Kalau ditanya, ke Malaysia enaknya kemana ya? Saya pasti jawab Melaka!
Bukan berarti saya udah kemana-mana di negara tetangga kita itu, jujur aja baru dua kota yang sudah saya singgahi, hehehe.. Melaka dan Penang. Jadi saya jawab berdasarkan pengalaman pribadi tanpa pembanding yang berarti. Yes! Kota pertama yang saya kunjungi di negara tetangga kita ini adalah kota tua bersejarah yang cantik bekas jajahan Portugis, bukan Inggris ya guys. Menjelajahi Melaka ini sebenarnya ide spontan habis dapet bisikan maut dari Si gadis timur. Tiket promo pulang pergi Jakarta-Singapura, membawa saya dan ke empat teman perjalanan saya sampai ke Melaka. Habis mau gimana lagi, di Singapura lagi ada Singapore Grand Prix yang mana beberapa jalan ditutup karena jadi lintasan balap. Jadilah di hari ketiga kami di Singapura kami putuskan untuk menjelajah Melaka selama dua hari semalam.
Lima tenda terpasang, dengan tenda cinta saya ada ditengah-tenagh
Anyway, kanan kiri ada warung sama musholla. Hahaha..
Setelah ngga puas snorkeling di Pulau Dolphin bulan April lalu (tulisan menyusul), si pacar kekeuh ngajakin lagi melaut. Doi lagi ketagihan banget nyemplung-nyemplung setelah berani lepas pelampung dan mulai keasikan pake fins. Pas banget, di grup What's App yang sepi itu tiba-tiba ada yang ngepost ngajakin trip ke Pulau Pahawang, Lampung. Beberapa kali ada yang menanggapi dengan pertanyaan, "Kapan? kapan? kapan?" Namun tidak mendapat balasan. Akhirnya saya pun berinisiatif untuk langsung japri TS nya, si Bang Matz ini yang emang trek jalan-jalannya keliling Indonesia udah ngga keitung lagi. "Bang jangan PHP dong, minat nih nanti gue bantuin cari massa." Begitu lah sampai setengah memaksa akhirnya diputuskan tanggal 23 Oktober kemarin kami berangkat, H-9 plan kami tercetus dan dalam jangka seminggu kami harus dapet 14 orang biar budgetnya minim.
Aloha!
Udah hampir setahun usia pacaran kita #eh usia nikah ding. Tapi belum pernah sekalipun saya posting tentangnya. Yaiyalah, nikah itu kan urusan pribadi, apalagi kawin. Hahaha. Mungkin beda lagi kayak Rafi - Gigi yang suka banget bikin kehebohan sampe honeymoon nya aja diikutin media. Saya cuma mau share sedikit tentang tetek bengek kawinan kita yang ngurusin nya aja bikin kita jadi nggak liburan selama tiga bulan, dan setelah selesai acara bukannya langsung jalan-jalan, yang ada saya manggil tukang urut karena kecapean!
Sambil dengerin lagunya Jown Powell - Kiss and Cake, yang jadi soundtracknya P.S. I Love You, menulis tentang persiapan pernikahan ini serasa baru kemarin aja nikah, padahal udah hampir setahun. Bahagia banget rasanya, bukan seperti habis menemukan harta karun, tapi seperti sedang terbang ke langit berpegangan tangan dan melihat dunia! Semua tulisan udah saya rangkum dan tinggal pilih mau baca bagian mana. Happy reading!
Dari semua tetek bengek kawinan diatas, intinya kita bikin acara nikahan yang di rundown nya ngga banyak foto-foto bareng ngga jelas. Bukan acara yang kita hanya salaman tanpa tahu siapa yang salaman ama kita (meskipun beberapa ada dari kalangan tamu orang tua). Kita maunya berbaur sama temen-temen dan sodara. Suasana kebun yang adem, di tambah es milo siang-siang, pemandangan yang bikin mata sejuk, serta tawa dan riang dari teman-teman yang datang membuat kita tak bisa melupakan momen paling bahagia ini.
Special guests!
All wedding photos courtesy of Yusway Photography. If you need further info of vendors, then put comments below also your email.
Wedding Organizer
Sebenarnya dari awal nyusun rencana kawinan, saya ngga nyewa Wedding Organizer atau singkatnya WO. Dikarenakan tentu aja budget, denger-denger sih sewa WO itu biayanya bisa sampe 25% dari total budget nikahan. Makanya saya pun akhirnya ngurusin semuanya sendirian dibantu oleh adik sepupu saya Yuli yang masih kuliah di Bandung.
