Pantai, penyu dan pantat

Tuesday, March 13, 2012


Sepertinya kata terakhir sedikit kasar, susah cari pengganti kata itu sih. Udah cocok banget buat dijadikan judul. Lalu ada apa dengan kata terakhir itu? apa hubungan dengan kedua kata sebelumnya? Let me tell you the story..

Pantai Ujung Genteng

Awalnya saya bersama dengan dua orang teman dari bike to campus bandung berencana  touring ke Pantai Cidaun, Cianjur. Tapi obrolan lepas dan ga jelas di lusa malam sebelumnya membuat kami merubah destinasi ke Ujung Genteng (UG -red), Sukabumi. Saya sudah pernah backpacking ke UG, namun karena keinginan yang besar untuk mencapai pantai Ombak Tujuh membuat saya yakin untuk pindah haluan ke sana. Selain itu mengingat view pantai Cidaun terlalu biasa untuk dijadikan objek foto.

Berangkat jam 8 pagi dengan mengendarai motor Scorpio. Kami menuju Padalarang lewat Cimahi. Lalu tembus ke Cianjur dan dilanjutkan ke Sukabumi. Dari Sukabumi kami lewat Lembur Situ langsung bablas ke desa Surade. Kemudian dari sinilah kami melanjutkan touring sambil hujan-hujanan. Langit gelap, kami pun sudah tak berharap lagi pada sunset. Dari desa Surade, pantai Ujung Genteng tinggal 22 kilometer lagi. 

Mau balik jauh, terusin ajalah tanggung..

Jam menunjukkan pukul 7 malam kami sampai di Ujung Genteng, hujan makin deras kami pun berteduh di sana. Tadinya kami mau bangun tenda di UG, namun karena salah satu teman saya ngidam sekali buat lihat penyu, akhirnya kami lanjutkan untuk menuju lokasi konservasi penyu di pantai Pangumbahan. Jalanan yang sebagian besar terendam banjir, dengan kondisi berpasir membuat kami sedikit kesulitan melewatinya. Apalagi malam hari disana tanpa ada penerangan sama sekali. Kami pun terjebak di jalanan yang putus karena air laut naik, hingga harus melewati kebun apa entah untuk sampai di pangumbahan. 

Hujan semakin deras. Jaket saya basah, dan baju satu-satunya yang saya pakai demek. Sampai di kantor konservasi, saya langsung menuju Aula tengah yang ternyata sudah di renovasi. Hmmm, saya menemukan kasur yang tergeletak begitu saja di sana. Tanpa aba-aba saya pun memasang posisi tidur yang enak. Pantat sudah ga berasa, tentu saja itu karena perjalanan 250 kilometer yang jalanannya sebagian tidak rata dan hancur. Dengan total waktu pulang pergi 25 jam. Ya, inilah REKOR saya naik motor dengan waktu terlama. 

Semalaman hujan tak berhenti. Jam 1 malam saya terbangun mendengar sebuah lagu yang akhir-akhir ini sering saya dengarkan. Baru kali itu saya menyaksikan band bandung favorit saya, Pure Saturday live di salah satu stasiun tv swasta. Oh ya, aula di Konservasi Penyu ini memang disediakan tivi besar yang suaranya bisa memenuhi satu ruangan. Sangat berbeda sekali ketika dua tahun lalu saya kesini. Saya pun melanjutkan tidur lagi karena hujan masih saja turun dengan derasnya. Boro-boro mau ke pantai liat penyu bertelur, bangun tenda diluar saja kami tak bisa. Penyu-penyu di sana akhir-akhir itu memang tak ada yang naik ke pantai, karena setiap malam hujan turun deras dan air laut dalam kondisi tinggi. 

Pantai pangumbahan, in such a long time ago.. you're still the same..

Pagi terbangun dengan malas. Jam 7 hujan baru berhenti. Saya pun sendirian berjalan kaki menuju pantai Pangumbahan. Sedikit bernostalgia, ketika dulu saya menghabisi waktu senja bersama dengan teman-teman saya. Jalanan menuju ombak Tujuh sedang tak bisa dilalui karena hujan semalaman membuat jalanan kesana hancur tak bisa dilewati. Kami lalu packing untuk kembali ke Ujung Genteng. Musibah pun menimpa kami, mulai dari melewati jalanan berpasir yang banjir dan jembatan satu-satunya penghubung pantai Cibuaya dan Ujung Genteng terputus. Terpaksa kami menunggu sampai air surut. Saya sih jujur saja senang harus berhenti dulu, karena bukan saja punggung yang masih pegal-pegal tapi juga pantat saya yang masih belum siap dibuat duduk lama lagi. Hehehee..

Pantai Cibuaya

Sampai di desa Surade, kami pun memutuskan kembali ke Bandung lewat jalan potong langsung ke Cianjur tanpa lewat Sukabumi dulu. Ternyata perkiraan kami salah, bukannya lebih cepat malah justru lebih lama. Jalan yang dilewati juga lebih jauh dan jelek. Ketika saya lihat plang dijalan -BDG 215- kilometer lagi, saya cuma bisa pasrah sambil berdoa, kalau saja motor ini berubah jadi ELF, pasti saya sudah minum antimo lalu tidur pulas, tak perduli kondisi jalan mau seperti apa.




Sepak terjang saat melewati beberapa musibah dijalan

Terima kasih buat temen-temen yang ngakunya 'bikers' karena ternyata mereka berdua gak ngecek jalur dan kondisi jalan dulu, sampai bikin saya mecahin rekor, terima kasih terima kasiiiih... *dalam kondisi kayak gitu saya berikrar tetap cinta ELF lebih dari apapun.

Di jalan pulang menuju Cianjur
nampang dulu sambil ngelurusin kaki

You Might Also Like

5 comments

Subscribe