Innsbruck — An unexpected yet awesome journey

Friday, June 23, 2017

Kami meninggalkan Vienna dan melanjutkan perjalanan ke Innsbruck (11/09/2016). Ini adalah perjalanan dadakan, karena rencana awal seharusnya kami langsung ke Venice. Dua minggu sebelum berangkat ke Innsbruck, waktu itu kami masih di Ceko, tiba-tiba saya kepikiran kepingin melihat pegunungan Alpen. Namun, karena Swiss tidak masuk dalam jajaran itinerary, saya putuskan untuk ke Innsbruck, melihat The Austria's Alpen. Beruntung sekali, mungkin sekitar setahun sebelumnya saya pernah membaca postingan di grup Facebook Backpacker Dunia tentang kota ini. Jadilah trip ke Venice selama 5 malam saya coret menjadi tiga malam pertama kami habiskan di kota Innsbruck. And that's really worth!


Perjalanan dari Vienna ke Innsbruck adalah perjalanan yang lumayan panjang, sekitar sembilan jam ditambah dua jam transit. Meskipun masih dalam satu negara, lokasi kedua kota tersebut di peta adalah dari ujung ke ujung. Saya mencari alternatif tiket paling murah yaitu bus, sekitar €28 dengan transit kota Munich. Mau travel antar kota dalam satu negara harus lewat negara lain dulu. Sekalian juga sih, di Munich kami janjian ketemu sama teman kami yang juga lagi liburan ke Eropa. Meskipun akhirnya missed karena di jam kami transit di Munich doi lagi naik kereta ke Cologne. Jadi selama dua jam di terminal bus Munich cuma bengong, mau iseng-iseng keluar tapi mepet juga dan capek. Jadi kami nongkrong aja di restoran kebab (kebab again, fyuuh~). Perjalanan dari Munich ke Innsbruck ini lah yang benar-benar membuat ku sadar bahwa, Indonesia itu indah, tapi dunia punya hal lain yang lebih indah. Seperti kata host kami waktu di Vienna, kalau Austria juga indah kok. Memang benar, sepanjang perjalanan menuju Innsbruck kami ngga bisa merem. Bus kami melaju diantara perbukitan dan pemandangan gunung yang megah, Sekali-kali ada awan yang mengapung di kerendahan, menambah elok jalanan.


Gasthof Innbrücke(bangunan yang tengah) dan kondisi kamar yang (menurutku si) oke
Karena memang dadakan, saya membatalkan dan memesan ulang penginapan di Venice dan memesan baru penginapan di Innsbruck. Akomodasi dan transportasi di kota ini termasuk tinggi, saya pun sampai galau maksimal antara mau pesen yang murah tapi jauh (Youth Hostel) atau yang dekat dari mana-mana tapi sedikit mahal (Gasthof Innbrücke). Akhirnya jatuh ke pilihan kedua, dengan asumsi nanti duit bisa dicari lagi. Hahaha. Sama seperti di Cochem, kota Innsbruck yang juga kota kecil di antah-berantah ini, penginapan menyediakan sarapan ala barat (sudah include). 


Sarapan mewah dengan latar belakang sungai Inn dan kota tua Innsbruck sungguh pengalaman yang awesome.
Balik lagi ke cerita perjalanan dari Vienna tadi, kami sampai di kota Innsbruck sudah gelap. Kami ngga tahu diturunin di mana yang pasti GPS saya ngga jalan karena saya belum download map offline nya! Saat itu yang ada di kepala saya adalah bagaimana mencari sungai Inn, karena lokasi penginapan yang ada di tepi sungai. Kalau dari keterangan tiket sih kita diturunin di dekat stasiun central, yang kalau di peta berjarak sekitar 1,8km. Jalan kaki lah kita sambil gendong kulkas dan tak tau arah. Akhirnya sampai juga dengan keringat menngucur. Check in sebentar, lalu harus ngelus dada lagi karena kamar yang kita tempatin ada di lantai paling atas, tanpa lift. Kami sampai kamar langsung banting badan ke kasur, udah ngga sanggup kemana-mana. 

Lokasi Gasthof Innbrucke yang ada di jejeran bangunan warna warni membelakangi pegunungan Alpen di Austria
Esok hari kami bangun lebih segar, karena istirahat yang cukup. Karena sarapan baru buka jam 7 hingga jam 10, sambil menunggu kami pun jalan-jalan pagi dulu melewati jembatan ke arah pusat kota tua Innsbruck. Masih sepi banget, ada mobil pembersih jalan masih muter-muter menyemprotkan air ke jalanan conblock.


