Tanjung Bira, Eksotisme Selatan Sulawesi

Wednesday, May 6, 2015

Banyaknya pertanyaan yang muncul, dari teman-teman yang berencana melakukan perjalanan mandiri ke Tanjung Bira. Maka akhirnya saya sempatkan juga menulis jurnal ini di blog. Perjalanan ini saya lakukan mandiri berdua dengan teman kuliah saya, di bulan November tahun 2013. Udah lama juga ya ternyata, satu setengah tahun, mudah-mudahan ingatan saya masih tajam. 

Spot yang menjadi ikon Pantai Tanjung Bira

Setelah berburu tiket promo beberapa bulan sebelumnya, saya dapat tiket 350 ribu PP Jakarta - Makassar. Ketika itu Air Asia masih punya rute CGK - UPG. Berangkatlah kami sore itu (14/11/2013), berbarengan dengan macetnya Jakarta menuju bandara Soetta. Sampai di bandara Hasanuddin jam 1 dini hari, dan menumpang tidur di masjid bandara. Menunggu pagi, menunggu damri yang ternyata tak kunjung tiba hingga pukul 7 pagi. Karena khawatir akan ketinggalan trayek yang menuju Tanjung Bira, terpaksa  deh kami naik taksi untuk menuju terminal Malengkeri. Hampir semua taksi sistemnya nembak! Setelah setengah jam menunggu kami dapat yang pake argo. Tapi ternyata mau pake argo atau nggak sama aja tarifnya, malah tanpa argo tarifnya jadi lebih mahal. Berkali-kali liat argo jalan cuma nyesekin dada, blom setengah jam jalan udah kena 100 ribu. Jangan-jangan argonya dimainin juga. Begitu pikir kami. Akhirnya kami minta turun di tengah jalan, keluar tol yg terdekat. Apes deh, tau gitu mending nembak. Hahaha.. Dan perjalanan pun kami lanjutkan dengan menumpang pete-pete (angkutan umum di Makassar) ke terminal Malengkeri.

Untuk menuju Tanjung Bira, ada dua alternatif angkutan umum yang bisa digunakan. Pertama adalah bus antar kota yang menuju Bulukumba. Seingat saya cuma ada satu sih. Kedua adalah Kijang, sebutan untuk mobil sekelas toyota kijang atau xenia yang digunakan sebagai angkutan umum sampai ke Tanjung Bira. Kendaraan ini jumlahnya lebih banyak, ada yang ngetem di luar terminal dan ada yang di dalam. Nah, kami menggunakan alternatif kedua di mana nanti si supir akan mengumpulkan penumpang sampai penuh, baru berangkat. Biasanya mereka berangkat kalau sudah penuh, atau hari sudah siang. Karena perjalanan menuju Tanjung Bira membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam.


Dari kijang, perjalanan menuju ujung pulau Sulawesi


Meskipun menunggu agak lama, kijang yang kami naiki berangkat pukul setengah 10 pagi. Karena masih lelah setelah tidur ngga jelas di langgar bandara, sebagian besar waktu kami di mobil adalah tidur. Beberapa kali terbangun saat melewati tepi laut. Di tengah perjalanan, kami juga sempat berhenti di warung makan. Uniknya disana adalah, minuman yang disuguhkan selalu air bercampur es. Lalu perjalanan dilanjutkan kembali ke Bulukumba. Ternyata kijang yang kami naiki hanya sampai Bulukumba. Seorang bapak paruh baya yang duduk di sebelah saya menawarkan mengantar kami sampai Tanjung Bira. Ia bilang hanya perlu menempuh satu jam untuk sampai kesana. Kami diajaknya ke Pasar Bulukumba untuk menunggunya mengambil mobil dari rumah nya. Agak aneh sih, "Kenapa kita ngga diajak kerumah nya aja ya sekalian?" Begitu pikir kami. Tapi yasudah lah, siapa juga yang mau nolak gratisan. Hehehe ..