Seragam resepsi team WO, pas akad mereka pake seragam formal hitam.
Dari kiri ke kanan: Gendon, Bram, Sigit, Yuli, The Groom, The Bride, MC Mbak Lala, Sobo, Hanif, dan Fajar
Mulai dari cari lokasi, pesan dan design undangan, souvenir, bridal dan make up, entertainment, dekorasi dan katering, semuanya saya yang cari, survei, bikin detail sampai tahap pembayaran dan memastikan semuanya oke. Orang tua saya ngga saya libatkan, paling ayah ngurusin penghulu sama buku nikah, dan mama hanya ngurusin pengajian seminggu sebelum acara. Kan ngga mau ngerepotin, biar mereka tinggal duduk manis aja di pelaminan. Paling untuk beberapa hal saya konsultasi dengan mama biar mantep bikin keputusan untuk memilih vendor.
Setelah belibet ngurusin wedding sampe saya kena cacar (ini sembuhnya lumayan lama, sampai dua minggu libur ngga masuk kerja), adik saya Yuli yang pernah punya pengalaman jadi team wedding organizer beberapa kali di Bandung ini, mendapat paksaan dari teman-teman setim nya ini agar mereka ikut andil sama kawinan saya. Awalnya saya ragu, karena budget untuk wedding organizer ngga ada. Mereka pun menawarkan diri setengah memaksa, "Ngga dibayar juga ngga apa-apa mbak, kami seneng kok bisa bantu mbak Yuli." Begitulah rayuan maut mereka, sampai saya mengiyakan. Dua kali pertemuan, saya yang mengurus transport dan penginapan mereka.
Gladi bersih di hari sebelum acara.
Gambar kiri: Diskusi dengan Fajar dan Gendon
Gambar kanan atas dan bawah: Team WO menjelaskan rundown acara ke keluarga besar
Mereka menamakan teamnya Syailendra Wedding Organizer (SWO). Mereka ternyata asik-asik. Muda-muda juga, sekitar 4 tahun lebih muda dari saya. Mereka benar-benar membantu saya dalam mengatur rencana pernikahan ini. Kami (saya dan SWO) mendatangi vendor yang sudah saya sepakati sebelumnya satu per satu. Mereka ingin memastikan setiap vendor yang sudah sepakat bekerja sama untuk kawinan saya. Mereka juga membantu menyelesaikan masalah-masalah kecil yang timbul saat menyiapkan kawinan ini. Selain merapihkan perencanaan yang sudah saya susun, mereka juga memberikan ide-ide yang sama sekali ngga terlintas di pikiran saya. Seperti lepas balon dan dekoratif tambahan yang menggambarkan kita banget.
Hasilnya kita puas banget sama kinerja mereka. Dan kayaknya mereka ngga tidur deh pas malem sebelum acara. Mereka benar-benar all out mengerahkan tenaga agar acara pernikahan kita lancar ngga ada hambatan. Setelah acara selesai, mereka pun mengajak saya dan Brew untuk evaluasi, dan mereka menjelaskan adanya beberapa kekurangan-kekurangan yang terjadi saat acara. Saya hanya tersenyum, dan mengungkapkan bagaimana puas nya kita dengan bantuan mereka. "Teman-teman pengen hadiah trip dua hari satu malam di Pulau Seribu, atau cash aja nih?" Dan mereka pun hanya tersenyum malu. Malamnya, Yuli mengirim pesan ke saya, "Mereka pengennya cash aja mbak." Hahahaha.. Alhamdulillah masih ada budget, malam itu juga saya transfer langsung ke rekening Yuli.
Foto kiri ke kanan: Galuh, Lele, Hana, Nisa dan Gusma
Harusnya ada tujuh orang, karena yang satu lagi keliling Indonesia timur ngga pulang-pulang
dan satu lagi tiba-tiba sakit baru pulang jalan-jalan. Huft!
Selain SWO, teman-teman terdekat ada juga yang membantu saya di hari-hari sebelum acara. Bahasa gaulnya sih mereka disebut Bridemaids. Bantu bikin DIY buat dekor, bikin baju nikahan, nemenin nyari bahan, ngasih ide buat undangan, ngurusin souvenir, bantu nyebarin undangan, dan kerennya lagi ada yang bantu nyumbang lagu! Hahaha.. Mereka dateng sebelum akad nikah, Nisa juga sampe nginep karena rumahnya jauh banget. Mereka ngiringin aku ke tempat akad setelah ijab qabul.
