi saya sudah tiga kali ke sana. 

(Sumber Foto: Situ Gunung Suspension Bridge)
Naik kereta api Tut..tut..tut. 2 jam perjalanan menggunakan Kereta Api Pangrango dari Stasiun Paledang Bogor menuju Stasiun Sukabumi. Kenapa Sukabumi?

Ceritanya hanya obrolan iseng di suatu kedai kopi di Jakarta, tempat kita biasa kopdar impulsif di sela-sela waktu setelah pulang kerja. Sudah beberapa kali kami melakukan perjalanan sendiri-sendiri dan kadang jadi kangen pengen jalan-jalan bareng. Jadi kemana kita sehabis ini? Trip yang murah meriah yuk karena budget trip tahun ini sudah mulai habis. Tercetuslah jalan-jalan ke Purwakarta, naik gunung Lembu dan rekreasi di sekitaran waduk Jatiluhur. Hari H minus seminggu, ternyata ada yang labil ngajakin ke Loji. Apaan tuh Loji, saya googling gambar yang muncul rata-rata pohon pinus dan jembatan. Bagus sih. Kami pun di grup whatsapp yang menamakan diri "Kapan kita kemana" yang ngga pernah ganti nama sejak setahun lalu dibentuk ini pun jadi galau. Sampai H minus sehari, kami masih labil dan akhirnya memutuskan untuk ke Loji. Kita piknik-piknik cantik aja karena lagi males naik-naik gunung.

Loji, perpaduan lebatnya hutan pinus dan eloknya canopy


Habis badai terbitlah terang

Bagaimana jadinya jika sebuah celetukan iseng ajakan untuk ODT (bahasa gaulnya buat one day trip) ke Gunung Batu betulan terjadi esoknya? Yap! Meskipun hujan mengguyur Jakarta sejak semalam dan awan gelap masih menyelimuti langit, kami rela bangun pagi di hari Sabtu yang dingin. Memang dua jam sebelum waktu ketemuan, beberapa sempat ada yang gundah bakal berangkat atau tidak. Tapi salah seorang pemicu trip ini kekeuh  berangkat meskipun menggunakan jas hujan. Akhirnya dari yang tadinya cuma berempat kami jadi berdelapan berangkat dengan menggunakan kendaraan roda dua. Dengan kostum lengkap menggunakan jas hujan.

Kami sampai di lapangan parkir Gunung Batu yang ada di Jalan Wanajaya sekitar pukul setengah satu siang. Tentu saja rasa lapar sudah melanda kami, langsung tanpa aba-aba kami mendatangi warung makan yang ada di pinggir jalan. Setelah makan siang, kami menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari tempat parkir sembari bersiap-siap untuk trekking.


Hujan-hujan begini, mending tidur dirumah selimutan atau nonton film Korea sambil nyemil.

Begitulah yang ada dalam benak pikiran saya, saat kami memulai perjalanan dan hujan mulai mengguyur lagi. Terpaksa kami trekking lengkap menggunakan jas hujan lagi. Fyuh, jangankan mengeluarkan kamera, kondisi jalanan yang becek dan berlumpur memaksa kita untuk tetap fokus berjalan kaki. Tapi perasaan gelisah karena kondisi yang kurang enak ini hilang sesaat dengan candaan dan keakraban kami yang pecah di antara hujan dan hutan. 

Foto kiri (courtesy Ferga): Geng jas ujan. Foto Kanan atas: Mejeng setelah tanjakan pertama.
Foto Kanan bawah: Tanah lapang lokasi nenda.


Kabut, hujan dan angin kencang.

Jalur trekking yang terus menanjak lumayan membuat kami ngos-ngosan. Sudah beberapa bulan kami tidak naik gunung, alhasil yang biasanya ke alfamart saja naik motor, hanya menanjak satu jam saja rasanya bikin dengkul lemes. Sampai di padang lapang tempat mendirikan tenda, kami memulai petualangan menanjak yang sebenarnya. Tali webbing dan baut yang sudah terpasang di batu menandakan kemiringan jalur yang akan kita lewati lebih dari 60 derajat dan kami perlu alat bantuan untuk melewatinya. 