Pantai Kaluku, tempat pembuatan kapal pinisi

Sebelum sampai di pantai Tanjung Bira, si Bapak memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Kami diberinya kesempatan untuk menikmati nyiur dan angin laut di atas tebing pantai Kaluku. Cerah sekali sore itu. Kemudian kami di drop di kompleks penginapan Tanjung Bira. Di sana kami berpamitan dan mulai mencari penginapan yang sudah saya googling sebelum berangkat.



Terima kasih, Bapak!

Penginapan itu namanya Sunshine Guest House, yang miliki oleh seorang perempuan Bugis asli, Nini kami memanggilnya dengan suaminya Gav yang berdarah bule. Lokasinya berada di kiri jalan ke arah pantai. Untuk menuju kesana, dari plang yang bertulisan nama penginapan, kita masuk melalui gang kecil sampai mentok. Posisinya lebih tinggi dari penginapan-penginapan yang sebelumnya kami lewati. Jadi perlu sedikit usaha ekstra untuk sampai ke Sunshine. Setelah sampai, kita menunggu lobi yang terbuka luas. Pemandangan laut bisa langsung dilihat dari sana. Setelah ngobrol sebentar dengan Nini, kami diantar ke kamar yang ada di lantai 2. Untuk permalamnya kami di charge 150 ribu/kamar. Sudah termasuk sarapan pagi.



Penginapan yang kami tinggali selama tiga hari dua malam di Tanjung Bira
(Pagar masuk, plang penginapan, dan balkon depan)

Karena hari mulai senja, kami pun bergegas menuju Pantai Kaluku untuk melihat proses pembuatan Pinisi sekaligus mengejar matahari tenggelam. Lumayan jauh untuk berjalan kaki sampai kesana. Kami pun mendapat tumpangan "gratis" dari abang-abang yang memaksa kami menggunakan jasa speedboatnya untuk hopping island ke Pulau Kambing esok harinya. Karena udah dipaksa banget, dan males diikutin yaudah deh akhirnya kami nurut aja. Di pantai Kaluku kami menghabiskan waktu hingga langit tertutup awan gelap. Kami tidak bisa melihat senja sore itu, langit mendung mengharuskan kami kembali ke penginapan. 


2 tiang 7 layar
Demi ini kami berdua kabur dari hiruk pikuknya kota metropolitan.

Kami kembali penginapan saat hari sudah gelap. Malamnya kami makan menu seafood di warung makan bambu persis di depan gang masuk ke rumah Nini. Banyak turis mancanegara sedang berkumpul. Setelah makan malam kami kembali ke penginapan dan melanjutkan istirahat panjang, mengumpulkan tenaga untuk snorkeling dan hopping island esok hari.


Kami sudah janjian dengan si abang-abang yang kemarin ngikutin kami. Di pagi hari yang cerah itu, kami sempat terlibat sedikit cekcok karena adanya salah paham antara Nini dan si abang. Sehingga kami berangkat terlalu siang. Jadilah kami memesan private boat seharga 450 ribu karena ketinggalan rombongan yang menggunakan jasa paketan. Itu sudah termasuk alat snorkeling, ke pulau Kambing, pulau Liukang Loe, dan pantai Bara, sampai sore! Walaupun awalnya sempat ragu soal harga, namun di akhir trip kamu justru bersyukur ditemukan dengan abang ini.


Snorkeling di sini!

Surga dunia, ah~
(courtesy photo by danceuu)

Spot pertama adalah snorkeling di pulau Kambing. Pulau ini letaknya lumayan jauh dan tidak semua trip menyediakan paket ke sana. Biasanya hanya ke pulau Liukang Loe saja. Berhubung kami ke Tanjung Bira tanpa bawa dokumentasi underwater, jadi cuma ada foto di atas permukaan saja ya. Sebetulnya, underwater pulau Kambing tuh kece abis. Saya hampir dua jam di sana nggak mentas-mentas. Struktur karangnya vertikal, jadi kalo diving pasti lebih keliatan. Selain snorkeling, kami main ke dalam goa tepat di bawah pulau Kambing. Untuk menuju ke goa ya kami harus berenang! Hati-hati ya karena banyak ular laut yang bersembunyi di bebatuan kata si abang.



