Fall For Dusk and Dawn Prague

Saturday, December 31, 2016

Unparalled view of Prague Old Town Square
Terdiam sejenak melihat langit yang bermain dengan gradasi warna. Kota kecil yang begitu memesona mata saat matahari baru tiba di pagi hari dan mulai pergi di sore hari. Prague, kota yang menjadi begitu ramai karena menyamai kota Paris dalam hal kecantikannya. Kota ini menjadi overrated karena sering memerankan latar cerita cinta. Meski begitu, saya tak mengelak kota ini juga membuatku jatuh hati, pada keindahan fajar dan senja nya yang tak dapat dirangkai kata-kata. 



Keindahan arsitektur kota, bangunan baroque yang berwarna dan banyaknya menara membuat kota ini dijuluki "the city of hundred spires". Kota ini begitu hangat menyapaku di pagi hari. Tangga eskalator yang begitu panjang menuju subway. Lorong metro yang gagah dengan desain metalik. Prague menyeretku ke jalanan berbatu-batu menuju Old town square, lalu membawa ku menyebrangi sungai Vltava melewati Karluv most, yang mereka sebut Charles Bridge. 

Jembatan yang dibangun hampir setengah abad ini menjadi ikonik romantis kota Prague, dari atasnya kita bisa melihat dua sisi kota Prague yang dibelah oleh sungai Vltava. Prague Castle di sebelah barat dan Old town square di sebelah timur.

The famous Charles Bridge


Agar leluasa dan bisa menyatu dengan keromantisan jembatan ini, kami sengaja bangun lebih pagi dengan membawa bekal roti dan apel. Tenggelam dalam aliran sungai yang menyanyikan himne damainya kota di pagi hari. Hembusan angin Bohemian juga terasa di kota kelahiran Franz Kafka, penulis ekspresionis Jerman yang berpengaruh pada abad 20. 

Semakin siang jembatan ini makin ramai, kami kembali ke hostel. Karena musim panas waktu siangnya lebih panjang (matahari baru tenggelam antara jam 8 hingga jam 9 malam), kami menghabiskan waktu siang dengan belanja di supermarket, masak dan beristirahat. Baru sekitar jam tiga sore kami keluar rumah, mengeksplorasi sudut-sudut kota Prague yang lain. 

The walking path to Letenské Sady

Selama empat hari tiga malam tinggal di ibu kota Ceko ini, hampir tiap sore kami selalu singgah ke Letenské sady (Letná park), taman kota yang berada di lereng bukit dengan pemandangan kota Prague. Menghindari keramaian kota yang dipenuhi para pelancong menjelang matahari tenggelam. Taman ini luas dengan banyak pepohonan rindang yang hijau saat musim panas dan banyak bangku-bangku taman yang berjejer. 

Letná park lokasinya tidak jauh dari hostel tempat kami menginap. Letní Letná yang dalam bahasa Ceko berarti festival musim panas diselenggarakan mulai pertengahan Agustus hingga awal September di taman ini, yang berarti selama kami tinggal di Prague kami juga merasakan euforia festival saat singgah ke Letna Park. Banyak atraksi sirkus yang dibuka mulai sore hingga malam hari. Kami membeli es kopi lalu menikmatinya sambil bersandar di pembatas pagar depan Hanavský Pavilion yang menghadap magical scenery kota Prague di senja hari.

Enjoy and capture the beauty
On the way to blue hour
Berjalan kaki di sepanjang jalur pedestrian walk di tepi sungai Vltava, mulai dari Charles Bridge melewati Slovanský island hingga ke Dancing House. Akan banyak dijajakan stall makanan, yang beberapa kali membuat kami tergiur. Sesekali kami berhenti, duduk di bangku yang sudah disediakan untuk menikmati pemandangan sungai dengan latar Prague Castle.

Prague Castle

Biaya hidup di Prague yang terbilang murah dibandingkan di kota-kota lain di Eropa, membuat kami jadi sering jajan. Kami membeli Trdelník, kue khas yang berasal dari Ceko dan Slovakia yang banyak dijual di pinggir jalan dan spot-spot turis. Yang paling enak adalah dengan isian nutella di dalamnya dan pinggiran gula pasir, kayu manis dan kacang kenari. Membuatku belepotan saat memakannya. Rasanya ngga jauh beda sama donat, karena adonan dasarnya terbuat dari tepung dan telur, bedanya adalah dipanggang dengan dilekatkan ke batang kayu atau besi dan diputar-putar di atas pemanas.


Cara memanggang Trdelník yang unik

Isian nutella nya ngga nanggung-nanggung
Kami berkeliling Old town square sedari sore sembari menunggu antrian untuk naik ke Old town hall tower, yang juga menjadi dinding berdirinya Astronomical Clock. Antrian memang agak ramai saat hari mulai senja. Biaya masuknya 130CZK atau sekitar 75 ribu rupiah tanpa guide sehingga kita bebas berlama-lama di atas tower. Memandangi lanskap kota Prague sejauh 360 derajat.




Astronomical Clock (Orloj) yang sudah berusia 600an tahun dan masih bekerja hingga saat ini
Dari Old Town Hall Tower, terlihat dari jauh Prague Castle yang berdiri megah membelakangi matahari yang tenggelam. 


Cerita selama di Prague yang tak terlupa, tentang kamera ku yang tumbang dari tripod saat selfie berdua di Charles Bridge karena kaki tripodnya tidak terpasang dengan benar, hingga membuatku menangis karena shutternya tidak bisa bekerja padahal perjalanan kami baru separuh bulan. Tentang ketagihanku akan ayam KFC, karena bisa jadi termurah di antara semua kota yang kami singgahi, padahal di Indonesia ngga doyan. Juga tentang pundung ku di jalan yang entah saya lupa kenapa, tapi kamu tetap setia memotretku dari belakang (meskipun blur). Dan tentunya tentang keelokan kota ini di fajar dan senja hari. 

Selamat pagi, sebelum kamera ku jatuh.
Prague,
27 Agustus 2016





You Might Also Like

0 comments

Subscribe