Kami hadang segala rintang yang menerjang (Courtesy: Narawangsa)
Ada tiga jalur yang menggunakan tali dan kami harus satu persatu bergantian naik, tidak bisa berbarengan kecuali ada yang berani tanpa menggunakan tali (kami tidak ingin mengambil resiko). Sesaat setelah jalur pertama, awan hitam dari utara mulai bergerak kearah kami. Kami pun menghentikan langkah kami dan berlindung di alang-alang atau batu untuk menahan angin kencang dan hujan deras. 

Satu tim yang sudah naik duluan di tanjakan pertama adalah semua kecuali saya dan Brew. Saya sendiri karena punya penyakit takut ketinggan, menunda untuk naik ditanjakan terakhir sampai badai berhenti. Baru setelah hujan berhenti, kami beranikan diri untuk naik pelan-pelan dibantu kawan kami. Dan... Sampai puncak kabut masih menyelimuti. Kami pun hanya duduk-duduk bercengkerama sambil menunggu awan pergi. Meskipun awal perjalanan kami penuh rintangan, rupanya semesta tetap mendukung kami. Awan dan kabut yang menyelimuti langit mulai pergi, landskap yang terlihat dari puncak Gunung Batu jadi sangat jelas. Sungguh kuasa Tuhan, begitu indahnya pemandangan dari ketinggian 875mdpl ini.

Abaikan coretan yang ada di batu
Aku duluan turun kebawah, nanti kamu fotoin aku ya!

Foto terakhir di puncak Gunung Batu yang berselimut kabut

For your information
Jalur berangkat : Gramedia Depok - Jalan Juanda - Jalan Raya Bogor - Jalan Sentul Raya - Babakan Madang - Jalan Gunung Pancar - Jalan Desa - Jalan Wanajaya - Gunung Batu Jonggol
Jalur pulang : Gunung Batu Jonggol - Jalan Wanajaya - Jalan Gunung Batu - Jalan Selawangi - Jonggol - Cileungsi - Cibubur 


Kanan kiri hammock, mengapit tenda cinta ku yang unyu ^.^

Terakhir trip sama doi itu pas mudik ke kampung halaman di Malang. Terbang tinggi di atas Kota Batu sambil kulineran baso-basoan di Malang. Setelah nge-cek postingan di blog ternyata itupun trip terakhir di bulan Juli. Hampir dua bulan nggak kemana-mana, tiap weekend pun kami ngabisin waktu di rumah ngerjain proyek (programmers have no life). Rasanya kepala ini mau meledak, lagi butuh banget jalan-jalan. Kalo bahasa jerman nyebutnya fernweh -haus banget ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungin. Rencananya mau naik Gunung Papandayan tapi ternyata oh ternyata gunungnya baru kebakaran, hiks. 

Goyang-goyang, tapi sempetin senyum.


Dari obrolan iseng di sebuah warung kopi tengah kota Jakarta, teman lama kami yang baru kembali dari perjalanan panjangnya ke timur mengusulkan sebuah trip murah meriah. Mungkin udah keabisan ongkos kali ya, hehehe.. Udah hampir dua bulan juga saya ga "keluar rumah". Saya pun mengajak teman lama kami, Bang Roy, untuk mencarikan temannya yang bisa jadi driver. (Tips: salah satu cara mengirit trip jalan-jalan adalah menggunakan kendaraan pribadi, dan patungan bensin)

Dua minggu kemudian (13/06), di Sabtu pagi yang cerah, kami berenam, saya, Brew, Chintya, Nisa, Roy dan Franky bertemu sapa di bawah pohon rindang di Taman Topi, Bogor. Kondisi sebenarnya, saya dan Brew telat sejam setelah janji kumpul jam tujuh pagi di Stasiun Bogor. Jadilah kami dihujani kecemasan karena siapa sih yang tidak tahu kalau jalur Puncak di akhir pekan menggunakan sistem buka tutup, jadi mau ngga mau kami bakal ngalamin namanya macet tanpa gerak! Betul sekali, baru sampai di pertigaan Ciawi, macet berkepanjangan, sejam lebih kami terjebak di sana. Setelah berhasil melewati pertigaan yang super seperti neraka itu, jalanan yang kami lalui semakin mulus (waktunya sistem buka untuk jalur yang menuju puncak). Sialnya diantara kita berenam ngga ada yang tahu jalan! Mau berbekal GPS, ada yang trauma sampai kesasar. Akhirnya kami pun berbekal plang hijau petunjuk jalan dan blog Ejie.