Goa yang terlihat dari luar (atas), dan dari dalam (bawah)

Dari pulau Kambing, kami lanjut hopping island ke pulau Liukang Loe. Di sana kami leyeh-leyeh juga sampai menjelang sore. Memesan indomie goreng (kayaknya tiap ngetrip ngga bisa lepas dari ini) dan makan di kursi malas menghadap laut.



Abis kekenyangan mie goreng
(courtesy photo by danceuu)

Karena kami punya banyak waktu bebas, kami pun mencoba eksplor pulau Liukang Loe. Berjalan menyusuri sepanjang garis pantai. Bertemu dengan bapak nelayan yang sedang menyulam jaring ikan. Bermain dengan anak-anak pulau hingga ke dermaga.


Mereka sangat narsis dan lucu. Beberapa kali nyebur karena pengen difoto.

Dermaga di pulau Liukang Loe

Setelah puas leyeh-leyeh dan main dengan anak-anak pulau, perjalanan kami berlanjut ke Pantai Bara (langsung dari jalur laut, tanpa jalan kaki melalui pantai Bira). Oiya, saya juga dapat kesempatan belajar mengemudikan speedboat (learning by doing!). Asik banget lah sama si abang ini, kami benar-benar puas dengan service nya. Dia juga nyantai banget, ngikutin keinginan kita. Jadi tiap spot kami ngga perlu buru, pokoknya sampe kami bosen baru pindah spot. Dan spot terakhir adalah pantai Bara. Nggak sampai sunset sih, tapi kita udah puas bisa lihat nyiur dengan latar belakang pantai dan langit yang biru. 

Pantai Bara dari boat


Nyiur



Nyiur

Dari pantai Bara kami kembali ke pantai Tanjung Bira menggunakan boat si abang. Sebenarnya bisa saja kami berjalan menyisir garis pantai hingga ke Bira, namun karena sudah lelah si abang masih setia menemani kita sampai kembali ke Bira. Lalu kami kembali ke rumah Nini untuk bilas badan yang udah lengket sejak dari pulau Kambing. Kami habiskan sore di balkon rumah nini hingga senja menyapa. Beruntung sekali hari itu, warna jingga matahari menemani sore kami sambil duduk di kursi malas.


Dari balkon rumah


Lupakan penat

Pagi hari esoknya, kami masih malas untuk bangun. Mobil yang menjemput kami baru datang jam 10 pagi. Oiya, untuk kembali ke Makassar bisa reservasi lewat Nini. Karena kendaraan menuju Makassar terbatas. Setelah baru benar-benar terbangun pukul 7 pagi, saya packing dan bergegas ke pantai Tanjung Bira. 



View kayak gini yang bikin males pulang ke Jakarta

Jarak dari rumah Nini ke pantai Bira tidak terlalu jauh. Sebelum sampai di pantai Bira, di sebelah kanan terdapat toko oleh-oleh yang berjejer.



Dapet sarung pantai. Meskipun saya nggak pernah beli oleh-oleh,
setidaknya tiap ke pantai saya beli sarung untuk saya sendiri karena fungsional sekali

Kami memang belum sempat eksplor pantai Tanjung Bira, terutama di spot yang jadi ikon pantai ini. Rumah kayu yang berjejer di tebing, lalu dibawahnya terbentang laut dengan warna yang biru. Oleh karenanya, sebelum meninggalkan Bira, saya sempatkan ke sana meski sendirian meninggalkan danceu yang masih nyenyak di tidurnya.


Aduh pengen loncat!


For your information
Total pengeluaran selama 4 hari 3 malam di Tanjung Bira dan Makassar kira-kira 700-800 ribu. Itu udah termasuk akomodasi, transportasi, makan, keliling pulau, snorkeling dan sarung yang saya beli. Termasuk juga pas nongkrong-nongkrong malam senin di pantai Losari. Untuk tiket pesawat untung-untungan berhubung Air Asia dan Tiger Air rute CGK-UPG sekarang udah di tutup. 

You Might Also Like

5 comments

Subscribe