Ceritanya nemenin adek ikut ujian mandiri di Universitas Brawijaya (yang akhirnya membuahkan hasil keterima, Alhamdulillah). Ceritanya mudik sekalian juga nemenin si adek jalan-jalan di Malang. Jujur aja udah puas banget hampir dua minggu di Malang, dari naik gunung, turun gunung ke kota, sampai ke pantai. Dari cwie mie, baso mercon, susu murni sampai roti maryam. Karena di hari-hari terakhir tinggal berdua sama si adek, setelah jam ujian kelar, tercetuslah ke Museum Angkut yang lokasinya tidak begitu jauh dari kampus Unibraw. 

Memori kamera cuma dua giga, udah sengaja dikosongin karena dari info Tante nya si doi yang emang hobi jalan-jalan kalau ke Museum Angkut siapin kamera sama memori gede. Di postingan ini saya bakal ekspos foto-foto selfie untuk menghibur diri saat baca-baca lagi tulisan dan foto-foto sendiri. Lebih tepatnya bakalan lebih banyak foto dari pada tulisan sih. Hahahaha.. Sebagai pembuka foto berikut adalah hasil kelelahan dari pagi kena macet dan kepenatan si adek setelah enam bulan intensif belajar dan kurang piknik.


"Tolong mbak kepala nya jangan miring." Kata petugas kelurahan.

Setelah kekenyangan makan di Bakso Damas, kami langsung bergegas menuju Batu. Jam menunjukan pukul 1 siang, matahari sedang begitu cerahnya. Menggunakan sepeda motor kira-kira setengah jam lewat jalur alternatif belakang kampus UMM. Meski terik, namun tidak begitu terasa karena udara sejuk Malang, salah satu yang bikin si adek pengen banget kuliah di sana. Untuk lokasi parkir, dari manajemen Museum Angkut sudah menyediakan parkir resmi yang tarifnya hanya dua ribu rupiah saja. Dari sana, kami langsung di suguhi banyak warung-warung makan yang ada diatas air!

Gerbang Pasar Apung, lebih kece dibanding bagian depan Museum Angkutnya sendiri

Pasar apung adalah salah satu objek di Museum Angkut yang biaya masuknya gratis. Dari lokasi parkir, pasar apung menjadi lintas masuk menuju Museum Angkut. 

Cuma di Pasar Apung si adek nggak mau narsis, katanya phobia air warna hijau

Si bro lagi di Jakarta, jadi fotonya sendiri ajah!


Dari Pasar Apung, kami langsung menuju loket untuk membeli tiket. Berhubung weekday jadi kami tidak perlu mengantri panjang. Setelah itu, kami tidak bisa berkata-kata lagi. Jeprat-jepret gaya ini gaya itu.. Tralalalala.. 

Udah cucok lah jd model foto


 Ahaai, sampe jogja bisa berubah jadi betis tukang becak


Foto-foto preweding di sini asik juga kali


Setelah merasa aneh dengan poster mbak-mbak dan mas-mas di pojok kanan,
baru ngeh pas diliat difoto kayak beneran di kantor pos


Watch out! Satenya gosong!


Capek motoin si Adek, foto di kaca yuk


"HELP MEEEE!"
Jalanan di Amerika jaman dulu
Asik ih kayak di manaaa gitu..


Abis dari Amerika belok Eropa!


Haa haa haa .. *Capek bikin caption


Mbak, mbak.. Kalau ngga beli jangan duduk situ.
Tempat ini sebenernya beneran cafe di dalam Museum Angkut

Aduh adeknya aja cantik gimana kakaknya
Gedubrak praaang brak!

Di beberapa spot dibuat ala Universal Studio, tiap bagian dari objek Museum Angkut merepresentasinkan beberapa belahan dunia seperti Eropa, Amerika, Inggris, China Town, Batavia dan Las Vegas. Tiap objek memiliki keunikan tersendiri, begitu juga dengan spot makan yang di design seperti di luar negeri. Ada yang indoor dan outdoor. Meskipun outdoor, karena lokasi Museum Angkut berada diatas gunung, jadi tetaplah adem. Ngga bikin keringetan dan makin keranjingan foto.

Dan ini foto terakhir sebagai perwujudan bukti nyata kelelahan si adek setelah berbulan-bulan gak kemana-mana, dan sempat sendirian di rumah ditinggal mudik sekeluarga selama seminggu. Kasian!

Melepas lelah di pangkuan Ibu Ratu Elizabeth. Kapan lagi coba?

For your information
Tarif tiket masuk per orang : Rp 60.000 (Weekday) Rp 75.000 (Weekend)
Tarif kamera (SLR/gopro/pocket) : Rp 30.000

First time left footprints in his hometown beach
Ungapan Beach, Malang, East Java Indonesia | July 25th 2015



Setelah puas menikmati terbang tandem di atas Kota Batu, waktu sore kami habiskan di pepohonan rindang tepat di sebelah kiri dari lokasi paralayang. Omah Kayu, salah satu objek wisata yang kini mulai diramaikan oleh para turis lokal. Para sepupu ipar udah ngga sabar menuju ke sana, karena dari awal niat mereka memang ke Omah Kayu, bukan paralayang yang ngelihatnya aja bikin merinding. Katanya sih pengen foto-foto mumpung langit masih terang, lalu sambil menunggu senja sampai gelap sehingga Kota Batu terlihat seperti hamparan bintang-bintang di langit.

