Rute Perjalanan Keliling Eropa

By Niken Andriani - Mar 25, 2021


Menyusun itinerary adalah hal yang paling mendebarkan sebelum perjalanan, setidaknya bagi saya. Sama rasanya saat berburu tiket promo, menyusun rencana perjalanan juga. Namun sedetil apapun rencana yang kita buat, pasti akan ada banyak perubahan. Kalau tidak banyak berubah berarti Anda ikut agen perjalanan yang semua destinasi nya sudah jelas di awal. Di sini saya akan beberkan rute perjalanan keliling Eropa tahun 2016 lalu. Buat siapa sih? Tentunya untuk saya baca sendiri karena saya pelupa. 

Akhirnya draft tulisan ini mulai saya sentuh lagi setelah hampir 5 tahun terbengkalai. Jujur saat menulis ini saya banyak lupanya. Harus menyontek buku jurnal perjalanan dulu sambil mengingat-ingat bagaimana rasa perjalanannya saat itu. 

Rute perjalanan



Rencana:
Amsterdam — Utrecht — Cochem — Frankfurt — Praha — Cesky Krumlov — Bratislava — Budapest — Vienna — Salzburg — Venice — Turin — Reykjavik — Amsterdam

Seperti pada peta di atas, saya membuat satu jalur sekali jalan melalui jalur darat, mulai dari Amsterdam, sampai terakhir di Turin lalu terbang ke Reykjavik di Islandia dan kembali ke Amsterdam. Jalur yang saya buat ini hanya berbekal dari melihat peta di Google Maps dan sedikit informasi dari buku Little Planet Europe. Si buku tebal ini sengaja saya beli buat semangat mengejar mimpi ke Eropa. Namun pada akhirnya nggak semua saya baca karena malas. Hanya jadi pajangan saja di rak buku. Kami terlalu fokus mengumpulkan dana buat ke Eropa, saya sampai lupa untuk riset lebih dalam tentang tempat yang mau kami kunjungi. 

Selain kurang riset, saya dan Bre memang sebelumnya belum pernah kemana-mana! Sebelum ke Eropa, negara yang sudah saya kunjungi hanya negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan yang agak melenceng jauh sedikit, Hongkong dan Macau. Semuanya masih di benua Asia dan semua trip kami lakukan secara mandiri. Karena biasa kemana-mana sendiri tanpa agen perjalanan, kami berdua merasa cukup pede untuk langsung ke Eropa. Padahal karena kurangnya riset ini, sebulan pertama di Eropa saya jadi mulai jenuh berada di kota tua terus. 

Dalam perjalanan 50 hari keliling Eropa ini akhirnya kami bikin trip impulsif. Kami mampir ke kota-kota yang tidak ada dalam rencana, seperti Brussels dan Bruges di Belgia, Berlin dan Dresden di Jerman, Innsbruck di Austria, dan ke Perancis. 



Gambar di atas adalah serangkaian durasi tinggal di tiap kota selama di Eropa. Baru saya buat manual di Google Calendar. Jadi realita destinasi yang kami kunjungi adalah sebagai berikut:

Amsterdam — Utrecht — Brussels — Bruges — Cochem — Frankfurt — Berlin — Dresden — Prague — Cesky Krumlov — Bratislava — Budapest — Vienna — Salzburg — Innsbruck— Venice — Turin — Paris — Reykjavik — Amsterdam


Belanda menjadi negara pertama kami menginjakan kaki di benua Eropa. Alasan memilih negara ini sangat klise, karena mengajukan visa schengen yang paling mudah ya ke Belanda. Mungkin karena mereka sudah menjajah negara kita ratusan tahun, jadi nggak etis kalau kita dipersulit untuk masuk ke negaranya. 

Utrecht jadi kota kedua yang kami kunjungi, karena... out of the box! Amsterdam kan ibu kota, jadi tidak hanya penduduknya yang sudah cukup padat, di sana juga banyak turis. Sedangkan Utrecht ini kayak kota pelajar, sepi dan tenang banget kotanya. Di sini rasanya damai, nggak berasa jadi turis (meskipun hampir kena scam). Selama di Amsterdam dan Utrecht kami pakai kartu transport OV-Chipkaart, kartu ini juga bisa digunakan untuk naik kereta antar kota. Untuk menuju ke Brussels kami harus ke Rotterdam dulu naik kereta lalu lanjut naik Bus dari Rotterdam ke Brussels.


