12 Jam di Bumi Kartini

September 07, 2011

Saya tiba di Jepara dini hari subuh setelah menjelajahi Kepulauan Karimun Jawa selama 4 hari. Saya menulis tentang perjalanan solo traveling saya ini lebih dahulu karena perjalanan ini masih begitu terngiang di pikiran saya karena baru kemarin sore saya mengucapkan selamat tinggal pada bumi kartini Indonesia, Jepara. Saya melakukan solo traveling di kota ini pada awalnya untuk mengisi waktu kekosongan menunggu keberangkatan bus yang akan saya tumpangi ke Jakarta. Selain itu karena kota ini idak terlalu besar, maka untuk pertama kalinya saya berani melakukan perjalanan sendiri tanpa ditemani siapapun. 

Setelah hampir 7 jam terombang-ambing di KM Muria dan terkena hembusan angin dingin sejak malam hari, saya tiba di pelabuhan Kartini pukul setengah 5 pagi. Melalui gerbang di dekat warung yang memiliki sedikit celah untuk dilalui, saya masuk ke pantai kartini untuk mencari masjid. Melalui celah gerbang ini saya tidak perlu membayar retribusi masuk ke pantai sebesar 7 ribu rupiah berkat informasi dari seorang nelayan di Karimun, hehe.

Matahari mulai muncul, saya berjalan kaki di sepanjang pantai Kartini. Saya duduk di ujung dermaga perahu sapta pesona yang menyebrangkan turis ke Pulau Panjang. Sambil makan roti yang saya beli di depan masjid, saya melihat ke air laut. Muncul segerombolan ikan, lalu saya lempar sepotong roti untuk mengumpulkan para ikan itu seperti yang pernah saya lakukan ketika snorkeling. Tapi segerombolan ikan itu malah ngeloyor hilang ke dalam laut. Sepertinya perilaku ikan di pinggir pantai yang ramai beda ya dengan ikan-ikan di tengah laut yang sepi. hehe.. Pantai Kartini kelihatan sangat kotor dengan sampah dan banyak sekali berjejalan warung-warung tenda yang menjual makanan. Kata penduduk sekitar, warung-warung non-permanen ini hanya ada pada saat habis lebaran sampai lebaran ketupat, yaitu seminggu setelah hari raya Idul Fitri. Nanti setelah perayaan lebaran ketupat, warung-warung ini akan bubar dan pantai Kartini akan kembali bersih seperti sebelumnya.



Saya melanjutkan mencari sarapan karena sebungkus roti tidak cukup memenuhi perut saya hehe. Saya menikmati semangkuk mie ayam bakso yang dijual persis di sebelah Kura-kura Ocean Park. Saya sedikit geli dengan pemandangan penyu besar yang dinamakan Kura-kura Ocean Park, jelas-jelas itu patung penyu kenapa namanya kura-kura..haha!


Kura-kura (*Penyu) Ocean Park

Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke pulau Panjang yang letaknya hanya 15 menit dari pantai Kartini. Untuk menuju pulau Panjang, kita harus membeli tiket seharga 12 ribu rupiah. Lagi-lagi saya adalah pembeli pertama selain di warung mie ayam bakso tadi. Karena masih pagi, belum banyak pengunjung yang datang jadi saya diharuskan menunggu hingga perahu penuh dengan penumpang. Saya menunggu hampir satu jam. Hal ini saya manfaatkan dengan berbincang-bincang dengan bapak-bapak abk pengantar turis ke pulau Panjang. Di tengah obrolan, seorang bapak asal Sulawesi sempat menakut-nakuti saya dengan kejadian penemuan mayat seorang wanita. Kalau saya takut untuk melakukan perjalanan, saya gak akan bisa kemana-mana pak, hehe.. seperti kata pepatah "Worrying gets you nowhere". Saya pun kemudian diberi kesempatan untuk menjadi announcer dengan mengajak para pengujung untuk membeli tiket ke pulau Panjang. Untung suara saya sudah kembali seperti semula setelah hilang waktu di Karimun, hehe.

Perahu ke pulau Panjang

Jadi announcer

Pulau Panjang dengan pasirnya yang putih, untuk masuk ke pulau ini ternyata kita dimintai lagi retribusi yaitu sebesar 5 ribu rupiah. Hmm tapi dengan kondisi pantai yang penuh dengan sampah membuat saya membayar dengan terpaksa. Di pulau Panjang terdapat sebuah makam dan sebuah mercusuar. Ada beberapa orang yang sengaja melakukan ziarah ke makam ini. Terdapat jalan setapak di sepanjang pulau. Kita dapat memutari pulau ini dalam waktu setengah jam. Tapi saya urung, mengingat kondisi tubuh saya yang mulai melemah gara-gara duduk semalaman di dek atas KM Muria.