Salah satu spot di Omah Kayu yang hanya berupa gazebo


Lagi-lagi karena hari itu masih dalam masa liburan panjang lebaran, semua objek wisata jadi penuh. Setelah masuk melalui lorong kecil untuk membayar tiket yang di design unik dengan kayu-kayu, kami berjalan ke bawah menuju pepohonan pinus yang sudah ramai. Sulit sekali kami untuk bisa masuk ke salah satu pondokan, karena semua penuh dan sudah banyak yang mengantri.



Omah Kayu pada awalnya merupakan tempat peristirahatan yang dirancang dengan konsep back to nature. Tiap kamar merupakan satu pondokan kecil yang dibangun di setiap pohon yang tumbuh dekat tebing. Sehingga hanya diperlukan jembatan kecil atau anak tangga untuk menghubungkan jalan setapak dengan pondokan. Setiap pondokan dilengkapi dengan area balkon yang luasnya lebih lebar dibandingkan kamar tidurnya sendiri. Untuk kamar mandi hanya ada di satu spot di tengah-tengah area dan jumlahnya hanya ada 2. Letak pondokan berbeda-beda level ketinggiannya sehingga privasinya lebih terasa. Satu lagi yang bikin beda dengan rumah-rumah kayu biasa adalah, lokasinya yang berada di tebing tinggi sehingga view dari setiap pondokan adalah lanskap Kota Batu yang bikin mata segerrr..



Tampak samping jalan setapak, pepohonan dan pondokan

Saat ini Omah Kayu fungsinya sudah berubah menjadi tempat umum yang bisa saja dikunjungi oleh siapa saja. Hal itu dikarenakan sepinya pengunjung penginapan yang menganggap tarif per pondokan mahal. Jadi lah Omah Kayu jadi tempat wisata yang umumnya digunakan para turis lokal untuk berfoto-foto di depan rumah dan balkon kayu dengan atau dengan latar Kota Batu.


(Kiri - kanan)
Wulan, Ayu dan Fatin yang ngga bs lepas dari smartphone, tapi selalu siap kalo di foto
Gambar tepat di depan kamar yg berbentuk seperti tenda



Karena kita anti mainstream, kita pasca wedding aja yah!


Untuk bisa menikmati leha-leha di balkon Omah Kayu, sebaiknya datang bukan disaat liburan atau akhir pekan. Kalau pun terpaksa datang di akhir pekan, sebaiknya datang pada pagi hari sekitar pukul 8-9 pagi jadi kita tidak perlu rebutan dan mengantri untuk bisa bersantai di pondokan. Celah untuk bisa masuk ke Omah Kayu tanpa membayar tiket adalah di atas pukul 5 sore, karena penjaganya sudah tidak ada yang melakukan pengecekan, hehe.. Jika sudah mulai gelap, bisa kembali ke lokasi di depan warung-warung makan untuk melihat pemandangan lampu-lampu Kota Batu. Sayangnya kami tidak jadi menghabiskan malam di Gunung Banyak karena perubahan rencana untuk menikmati dingin malam dengan makan roti maryam panas-panas di Alun-alun Kota Batu. 


Ferris wheel yang menjadi ikon di Alun-alun Batu

For your information:
Lokasi: Kawasan wisata Gunung Banyak, Batu
Jam buka: sampai dengan pukul 17:00
Tarif masuk kawasan wisata: Rp 5000/ orang
Tarif masuk Omah Kayu: Rp 5000/ orang
Jumlah maksimal per pondokan: 4-5 orang
Tiket Ferris wheel Alun-alun Batu: Rp 3000/orang


Begitu teriak si abang Nicholas Saputra waktu landing skydiving di Thailand dalam iklan “Journey to overcome the fear” dari salah satu produk shaver yang dipakai sehari-hari sama suami. Hahaha.. paralayang menjadi suatu wajib buat langkah pertama sebelum benar-benar impian buat skydiving terwujud (Amiin!). Dari beberapa kali wacana, kemarin akhirnya jadi juga.


Brew saat terbang tandem, melihat pemandangan kota Batu di bawah langit biru yang cerah

Rencana awal menyisir pantai-pantai di Malang yang batal karena beberapa hal, membuat Mas Nug berinisiatif mengajak kami paralayang. Wah, pas sekali karena saya dan Brew memang benar-benar udah ngebet dari awal tahun. Dengan lokasi yang tidak begitu jauh dari rumah Brew, kami berangkat berenam bersama dengan sepupu-sepupu ipar yang memang doyan jalan. Menggunakan sepeda roda dua, kalau menggunakan roda empat di libur panjang lebaran gini, bisa-bisa 4 jam baru sampai daerah Batu karena kondisi lalu lintas menuju Wisata kota Batu dan Puncak Bogor tidaklah jauh berbeda.