Menjalankan sebuah acara yang once in a lifetime ini, harus dipersiapkan dengan matang. Dan itu membutuhkan berbagai pihak untuk mewujudkannya. SWO yang paling banyak kerja pas acara juga menjadi jembatan antara kita, keluarga, semua vendor, dan panitia dari tetangga, dan temen-temen. Dan acara ngga akan sukses kalo kita ngga kompak, maka adanya mediasi dan koordinasi yang diadakan sebelum hari H itu penting. Kalau mau bikin kawinan yang ngga ribet kayak gitu, emang paling enak bikin acara yang undangannya dibawah seratus orang. Cuma keluarga dan temen aja, bikin di rumah atau sewa villa kecil yang unyu pasti asik banget. Hanya saja.. hanya saja, kami ingin membahagiakan orang tua. Because in seeking happiness for others, you find it for yourself.
If you need further info of vendors, then put comments below also your email.
Photo and Video Documentation
Sesi foto setelah akad
Untuk foto kita percaya kan sama Yusway Photography, dimana founder nya adalah temen setim saya sekarang freelance. Dulu sih waktu kita minta tolong sama dia, saya dan Indra baru ketemu sekali karena jual beli lensa. Kami COD an di Pasfest, dia minat sama lensa tamron 17-50mm f2.8 yang jual dan akhirnya dipake juga pas wedding kita. Lucu nya sih, sekarang kita join-an buat Prewedding dan Wedding Photo yang jadi usaha sampingan saya selain jadi programmer lepas dan istri yang memanjakan suami di rumah. Hahaha. Ngobrol sama dia udah kayak teman lama, meskipun baru sekali ketemu, waktu saya minta tolong buat jadi fotografer di kawinan saya dia langsung nerima dan nyanggupin banyaknya permintaan saya yang aneh, contohnya buat motoin boots.
Back to topic, saya memberikan keleluasaan Indra untuk mengeksplore acara kawinan saya, karena menurutnya pernikahan kita ini terbilang unik dan dia belum pernah dapet job seperti yang saya kasih ke dia. Banyak minta dan seru kata nya. Padahal saya hanya minta dokumentasi mulai dari sebelum acara sampai acara beres. Ngga perlu editing, cetak foto dan album, yang penting ada dokumentasi aja. Dengan tema seperti ini, kalau pake photographer profesional yang kayak ada di Boho Weddings, budgetnya pasti ga jauh beda sama budget Catering.
Enaknya sama Indra itu dia bisa diajak kooperatif. Menyesuaikan sama apa yang kita pengen. Saya ngga perlu foto studio, saya juga ngga banyak-banyak foto di pelaminan kecuali sama keluarga dan beberapa teman. Saya hanya mau dia ngikutin saya pas berbaur sama tamu, dan juga sekalian foto setelah akad biar kayak prewedding.
Thanks a lot ndra!
Yang jadi perhatian dari dokumentasi kawinan kita adalah kurangnya fotografer. Hasil foto Indra buat kita memuaskan banget, hanya aja ada beberapa detail kecil yang miss. Biasanya detail kecil ini dijepret sama asisten fotografer misalnya para penerima tamu, souvenir, foto-foto candid tamu dan keluarga, makanan yang dihidangkan dan sebagainya. Sayangnya sebelum hari H, Indra ngga bisa dapetin asisten fotografer, ia hanya bawa asisten buat megangin reflector dan setting alat. Teman-teman saya banyak juga yang bisa motret, tapi ngga ada yang mau dimintain tolong karena mereka maunya jadi tamu! Hehe.. Dari pengalaman sebagai fotografer kawinan, kalau sendirian bisa berabe deh pegel dan ngga ada back up. Hasil jepretan Indra memuaskan, lihat aja semua foto di bawah hasil jepretannya. Mungkin akan lebih kece lagi kalau pake kamera fullframe dan lensa bukaan lebar. Sekarang baru kepikiran, kenapa dulu ngga sewa aja ya. Hahaha.