Emm.. Canopy Trial?

Kami sampai di Taman Wisata Cibodas sekitar setengah dua belas siang. Soto ayam depan kantor TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) memuaskan rasa lapar yang melanda. Setelah itu, dari info petugas di kantor TNGGP, kami diberi tahu kalau ingin Canopy Trail bisa langsung menuju pos atas, jadi tidak perlu masuk ke taman wisata Cibodas. Tempatnya sama dengan pada saat kita pengecekan logistik untuk mendaki gunung GGP. 

Kami mendaftar lalu untuk Canopy Trail kami diharuskan ditemani oleh guide. Kalau menurut website resmi TNGGP, jadwal trek ke Canopy Trail adalah setiap dua jam, pukul 9 pagi, lalu pukul 11, 13 dan 15. Namun pada kenyataannya, kami bisa menuju kesana kapan saja. Lalu juga soal biaya tiket masuk, di website dan kondisi lapangan pun berbeda. Para petugas TNGGP memberi tahu kami bahwa mereka belum meng-update konten website, sejak 1 April 2015 biaya tiket masuk sudah berubah. Awal mulanya total 31 ribu rupiah dengan perincian 25 ribu tiket Canopy Trail, 5 ribu tiket masuk dan seribu tiket asuransi. Sekarang untuk tiket Canopy Trail saja kami dikenai 40 ribu per orang dan untuk guide sebesar 50 ribu rupiah per group. "Waduh, tau gitu mending kita ke The Jungle!"

We were here.

Setelah briefing sebentar (yaelah udah kayak mau naik gunung aja) kami sepakat untuk melakukan penawaran harga tiket. Waduh kalau soal ini ngga bisa saya ceritakan di blog, karena akan mengancam nama baik salah seorang di antara kami yang memang jago nawar apa aja. Hahaha.. Lalu perjalanan trekking dimulai dengan penuh semangat dan eng ing eng ...  Ternyata lokasi jembatan gantungnya cuma lima menit jauhnya, meskipun jalannya agak menanjak, ternyata cuma setarikan nafas dan ngga bikin ngos-ngosan. Kami pun melepas tawa. Kalau kayak begini mah ngapain harus pake guide. Jalan yang dilewati tepat di belakang pos, melewati jalan samping. Setelah ketemu pertigaan lalu ambil kanan. Ketemu perempatan, ambil lurus. Mungkin alasan kenapa pakai guide karena kita bisa saja nyasar karena jujur saja, ngga ada sama sekali plang petunjuk arah jika kita bertemu dengan persimpangan jalan. 



Wisata canopy trail yang sedang kekinian

Panjang jembatan 130 meter, dengan ketinggian 45 meter dari bawah. Jembatan Ciwalen (saya menyebutnya karena merupakan jalan pintas menuju air terjun Ciwalen) ini disopang oleh dua pohon besar di masing-masing ujungnya. Selain itu tidak banyak informasi yang kami peroleh tentang Canopy Trail ini, dari guide kami, Bang Ramdan pun tidak banyak menjelaskan. Ketika saya bertanya pun, jawabannya sangat tidak meyakinkan. Lucunya, ketika saya bertanya ke guide grup yang lain, jawabannya sama. Malah saya ditanya balik ketika bertanya, "Kenapa namanya canopy bang, kenapa ga jembatan aja gitu?" Di lokasi Canopy Trail pun, pos nya kosong dan di kunci. Tidak ada petugas yang berjaga-jaga jika saja terjadi kelalaian para pengunjung. Mungkin itu tujuan lain adanya guide sehingga kita tidak bisa sembarangan melewati jembatan lebih dari 5 orang (total berat 300 Kg).

Jauh-jauh kesini, ngga boleh keabisan gaya

Setelah puas banget nikmatin ni jembatan, kami diajak Bang Ramdan ke Curug Ciwalen. Dari pernah baca-baca di Google sih, katanya kalau mandi di curug itu kita bisa awet muda. Berhubung kami masih muda-muda jadi kayaknya air terjun ini dikhususkan buat aki-aki kali yah. Hahaha.. Kami pun ngga berlama-lama di sana lalu kembali lagi ke Canopy Trail buat foto-foto. Jujur ya, saya takut sekali ketinggian. Tapi setelah sekali melewati jembatan ini, ketakutan saya berkurang. Kaki yang gemetaran pun sudah agak tenang. Begini katanya mau paralayang! 


Curug Ciwalen

Dari Cibodas kami berencana mampir ke Cimory Riverside, namun beruntungnya jalur baru saja dibuka. Jadi kami mengurungkan niat kenapa dari pada harus terjebak macet lagi. Sampai di Bogor, kami mampir ke jalan Bangbarung yang katanya pusat Kuliner di Bogor. Menikmati Sop Buah Pak Ewo tepat di samping Rumah Kopi Ranin. Mengabiskan malam minggu dengan pacar dan teman-teman yang menyenangkan.

Mungkin kalau dipikir-pikir, dateng jauh-jauh cuma demi ngelewatin jembatan yang panjangnya tidak lebih dari 130 meter. Trekking cuma 5 menit. Air terjun yang tidak jauh dari jembatan juga ngga keren-keren amat. Biaya ongkos masuk yang terbilang mahal pasti juga membuat orang malas kesana. Tetapi yang namanya perjalanan, destinasi bagi kami bukanlah tujuan utama. Justru kebersamaan dan keceriaan dalam perjalanan menuju kesana itu lah yang sebenarnya. Atau seperti pepatah Chintya bilang, "Gue itu jalan-jalan buat tidur di jalan. Jadi kalau gue tidur ya gue nikmatinnya disitu." 

Berasa lagi trekking ke tengah hutan di Jepang. Anggap saja begitu.

Kalo baso bakar asli, akan selalu dihidangkan
dengan semangkok kuah campuran bawang goreng dan seledri


Suatu ketika pernah posting soal baso bakar di media, lalu seorang teman memberi komentar kalo di Depok ada juga baso bakar yang rasanya ngga kalah enak. Penasaran lah saya, jadi tadi siang sepulang dari kerjaan lepas di Hotel Bumi Wiyata, saya mengajak doi ke Cilodong yang lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi hotel yang berada di simpang Depok (pertigaan Juanda). Ini kalau warung bakso nya tutup, jangan ngambek ya. Begitu katanya, sambil menatap matahari yang masih terik dan panasnya terasa menyengat di kulit. 

Baliho nya yang segede gini mudah untuk dicari

Setelah kurang lebih setengah jam, sampai lah kami di warung bakso yang lokasinya strategis banget jadi mudah dicari. Lokasinya persis tidak jauh dari pusat perbelanjaan Giant. Waktu kami sampai, parkiran nya udah penuh, pengunjungnya juga ramai. Wah kayaknya beneran enak nih! Begitu pikir kami, lalu kami memesan dua porsi baso bakar tanpa lontong dan satu porsi baso malang rudal. 

Karena warung penuh, saya ngga bisa nyamperin tempat ngebakar basonya.
Jadi jepret dari luar kaca.

Meskipun pegawainya ngga pakai seragam tapi mereka cepat pelayanannya. Jadi kita ngga perlu nunggu lama meskipun ramai. Harga yang dijual pun menurut saya standar, ngga mahal-mahal amat dan ngga terlalu murah juga. Kalau terlalu murah bisa dicurigain juga kan keaslian dagingnya, hehehe.. Dari rasanya, saya dan Brew ketagihan. Dia bilang, besok-besok harus ke sini lagi. Panas, macet dan gerah yang tadi kita rasakan saat perjalanan ke sana pun hilang.

Kenyang sekenyangnya sampai ngga bisa berdiri

Sebagai arek malang asli yang memang pecinta baso, Baso Bakar Putra Arema ini menurutnya enak banget. Dan porsinya juga lebih banyak dibandingkan yang biasa ada di Malang. Kalau bandingin sama Baso Bakar Pahlawan, masing-masing punya cita rasa sendiri. Kalau Baso Bakar Pahlawan menggunakan bumbu kecap yang sudah dicampur cabai dan bawang mentah serta bawang goreng sehingga ada tingkat pedasnya, di Baso Bakar Putra Arema bumbu baso bakar yang digunakan adalah seperti bumbu sate, yaitu bumbu kacang lengkap dengan acar nya. Jadi di Baso Bakar Putra Arema makan baso bakar dilengkapi dengan lontong. Masing-masing punya keunikan. Yang akan selalu bikin kita kangen buat balik lagi. 

For your information
Lokasinya ada di Jalan Raya Tole Iskandar, Cilodong Depok
Kalau dari Jalan Juanda, tinggal lurus aja terus cari putar balik yang ke arah Cilodong. Terus ikutin jalan aja lurus sampai mentok lalu belok kiri. Dari situ ngga jauh, lokasinya di depan Giant Cilodong agak maju dikit. Untuk harganya, seporsi rata-rata 13 ribu rupiah. Itu seporsi udah bikin kenyang banget. Cuma yang jadi pertimbangan adalah lokasi nya yang jauh dari mana-mana. Hahaha. Tapi rasa mengalahkan segalanya. Selamat mencoba!

I've never enjoying myself until I get lost somewhere. A place I've never been visited. A place where no one recognizes me. 

Talking with strangers. Seeing new things. Eating local food at the street. Walking under the sun. Lost in the city. Going out to the crowd or laying at beach where no one around. Or just sitting at the train, chat with my best mate, while seeing the ordinary panorama through its window. 


March 15th 2014
Sukabumi Train Station, West Java Indonesia
Photo in polaroid taken by stranger

A couple of passenger who's sitting in front of us, asked why were we doing this?
I answered with a smile. 
"This is how I enjoy my story."

Menyusuri hutan basah, terapi untuk paru-paru yang terbiasa mengisap karbon dan timbal di jalanan ibukota. Salah satu cara menikmati penghujung tahun di tempat yang jauh dari riuh ibukota. Matahari yang muncul menampakan sebarisan pohon-pohon pinus yang hijau. Riuh air yang terjun di antara bebatuan besar menambah semarak suara alam.




Setelah kaki lelah menapaki jalanan berbatu dari lokasi air terjun Sawer selama kurang lebih satu jam, segelas kopi panas dan tenangnya suasana pagi di pinggir danau membuatku semakin mensyukuri hidup. Terima kasih, Tuhan.





Langit yang masih menyisakan lembayung fajar dari timur di Kampung Naga.
Kami tiba tepat di depan gapura bertuliskan Kampung Naga pukul 4 pagi, sebelum adzan subuh berkumandang. Langit masih gelap, kami pun berteduh di musholla yang ada di sebrang gapura. Perjalanan selama hampir 5 jam dari Jakarta membuat kami ingin menyelonjorkan kaki. Malam sebelumnya (Jumat 23/08/2013), saya bersama dengan 4 orang teman saya dari Jakarta, janjian di Terminal Kampung Rambutan. Dari info mas Efenerr untuk menuju Kampung Naga dari Jakarta, kami bisa menggunakan bus tujuan Singaparna yaitu bus Karunia Bakti. Jadi kami tak perlu transit di terminal Tarogong jika menggunakan bus tujuan Garut. Bus tujuan Singaparna ini pasti lewat tepat di depan Kampung Naga. 