Singgah ke Brussels ibukota Belgia dan ke Bruges adalah trip impulsif karena kami terlalu lama tinggal di Belanda. Lagi pula masih satu jalur dengan kota tujuan kami berikutnya (Cochem) setelah dari Belanda. Karena ini sangat impulsif, saya baru beli tiket bus ke Brussels saat masih di Amsterdam. Kalau ke Bruges lebih acak lagi. Saat jalan-jalan di Brussels pagi-pagi saya mampir ke stasiun dan iseng ngecek jadwal kereta ke Bruges. Siangnya kami langsung meluncur daytrip ke Bruges.

Brussels hanya singgah singkat, karena melihat kota ini sama seperti ibu kota lainnya, seperti Jakarta, yang sumpek, ruwet dan bau pesing. Jalan-jalan seharian ke Bruges sungguh keputusan mendadak yang sangat bijak.


Saat menyusun itinerary di Jerman, tempat pertama yang saya tandai adalah Cochem, kota kecil di antah berantah Jerman, yang orang Jerman sendiri aja belum tentu tahu di mana letak kota kecil ini. Hahaha. Gara-gara pernah blogwalking, saya nemu kota ini dan langsung memasukkan kedalam bucket list. Kota ini jauh dari mana-mana. Untuk menggapainya kami perlu naik bus dulu ke Dusseldorf, lalu lanjut naik bus lagi ke Koblenz, kemudian ganti kereta ke Cochem. Berangkat pagi dari Brussels, sampai Cochem tengah malam karena terlalu banyak transit dan lama nunggu. 

Dari ujung berung kota kecil Cochem yang sepi, kami membelah Jerman ke Berlin. Awalnya kami berencana ke Frankfurt, karena jaraknya tidak begitu jauh dari Cochem. Tapi atas saran seorang kenalan dari Jerman kita disuruh ke Berlin. Dari Cochem, rutenya tentu saja balik dulu ke Dussledorf, lalu dilanjut naik bus semalaman ke Berlin. Sampai Berlin keesokan paginya, saya nangis. Sudah capek karena perjalanan yang panjang, kami berdua nyasar mencari penginapan. Belum sarapan, nggak bisa terhubung ke internet (kami hanya menggantungkan pada free wifi), dan nggak bisa nanya orang karena masih terlalu pagi dan sepi. Tapi senang juga di Berlin karena ikut merasakan ramainya pasar kaget di Mauerpark.

Dalam perjalanan dari Berlin ke Praha kami transit beberapa jam di Dresden, numpang foto dan makan Kebab.


Karena keseringan nonton serial mini Nic and Mar di Line, saya jadi ngebet ke Praha. Kepingin merasakan romantis nya Eropa kayak Abang Nicsap. Sampai di Praha, bukannya romantis tapi saya kena musibah. Kamera bagol Canon 5D Mark II saya jatuh dari tripod karena tripod tidak terpasang dengan benar. Kamera jadi tidak berfungsi dan setengah hari saya mengurusnya di service resmi Canon di Praha. Sejujurnya saya suka kota ini bukan karena romantis, tapi karena di sini mudah banget menemukan ayam goreng kesukaan kita semua, KFC!

Saya mulai merasakan kedamaian di Ceko saat ke Cesky Krumlov, kota kecil yang lokasinya 3 jam dari Praha. Lumayan sepi dan bisa nyantai tanpa bising ibu kota. Saking kecil nya kota ini, saya sudah tawaf sampai tiga kali. Tanpa peta pun, saya nggak bakalan nyasar. 


Saya nggak ngerti kenapa waktu itu saya menyelipkan kota ini. Seinget saya alasannya karena masih satu jalur dari Ceko ke Hungaria, jadi saya menganggapnya transit. Meskipun berada di Eropa Timur, negara ini menggunakan mata uang Euro, jadi bisa dibilang biaya hidup di sini tidak murah. Kalau dipikir-pikir mendingan ke Slovenia deh. Namanya mirip-mirip tapi beda jauh. 


