A journey to the north of thousand islands

By Niken Andriani - Apr 18, 2012


Langit masih gelap, jalanan sepi. Jam menunjukkan pukul 4 dini hari. Saya melajukan kendaraan roda dua dengan membonceng ayah saya menuju stasiun Lenteng Agung, stasiun terdekat dari rumah saya. Demi bisa naek kereta paling pagi jam 4.50. Setelah 40 menit tertidur di commuter line, saya sampai di stasiun Kota. Dance, Ryan, dan Alan yang sudah sampai sejam sebelumnya dari Bandung menyambut saya dengan senyum lebar. Sambil menggendong ransel "Ya, hari ini kita akan berpetualang!"

Tanpa basa-basi kami langsung mencari taksi untuk menuju pelabuhan Muara Angke. Sebenarnya masih ada satu orang lagi yang kami tunggu dan membuat kami panik. Tapi daripada kami semua harus ketinggalan kapal yang pasti berangkat jam 7 pagi, mending satu orang saja yang ketinggalan. Hehehe.. Ferga, seorang teman dari Bekasi yang tiba-tiba mengirim sms ke saya di H-1, yang merasa jenuh dengan aktifitas kesehariannya, memaksa ikut.

Tujuan awal kami menuju Pulau Pari berbelok ke Pulau Harapan. Dari rencana camping satu malam pun jadi tiga hari dua malam. Juga tambahan satu personil pun dadakan. Sepertinya gaya dadakan sudah jadi style traveling kami. Di dalam kapal yang menuju Pulau Kelapa, saya dan Ferga telpon-telponan. Yasudahlah, akhirnya saya menyuruhnya naek taksi dari Bekasi. Tak ada setengah jam ternyata ia sampai juga di Muara Angke meski harus merogoh kocek seratus ribu. Kami komplit, perjalanan kami pun semakin seru karena kami berbarengan dengan rombongan koper yang dikepalai oleh Mira, si biang yang membuat saya pindah haluan ke Pulau Harapan. 

Bengong ... | Pulau Kayu Angin Bintang
Bersama genk koper waktu snorkeling bareng

Setelah tiga setengah jam terombang-ambing di kapal, kami sampai di Pulau Kelapa. Kami pun mencari jembatan yang katanya menjadi penghubung Pulau Kelapa dan Pulau Harapan. Setelah bertanya dengan tukang jualan yang lewat, ia tersenyum dan menjawab bahwa yang sedang kita tapaki ini adalah jembatannya. Lho? Tidak seperti yang kami bayangkan. Jembatan ini hanyalah jalan setapak biasa yang dibangun dengan cor blok. Bukan seperti jembatan yang melewati laut. Pulau Kelapa dan Pulau Harapan sangat dipadati penduduk. Sehingga saya melihatnya sudah tidak seperti pulau, tidak ada pesisir di pinggirnya. Tak mungkin kami bangun tenda di pulau ini. Setelah berbincang dengan bang Ilham, penduduk asli pulau Harapan yang sekarang sudah jadi teman saya ini, ia sedia mengantar jemput kami ke Pulau Perak, pulau yang nantinya kami tinggali selama tiga hari.


Hari pertama di pulau seribu bagian utara kami habiskan dengan snorkeling ke Pulau Genteng, melihat alam bawah laut, terumbu karang dan ikan warna-warni. Bermain pasir dan berfoto-foto ria ke Pulau Kayu Angin Bintang. Pasir putihnya menggoda mata. Kemudian snorkeling lagi ke pulau apa entah namanya saya lupa. Kalau udah nyebur jadi lupa segalanya. Hehehe.. Saat hampir senja, kami berlima ditinggalkan di Pulau Perak dan berpisah dengan rombongan koper. 


Dermaga pulau Perak

Senja hari pertama di pulau yang hanya berpenghuni satu keluarga ini membuat hari semakin sempurna. Dengan nyala api unggun kami berlima mulai merasakan kesunyian di pulau yang tanpa sumber listrik ini. Tapi kesunyian itu pecah karena pesta kecil yang kami buat untuk merayakan ulang tahun Dance. Apalagi di tengah malam, kami merasakan badai pasir karena angin kencang serta hujan sehingga kami harus berteduh sampai pagi esoknya di gubuk kecil milik pak Minang. Kalau ingat bagaimana paniknya kami malam itu, kami pasti tertawa terbahak-bahak. Norak deh!


Pagi kedua kami bangun kesiangan karena tidur di dalam gubuk begitu hangat sehingga kami malas sekali untuk bangun. Setelah sarapan seadanya, kami menyusuri Pulau Perak. Bertemu dengan banyak pari kecil yang bertotol-totol biru. Karena pari itu bahaya, maka kami menyusuri lewat bibir pantai yang berpasir...terlalu bahaya untuk sambil main air.  Langit semakin biru, sehingga refleksinya membuat warna air laut juga biru.