Lokasi Paralayang Batu terletak di Wisata Gunung Banyak. Petunjuk jalan menuju kesana lumayan banyak, jadi kita tidak perlu kesulitan untuk menuju kesana karena ternyata banyak sekali warga lokal yang berkunjung ke sana. Cari saja petunjuk bertuliskan “Paralayang”. Tidak hanya bagi para penggemar olahraga ekstrim, namun lokasi take off paralayang ini menjadi favorit bagi para turis lokal karena view nya yang amazing selain objek wisata Omah Kayu (akan saya tulis setelah ini).


Banyak turis lokal mengabadikan diri dengan latar kota Batu


Untuk mengalahkan rasa takut sama ketinggian, olahraga paralayang ini bisa jadi pilihan dengan biaya yang lumayan terjangkau. Saat sampai di lokasi, kami pun langsung menuju booth pendaftaran paralayang yang ternyata sudah ramai. Untuk mendaftar sangatlah mudah, cukup menuliskan nama dan berat badan, kami memperoleh nomor urut. Oleh team yang ada di booth, kami diperbolehkan untuk makan dan jalan-jalan dulu, atau menuju lokasi take off dengan mengantri. Kami pun mampir dulu ke warung Bakso Paralayang yang tidak jauh dari lokasi take off. Menikmati semilir angin gunung sambil menikmati semangkuk bakso panas. 


Syereeem..

Awalnya kami berniat terjun sesaat sebelum matahari tenggelam, agar warna langitnya sedikit kekuningan. Namun ternyata, kondisi angin agak mulai buruk karena di balik bukit ada banyak awan mendung. Jadilah pukul setengah 3 siang kami bersiap-siap di lokasi take off. Kami dipinjamkan monopod a.k.a. tongsis yang bisa dipergunakan dengan smartphone. Saya pun menolak karena dari awal saya hanya membawa kamera SLR untuk dokumentasi sebelum terbang saja, dan untuk smartphone saya juga tidak terbiasa selfie menggunakan tongsis, yang ada nanti saya malah tidak menikmati sensasi terbangnya. Saya pun dipaksa oleh si Mas Tandem, "Ntar nyesel lho." Begitu katanya. Mas Nug pun meminjamkan smartphone nya plus dengan bluetooth remote nya. Ia mengajari saya sebentar, karena beberapa kali saya sudah dipanggil oleh team yg sudah ready di ujung landasan pacu. Makin dag dig dug serr lah karena saya giliran pertama sebelum Brew.


Persiapan sebelum take off


Brew saat take off dibantu salah satu club team


Sebelum tiba di landasan, dibawa muter di atas rumah-rumah

Waktu terbang tandem berkisar antara 10-15 menit, mungkin tergantung angin atau mood tandem nya kali ya. Karena jujur aja, kayaknya kami ngga sampe 10 menit terbang. Cepat saja waktu berlalu tahu-tahu sudah landas. Posisi saat akan landas adalah kaki diangkat ke atas. Setelah landas, kami berkumpul di lahan parkir menunggu ojek yang akan mengantarkan kami kembali ke lokasi wisata Gunung Banyak. Oiya, selain gift certificate, tongsis dan pilot tandem, satu paket paralayang tandem seharga 350 ribu ini sudah termasuk pengantaran kembali ke lokasi take off yang jaraknya kira-kira 5 kilometer dari lokasi landasan yang berada di Songgoriti. Karena liburan panjang, antrian ojek pun menjadi rebutan antara pilot tandem dan peserta. Saya pun menyempatkan diri mengobrol sejenak dengan para senior pilot yang pengalaman terbangnya sudah tak terhitung lagi. Untuk bisa terbang tandem, seorang pilot harus sudah 1000 kali terbang dengan 120 kali terbang dengan teman pilot. Mas Taufik, salah seorang pilot pun menawarkan saya sekolah paralayang agar bisa terbang sendiri. Waduh mas, terbang bukan passion saya sih kecuali kalo ada yang mau bayarin hehe. Sekarang target supaya bisa berani skydiving, karena jujur saja saya takut ketinggian. Yang penting sekarang udah berani terbaaaaang ... 

Ini saya, "Woohoooo..!"
Sambil teriak begitu, lalu Mas Ryan mencoba manuver, "Ayo teriak lagi." Begitu katanya. Hahaha..


For your information
Lokasi take off: Kawasan Wisata Gunung Banyak, Batu
Lokasi landing: Jalan Arumdalu 20 Songgoriti, Batu
Harga per orang: Rp 350.000
Berat badan maksimal: 90Kg
Jam buka: sampai dengan pukul 17:30
Untuk book bisa langsung menuju booth pendaftaran

Goyang-goyang, tapi sempetin senyum.