Budapest jadi city trip favorit saya selama di Eropa, karena di sini paling murah dibandingkan kota-kota lain di Eropa, di sini saya bebas mau jajan apa saja. Perasaannya itu sama kayak jalan-jalan ke Jogja, semuanya murah dibanding Jakarta. Meskipun ibukota tapi Budapest menyenangkan karena kami bertemu banyak orang baik. Kami main ke pasar serasa jadi orang lokal. 

Oiya karena tripod saya patah saat di Budapest, saya mampir ke toko kamera buat beli tripod baru. Saya nggak deg-deg-an buat konversi mata uang ke Euro karena Budapest punya mata uang sendiri. Dapet tripod bagus merk Rollei dengan harga yang cukup murah. 


Kami suka Vienna karena kotanya ramah Muslim. Belanja ke pasar nemu sosis halal yang enak banget dan Bre mau Jumatan juga mudah karena di sana ada masjid besar. Saya pertama kalinya menonton musik orkestra juga di kota ini sekalian ikut festival di Karlsplatz, serasa jadi warga lokal. 

Dari Vienna kami melakukan trip impulsif ke Innsbruck setelah mencoret Salzburg dalam daftar itin. Sebuah keputusan mendadak untuk mengobati rasa jenuh karena terlalu lama city trip. Kami ke Hafelekar, salah satu puncak pegunungan Alpen yang ada di Austria. Salah satu momen terbaik selama perjalanan kami di Eropa. Sepertinya kami memang lebih cocok untuk nature trip. Melihat pegunungan saja bisa bikin bahagia.


Setelah cukup puas merasakan keindahan alam pegunungan, kami melipir mencari pantai. Dan Venice jadi salah satu destinasi dalam bucket list saya. Sebelum kota ini tenggelam, saya mewajibkan diri untuk singgah di kota yang katanya menjadi kota paling romantis setelah Paris. Tapi semuanya tidak sesuai ekspektasi. Kotanya ramai penuh sesak sama turis, termasuk kami ini. Untung kami hanya menginap dua malam, rasanya mau buru-buru pergi dari kota ini. 

Momen tak terlupakan adalah saat saya kepleset di pinggir kanal kecil yang berlumut, belakang celana saya jadi hijau semua. Habis itu malam-malam nongkrong asik di depan gereja Santa Maria menghadap pantai kami kesiram ombak besar. Sepatu dan celana lumayan basah. Hhh~ nggak ada romantis-romantisnya. Oh iya, dalam perjalanan ke Venice saya kena pinalti tiket 30 Euro hanya gara-gara lupa melakukan tapping tiket. Tiketnya sudah beli, tapi lupa di tapping.

Dari Venice kami ke Turin. Saya diajak Bre ke kota ini karena dia ngefans sama klub bola Juventus. Bre ikut tur di stadion Juventus, saya nunggu sambil baca buku, bengong, tidur di depan stadion. 


Tahun 2008 adalah saat saya bermimpi ke Eropa gara-gara baca bukunya Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi (makasih Mira udah minjemin!) dan Edensor. Saya membayangkan menyusuri labirin ke gang-gang sempit kota tua di Eropa. Dari situ saya bercita-cita ke Menara Eiffel di Paris. Saya membuat papercraft Menara Eiffel dengan tagline "I'll be there someday, I promise." lalu dipajang di kamar kos, dan masih ada sampai sekarang. Mimpi itu sudah terwujud namun masih ada ruang kehampaan yang ada dalam jiwa. 

Ngapain sih gue ke Paris? Di sini tuh banyak imigran, scam, copet, pup anjing di mana-mana dan bau pesing. Saya mengalami sendiri melihat orang di depan saya kena scam persis yang diceritakan di blog-blog. Memang dari awal saya tidak memasukan Paris dalam daftar itinerary. Namun rencana berubah setelah melihat tiket Islandia dari Turin sangat mahal, jadi dari Turin kami ke Paris dan menginap dua malam saja. Hari pertama istirahat di hotel, hari kedua explore menara Eiffel dan sekitar, lalu hari ketiga berangkat ke Islandia.


Mencoret Swiss dalam daftar perjalanan adalah kesalahan, meskipun dengan alasan biaya hidup yang terlalu mahal di sana. Padahal kalau bisa time travel, saya mau coret Brussel, Venice, Bratislava dan Paris. Ibu kota memang tempat yang sebaiknya dihindari.