Untuk video, saya ngga perlu repot-repot cari videographer, karena dari team WO sendiri udah ngasih bonus video documentary yang direkam pake lensa fix 50mm. Video dikirim setelah sebulan nikah kayaknya. Dokumenter nya unik dan ngga berlebihan, fokus ke bagian penting dan tiap nonton jadi senyum-senyum sendiri.
Berikut hasil jepret-jepretan nya Indra, yang lainnya bisa dilihat di setiap postingan Wedding Preparation kita yang hampir semuanya hasil jepretan Indra.
All wedding photos courtesy of Yusway Photography.
If you need further info of vendors, then put comments below also your email.
Wedding Favors
Bicara tentang souvenir nikahan, pasti langsung kepikiran "Aduh bakal dipake ngga ya ini, atau cuma dibawa pulang trus dipajang? Atau malah cuma ditaro aja di sembarang tempat dan ngga berkesan?" Itu lah serentetan alasan kenapa souvenir kawinan juga mesti dipikirin. Hey! Ini bukan acara bagi-bagi permen. Gimana caranya sesuatu yang kita kasih ke orang terdekat ini bakal berguna buat mereka dan bagusnya mereka inget sama hari bahagia kita, hehe.
For my special friends!
Mengingat saya dan pacar ini suka jalan-jalan, kadang kita butuh banget tempat buat naro barang-barang kecil kayak headlamp, kartu-kartu, tiket, charger dsb. Maka dapet lah ide buat bikin pouch yang bisa dipake buat nyimpen barang-barang yang mudah bececeran. Tadinya mau kita bikin pake bahan kanvas biar keliatan vintage gitu, tapi ternyata mehong dan akhirnya kita pake kain blacu dengan tambahan busa sehingga mudah dicuci. Saya bikin souvenir pouch ini di Pasar Jatinegara, dengan mbak Yani. Oiya, kalau bikin di sana pake design sendiri, jangan lupa bawa hardcopy kalo mau ada design gambar atau teks, mereka ngga nerima softcopy. Huft! pantes aja itu gambar postcardnya rada nge-scretch ke samping.
Ada dua model, yang satu temanya musik. Satu lagi temanya jalan-jalan.
Ini pouch nya lagi kami bawa pas kemping di pantai, isinya charger, kartu poker, headlamp,
dan perintilan kamera
Untuk pengemasan, tadinya kita mau bikin paper bag sendiri tapi karena keterbatasan waktu akhirnya pesen juga sekalian sama mba Yani. Modelnya sih waktu itu lagi ngetrend, dengan bahan hardpaper yang agak glossy, trus dicetak dengan warna pilihan kita. Jadi lah kemasan paper box kecil sederhana dengan diberi tali biar lucu. Untuk tag ucapan terima kasih dan pengambilan souvenir, kita dapet free dari cetak undangan. Jadi designnya udah fix, kalau mau beda musti nambah lagi. Dah males ribet, setelah semua sampai di rumah kami tinggal nambahin pita dan masangin tag ucapan terima kasih. Lumayan gempor juga ngiketin 500 biji dibantu sama mama dan siapa aja yang lagi main ke rumah kita repotin. Hahaha.. Kenapa jadi sebanyak itu ya? Sebenarnya saya sengaja lebihin meskipun tamu nya ngga sampe 75% nya. Biar semua kebagian, dan bagi-bagi ke keluarga yang ngga bisa hadir. Untuk pembagian souvenir, sebagian kita kumpulin menggunakan keranjang rotan, dan sisanya menggunakan paper box besar.
Paper bag yang lagi ngehits dikawinan tahun kemaren
Kalau bisa memutar waktu, saya pengen ganti bahannya pake kanvas deh, beneran. Karena setelah dipikir-pikir lagi budget kita masih cukup dan kita bisa bikin yang lebih awesome. Tapi itu ngga terlalu penting juga sih, karena akhir-akhir ini ternyata banyak laporan kalo pouch kita itu dipake sama temen-temen sampe bulukan dan ada juga yang ilang di luar negri terus minta lagi. Untung masih ada sisa. Masih ada empat buah lagi nih, ada yang mau?
If you need further info of vendors, then put comments below also your email.
Sound and Entertainment
Untuk menyesuaikan budget, kita pake jasa pengiring musik yang biasa di pake dikawinan, yang saya dapet dari weedingku.com. Tadinya mau ngundang Float, tapi.. tapi .. cuma mimpi. Jadi lah kita pake jasa PAO Entertainment. Untuk runding-rundingan masalah harga agak susah sama mbak Icha nya ini, soalnya saya request nambah-nambah mulai dari ganti keyboard akustik, trus nambah mic dan sound system buat akad. Hehe.. Overall bagus sih, cuma kurangnya pas lagi wedding entrance, lagu pengiring "Anata" ngga dimainin sama pianistnya, tapi pake laptop. Disitu saya merasa sedih. Padahal udah nambah budget buat sewa pianist bukan organ tunggal. Bedain ya guys, karena secara bunyi yang keluar dari kedua instrumen itu berbeda.
What I really remembered about the songs they played was when they played "I remember" by Mocca
Paket yang saya pake itu trio akustik, terdiri dari vocalist, pianist dan saxophonist. Vokalis nya sendiri kita bisa request mau nya sama siapa, tinggal cek aja youtube nya di sini. Pengennya si mas Opet, pasti kalo nyanyiin lagu-lagunya Sandhy Sandoro keren abis. Udah terpesona banget waktu dia nyanyiin When I See You Smile nya Bad English. Sayang doi udah di book sama acara kawinan lain di tanggal yang sama. Akhirnya kita pake mbak Emma di vocalist, mas Gatot di pianist dan mas Daniel di saxophonist.
Karakter suara nya mba Emma agak berat, cocok buat lagu-lagu jazz
PAO Entertainment menyediakan pula sound system berikut juga mic wireless nya. Sebelum hari-H mereka survei tempat juga untuk memastikan kondisi lapangan. Saya sempat bertemu dengan salah satu kru yang survei ke lokasi. Sebenarnya dari Griya Alam Ciganjur sendiri menyediakan sound system yang bebas dipakai namun watt nya kecil yang hanya cukup untuk akad. Saya ngga berani ambil resiko menggunakan sound system dari GAC karena akad kami di lakukan di ruang terbuka. Karena paket untuk Trio Akustik hanya dari jam 11 pagi sampai jam 1 siang, maka untuk sound akad kami dikenakan charge.
Mbak Lala agak saltum nih, mungkin ngga nemu kebaya warna peach ya.
Masalah Master of Ceremony, saya sempat kebingungan cari sana sini. Sempat dapet rekomendasi dari nikahan temen di Bintaro tapi rate nya mahal bingits sehingga kami pun urung dan mulai cari-cari lagi sampai H-sebulan masih belum dapet. Nah, iseng-iseng pas lagi dapet job motret di Depok, nemu lah MC yang suara nya aduhai. Sepanjang acara akad dan resepsi di kawinan orang ini, saya mengamati nya ini dan sesekali berbisik di sampingnya. "Mba Lala, tanggal 23 November ada job ga?" Jadi lah kami deal dengan rate yang masih masuk kantong. Meskipun rumah mba Lala jauh di Cileungsi sana, ia mau belain dateng buat meet up sama kami dan team WO. Orangnya enak dan mau diajak kerja sama. Setelah acara kelar pun, kami masih saling kontakan. Terutama waktu high heels nya mba Lala ketinggalan dan saya musti ngirim ke rumahnya! Hahaha..
Thanks Gusma sumbangan lagunya!
If you need further info of vendors, then put comments below also your email.
Wedding Bridal and Make Up
My only one wedding gown.
Baju design sendiri yang aku pake pas akad dan resepsi.
Gaun nikahan saya cuma satu helai aja, warna putih gading. Pertama saya hunting ke Pasar Mayestik berdua sama Riri, lumayan lah bisa mampir ke tempat jahit langganannya Riri, Neni Modiste namanya. Tapi ngga langsung ketemu sama Bu Neni nya. Terus karena di serang demam dan pusing, saya langsung pulang tanpa dapet bahan. Ternyata saya kena cacar! Barulah tiga minggu setelah itu saya baru bisa balik lagi ke Pasar Mayestik sama Hana buat bantuin saya yang buta mode ini buat milihin bahan dan juga nentuin design.
Pinter ih bisa pake dasi sendiri
Atas saran (sebenarnya dia maksa sih) dari sahabat saya yang demen shopping ini, gaun nikahan saya ini designnya simple, dengan tambahan sedikit payet dan batu swarovski. Terus dibagian belakang ditambahin pita lebar dan menjuntai talinya.
Setidaknya dari simplenya gaun ini ada yang sedikit mencolok di bagian belakang Mudah-mudahan ni gaun ngga dikalahin ama tamunya, hahaha..