Setelah langit mulai terang, kami pun memulai petualangan kami pagi itu. Sebelum memasuki Kampung Naga, kami melewati sebuah monumen yang baru saja dibangun. Di atasnya ada tugu Kujang Pusaka. Dari situ kami dihampiri oleh seorang yang mengaku dirinya adalah pemandu lokal. Mang Nteng kami memanggilnya. Tanpa kami bertanya, ia pun menjelaskan bahwa untuk memasuki Kampung Naga sebaiknya ditemani oleh pemandu karena kita tidak bisa sembarangan memasuki wilayah tanpa adanya pengetahuan mengenai adat dan budaya di dalamnya. Memang kampung ini masih sangat menjaga budayanya. Kampung yang dikenal dengan keislamannya yang masih sangat kental.


Sudah hampir 3 bulan tak menyentuh catatan perjalanan di blog ini. Bukan karena sibuk dengan pekerjaan, tapi karena menyempatkan waktu untuk beromansa dengan perjalanan terkadang membutuhkan saat yang tenang, ditemani segelas kopi dan musik yang membuat pikiran ku mengapung melayang menuju tempat di sana.




when was the last time you disappeared?




Dan pertanyaan ini membuatku tertohok. 
Dari sekian perjalanan, yang terakhir memblusuk di sebuah perkampungan muslim yang masih bertahan asri di tengah hiruk pikuk kota. Membuat ku mengingat kembali, perjalanan-perjalananku dahulu. Di mana ruang dan waktu tak lagi ku perduli. Menghirup udara dari semilir angin yang ditiup oleh anai, menyapa senyum pagi dari mereka, menikmati segelas teh hangat di dapur yang mengebulkan asap dari nasi yang tanak, mendengarkan alunan nada dari salah seorang seniman pembuat seruling, belajar menggunakan penumbuk beras, mendengarkan sejarah dan cerita, dan mencoba menyatu dengan mereka.

Sebuah pagi di Kampung Naga, Garut

when was the last time you disappeared?
from the life in the concrete jungles call cities,
from everyday conversations that have long repetitive,
and the rest of those regular scenes?

when was the last time you really had enough time to sense any of these?
the scent of the beach
the morning dew under your bare feet
the sunset hues
the orchestration of the nature?

when was the last time you floated across the line, over those walls,

and lost your sense of time?

why not now?

- float2nature

A misty morning at Pangalengan, Bandung. 
Berjumpa sang surya yang baru terbangun. 
Meniti jalan, melangkahkan kaki demi sesuap nasi. 

Jalan berkabut di pagi, menjadi teman setia memulai hari.

Pangalengan, Bandung 11 Februari 2012

Karena terlalu senang main air.. sampai sok-sok an nyelem pake masker. Padahal niatnya mau berburu foto di sana. Akhirnya cuma ini yang bisa ngegambarin kalau air terjun Cigamea yang terletak di Gunung Bunder, Bogor ini patut dikunjungi. Setidaknya ini tempat terdekat dari Jakarta untuk melepas penat. Daripada menghabiskan uang belanja ke mall atau ngopi ke cafe, nyebur di sini bisa buat fresh lagi! Modal naek commuter line sampai stasiun Bogor, dilanjut dengan sewa angkot patungan ber-sepuluh. Perjalanan one-day trip bareng teman-teman kantor dan pacar kecilku si Ibas ini, cukup menyenangkan dan bikin kita ketagihan untuk bikin trip-trip gembel selanjutnya di sela-sela weekend yang selow!

Curug Cigamea dari jalur trekking


Saya menyusur sungai agak kebawah, karena di atas sudah terlalu ramai

Adeeem..

Serius, monyet-monyet di sini nggak kalah galak sama monyet-monyet di Uluwatu.
Watch out your snacks!

Don't do duck diving there!

Ujung sungai dari aliran Curug Cigamea yang menjadi batas untuk dilalui. Bening men!

Someday he'll be a real adventurer.
(Mengikuti jejak sang kakak)

Dan tentunya cerita yang kita bagi.
Bandung, 14 Maret 2013

Jenuh,
Saya hanya sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Di hadapan saya, blackbox sedang running untuk retrieve data. Sembari menunggu, saya rebahkan kepala di meja kerja.