Dan penyesalan itu cukup terbayar dengan mengunjungi Islandia, yang disebut sebagai negara api dan es karena memiliki banyak geyser atau balokan es terbesar di Eropa dan gunung berapi yang masih aktif. Nggak bosan berulang kali nonton film Secret Life of Walter Mitty. Akhirnya kesampaian juga sampai di tempat yang nggak kayak di bumi ini. Islandia adalah tempat terbaik yang kami kunjungi selama 50 hari keliling Eropa. Save the best for the last.

Transportasi antar kota di Eropa


Semua bawaan selama 2 bulan keliling Eropa.
Foto sebelum melanjutkan perjalanan dari Innsbruck, Austria ke Venice, Italia.

Kami keliling Eropa secara mandiri dengan style backpacker. Saat itu usia masih 20-an, isi saldo tabungan pun secukupnya hanya untuk ke Eropa saja. Banyak yang mengira saya dapat beasiswa kuliah di Eropa jadi bisa jalan-jalan di sana pakai uang saku. Kepinginnya sih begitu, tapi saya dapat kesempatan dengan cara lain yaitu bakar tabungan sendiri. Hahaha. Jadi selama di Eropa, saya cari akal supaya bisa berhemat dan bertahan hidup. Salah satunya adalah dengan masak sendiri dan menggunakan transportasi umum yang murah seperti bus. 

Untuk transportasi antar negara, sebelum berangkat saya hanya membuat daftar list untuk booking bus atau kereta menyesuaikan dengan rencana itinerary negara yang mau kami kunjungi. Kami booking saat sudah berada di Eropa, itupun rata-rata 2 hari sampai seminggu sebelum keberangkatan. Hal ini tentu saja untuk menyiasati jika di tengah perjalanan kami berubah pikiran ingin mengubah destinasi. Seperti rencana ke Islandia yang awalnya hanya angan saja, sampai pada akhirnya kami yakin untuk pergi ke sana dengan membeli tiket pesawat satu seminggu sebelum keberangkatan. 

Detail perjalanan antar kota antar negara selama 50 hari

Dari semua provider transportasi antar kota dan negara selama di Eropa, kami paling suka bus RegioJet  milik Student Agency, sebuah perusahaan travel di Ceko. Harganya mahasiswa banget, kayak lagi naik Primajasa Jakarta - Bandung tapi fasilitasnya sangat oke. Dapat air mineral, refill teh atau kopi, free wifi, dan kursi yang cukup nyaman buat bobok lama. 

Omong-omong, melihat jarak dan lama perjalanan antar kota di Eropa kok sepertinya dekat-dekat ya. Keliling Eropa seperti ini bisa dibabat dengan menggunakan kendaraan pribadi (sebagian besar di daratan Eropa Barat dan Timur). Sayangnya saat itu kami berdua tidak punya lisensi SIM internasional, hmm, lebih tepatnya belum bisa nyetir sih. Hahaha. Tapi setelah melihat rincian biayanya, menurut saya hop on hop off bus atau kereta antar negara biayanya lebih murah dibanding menyewa mobil. Lebih cocok bagi  yang berencana traveling dalam jangka waktu lama dan lebih fleksibel. Baru nanti, saat tinggal lama di satu negara kita bisa menyewa mobil untuk keliling ke tempat-tempat wisatanya. Seperti saat ke Islandia, kami menyesal tidak menggunakan mobil sewa untuk roadtrip. Di sana tiap 200 meter itu bikin kepingin berhenti, saking bagus pemandangannya. Sekarang saya bermimpi bisa roadtrip bawa mobil sendiri di Swiss, amiin!

4 comments

  1. waww ngeliat niken semangat nulis2 yg dulu2, aku jadi tercambuk juga nih nulis2 trip yg belom ditulisss. bener banget ken, nulis buat diri sendiri, karena kadang pas baca2 lagi blog sering kaget sendiri : lah dulu tuh gini ya? wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha blog jadi semacam diary juga kan, jadi bisa dibaca2 sendiri lagi. kadang suka bikin ketawa2 sendiri wkwkwk ayo mir semangattt nulis lagi ^^

      Delete
  2. Kenn gw jadi pengen kesana deh hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayoook ambil s3 di europe, Din. aku mendukungmuu!!

      Delete