Selain wedding dress, tentunya ngga lengkap kalau ngga ada wedding shoes. Untuk yang satu ini, adalah sesuatu yang unik dari kawinan saya. Tanpa kepikiran mau nikah sama siapa, yang pasti dari dulu gue punya niat pas kawin gue harus pake sneakers! Tet toooot.. ternyata atas saran dari tantenya temennya adik sepupu ku Yuli yang juga team WO, saya disarankan untuk lihat-lihat dulu sepatu boots. Eh, ternyata boots membuatku jatuh cinta. Dan langsung jalan ke margo city buat hunting. Ngga kepikiran buat nyari sepatu beneran merk-merk kapitalis kok, karena budget kawinan sebagian besar dialokasiin buat jalan-jalan a.k.a honeymoon. Hahaha.. Akhirnya saya dapet middle boots di Payless, yang dikardusnya ketulis merk Brash dan sepatu pacar Medley dapet di Taman Puring! Harganya standar lah, dan masih sering kita pake ke acara-acara kondangan atau jalan-jalan santai aja. Kamu pake heels? Saya pake boots!
Ngga perlu yang mahal-mahal, yang penting bisa dipake lagi kapan pun.
Untuk urusan make up, ngga perlu repot-repot cari MUA yang ngehits kayak Sanggar Liza, karena pasti harganya selangit dan jadwalnya padet. Alasan yang pasti sih karena saya ngga suka make-up an! Hehehe.. Malahan rencananya mau pake si tante nya pacar yang punya salon juga di Malang, tapi udah di booking sama keluarga pacar buat make up in semua keluarga besar nya yang perempuan.
Ngalah deh, jadi pertama saya coba datengin MUA kenalan dari Catering. Ternyata... oh ternyata MUA nya laki-laki dan .. gondek! Aduh ngga jadi deh, besoknya saya coba googling-googling dan dapet Maharani Boutique yang lokasinya di Cinere, setengah jam dari rumah deket banget. Mbak Elly dan suami nya yang punya butik ini, ramah banget. Waktu datengin workshopnya yang penuh dengan gaun-gaun ala barat ini, berasa di rumah sendiri. Semua gaun bisa saya cobain, meskipun akhirnya untuk gaun kawinan saya jahit sendiri karena semua koleksinya semerbak dan hebring banget.
I dont really like it! Lebih kesemsem sama design flower crown yang dipake pas resepsi
Mawar warna yang sama juga di design buat dijadiin corsage sama mbak Elly
Untuk hiasan di kepala saya memesan flower crown dari KnitKnot, yang sekarang udah ada di tangan tante saya yang dari awal udah ngincer flower crown saya buat si adek sepupu. KnitKnot ini produknya handmade, jadi bisa semingguan kalau mau pesen yang simple aja. Sayangnya flower crown ini saya pake hanya pas resepsi aja. Pas akad dipakein mawar aseli warna peach, kirain aku bakal kecil banget ternyata lumayan gede juga.
Pas lagi foto bareng Fita,
cuma foto ini yang menampakan flower crown saya dari samping dan belakang
All wedding photos courtesy of Yusway Photography. If you need further info of vendors, then put comments below also your email.
Wedding Invitation
Dari awal bikin undangan, saya dan Brew tak ada niat bikin posting undangan via social media. Karena kami ngga bikin acara heboh kayak ngundang banyak orang yang cuma kenal-kenal aja. Sometimes, saya merasa sedih jika diundang lewat social media, atau lewat whatsapp. Duh, kok kayaknya ngundangnya ngga niat gitu. Makanya hampir semua undangan kita kirim lewat pos.
Untuk tempat cetak undangan, kami dapat info dari teman dekatnya si pacar. Dari Andit, kami langsung memantapkan diri untuk menggunakan jasa Citra Printing. Sebelumnya saya sudah googling buat baca-baca feedback dari pengguna jasa Citra Printing, dan ternyata bagus. Kurang nya hanya satu saja sih, CEO nya, Bapak Nizar ini galaknya minta ampun.
Design undangan kita sebenarnya udah ada di koleksinya Pak Nizar. Baru ada satu, mungkin karena masih baru. Terus kita ubah banyak-banyak, mulai dari jenis tulisan, ngga pake foto pribadi, ngga pake cat timbul, ngga pake warna, dan kita ubah total bagian sampul depan dan belakang! Hahaha intinya yang bikin sama hanya layout hardcopynya. Di mana terdiri dari sampul seperti amplop tanpa tutup dan juga bagian dalam yang hanya terdiri dari satu halaman hardcopy tebal.