Now I wish for winter so I can see the beautiful Alps covered in snow
Pegunungan alpen memantulkan warna merah muda dari sinar matahari yang baru terbit. Andai saja sudah musim dingin, warna putih salju yang menyelimuti bagian atas pegunungan pasti menambah keanggunan Alpen. Mungkin kami harus kembali lagi nanti? Ya, kami belum melihat Alpen dari Swiss, naik kereta ke Jungraujoch, melihat keindahan Alpen sebenarnya, lalu main ski, eh tapi karena main ski di mall aja saya ngga bisa-bisa jadi jatuh terus deh, lalala.. ngimpi nya nggak kelar-kelar. Kami kembali ke penginapan dan menikmati sarapan sambil ngobrolin kita mau ngapain aja selama di kota ini. Karena dadakan, jadi kita benar-benar blank. Pertama, setelah sarapan kita pasti ke Tourist information center. Cari brosur dan peta gratis. Lalu cari perbekalan di supermarket Spar, yang sedikit lebih mahal dari Lidl karena Lidl adanya di pinggiran kota. Anyway, karena penginapan tidak menyediakan dapur umum (yang kami sesalkan banget) kami sesekali makan siang di luar, dan kalau lapar kami makan roti dan buah seperti di kota-kota lainnya. 

Makan siang favorit, yang ada di seberang penginapan
Hari kedua kami muter-muter keliling kota dengan berjalan kaki, mengunjungi spot-spot turis, dan sore harinya secara impulsif kami naik menara Stadtturm untuk melihat Innsbruck dari atas. Untuk menghemat penngeluaran trip selama di Innsbruck, kami membeli Innsbruck Card 24 jam seharga €39 yang kami mulai pemakaiannya pada sore hari, untuk masuk ke Das Tirol Panorama, namun sudah tutup, jadi kami naik Stadturm seharga €3.5. Sehingga kartu ini akan berlaku hingga sore hari berikutnya. Main trip kita adalah di hari ketiga, di mana kita akan menggunakan tiket 24  jam secara maksimal. Mulai dari naik ke puncak Hafelekar, main ke Alpen Zoo, segala macam transportasi publik dan sewa sepeda. 


Kota Tua Innsbruck


Innsbruck adalah ibu kota Tyrol (Austria bagian barat) yang secara apik menggabungkan pemandangan gunung dan kota bersejarah dalam satu frame. Kota tua Innsbruck menyuguhkan jalanan-jalanan sempit yang berbatu yang bisa kita jelajahi. Banyak bangunan tua yang berdiri yang masih dijaga. Di bawahnya digelar restoran dan kafe untuk para turis bisa menikmati makan siang, minum kopi atau hang out. 

Panorama kota tua Innsbruck dari Stadtturm
The Golden roof
Triumphal Arch, yang mirip-mirip sama Arc de Triomphe di Paris
Die Hauptpost a.k.a. Kantor pos
Sebuah gereja kecil di tengah-tengah jalan raya
Teras yang ada di depan Das Tirol Panorama. Kami datang telat 5 menit jadi ngga boleh masuk :(
Jalanan berbatu yang cukup asik dinikmati sambil berjalan kaki dan ngobrol ngalor ngidul
Senja di atas Stadtturm

Nordkette


Hafelekar, one of the peak of Austria's Alpen
Austria's Alpen — This is the main destination of our trip in Innsbruck! Berhubung style kami bukan anak gunung banget (sepatu kets, kaos oblong) maka kami naik ke Hafelekar, salah satu puncak Alpen, menggunakan Nordkette Cable Car. Ngga mungkin banget juga kita hiking karena tenaga yang masih kita simpan untuk di kota-kota lain. Sepanjang trip di Hafelekar kami menganga, sampai-sampai terlalu panjang jika aku tulis di sini. 


Nordkette cable car

Alpen Zoo 




Alpen Zoo adalah salah satu kebun binatang yang berada pada ketinggian tertentu di Eropa. Puncak Hafelekar dan Alpen Zoo masih dalam satu deretan dalam jalur Nordkette. Kami pun mampir sebentar. Berhubung saya lelah sekali setelah main ke Hafelekar, saya numpang tidur dan Bre muter-muter sendiri nyari antelop. Lokasi paling nyaman buat tidur adalah di ruang akuarium,


Sepedaan Keliling Kota


Kota ini termasuk kota yang ramah sepeda, mirip-mirip sama Amsterdam lah pengguna sepeda di sini juga galak sama turis yang suka tanpa sengaja masuk ke jalurnya. Untuk mengabiskan sisa waktu yang masih ada di kartu 24 jam ini, kami menyewa sepeda gratis di xxx. Di sana kami dilayani dengan ramah (meskipun gratisan) dan diberikan sepeda yang cocok dengan postur tubuh kami yang kecil. Tapi tetep aja harus jinjit saat duduk di sadelnya. Sepeda yang disewakan ngga sembarangan, sepertinya merk bagus gitu dan enak banget dipakai.


Kami ngacir mengelilingi kota tanpa tujuan. Gowes terus sampai ke daerah suburban. Berhenti bentar di Spar, beli minuman dingin lalu lanjut sampai main ke pinggir sungai.  

Kami parkir sepeda di salah satu suburb area dan main ke sungai, ngerasain dingin airnya
We ride through the way without destination and find many unexpected beautiful things, like this beautiful chapel.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe