Me, The next 10 years

September 12, 2011

Saat lelah meng-coding, yang saya lakukan adalah berhenti sejenak dan mendengarkan lagu. Menikmati setiap alunan dari suara gitar, piano, perkusi dan alat musik lainnya yang bisa menenangkan jiwa sambil melayangkan pikiran entah ke mana. Atau pada saat di perjalanan ketika sedang di dalam angkot, elf, bus atau metromini di mana saya sendiri tanpa teman berbincang, maka pikiran saya akan melayang jauh. Melamun, itu lah yang saya lakukan ketika sedang menganggur dan memang tak ingin melakukan apa-apa. Lamunan yang paling membuat saya tertarik dan ingin terus tenggelam jauh ke dalamnya adalah lamunan tentang masa depan. Sedang apa saya 10 tahun nanti, bersama dengan siapa, di mana, apa profesi saya, dan tentunya sebahagia apa saya nanti.

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.  
Eleanor Roosevelt

Sesuai dengan jurusan yang saya ambil, saya ingin menjadi seorang programmer handal yang dapat menghasilkan produk-produk IT yang berguna bagi orang banyak. Dan 10 tahun kemudian saya dapat menikmati jerih payah saya di masa muda. Terkadang pikiran itu jauh lebih tidak masuk akal, saya menjadi seorang entertainer yang bekerja di sebuah perusahaan televisi swasta sebagai pembawa acara perjalanan seperti Jejak Petualang. Atau menjadi seorang editor majalah travel. Atau seperti yang ayah saya inginkan, menjadi seorang enterpreneur. Dengan modal yang beliau berikan, saya bisa membuka sebuah cafe di Bandung atau membuka butik berdua dengan teman saya. 

Dan sore tadi ketika selama hampir satu jam berada di metromini jurusan Tebet-Ragunan, pikiran saya melayang semakin tak keruan. Setelah lulus kuliah, saya bekerja di sebuah perusahaan swasta di Belanda selama dua tahun. Dengan modal yang saya miliki setelah bekerja di luar negri, saya membuka usaha restaurant dan melakukan traveling keliling Indonesia bersama dengan seorang teman yang bekerja satu kantor dengan saya di Belanda. Entahlah dia menjadi jodoh saya atau bukan, yang pasti di setiap perjalanan yang kami lakukan kami sangat menikmatinya. Menyelam di Wakatobi, menikmati boat cruising di Raja Ampat, atau bermain bersama jellyfish di Kakaban. 

Bekerja menjadi seorang guru adalah cita-cita saya sejak SMP, ketika pertama kalinya saya mencintai pelajaran Fisika. Dan menjadi seorang pengajar adalah profesi yang saya inginkan setelah menikah dan memiliki banyak anak. Saya urung untuk melanjutkan sekolah lagi, yang artinya saya tak mungkin bisa menjadi seorang dosen. Jujur saya lebih menikmati belajar di "sekolah alam", belajar langsung dengan masyarakat, belajar langsung dari setiap melakukan perjalanan dari pada harus belajar di sekolah atau di universitas. Mungkin ini pikiran dangkal yang dapat saja berubah kapan pun. Pikiran-pikiran dangkal yang muncul ketika lamunan-lamunan saya bermain dengan bebasnya.

Masih banyak lagi hal-hal gila yang terlintas di kepala saya ketika saya melamun, dan pikiran tentang masa depan saya yang paling kuat adalah ketika usia saya mencapai kepala tiga, saya sudah menjelajahi seluruh dunia. Itulah impian yang benar-benar ingin saya wujudkan. 

You Might Also Like

0 comments