Design mentah format JPEG yang selalu diupdate sama mba Winna via email
Karena kami ngga boleh ngopy format CDR designnya, maka untuk merancangnya kita berkonsultasi dengan mbak Winna, asisten nya Pak Nizar di bagian design. Mbak Winna orangnya sabar banget buat nurutin maunya saya. Berhubung lokasinya jauh banget dari kantor, kita SMS an, telpon-telponan dan email-emailan buat konfirmasi design. Saya yang komat kamit soal design, yang ngerjain CDR nya mba Winna. Akhirnya kami deal setelah kami datang untuk kedua kalinya ke workshop Citra Printing dan dilakukan proses print design dan tanda tangan langsung di atas nya. Berapa lama jadi nya? Sekitar tiga minggu setelah tanda tangan, satu minggu molor dari yang dijadwalkan.
e-Wedding Invitation
Halaman paling depan yang saya ambil dari foto pas lamaran
Trus buat apa kita bikin e-invitation? Hahaha.. masa anak IT ngga punya undangan berbentuk website sih? Jadilah e-invitation ini sebenernya cuma formalitas biar lengkap aja gitu di undangan. Hehehe, ngga buang-buang tenaga kok apalagi uang. Saya dan pacar ngga pusing-pusing buat ngehire orang. Kita sendiri yang buat dan kita hanya modal beli domain nama aja. Trus masalah design, si pacar ini bukan tipe yang kekinian, jadi kita bikin web dengan tema klasik. Jadilah web simple di mana design saya yang buat, dan coding murni si pacar yang ngurusin.
Website klasik ini terdiri dari empat halaman. Pertama adalah halaman depan "Home" yang cuma nampilin gambar sepasang cincin. Alkisah saya dan pacar ngga punya foto prewedding, karena dari awal kita ngga mau all out buat masang foto-foto berdua. Akhirnya saya dapet foto cincin yang diambil oleh Aan pas kami lamaran dan kami pasang di halaman paling depan. Ah, cute kan?
Engagement Rings pas lamaran yang aku pake buat halaman depan.
Photo by Arnanto Akbar
Selanjutnya di halaman "Our Story", ada short video yang bercerita when, where and how we met. Video simple yang pacar saya buat pake PowToon, gratisan lagi kan. Kalau dilihat-lihat lagi, saya merasa sedikit alay. Hahaha.. Tapi kealayan itu yang justru bikin cerita kita ngga akan pudar dimakan jaman.
Nah yang paling penting dari sebuah undangan kawinan adalah "Directions", cara menuju ke lokasi resepsi. Ini nih yang saya udah wanti-wanti dari awal. Lokasi resepsi kita itu ada di Ciganjur, sebuah desa di pinggiran Jakarta yang jauh dari mana-mana. Makanya sampe LatLong nya kami cantumin, biar teman-teman yang lokasi nya jauh dan dari luar kota ngga nyasar dan kebagian kambing guling. Tapi apa mau dikata, biar pun rata-rata udah pada pake GPS, masih banyak aja yang nyasar. Ada satu rombongan dateng pas pacar saya udah ganti kaos gara-gara nyebur. Hahahaha yaudah lah, yang penting bisa makan bareng di akhir acara!
Dan halaman terakhir adalah "Counting Down!". Gambar peta dunia yang juga merupakan bagian belakang dari undangan hardcopy kita. Kata-katanya itu loh yang bikin saya deg-degan tiap baca. Everytime we talked about our dreams, everytime we shared our love. It always makes my heart flutter, like millions of butterflies dancing around my belly.
Saya snapshoot dari website kita yang bentar lagi expired karena sewa domain kami hanya satu tahun.
Sempetin posting deh mumpung belum ilang dari peradaban
Dan di akhir postingan ini saya ngga akan kasih tahu kenapa nama website nya bisa sepanjang itu. Untuk penggemar film 500 Days of Summer pasti udah tau kenapa. Buat yang belum tahu, silakan tonton dulu filmnya! Hehehe.. This is a story of Dhian meets Niken.
Interested in our simply e-wedding invitation? Call us! If you need further info of vendors, then put comments below also your email.