Camping Ceria: Cerita Bulu Babi Pulau Sepa

Thursday, April 21, 2016



Judulnya harusnya sih Papatheo bukan Sepa, karena dari awal kami (saya dan Nisa) berdua bikin trip kemping ceria, tujuan utama weekend escape kemarin adalah Pulau Papatheo, salah satu pulau pribadi yang terletak di utara Kepulauan Seribu. Setelah coba bernegosiasi dengan si penjaga pulau Papatheo, beliau melarang kami mendirikan tenda di sana karena memang si "empunya" pulau tidak mengijinkan. Kakak Nisa masih mencoba bernegosiasi, saya sendiri sih udah males karena melihat kondisi pulau Papatheo nampaknya kurang keceh. Apalagi dengan banyaknya sampah di bawah dermaga dan juga kondisi pulau yang nampak kurang diperhatikan.

Pulau Papatheo yang digenangi sampah (Courtesy Bang Zuhal)
Beberapa daftar alternatif pulau yang sudah kami siapkan untuk jaga-jaga seandainya ijin kemping di Pulau Papatheo ngga dapet. Ada Pulau Semut, Melinjo, Perak dan Sepa (3 pulau pertama sudah saya jajaki). Setelah meminta petunjuk Pak Wawi, guide sekaligus yang empunya kapal, kami disarankan ke Pulau Sepa, nanti beliau yang akan mengurus ijin. Jadilah kami bertolak ke Pulau Sepa. Dadah Papatheo, gagal deh hammockan di pohon kelapa. 

Dermaga yang panjang di Pulau Sepa. Langsung ngeces pengen nyebur.

Sampai di Pulau Sepa, saya dan Nisa serta Pak Wawi langsung menghampiri bapak-bapak para penjaga pulau. Setelah bernegosiasi kami pun sepakat untuk membayar retribusi kemping sebesar 20.000 per orang. Ijin sudah dapat, siap angkut-angkut barang ke lokasi kemping!

Katanya kemping, kok bawa-bawa nasi box?
Ah~ namanya juga kemping ceria

Pulau Sepa adalah pulau resort, di mana sudah dibangun beberapa cottage yang ada di sebelah barat pulau. Kalau digambarkan dari arah dermaga pulau terbagi dua kanan dan kiri yang diberi pembatas berupa dinding tinggi. Kami diberi ijin untuk berkemah di sebelah timur pulau, yang berarti kami ngga bisa menikmati sunset. Pas kami sampai Pulau Sepa, udah banyak bule-bule bertelanjang dada yang lagi ber-selfie ria di dermaga. 

Kakak Nisa pun ngga mau kalah ama bule-bule tadi. Kumat deh narsisnya.
Setelah beres membangun tenda, kami makan siang bersama-sama sambil bermain. Meledek Andis yang sudah di cap jadi Chef karena dari gosip kakak Chin sih dia jago masak. Chef Andis ngga ikutan kami keliling pulau dan snorkeling, katanya mau jagain tenda sama barang-barang kami sekaligus mencari inspirasi buat makan malam nanti. Kami pun bersiap ganti kostum dan membawa peralatan perang untuk nyebur. 

Leyeh-leyeh sehabis makan siang
Udah ganti kostum, siap-siap nyebur!
Membelah lautan

Saat tiba di spot pertama ada sedikit kecelakaan. Brew yang udah ngga tahan pengen nyemplung, langsung nyebur gitu aja pake gogle. Jatuhlah itu kacamata renang nya ke laut karena lupa dikencengin karetnya. Saat itu kapal kami bersandar di ketinggian 6-7 meter. Kami pun sama-sama mencoba mencarinya di karang-karang. Warna nya yang coklat kehitaman membuat samar dengan warna karang. Setelah kira-kira 5 menit baru deh ditemukan sama Bang Zuhal yang jago nyelem. Masbro ngga sabaran, awas kolor nya jangan lupa di kencengin juga nanti kalau lepas tiba-tiba kan bahaya!

Spot kedua karang yang keceh
Spot pertama sedikit sekali ikannya, engga sampai setengah jam kami langsung pindah ke spot kedua yang ikannya berlimpah. Ngga perlu pake roti, tuh ikan-ikan udah pada ngumpul kayak arisan.

Niken on action!
Udah berapa bulan ya ngga nyemplung
Putri duyung dan dugong


Setelah puas nyemplung sampai 3 spot, kita balik ke Pulau Sepa. Tadinya mau hunting sunset di Pulau Perak tapi akhirnya kita memilih untuk nongkrong-nongkong cantik di dermaga Pulau Sepa. Saya lupa kalau view sunset cuma bisa dinikmati dari area resort. Jadi deh cuma tinggal saya bertiga dengan Brew dan Nisa yang masih jeprat jepret di ujung dermaga. Yang lain pada rebutan mandi dan ada yang udah mulai masak-masak. 


Ngga jadi mau so sweet so sweet -an keburu mataharinya ngumpet dibalik pulau
Matahari pun akhirnya bersembunyi di balik pulau, kami kembali ke lokasi kemah. Bermain di pinggir pantai, memperawani Klymit nya Nisa yang baru dibeli di Indofest kemarin. Mengetesnya langsung buat ngambang-ngambang cantik di pinggir pantai. Ternyata... kurang balance dan memang cocoknya buat alas tidur saja. Payah!

1... 2... 3... Bukannya ngambang malah nyemplung.