What am I doing here?

Saya tidak jenuh kok, saya suka pekerjaan ini. Saya coba memutar film sambil makan siang. Ah.. malas. Saya pegang kepala saya mencoba mengukur temperaturnya, tidak overheat kok. Lalu, kedua mata saya menatap kalender di meja. Ah ya, sudah satu bulan saya tidak bepergian jauh. Tidak, bukan karena itu saya jadi lunglai begini. Sepertinya apapun yang saya lakukan saat ini seperti terkena efek slow motion. Tak ada gairah, lambat.

Dan tiba-tiba ada bisikan di telinga kanan saya. Kamu butuh mood booster, butuh lebih banyak kafein. Dengan setelan sandal jepit sehabis sholat, saya meluncur ke convenience store. Meski sempat lewat starbucks, saya lebih memilih segelas kopi hitam yang harganya lima ribu. Saya hanya butuh kafeinnya saja (sambil menengok lembaran di dompet).

Kopi ini cair. Tidak kental, tidak bisa mengalir pelan di tenggorokan saya. Meski akhirnya saya bisa bangun dari rasa 'malas ngapa-ngapain'. Saya pun teringat kopi kental dengan wanginya yang kuat yang masih saya ingat lima hari yang lalu. Di sebuah warung kopi kecil yang terhimpit diantara toko-toko, di tengah pasar, di Bandung. Warung kopi Purnama namanya yang terletak di Jalan Alketeri, Pasar Baru, Bandung.

Warung kopi Purnama, yang didepannya ada gerobak kembang tahu dan buah mangga. Di sebelahnya ada tukang bubur yang juga tak kalah ramai pengunjung.


Minggu pagi itu, seperti kebiasaan dulu jaman kuliah. Saya jarang sekali menghabiskan hari minggu dengan berleyeh-leyeh di kostan. Tapi menghirup udara pagi yang bebas ke Car Free Day di jalan Dago. Menikmati weekend di Bandung, saya diajak ngopi ke warung ini. Sebelumnya kami sarapan bubur ayam di sebelah warung ini. Gerobak bubur ayam ini bertengger di trotoar yang selurus dengan warung kopi ini. Sehingga ada beberapa penikmat kopi yang terkadang memesan bubur ayam lalu makan di warung kopi Purnama, dengan menambah biaya sewa duduk sebesar 2 ribu rupiah. Hahaa..

 

List minuman yang ditawarkan tidak ada yang menarik. Biasa saja. Kopinya pun hanya ada dua macam. Salah satunya kopi hitam. Saya memesannya, dengan ditemani roti srikaya. Saat tiba di meja, aroma kopinya tercium. Teman saya bilang ini namanya kopi aroma, kopi khas Bandung. Saya tak banyak bertanya tentang kopi ini. Seiring jarum jam yang melaju, sudah tiga jam saya duduk di sana dengan mengeluarkan banyak sekali buah pikiran. Yang tercampur aduk dalam perbincangan yang tak ada judulnya. Efek seharga delapan ribu rupiah benar-benar luar biasa. Entah saya sudah bicara apa saja, dari cerita bagaimana saya bisa berenang dari phobia air sampai bagaimana mimpi saya bisa ingin menjelajah Eropa. Cukup panjang jika dituliskan, dan saya pun kembali ke rutinitas, berpacaran dengan si blackbox dan memulai kode-kode bahasa antah berantah. Bisikan itu kembali terdengar, Let's back to work.

Dan ternyata mood booster saya adalah menulis dan kopi.
Sederhana!




Satu lagi, teman.

Menghabiskan sisa sore dengan teman dan segelas kopi. Itulah senja, lalu ribuan ide pun lahir sama seperti saat senja yang memunculkan ribuan kerlip lampu Kota Bandung.




Menatap bintang menjadi kebiasaanku.
Saat jauh dari tempat nyamanku di rumah.
Entah beralaskan pasir pantai, atau tanah dingin di puncak gunung.
-
Gunung Papandayan (2665 mdpl), Garut Jawa barat, Indonesia.
Older Posts