Membuka Mata di Kepulauan Karimun Jawa (part 1)

Tuesday, September 13, 2011

Photobucket
Pertama kali saya tersadar betapa indah alam bawah laut Indonesia. Saya menyesal kenapa tidak dari dulu belajar berenang, dan tentu saja penyesalan itu semakin menjadi ketika beberapa bulan yang lalu saya ke Gili Trawangan tanpa melakukan snorkeling. 

Indonesia, negara berkepulauan terbanyak di dunia. Saya bangga menjadi anak Indonesia, yang pastinya memiliki banyak kesempatan untuk menikmati setiap sisi indah laut. Dan kesempatan itupun saya dapatkan ketika mengunjungi Kepulauan Karimun Jawa, Jepara. Berawal dari rasa gelisah karena cinta dan hampir 4 bulan tidak melakukan traveling saya berangkat sendiri dari Semarang ke Jepara. Tidak banyak persiapan karena dadakan, akhirnya saya putuskan untuk ikut travel agent ke Karimun Jawa dengan tipe Backpacker yang paling murah, hehe. 

Tiba di dermaga Kartini pukul setengah 6 pagi dengan diantar oleh ibu, om, adik, dan sepupu *lengkap satu rombongan. Ibu begitu ingin mengantar kepergianku menuju rombongan dari travel agent yang berkumpul di tiang bendera di lapangan dermaga Kartini, aah betapa malunya saya yang sudah sebesar ini masih saja diantar. Dengan dibekali salam cium dan peluk dari ibu, saya berangkat meninggalkan mereka. Saya bertemu dengan mbak Waty yang mengatur keberangkatan rombongan ke pulau Karimun. Saya diberi tiket yang di atas nya tertulis Rp 28.500 untuk masuk kapal KM Muria kelas ekonomi. Beruntung sekali saya dapat kursi, karena ternyata banyak sekali penumpang yang tidak kebagian tempat jadi terpaksa mereka harus duduk di dek atas kapal. Tidak terbayang terkena sengatan matahari langsung selama 6-7 jam. 


Sampai di pelabuhan pulau Karimun pukul 13.40, saya tetap sendiri tanpa bergabung dengan  satu rombongan travel agent. Di pelabuhan ini kami baru bergabung setelah hampir satu jam kami saling menunggu di aula dekat pelabuhan. Kami langsung diantar ke penginapan. Penginapan yang saya tempati adalah sebuah rumah milik sepasang kakek nenek di daerah timur Karimun yang lumayan jauh dari pusat keramaian. Awalnya saya sempat merasa kecewa, karena dari paket yang saya pilih, di belakang penginapan ada pantai pribadi. Tapi saya tidak melihat sedikitpun aura pantai, tidak ada suara ombak dan tidak ada angin laut. Yang terlihat justru kebun seperti di kampung tempat tinggal saya di Ciganjur, ada pohon jambu, mangga, kandang ayam, dan kebun belakang rumah yang rindang karena banyak sekali pohon. Tetapi kemudian si empunya rumah menjelaskan bahwa memang ada pantai pribadi di belakang rumah, kita diharuskan jalan kaki melewati kebun lalu sampai di Villa milik orang Perancis. Disitulah pantai pribadi yang dimaksud. Karena si kakek adalah pengurus villa tersebut jadi kita diperbolehkan maen di pantai itu. Seperti inilah view yang saya dapat di pantai belakang penginapan. 








Setelah matahari tenggelam, saya kembali ke penginapan. Karena sudah sakit sebelum berangkat, saya langsung istirahat di kamar yang saya tempati bertiga dengan backpacker asal Surabaya. Saya baru terbangun pukul 10 malam setelah saya ditinggal oleh satu rombongan yang pergi jalan-jalan ke alun-alun. Saya makan malam nasi bungkus yang dibawakan oleh mbak Ika. Sepertinya mereka sudah seperti keluarga saya sendiri sampai mengingatkan saya untuk makan, padahal baru bertemu pagi tadi. Hasil obrolan dengan backpacker asal Bandung, tengah malam pukul 11 saya bersama mereka dan Aldi menuju pantai di belakang rumah. Untuk apalagi kalau bukan untuk melihat bintang jatuh. Hehee, sepertinya ini sudah jadi ritual wajib kalo ke pantai. Dan memang, setelah 2 jam berbaring bersandar di dermaga depan vila menatap langsung ke langit, saya melihat beberapa bintang jatuh satu persatu..


Bersambung ...

You Might Also Like

2 comments

Subscribe