Wedding Organizer

November 05, 2015

Wedding Organizer

Sebenarnya dari awal nyusun rencana kawinan, saya ngga nyewa Wedding Organizer atau singkatnya WO. Dikarenakan tentu aja budget, denger-denger sih sewa WO itu biayanya bisa sampe 25% dari total budget nikahan. Makanya saya pun akhirnya ngurusin semuanya sendirian dibantu oleh adik sepupu saya Yuli yang masih kuliah di Bandung.

Seragam resepsi team WO, pas akad mereka pake seragam formal hitam.
Dari kiri ke kanan: Gendon, Bram, Sigit, Yuli, The Groom, The Bride, MC Mbak Lala, Sobo, Hanif, dan Fajar

Mulai dari cari lokasi, pesan dan design undangan, souvenir, bridal dan make up, entertainment, dekorasi dan katering, semuanya saya yang cari, survei, bikin detail sampai tahap pembayaran dan memastikan semuanya oke. Orang tua saya ngga saya libatkan, paling ayah ngurusin penghulu sama buku nikah, dan mama hanya ngurusin pengajian seminggu sebelum acara. Kan ngga mau ngerepotin, biar mereka tinggal duduk manis aja di pelaminan. Paling untuk beberapa hal saya konsultasi dengan mama biar mantep bikin keputusan untuk memilih vendor.

Setelah belibet ngurusin wedding sampe saya kena cacar (ini sembuhnya lumayan lama, sampai dua minggu libur ngga masuk kerja), adik saya Yuli yang pernah punya pengalaman jadi team wedding organizer beberapa kali di Bandung ini, mendapat paksaan dari teman-teman setim nya ini agar mereka ikut andil sama kawinan saya. Awalnya saya ragu, karena budget untuk wedding organizer ngga ada. Mereka pun menawarkan diri setengah memaksa, "Ngga dibayar juga ngga apa-apa mbak, kami seneng kok bisa bantu mbak Yuli." Begitulah rayuan maut mereka, sampai saya mengiyakan. Dua kali pertemuan, saya yang mengurus transport dan penginapan mereka.

Gladi bersih di hari sebelum acara.
Gambar kiri: Diskusi dengan Fajar dan Gendon
Gambar kanan atas dan bawah: Team WO menjelaskan rundown acara ke keluarga besar
Mereka menamakan teamnya Syailendra Wedding Organizer (SWO). Mereka ternyata asik-asik. Muda-muda juga, sekitar 4 tahun lebih muda dari saya. Mereka benar-benar membantu saya dalam mengatur rencana pernikahan ini. Kami (saya dan SWO) mendatangi vendor yang sudah saya sepakati sebelumnya satu per satu. Mereka ingin memastikan setiap vendor yang sudah sepakat bekerja sama untuk kawinan saya. Mereka juga membantu menyelesaikan masalah-masalah kecil yang timbul saat menyiapkan kawinan ini. Selain merapihkan perencanaan yang sudah saya susun, mereka juga memberikan ide-ide yang sama sekali ngga terlintas di pikiran saya. Seperti lepas balon dan dekoratif tambahan yang menggambarkan kita banget.

Hasilnya kita puas banget sama kinerja mereka. Dan kayaknya mereka ngga tidur deh pas malem sebelum acara. Mereka benar-benar all out mengerahkan tenaga agar acara pernikahan kita lancar ngga ada hambatan. Setelah acara selesai, mereka pun mengajak saya dan Brew untuk evaluasi, dan mereka menjelaskan adanya beberapa kekurangan-kekurangan yang terjadi saat acara. Saya hanya tersenyum, dan mengungkapkan bagaimana puas nya kita dengan bantuan mereka. "Teman-teman pengen hadiah trip dua hari satu malam di Pulau Seribu, atau cash aja nih?" Dan mereka pun hanya tersenyum malu. Malamnya, Yuli mengirim pesan ke saya, "Mereka pengennya cash aja mbak." Hahahaha.. Alhamdulillah masih ada budget, malam itu juga saya transfer langsung ke rekening Yuli.

Foto kiri ke kanan: Galuh, Lele, Hana, Nisa dan Gusma
Harusnya ada tujuh orang, karena yang satu lagi keliling Indonesia timur ngga pulang-pulang
dan satu lagi tiba-tiba sakit baru pulang jalan-jalan. Huft!

Selain SWO, teman-teman terdekat ada juga yang membantu saya di hari-hari sebelum acara. Bahasa gaulnya sih mereka disebut Bridemaids. Bantu bikin DIY buat dekor, bikin baju nikahan, nemenin nyari bahan, ngasih ide buat undangan, ngurusin souvenir, bantu nyebarin undangan, dan kerennya lagi ada yang bantu nyumbang lagu! Hahaha.. Mereka dateng sebelum akad nikah, Nisa juga sampe nginep karena rumahnya jauh banget. Mereka ngiringin aku ke tempat akad setelah ijab qabul.

Menjalankan sebuah acara yang once in a lifetime ini, harus dipersiapkan dengan matang. Dan itu membutuhkan berbagai pihak untuk mewujudkannya. SWO yang paling banyak kerja pas acara juga menjadi jembatan antara kita, keluarga, semua vendor, dan panitia dari tetangga, dan temen-temen. Dan acara ngga akan sukses kalo kita ngga kompak, maka adanya mediasi dan koordinasi yang diadakan sebelum hari H itu penting. Kalau mau bikin kawinan yang ngga ribet kayak gitu, emang paling enak bikin acara yang undangannya dibawah seratus orang. Cuma keluarga dan temen aja, bikin di rumah atau sewa villa kecil yang unyu pasti asik banget. Hanya saja.. hanya saja, kami ingin membahagiakan orang tua. Because in seeking happiness for others, you find it for yourself.

If you need further info of vendors, then put comments below also your email. 

You Might Also Like

2 comments

  1. Nikeenn,,kok mantap bnget sihhh,, udah bisa bikin EO wedding ni nantinya..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rista?
      Hahahahah mampir dong ke www.sundayportrait.com

      Delete