Masih di pulau Perak


Pantai Pulau Bira | photo by Ryan

Siang harinya pak Minang mengajak kami ke pulau Bira untuk menjemput satu rombongan lain yang juga akan menginap di pulau Perak malamnya. Segerombolan empat anak muda yang tidak jauh beda dengan kami, hanya saja mereka memilih untuk nge-camp di pulau bagian timur, berbeda dengan kami yang bangun tenda menghadap sunset. Makan malam kami dengan indomie rebus. Lalu bakar tedong, sejenis kerang laut yang dagingnya kenyal dan rasanya seperti kepiting. Main kartu di dermaga sampai larut malam, sambil menghitung bintang jatuh, dan menertawakan malam minggu. Berbicara tentang mimpi, tentang mimpi saya yang malam itu terikrar, saya harus punya kapal pesiar!


Kehangatan kami bersama senja dan api unggun
Esoknya, setelah sholat subuh kami mengejar matahari terbit. Kami berlari ke arah timur dan menjumpai golden sunrise yang sangat menawan. Yang membuat mata saya tak ingin berkedip saat matahari muncul dari garis horizon bumi. Saat itu dari bibir saya keluar pertanyaan, "Apa kita namai genk kita pengejar matahari ya?" Dan kami pun semua tertawa mengingat beberapa menit sebelumnya kami sampai ngos-ngosan menuju ke sini demi tak kelewatan peristiwa yang tak sampai lima menit untuk menerangi sebagian bumi ini..
Hi Sun! Good Morning..

Kami kembali ke Pulau Harapan di siang hari, kemudian menikmati makan siang yang nikmat di warteg sambil ditemani hujan deras. Jam menunjukkan pukul satu siang, kami dipanggil ke Kapal Dolphin untuk kembali ke Jakarta. Saya percaya suatu saat pasti saya akan kesini lagi, untuk memenuhi janji saya pada bang Ilham, pada orang-orang pulau, pada pulau-pulau yang masih milik orang pulau, dan pada pulau-pulau yang saya sayangkan ternyata sudah menjadi milik orang asing. 

Ramai dan sepi pantai di Gunung Kidul

By Niken Andriani - Apr 16, 2012

Kali kedua setelah dari Pantai Timang dua hari sebelumnya, saya mampir lagi ke desa yang seluruh pesisir selatannya dianugerahi pantai-pantai yang cantik ini. Karena rencana ke pantai Klayar yang gagal, saya diajak lagi untuk berpetualang menemukan pantai yang belum banyak terjamah. Sepertinya saya makin terbiasa duduk lama di kendaraan roda dua sejak touring ke Ujung Genteng. Dua jam naik motor sampai Gn Kidul? Kecil itu sih!

Berkat modal catatan kecil di buku jurnal "lonely planet" saya, kami menuju pantai Sundak, pantai yang bersebelahan dengan pantai Indrayanti. Dari pertigaan antara Sundak dan Siung kami belok ke arah Sundak. Katanya, pantai Indrayanti ini pantai kuta-nya Gunung Kidul. Ya memang benar, sampai disana tentunya ramai pengunjung dan suasana yang kami dapati sangat "berfasilitas" sekali, mulai dari parkir motor yang rapi dan warung-warung yang tersusun pada tempatnya. Ada juga restoran dengan suasana yang mantai.

Malas untuk langsung ke pantai, saya naik bukit kecil di sebelah barat. Begini pantai Indrayanti dari atas. Sudah seperti resort kan? Semoga pantai ini masih milik orang Indonesia, hehehe..

Pantai Indrayanti dari atas bukit

Di bawah bukit yang saya naiki, ada tebing-tebing yang bisa jadi objek foto. Atau dengan menyusuri pesisir pantai yang panjangnya sekitar 200 meter ini kita bisa berleyeh-leyeh dimana saja. Tapi jangan merasa terganggu jika banyak orang berseliweran, karena pantai ini memang ramai. Hal ini pun yang membuat saya merasa harus "pindah tempat". Berkat info dari tukang parkir (*jadi traveler itu harus gaul lho) saya mendapati sebuah pantai yang jaraknya hanya tiga kilometer ke arah timur dari Indrayanti, pantai Poh Tunggal namanya. Tanpa basa-basi kami menuju kesana mengejar sunset. 

Karena pantai ini belum banyak terjamah, plang bertuliskan "Poh Tunggal" pun hanya papan kayu sepanjang setengah meter dengan tulisan tangan. Kalau kita tidak awas, pasti kelewatan, sama ketika kami ke pantai Timang. Itu pun plang sedang tidak menancap, karena warga sekitar sedang bergotong royong membangun jalan seadanya. Jalan yang dilalui juga lumayan licin karena batuan kapur sehingga saya harus beberapa kali berjalan kaki. Tapi justru hal ini yang membuat senyum saya melebar, berarti pantai ini tak banyak orang, begitu pikir saya. Dan memang benar, di sana hanya ada satu motor milik pengunjung dan satu pondokan kecil milik seorang warga yang juga menjaga motor kami. Di pantai ini, kami cuma berlima. Saya dan teman saya, bapak penjaga, dan sepasang muda-mudi yang sedang memadu kasih di bawah pohon memandang ke laut. Romantis sekali, uyeah!

Bangku untuk berdua yang menghadap ke matahari tenggelam

Pantai Poh Tunggal
Semua pantai di pesisir Gunung Kidul bagi saya indah, tergantung kita mau pilih yang ramai berarti mudah diakses atau yang sepi tapi butuh perjuangan untuk mencapainya. Dan hari terakhir di Jogja pun, saya mendapati senja di pantai. Terima kasih Jogja! Thanks, I've got many memories here..

Saat menanti senja..

Kebun Buah Mangunan Jogja

Ini salah satu destinasi tak terduga ketika saya maen ke Jogja. Iseng buka kaskus, teman saya mengajak saya ke kebun buah Mangunan di daerah Imogiri. Kurang dari satu jam kami sampai ke sana. Lewat jalan ke arah parang tritis kemudian belok kiri ke arah Imogiri. Jangan takut nyasar, karena plang hijau bertuliskan kebun buah mangunan pun berdiri gagah di simpang pertigaan menuju perbukitannya. Jalan kesana juga bisa diakses kendaraan apa saja. Jalan yang mulus dan suasana yang sejuk membuat beberapa orang melaluinya dengan bersepeda.

Sampai disana kami hanya bertemu dengan buah jeruk! Ya ternyata pohon yang tumbuh dis ana kebanyakan masih setinggi tubuh saya. Beberapa waktu lalu salah seorang teman kuliah saya kesini katanya baru bibit saja. Beruntunglah kami sudah bertemu dengan pohonnya, meski belum bertemu dengan buah yang katanya kebun buah, hehehe..

Update status dulu ya mbak?

Tapi kami tak kecewa, pemandangan ngarai dan perbukitan yang luas memanjakan mata kami. Di salah satu sisi bukit memang dibuat area untuk memandangi karya Tuhan yang megah ini. 

Pemandangan ngarai



Tak bosan, sampai matahari mau tenggelam pun kami duduk santai sambil berbincang disana. Sampai kami menjadi pengunjung terakhir sore itu. Tak disangka memang, dari kota Jogja yang penuh ramai ada pemandangan yang mirip ngarai sianok di Sumbar, hmmm.. mirip ga sih? Nanti kalau saya kesana saya cocokin deh :D

pose kenikmatan ala saya -yang merusak lanskap

One day woman treatment

By Niken Andriani - Apr 14, 2012

Tak pernah kebayang kalo sehari kemarin bisa jadi perempuan sungguhan. Tak pernah sedikitpun saya menyisihkan uang jajan untuk hal-hal yang ga penting seperti shopping. Tapi siang itu, kakak saya tiba-tiba mengajak saya untuk menemaninya berbelanja ke salah satu mall dekat rumah kami. Padahal niat awal rencana kami hari itu ingin lihat laut, melepas penat dengan berkeliling Jakarta, ke glodok nyari dvd, dan berakhir dengan nonton The Raid di TIM *kalo jadi berarti hat-trick nonton filmnya bang iko uwais ini. Tapi rencana kami gagal karena kami malam sebelumnya begadang dan bangun kesiangan. 

Dia pun tak kehabisan ide, setelah puas berkeliling mall *padahal cuma beli 3 helai baju, sore kami habiskan waktu dengan ke salon. Omaigat! Apa kata dunia kalo seorang gue nyalon..hahaha fyi kalo ke salon itu bukan cuma dandan, ngerapiin rambut atau nyanggul. Tapi ternyata di salon kita bisa juga treatment buat badan, spa misalnya. Dan sayapun memilih untuk lulur dan massage, mengingat saya ini jarang sekali mandi. Habis lulur mungkin saya bisa ga mandi untuk seminggu kedepannya, begitu pikir saya. Setelah merasa nyaman sekali, saya pun menambah layanan dengan creambath. Oh dari ujung rambut sampe ujung kaki saya terasa enteng sekali. Mungkin karena daki-daki dari badan saya sudah terangkat, dan mungkin kalo dikilon ada 1 Kg. Hahaha..

Si mbak dar, yang mengurusi saya mulai dari massage, luluran mandi, sampe creambath, bilang "Perempuan itu jadi cantik mbak kalau duitnya banyak.." Saya pun hanya tertawa nyengir. Kalau ibu saya bilang, perempuan itu cantik wajahnya kalau sering wudhu. Makanya jangan cuma sholat wajib aja, tambahin sunnah dong biar muka kamu ga jerawatan. aah ibu...

#5 Gili Trawangan

By Niken Andriani - Apr 4, 2012



"I promise, I'll be back there someday.. with him.."
Gili Trawangan, Lombok | 14 Januari 2011

Sendang Sono

Salah satu yang mempengaruhi seseorang untuk memilih destinasi adalah karena FILM. Begitu juga saya, setelah menonton film 3 hari untuk selamanya karya Riri riza tahun 2007. Saya terinspirasi mendatangi salah satu tempat yang mereka kunjungi pada saat road trip dari Jakarta ke Jogja. Sendang Sono, adalah tempat ziarah kaum Nasrani di sekitaran Jogja dan Jateng. Bagi orang Indonesia, melihat seorang berhijab seperti saya mungkin aneh mendatangi tempat ini. Tetapi dengan bahasa tubuh yang lebih ampuh dari sebuah kata-kata, senyum, saya lemparkan. Saya disambut ramah.






Perjalanan ke Sendang Sono disuguhi pemandangan hijau sawah dan kebun pohon naga. Sendang Sono terletak di barat laut dari kota Jogja, tepatnya di desa Kulon Progo. Perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam dengan kondisi jalan yang bagus. Saya berangkat sabtu pagi bersama dengan sahabat saya. Ada beberapa orang yang sedang melakukan ziarah. Setelah berkeliling, saya duduk berlama-lama di tumpukan tangga di bawah pohon rindang persisi seperti dalam scene saat Ambar dan Yusuf duduk berdua. "Kalo lu mikirin sesuatu, dan lu belum bisa nemuin jawabannya padahal lu udah usaha. Ya berarti saat ini, saat lu mikir, lu belum bisa tahu."



Saya kembali ke Jogja saat matahari mulai berada di atas kepala, melanjutkan perjalanan ke Gunung Kidul. Sebelumnya kami sempat mampir ke Warung Sido Semi, dekat pasar Kota Gede. Saya kangen sekali es tapenya. Hmm dan juga perjalanan tepat 4 bulan lalu bersama dengan teman-teman ACI yang juga mampir dan berbincang di warung ini. 
Es tape dan bakso, perpaduan yang pas

Satu Frekuensi

By Niken Andriani - Apr 3, 2012

Tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat saya, Putri Dwi Noor RS. Atau akrab di panggil Dance, karena dulu waktu SMA, teman sekelasnya ada yang bernama sama dengan nama panggilannya, Dani. Jadi untuk membedakannya, dia dipanggil Dance alias Dani Cewe. Betul ga dance? Hehe. Seorang perempuan yang mulai beranjak dewasa di usianya yang ke 21. Hmm..ternyata dia lebih muda 2 tahun dari saya. 

Saya mulai tulisan ini waktu dia mengingatkan saya bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sampe perlu diingetin ya, maaf.. Kalau sekarang saya masih ngekos di dekat kosan kamu, saya pasti langsung pake sendal jepit, keluar kosan, dan menuju kosan kamu yang jaraknya cuma 30 langkah dari kosan saya dulu di belakang kampus. Memeluknya dan berbicara panjang lebar, how's our next trip? Hehe Tapi sekarang saya sudah menetap kembali di Jakarta, mau telpon pun hape mati, charger rusak. Ah susah, lewat sini saja. Hehehe..

Pengalaman traveling bersama kita tidak banyak. Ranca Upas, Sawarna, dan ber-kereta ria ke Jakarta, atau sepedahan kesana-kemari. Mungkin karena kita sudah sering tidur bareng, dalam artian karena saya sering numpang tidur dikosannya, kita jadi akrab. I don't know you so well, but I found a chemistry in us. Kita satu frekuensi, yang selalu dia bilang.  Pantai, hal pertama kali membuat kita jadi dekat. Lalu, musik sampai film. Hingga berlanjut ke kriteria pria idaman kita, semua sama. Yang membuat saya dan dia jadi 'nyambung'.

Yang bikin kita beda cuma C dan N aja

Selamat ulang tahun, Dance. Semoga kita tetap bisa berteman baik, karena saya ingin menjelajahi pantai bersama kamu. Kado menyusul ya. Traktir saya kopi nanti. Kalau masalah tugas akhir saya malas menyemangati kamu karena ga akan ngaruh. Ingat saja pantai, pasti kamu semangat sendiri, sama seperti saya dulu. Ini.. pulau yang bisa kelihatan kalo lagi surut. Namanya pulau Gosong, di Karimun Jawa. Cukup kan? :D