Dari obrolan iseng di sebuah warung kopi tengah kota Jakarta, teman lama kami yang baru kembali dari perjalanan panjangnya ke timur mengusulkan sebuah trip murah meriah. Mungkin udah keabisan ongkos kali ya, hehehe.. Udah hampir dua bulan juga saya ga "keluar rumah". Saya pun mengajak teman lama kami, Bang Roy, untuk mencarikan temannya yang bisa jadi driver. (Tips: salah satu cara mengirit trip jalan-jalan adalah menggunakan kendaraan pribadi, dan patungan bensin)

Dua minggu kemudian (13/06), di Sabtu pagi yang cerah, kami berenam, saya, Brew, Chintya, Nisa, Roy dan Franky bertemu sapa di bawah pohon rindang di Taman Topi, Bogor. Kondisi sebenarnya, saya dan Brew telat sejam setelah janji kumpul jam tujuh pagi di Stasiun Bogor. Jadilah kami dihujani kecemasan karena siapa sih yang tidak tahu kalau jalur Puncak di akhir pekan menggunakan sistem buka tutup, jadi mau ngga mau kami bakal ngalamin namanya macet tanpa gerak! Betul sekali, baru sampai di pertigaan Ciawi, macet berkepanjangan, sejam lebih kami terjebak di sana. Setelah berhasil melewati pertigaan yang super seperti neraka itu, jalanan yang kami lalui semakin mulus (waktunya sistem buka untuk jalur yang menuju puncak). Sialnya diantara kita berenam ngga ada yang tahu jalan! Mau berbekal GPS, ada yang trauma sampai kesasar. Akhirnya kami pun berbekal plang hijau petunjuk jalan dan blog Ejie.

Emm.. Canopy Trial?

Kami sampai di Taman Wisata Cibodas sekitar setengah dua belas siang. Soto ayam depan kantor TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) memuaskan rasa lapar yang melanda. Setelah itu, dari info petugas di kantor TNGGP, kami diberi tahu kalau ingin Canopy Trail bisa langsung menuju pos atas, jadi tidak perlu masuk ke taman wisata Cibodas. Tempatnya sama dengan pada saat kita pengecekan logistik untuk mendaki gunung GGP. 

Kami mendaftar lalu untuk Canopy Trail kami diharuskan ditemani oleh guide. Kalau menurut website resmi TNGGP, jadwal trek ke Canopy Trail adalah setiap dua jam, pukul 9 pagi, lalu pukul 11, 13 dan 15. Namun pada kenyataannya, kami bisa menuju kesana kapan saja. Lalu juga soal biaya tiket masuk, di website dan kondisi lapangan pun berbeda. Para petugas TNGGP memberi tahu kami bahwa mereka belum meng-update konten website, sejak 1 April 2015 biaya tiket masuk sudah berubah. Awal mulanya total 31 ribu rupiah dengan perincian 25 ribu tiket Canopy Trail, 5 ribu tiket masuk dan seribu tiket asuransi. Sekarang untuk tiket Canopy Trail saja kami dikenai 40 ribu per orang dan untuk guide sebesar 50 ribu rupiah per group. "Waduh, tau gitu mending kita ke The Jungle!"

We were here.

Setelah briefing sebentar (yaelah udah kayak mau naik gunung aja) kami sepakat untuk melakukan penawaran harga tiket. Waduh kalau soal ini ngga bisa saya ceritakan di blog, karena akan mengancam nama baik salah seorang di antara kami yang memang jago nawar apa aja. Hahaha.. Lalu perjalanan trekking dimulai dengan penuh semangat dan eng ing eng ...  Ternyata lokasi jembatan gantungnya cuma lima menit jauhnya, meskipun jalannya agak menanjak, ternyata cuma setarikan nafas dan ngga bikin ngos-ngosan. Kami pun melepas tawa. Kalau kayak begini mah ngapain harus pake guide. Jalan yang dilewati tepat di belakang pos, melewati jalan samping. Setelah ketemu pertigaan lalu ambil kanan. Ketemu perempatan, ambil lurus. Mungkin alasan kenapa pakai guide karena kita bisa saja nyasar karena jujur saja, ngga ada sama sekali plang petunjuk arah jika kita bertemu dengan persimpangan jalan. 



Wisata canopy trail yang sedang kekinian

Panjang jembatan 130 meter, dengan ketinggian 45 meter dari bawah. Jembatan Ciwalen (saya menyebutnya karena merupakan jalan pintas menuju air terjun Ciwalen) ini disopang oleh dua pohon besar di masing-masing ujungnya. Selain itu tidak banyak informasi yang kami peroleh tentang Canopy Trail ini, dari guide kami, Bang Ramdan pun tidak banyak menjelaskan. Ketika saya bertanya pun, jawabannya sangat tidak meyakinkan. Lucunya, ketika saya bertanya ke guide grup yang lain, jawabannya sama. Malah saya ditanya balik ketika bertanya, "Kenapa namanya canopy bang, kenapa ga jembatan aja gitu?" Di lokasi Canopy Trail pun, pos nya kosong dan di kunci. Tidak ada petugas yang berjaga-jaga jika saja terjadi kelalaian para pengunjung. Mungkin itu tujuan lain adanya guide sehingga kita tidak bisa sembarangan melewati jembatan lebih dari 5 orang (total berat 300 Kg).

Jauh-jauh kesini, ngga boleh keabisan gaya

Setelah puas banget nikmatin ni jembatan, kami diajak Bang Ramdan ke Curug Ciwalen. Dari pernah baca-baca di Google sih, katanya kalau mandi di curug itu kita bisa awet muda. Berhubung kami masih muda-muda jadi kayaknya air terjun ini dikhususkan buat aki-aki kali yah. Hahaha.. Kami pun ngga berlama-lama di sana lalu kembali lagi ke Canopy Trail buat foto-foto. Jujur ya, saya takut sekali ketinggian. Tapi setelah sekali melewati jembatan ini, ketakutan saya berkurang. Kaki yang gemetaran pun sudah agak tenang. Begini katanya mau paralayang! 


Curug Ciwalen

Dari Cibodas kami berencana mampir ke Cimory Riverside, namun beruntungnya jalur baru saja dibuka. Jadi kami mengurungkan niat kenapa dari pada harus terjebak macet lagi. Sampai di Bogor, kami mampir ke jalan Bangbarung yang katanya pusat Kuliner di Bogor. Menikmati Sop Buah Pak Ewo tepat di samping Rumah Kopi Ranin. Mengabiskan malam minggu dengan pacar dan teman-teman yang menyenangkan.

Mungkin kalau dipikir-pikir, dateng jauh-jauh cuma demi ngelewatin jembatan yang panjangnya tidak lebih dari 130 meter. Trekking cuma 5 menit. Air terjun yang tidak jauh dari jembatan juga ngga keren-keren amat. Biaya ongkos masuk yang terbilang mahal pasti juga membuat orang malas kesana. Tetapi yang namanya perjalanan, destinasi bagi kami bukanlah tujuan utama. Justru kebersamaan dan keceriaan dalam perjalanan menuju kesana itu lah yang sebenarnya. Atau seperti pepatah Chintya bilang, "Gue itu jalan-jalan buat tidur di jalan. Jadi kalau gue tidur ya gue nikmatinnya disitu." 

Berasa lagi trekking ke tengah hutan di Jepang. Anggap saja begitu.


Pantai Malikan

Pantai Pasir Putih

We feel the most alive when we're out there. 
Seeking happiness, in a place we've never been 
as we surrender ourselves to the currents of the universe.

Pantai Papuma, Jember, Jawa Timur | 30-31 Mei 2014

Kalo baso bakar asli, akan selalu dihidangkan
dengan semangkok kuah campuran bawang goreng dan seledri


Suatu ketika pernah posting soal baso bakar di media, lalu seorang teman memberi komentar kalo di Depok ada juga baso bakar yang rasanya ngga kalah enak. Penasaran lah saya, jadi tadi siang sepulang dari kerjaan lepas di Hotel Bumi Wiyata, saya mengajak doi ke Cilodong yang lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi hotel yang berada di simpang Depok (pertigaan Juanda). Ini kalau warung bakso nya tutup, jangan ngambek ya. Begitu katanya, sambil menatap matahari yang masih terik dan panasnya terasa menyengat di kulit. 

Baliho nya yang segede gini mudah untuk dicari

Setelah kurang lebih setengah jam, sampai lah kami di warung bakso yang lokasinya strategis banget jadi mudah dicari. Lokasinya persis tidak jauh dari pusat perbelanjaan Giant. Waktu kami sampai, parkiran nya udah penuh, pengunjungnya juga ramai. Wah kayaknya beneran enak nih! Begitu pikir kami, lalu kami memesan dua porsi baso bakar tanpa lontong dan satu porsi baso malang rudal. 

Karena warung penuh, saya ngga bisa nyamperin tempat ngebakar basonya.
Jadi jepret dari luar kaca.

Meskipun pegawainya ngga pakai seragam tapi mereka cepat pelayanannya. Jadi kita ngga perlu nunggu lama meskipun ramai. Harga yang dijual pun menurut saya standar, ngga mahal-mahal amat dan ngga terlalu murah juga. Kalau terlalu murah bisa dicurigain juga kan keaslian dagingnya, hehehe.. Dari rasanya, saya dan Brew ketagihan. Dia bilang, besok-besok harus ke sini lagi. Panas, macet dan gerah yang tadi kita rasakan saat perjalanan ke sana pun hilang.

Kenyang sekenyangnya sampai ngga bisa berdiri

Sebagai arek malang asli yang memang pecinta baso, Baso Bakar Putra Arema ini menurutnya enak banget. Dan porsinya juga lebih banyak dibandingkan yang biasa ada di Malang. Kalau bandingin sama Baso Bakar Pahlawan, masing-masing punya cita rasa sendiri. Kalau Baso Bakar Pahlawan menggunakan bumbu kecap yang sudah dicampur cabai dan bawang mentah serta bawang goreng sehingga ada tingkat pedasnya, di Baso Bakar Putra Arema bumbu baso bakar yang digunakan adalah seperti bumbu sate, yaitu bumbu kacang lengkap dengan acar nya. Jadi di Baso Bakar Putra Arema makan baso bakar dilengkapi dengan lontong. Masing-masing punya keunikan. Yang akan selalu bikin kita kangen buat balik lagi. 

For your information
Lokasinya ada di Jalan Raya Tole Iskandar, Cilodong Depok
Kalau dari Jalan Juanda, tinggal lurus aja terus cari putar balik yang ke arah Cilodong. Terus ikutin jalan aja lurus sampai mentok lalu belok kiri. Dari situ ngga jauh, lokasinya di depan Giant Cilodong agak maju dikit. Untuk harganya, seporsi rata-rata 13 ribu rupiah. Itu seporsi udah bikin kenyang banget. Cuma yang jadi pertimbangan adalah lokasi nya yang jauh dari mana-mana. Hahaha. Tapi rasa mengalahkan segalanya. Selamat mencoba!

Selama lima hari perjalanan (27 November - 1 Desember), penginapan di Phuket Town ini lah yang setidaknya paling asik dan kesannya honeymoon banget. Hahaha.. Seumur-umur nginep di hotel ngga pernah keren, karena selalu nyesuaikan budget. Namanya Casa Blanca Boutique Hotel, lokasinya strategis banget terletak pas di perempatan depan gedung tua (aduh lupa namanya). Jadi pas hari kedua kita muter-muter Phuket Town, sekalian lah kita reservasi. Baru inget, ternyata hotel ini sebenernya rekomendasi nya Mink, pemilik Cozy Coco Apartment. Nah pas kita lagi jalan-jalan mau ke taman tengah kota, kita ngelewatin hotel ini.

Brew masuk duluan buat reservasi besok

Setelah pulang dari trip ke Kepulauan Similan, kita ngga punya banyak waktu buat main-main lagi karena kecapean abis berenang seharian. Jadi setelah balik dari pasar malam Talad Kaset, kita hanya duduk-duduk bentar sambil ngobrol di tengah taman kota (menyerupai alun-alun). Menertawai kekonyolan trip kita, setelah kamera kecebur dan jam tangan saya hilang di pantai Patong. Juga, acara wisudaan Brew yang "sengaja" dilupain dan baru keinget pas kita udah di antah berantah. Malam pun berlalu cepat, paginya kita dijemput ke pelabuhan, melanjutkan perjalanan ke Krabi. Untuk pelayaran ke Krabi, saya memesan agent kapal ferry yang supaya kita bisa singgah ke pulau Phi Phi. Ciee, akhirnya ke pulau Phi Phi. Hahaha.. Norak makes our journey's awesome, doesnt it?

Kapal ferry milik Andaman Wave Master ini punya dua jadwal. Nah kita ngambil rute Phuket - Phi Phi - Krabi. Berangkat jam 8 pagi, sampai di Koh Phi Phi jam 11 siang. Kemudian berganti kapal, lanjut ke Krabi berangkat setengah 4 sore. Lalu sampai Krabi sekitar mendekati sunset.

View asik dari kapal

Silaaaau men!

Saat menjelang sampai ke Koh Phi Phi, dari kapal kami disuguhi pulau-pulau berbentuk karang. Di beberapa spot juga terlihat adanya kapal-kapal kecil yang membawa turis berkeliling. Ah sayang sekali, selama di Koh Phi Phi kami ngga ikutan tour Maya Bay. Karena kita cuma punya waktu 4 jam transit selama di sana. Ada kejadian lucu, kapal kami yang transit di pelabuhan Tonsai, Koh Phi Phi ternyata ngga lama parkirnya. Mereka hanya menurunkan penumpang saja. Kami hampir aja kebawa ke pulau lain karena kapalnya langsung menuju ke Koh Lanta. Kejadiannya karena pas nurunin penumpag di Koh Phi Phi saya lagi di kamar mandi. Dan ternyata pas saya keluar, kapalnya udah 10 meteran jalan ninggalin pelabuhan. Jadilah kami teriak-teriak ke awak kapal. Para crew pun langsung ngasi aba-aba buat balikin arah kapal ke pelabuhan Tonsai. Huft! Kami loncat dan langsung dadah-dadah ke kapal.

Dadah-dadah ke kapal. Hampir aja kebawa!

Berhubung kami berdua ngga mau repot bawa-bawa carrier, kami menitipkan tas di kantor administrasi pelabuhan. Cukup bayar 20 Baht aja satu tas. Karena tujuan utama kita ke Phi Phi ya karena mau nanjak sampai ke View Point. Peta udah kita foto, selanjutnya kami jalan menelusuri gang-gang hingga akhirnya kami nyasar!

Jalanan area turis di Koh Phi Phi
Kayaknya asik yah bermalam di sini


Kenapa kami nyasar? 
Karena banyak sekali belokan yang bikin bingung. Sementara plang "View Point" dan jalur yang ada di peta agak sedikit berbeda. Dan doi kekeuh nyari jalan pintas nyesuain sama yang ada di peta. Jadilah kami siang bolong sampai ke perkampungan warga, yang jalannya udah bukan jalan turis lagi. Kanan-kiri banyak kebon dan rumah warga yang sebagian besar memelihara ternak. Pokoknya kami sampai sendirian, udah ngga ada lagi orang yang lewat. Jalanan yang dilalui lumayan lebar, yang sepertinya memang dilalui kendaraan roda empat. Matahari pun semakin terik dan kami semakin lelah. Hingga akhirnya ada mobil pick up yang sedang membawa banyak kardus yang lewat dan saya berhentikan. "Hitching ah sekali-kali biar kayak Ejie." Senyum saya pada nya. Pak supir pun mau mengantar kami sampai ke View Point. Karena bagian belakang sudah agak penuh kami pun berdiri. Ceritanya ... saya simpan ya buat anak cucu kami. Hehehe ..