Chef Andis dikelilingi para asisten mempersiapkan kayu bakar untuk memanggang

Tidak hanya Chef Andis saja yang sibuk masak, kami semua juga turut membantu. Halima yang sibuk bikin sambel korek, Wiwin, Asih dan Muly yang sibuk bikin scrambble egg dan sup sapo, saya yang sibuk bikin sambel kecap, Agil sibuk manggangin marshmellow, Mpok leli sibuk masak nasi, Ujang, Roy, Arul, Alan, Nando, dan Bang Zuhal yang repot nyari bulu babi dan ngurusin duri-durinya sambil manggang cumi dan ikan bakar, Chintya sibuk ngerecokin Chef Andis, Nisa yang sibuk kesana kemari entah ngapain, dan Brew yang sibuk ngeliatin saya ngiris-ngiris cabe. Dari segala rupa keruwetan memasak kami ternyata menghabiskan waktu sampai dua jam, beginilah hasilnya!

Sebelum dan sesudah makan
Makan malam di Pulau Sepa menurut kami sangatlah glamour. Gimana engga, dibandingkan dengan sehari-hari kami makan, lauk pauk hasil kreasi kami ini lebih istimewa. Ada nasi liwet ala Chef Andis, cumi bakar, kakap bakar dan pepes, sup sapo, omelette, sambal korek dan kecap yang langsung ludes ngga pake itungan menit. Semuanya kelaparan, semua lauknya enak dan kebersamaan yang membuat suasana makin hangat malam itu. Lalu di mana menu bulu babinya?

Bulu babi hasil tangkapan iseng di pinggir pantai berhasil dihabiskan oleh para bujang yang nongkrongin api panggangan. Katanya sih enak, warnanya kuning, yang dimakan itu bagian telornya. Sempat terjadi perdebatan apakah itu beneran telornya atau eeknya. Tapi biar euforia castaway nya semakin berasa jadi ya dimakan aja. Biar keren gitu, "Gue udah makan bulu babi lho."

Hayoo ada yang pegang-pegangan tangan. Romantis banget.
Kenyang makan, kami membereskan lesehan dan bersiap ngopi-ngopi cantik. Sambil main tepok nyamuk sampai perih karena banyak yang mainnya nyusup. Malam pun semakin benderang karena terang bulan. Kelar bosen main kartu, kami duduk di pinggir pantai, menikmati semilir angin laut, suara ombak dan bintang-bintang yang berkelip. Beberapa sudah ada yang terlelap di tenda, Brew tidur nyenyak sampe berbunyi di hammock. Saya dan kakak Nisa episode curcol sambil leyehan di pinggir pantai. Andis ngeliatin bintang jatuh lalu tidur. Ujang, Bang Zuhal, dan Alan yang ngebahas beraneka ragam cerita mulai dari ikan patin sampai ilmu astronomi. Tak terasa mereka baru tidur jam 3an. Malam pun berlalu, kami bangun pagi lebih segar.

Masak-masakan pagi
Akhirnya bisa masang hammock di ranting pohon depan tenda, setelah berkali-kali percobaan jatuh terus

Paling asoy memang hammockan di atas laut. Abis selfi-selfian pohonnya ampir rubuh.

Sehabis sarapan kami berberes packing untuk siap-siap snorkeling lagi sekalian kembali ke Pulau Harapan. Langitpun mulai gelap di pagi hari. Saat kami bersiap masuk kapal di dermaga, hujan pun mulai turun dengan derasnya. Beberapa sepakat untuk langsung kembali ke Pulau Harapan, saya pun berbisik ke Nisa dan Roy dan memutuskan untuk mampir ke Pulau Perak. Kapal bersandar di Pulau Perak. Saya, Brew, Roy dan Nando langsung nyebur. Bang Zuhal yang tadinya cuma ngeliatin aja pun ikut nyemplung juga. Yang lain hanya duduk-duduk saja di kapal sepertinya mulai sebal, tapi dimulai dengan Agil yang naik ke dermaga yang lain akhirnya ikutan keluar juga pakai payung. Pada jajan dan main ayunan di Pulau Perak. Lumayan lama juga kami main di Pulau Perak sampai pukul sepuluh akhirnya kapal kami bertolak ke Pulau Harapan.

Sampai Pulau Harapan, hujan memang berhenti, tapi setelah selesai membereskan barang-barang dari kapal hujan mulai turun lagi dengan derasnya. Ngga cukup basah-basahan di laut, kami basah-basahan lagi di darat. Sebagian pada jajan cilor dan sebagian mandi di rumah Pak Wawi. Kapal besar yang membawa kami kembali ke Jakarta berangkat tepat pukul 12 siang. Ngga pakai delay, langsung cus menuju Jakarta. Hal pertama yang diinget waktu sampai rumah masing-masing dan masih dibahas adalah nasi liwet dan bulu babi. Ah~ bulu babi, itu yang dimakan telur apa eeknya?

Foto kami versi lengkap setelah berberes packing. Kangen bulu babi!
(Courtesy photo by Bang Zuhal)
Notes:
Selain bulu babi, ternyata masih ada cerita  lain yang baru dibahas di group chat, yaitu adanya banyak penampakan "makhluk lain" yang dilihat beberapa diantara kami. Meskipun tidak mengganggu tapi merinding juga karena kemunculannya saat kita asik-asikan main tepok nyamuk. Hanya saja mereka ga mau cerita dan baru dibahas hari ini. Hiiiy~ ternyata bukan cuma kami yang camping di Pulau Sepa.

You Might Also Like

10 comments

Subscribe