Pantai Pulau Panjang

Jalan setapak di pulau Panjang

Setelah mencapai makam, saya beristirahat sembari mengobrol dengan seorang pengunjung yang membawa keluarganya ke sana. Setelah hampir satu setengah jam, saya melanjutkan perjalanan ke lokasi mercusuar.   Namun, semakin jauh saya berjalan kaki, ternyata semakin sepi dan tak ada orang lain selain saya. Karena rasa lelah dan sedikit takut karena sekeliling jalan adalah hutan, akhirnya saya berhenti dan kembali ke dermaga untuk kembali ke pantai Kartini. Dari pantai Kartini, dengan menyewa becak 10 ribu rupiah saya diantar ke terminal Jepara untuk membeli tiket kembali ke Jakarta. Di perjalanan si bapak tukang becak menawarkan saya untuk mengitari Jepara selama sejam. Selain ke terminal, saya diajak jalan-jalan ke Pasar Jepara 1, memutar-mutar daerah Pengkol mencari ATM, ke alun-alun dan terakhir ke Museum Kartini. Berikut foto yang saya ambil dari becak.



Suasana rindang kota Jepara

Untuk masuk Museum Kartini, saya membeli tiket sebesar 3 ribu rupiah. Di dalam museum ini berisi sejarah tentang Kartini dan barang-barang yang digunakannya selama masa hidupnya. Di sini saya beristirahat di kursi panjang di bawah pohon besar. Suasana yang sepi dan rindang membuat saya hampir tertidur. Matahari sudah di atas kepala, saya meninggalkan museum Kartini untuk mencari masjid. Tak jauh dari museum Kartini ada masjid milik tentara. Setelah sholat zuhur saya melanjutkan perjalanan untuk mencari makan siang sekaligus kuliner.




Setelah mendapat info dari seorang teman di Jepara, di belakang museum Kartini ternyata ada Shopping Center Jepara, atau sering disebutnya SCJ. Saya menemukan sebuah warung sate Solo yang agak ramai. Namun, karena masih penasaran dengan warung-warunmg lain DI SCJ saya berjalan-jalan mengitari SCJ. Tapi sepertinya tidak ada yang membuat saya tertarik dan akhirnya saya kembali ke warung sate Solo tadi. Warung itu sudah ramai sekali. Saya pesan satu porsi, tapi kata si penjual sudah habis. Oh tidak, saya sudah tak sanggup lagi melangkah karena lelah dan lapar. Akhirnya saya hanya duduk di samping warung sambil merasakan aroma asap dari sate yang sedang dipanggang. Saya bertemu dengan ibu pemilik warung. Tanpa saya sadari saya merayu-rayu si ibu untuk menyisakan 5 tusuk sate saja kalau ada. Sepertinya si ibu kasihan dan menyuruh saya menunggu. Dan ternyata memang masih tersisa 8 tusuk. Ah bahagaianya saya waktu itu. Hehehe.. tapi lagi-lagi hal buruk menimpa saya, nasi putihnya habis. Hanya tersisa satu centong saja alias seperempat porsi saya biasanya. Ah ya sudahlah, berarti saya memang diharuskan untuk makan lagi di luar.

SCJ - Shopping Center Jepara

Dalam waktu kurang dari 15 menit saya menghabiskan satu porsi sate kambing yang rasanya..hmm enak sekali. Andai saja bisa nambah. Setelah itu si ibu menyuruh para karyawannya untuk bersih-bersih. Saya masih sangat lelah untuk langsung meninggalkan warung itu. Jadi saya memohon pada si ibu untuk tetap tinggal di warung itu sementara para karyawannya membersihkan warung. Saya berbincang-bincang dengan si ibu. Ketika saya menanyakan tentang lokasi Taman Makam Pahlawan, si ibu menawarkan saya untuk diantar oleh anaknya. Tentu saja saya tidak menolak, dari pada saya harus berjalan kaki sepanjang 300m menanjak, hehe!

Ternyata karyawan di warung satenya itu adalah anak-anak dari si ibu. Si ibu tidak mau memberi tahu namanya, karena di sana masih ada guna-guna, jadi warung satenya hanya dinamakan Warung Sate Kambing Solo. Saya diantar ke TMP, seperti seorang tour guide mereka menjelaskan kepada saya tentang TMP tersebut, kemudian tentang benteng Portugis yang ada di sana, serta GBK atau Gelora Bumi Kartini yang letaknya bisa terlihat dari TMP. Dari TMP jg bisa terlihat pesisir sepanjang Jepara, ada pantai Kartini dan pantai Bandengan. Saya tidak sempat ke pantai Bandengan karena jam 5 sore saya harus sudah di terminal. Setelah itu saya diantar ke pusat seni ukir di desa Mulyoharjo yang letaknya tidak jauh dari TMP.

TMP


Pusat Seni Ukir Jepara

Kembali ke SCJ, saya diajak minum es gempol khas Jepara di warung-warung tenda di depan SCJ. Dulunya PKL atau pedagang kaki lima di sana berjualan di alun-alun tapi saat ini sudah dipindah ke depan SCJ. Jika hari mulai sore, di sana akan sangat ramai.


Sate kambing Solo dan Es Gempol

Jam menunjukkan pukul setengah 5 sore, saya pamit pada ibu pemilik warung dan kedua anaknya. Terima kasih ibu, mas agus dan mas wahyu yang sudi mengantar saya keliling Jepara. Suatu saat saya akan kembali ke warung ibu menikmati sate terenak di Jepara!

You Might Also Like

4 comments