Kami pun diturunkan pas di depan plang bertuliskan "View Point". Tulisan ini ditulis seadanya dan ditancap tepat di pohon. Pepohoan yang ternyata merupakan jalan masuk ke hutan. Ternyata dari hutan itu, kami masih harus sedikit nanjak lagi. Huaaah, sambil ngelap keringet. Jalan cuma berdua. Disitu saya agak sedikit parno. Sambil jalan kami ngobrol, sampai ketemu bule juga yang baru turun. "Oh ada juga ternyata yang lewat sini." Tapi jarang banget, itu pun mereka semua arah turun. Oya selama melewati hutan, saya ngga berani foto-foto. Setelah satu jam jalan menanjak, akhirnya kami sampai di pos View Point. Bayar tiket lalu kami menaiki tangga lagi.

PeePee or Phi Phi?

Semuanya terbayar saat kami sampai ke puncak! Duileh puncak, cuma nanjak sejam doang. Hehehe.. Dan memang terbayar kok. Sampai di atas, pemandangan yang disajikan bikin mata ngga bisa merem. Sayangnya matahari udah di atas kepala. Langit jadi agak over. Tapi tak apa lah, di akhir November ini kami udah beruntung banget dapat langit yang cerah.

Tadi kita jalan dari ujung sana!
Sambil nunjuk ke pelabuhan Tonsai yang sebesar titik

Sambil minum jus jeruk dan air kelapa muda, kami nikmati siang yang sebentar ini di warung yang memang cuma ada satu di puncak. Tidak banyak turis di sini. Bisa dibilang sepi. Paling ada pun mereka ngga lama-lama, cuma mampir foto terus beli air minum lalu turun lagi. Macam joging aja. Di sini kami duduk-duduk lumayan lama, sampai akhirnya kami kelaparan karena jam makan siang udah lewat. Kami pun mencoba turun melalui jalan yang saya lihat beberapa kali dilewati turis. Ternyata ini jalur yang benar! Disitulah kami menyadari, kalau kami nyasar pas naik tadi. Jalur turis ini lebih rapi dan berbentuk anak-anak tangga. Kanan-kiri juga banyak toko, hostel dan penginapan.

Di jalan kami mampir ke toko pakaian. Seorang bule asal Jerman yang ternyata sudah tinggal 6 tahun di Krabi menyapa kami. Ia bertanya, kenapa ya banyak turis asia yang suka ngabisin duitnya buat beli oleh-oleh, kamu juga? Saya pun menjawab sambil tersenyum, saya beli buat saya sendiri kok. Ngga ada budget buat ngasih orang-orang. Hahaha.. Tawa pun pecah. Saya dapat satu sarung bermotif gajah. Lalu kami jalan bareng dan diantar kan ke pantai Loh Dalum. Kapan-kapan kalau ke Koh Phi Phi lagi, katanya kami dipersilakan menginap di penginapannya. Lalu kami menikmati makan siang di jejeran warung makan di pantai Loh Dalum. 

Setelah makan, kami pun langsung terburu menuju pelabuhan. Di sana ternyata sudah ramai. Sempat terlibat percakapan lama dengan crew kapal karena kami belum sempat check in di stand Ao Nang Princess yang terletak di area pertokoan. Karena waktu keberangkatan yang mepet akhirnya kami diperbolehkan masuk. Sebelum kapal berangkat, saya coba browsing di Agoda hostel murah di Krabi. Karena udah capek nanjak tadi, kami pun tidur di kapal. Hanya dapat satu view ini aja lalu lanjut tidur lagi.

Ayo itu apaan?


Kami sampai di pelabuhan Ao Nang tepat sebelum matahari tenggelam. Lalu kami memperoleh service tumpangan dari Ao Nang Princess untuk ke penginapan masing-masing. Awalnya kami sudah reserve untuk drop di Mini House Ao Nang (rekomendasi Mink). Namun di perjalanan kami melewati Lanna Beach Guest House, penginapan yang belum sempat saya book pas di Koh Phi Phi. Kami pun minta berhenti saat itu juga. Lalu menuju penginapan itu yang tentunya kami pilih karena jauh lebih murah dari penginapan yang direkomendasikan Mink. Memang lebih murah sih, untuk double bed kami hanya kena charge 700 B/room. Tapi ternyata kamarnya ada di lantai paling atas yaitu lantai 4, tanpa pakai lift!


Tuk-tuk yang pertama kami naikin ada di Krabi
Trotoar lebar sepanjang jalan menuju pantai Ao Nang

Habis naro tas di kamar dan sholat, kami bergegas menuju pantai mengejar sunset. Nggak terlalu jauh dari penginapan sih. Karena sudah kelihatan di ujung jalan langit mulai berwarna jingga. Kami habiskan sore terakhir di pantai Ao Nang. Menikmati senja dan matahari yang kembali keperaduannya. 

Takkan pernah bosan. Dengan kamu.

Setelah matahari tenggelam, kami berjalan kaki menyusuri jalan yang sejajar dengan garis pantai.Trotoar yang lebar, memudahkan para turis menikmati sepanjang jalan yang di kanan-kiri nya dipenuhi pertokoan souvenir. Beberapa kali kami disapa dan diberikan brosur cabaret show oleh para ladyboy yang amat heboh dengan dandanan kabaretnya. Malam pun semakin larut, perut meraung waktunya makan malam. Sambil jalan balik ke penginapan, kami mampir ke Lemon Seafood Restaurant yang tidak jauh dari penginapan. Karena harga seafood di sini bisa dibilang lebih murah dibandingkan di Jakarta, di sini kami memuaskan diri sampai nambah-nambah. Kenyang. 

Pagi hari esok nya kami lebih santai, karena penerbangan kembali ke Jakarta agak siang. Kami memesan seat bus mini untuk ke bandara, melalui agen travel yang terletak persis di sebelah penginapan. Lalu kami dijemput, ehm agak molor dari jadwal sih tapi karena kami pesan 2 jam sebelum keberangkatan jadi kami masih punya waktu longgar. Bandara Krabi ini termasuk bandara kecil, dari terminal 1 ke terminal 2 jaraknya tidak terlalu jauh, cukup berjalan kaki saja. Kami menunggu di bawah sambil makan pop mie nya Thailand (suka banget yang rasa bebek). Saya pun tersadar, ternyata nama Krabi diambil dari kepiting. Terlihat dari baliho besar bertuliskan "Welcome to Krabi" dengan gambar kepiting yang besar. Mungkin maksudnya Krabi dari crab kali ya. Hehehe.

Perjalanan 2 jam pun dilanjutkan ke Penang, nggak langsung ke Jakarta. Lho kok ke Penang? Lagi-lagi setelah transit di SIngapur, kami iseng transit di Penang, Malaysia. Kata temen-temen sih Penang tempat wisata kuliner. Pas sampe bandara, kami pun buru-buru nyari bus ke kota. Karena belum sempat nukerin receh, kami bolak-balik jajan ke toko yang bisa balikin receh. Hal itu karena kalau naik bus di Malaysia kita musti nyiapin receh karena uang nya langsung masuk ke box, ngga ada kembalian. Sayang juga kalo 50 ringgit harus ludes gara-gara ga ada receh. 

Tiket bus yang ada di Penang

Karena ngga ada persiapan, kami cuma dapet info tentang George Town, dari mbak-mbak yang duduk disebelah saya sehabis sholat Zuhur. Itu pun kami ngga tau harus turun di mana. Bolak-balik nanya sama supir bus, yang ternyata baik kami pun dikasih tau bakal turun dimana. Tapi karena miss-communication kami malah jadi turun di antah berantah. Akhirnya kami cuma makan, terus balik lagi ke bandara. Beneran kan, wisata kuliner di Penang. Hahahaha saat kembali ke bandara kami hanya menertawakan sisa-sisa waktu yang sangat mepet. Di tambah lagi ternyata maskapai penerbangan kami L*on Air dari Penang ke Medan jadwalnya dipercepat 2 jam. Dan hal tersebut sudah diberitahu lewat email 2 hari sebelumnya. Pret! Mana sempet baca email orang lagi liburan. Jadilah kami ketinggalan pesawat. Untungnya, pihak maskapai mau mengganti tiketnya karena kasian kali ya. Mereka sebenernya juga kesal, karena yang mengubah jadwal tiba-tiba itu dari pihak maskapai yang ada di Indonesia. Waktu itu hanya ada tiga orang. Saya, si suami dan satu orang Indonesia juga. Alhamdulillah syukur banget ternyata mereka mau bantu sampai kami mendapatkan tiket pesawat penerbangan ke Medan berikutnya menggunakan maskapai lain.

Kenapa sih kita musti transit berkali-kali? Ke Medan pula. Hahaha.. Alasannya tentu saja biar bisa dapet tiket yang lebih murah. Penerbangan pulang pergi CGK-HKT di tanggal segitu lagi mahal-mahalnya. Makanya sekalian deh saya puter-puterin biar makin kerasa jalan-jalan nya. Hehehe.. Mampir ke Medan, sudah pasti saya membungkus dua gulung bolu meranti rasa keju yang makannya aja mungkin setahun sekali, itupun karena ada temen yang mau dititipin. Jadi kalau ada yang nanya, ngapain transit ke Medan. Jawabannya "Bolu Meranti!".

Perjalanan yang takkan terlupakan. Bersama kamu. Lima hari yang selalu saja masih teringat di kepala. Walau ada beberapa hal detail yang saya lupa, karena sepanjang jalan kita selalu ngalamin hal-hal yang tak terduga. Juga cara kamu yang ngga pernah nyebut Baht, tapi Beri karena penampakan mata uang Thailand yang mirip sama mata uang di anime kesukaan kita. Petualangan di Penang yang bener-bener ngga penting, ketinggalan pesawat, nyasar ke hutan-hutan, kamera yang kecebur, jam tanganku yang hilang, hampir kebawa ke Koh Lanta, nyasar ke pecinan mesen mie pake minyak babi, berapa kali makan pop mie nya Thailand yang rasa bebek (waktu di kapal juga), berapa kali makan seafood yang murah meriah, semua sunset yang kulihat bersama kamu, dan akhirnya paspor kamu yang udah keisi empat cap negara (termasuk Indonesia ya). Let's wander as long as we're still alive! To make a story for tomorrow!


Perjalanan itu bukan tentang jauhnya, atau tentang menuhin cap di paspor.
Tapi tentang setiap momen yang akan kita ceritakan di esok nanti.