Our sea world

December 29, 2018



Cara untuk menjadi tetap muda adalah dengan banyak tersenyum dan bahagia. Menikmati hal-hal yang sederhana, memberikan waktu untuk beristirahat dari penat pekerjaan, bertemu dengan teman-teman, dan piknik!

Catatan ini ditulis di tanggal 29 Desember 2018. Belum sempat posting karena belum sempat bongkar isi kamera. Foto utama tulisan juga nyomot dari trip Februari 2019 kemarin karena di tahun 2018 kami ngga nyemplung ke laut sama sekali.

Karena itulah kami ke Seaworld
Penghujung tahun 2018 adalah waktu di mana saya dan Bre sedang padatnya dengan pekerjaan. Boro-boro mau piknik, update instagram aja ngga sempat. Semua rencana jalan-jalan pun batal, hanya jadi wacana. Tahun ini kita benar-benar ngga kemana-mana, cuma wisata kuliner saja ke Jogja. Sedih, hanya bisa meratapi notifikasi dari tiket.com dan promo-promo tiket murah lainnya. Tapi saya sedih tidak sendiri, di sini ada mas-mas yang brewok nya mulai tebal dan rambut nya mulai botak tidak terurus yang juga kurang piknik. 

Kita berdua masih menatap layar laptop dengan wajah yang kusam, sampai saat mata kita saling bertemu. 

"Yaudah kita ke Ancol aja yuk, seumur-umur hampir 30 tahun menetap di Jakarta gue ngga pernah ke pantai Ancol." 
"Gue udah pernah sih pas Soundrenaline, hehe."
"Tapi kan gue belom. Hmmm.."

Kemudian kita terhenti sejenak, masih mencoba mencari alternatif lain untuk piknik. Lalu seperti ada bisikan, saya teringat tentang Seaworld. Tentang keinginan saya sedari kecil berkunjung ke wahana itu selalu gagal karena keluarga saya lebih suka main ke Gelanggang Renang (sekarang Atlantis). Jadilah "piknik kecil" kita di penghujung tahun ini main ke Seaworld. Dan untuk menghindari keramaian, kita kesana hari Jumat. Bre sengaja cuti, karena hari itu adalah tepat empat tahun kita bersama berlayar mengarungi samudera rumah tangga.

Ngebolang ke Jakarta Utara

Tiketnya 85k weekday / 105k weekend
Pas kesana ada promo 60k jika masuk sebelum jam 10

Saat kita kesana, memang pengunjung di dominasi oleh anak-anak. Sejak dari kita sampai, sudah ramai sama anak-anak TK.
Seperti saat kita menyelam, perasaan haru melihat biru nya alam bawah laut tidak bisa diungkapkan kata-kata. Biarlah masker, snorkel dan fin mulai menjamur di kotak penyimpanan di gudang, main ke Seaworld ternyata bisa mengobati kangen nya sama laut. Di sana saya bukan lagi Niken yang usia nya sudah hampir 30 tahun. Di sana juga saya lupa kalau Bre udah lewat kepala 3. Kita kembali seperti anak-anak, begitu kagum hanya karena melihat ikan berukuran lebih dari dua meter atau tak henti-hentinya tersenyum melihat ikan pari yang selalu tersenyum saat menempel ke kaca.


Di bagian kolam ubur-ubur yang tenang banget
Berasa lagi nyelem.
Dari kiri ke kanan: Ikan fugu, lion fish, ikan loreng-loreng dan ikan pembersih kaca akuarium

Akuariumnya bisa diangkut ke rumah ngga ya...
Pertunjukan memberi makan ikan
Sudah tiga jam di dalam, kita sampai hafal denah Seaworld yang ukurannya tidak terlalu besar ini. Kita sampai ikutan nonton pertunjukan memberi makan ikan di kolam utama. Seru banget, ngeliat ikan-ikan pari nyiumin bibir si mas-mas nya. Saya pun sampai menang ikutan kuis dari mc nya, waktu dia nanya siapa nama pemburu reptil yang meninggal diantup ikan pari. Siapa yang ngga kenal Steve Irwin coba, jaman televisi masih berkonde dulu suka banget nonton acaranya. Eh hadiahnya ternyata cuma sticker, kirain kaos gitu atau kesempatan bisa nyelem ke kolam utama. Hehe.

Kamu ngapain?
Pengen jadi selebgram tapi gagal
Sebelum keluar dari gedung Seaworld, ternyata hujan deras sekali. Untungnya cuma sebentar, lalu kami berdua memutuskan untuk makan malam di Bandar Djakarta. Lokasinya dari Seaworld lumayan dengan jalan kaki (sekitar 800 meter). Kami pun nyari jalan pintas yang ternyata jalur kereta. Sepi banget ngga ada yang lewat. Sambil berjalan kaki menggunakan payung, rintik-rintik kecil hujan dan lintasan kereta membuatnya jadi romantis seperti di drama Korea. Sayangnya saya ngga sempet foto, karena fokus sama sepatu kanvas ku yang putih ini gimana caranya supaya ngga kena becekan.

Ih kok fokusnya ke lilin si

Engga ada 15 menit ludes
Ini adalah kali pertama kita makan di sini. Wow, kita bisa milih ikan yang mau kita makan. Masih hidup pula. Bayangan tentang becek-becek nya pasar ikan ngga ada sama sekali di sini. Masuk ke Bandar Djakarta kayak masuk ke toko ikan.

Abis makan seafood liat sunset, makin bahagia
Ternyata menikmati hidup tidak harus dengan jalan-jalan keluar negeri (untuk nambah cap paspor), atau ke pelosok Indonesia yang eksotis (untuk update status atau foto) yang tiket nya bisa jadi sudah bisa buat makan sebulan. Karena sesungguhnya kebahagiaan itu kita wujudkan untuk kita sendiri, dengan cara yang sederhana saja. Namun dapat membekas cukup lama sebagai memento untuk masa nanti.

Dari 23 kali take foto, hanya ini yang paling kece.
How we got there:
Naik busway dari rute 6 Ragunan - Dukuh Atas, transit di Halte Halimun. Lalu lanjut rute 4 ke arah Pulogadung  transit di Halte Matraman 2 lalu nyebrang ke Halte Matraman 1. Kemudian naik rute 5 atau 5D ke arah Ancol dan turun di halte paling ujung. Dari sana kita bisa langsung naik ke koridor yang menuju pembelian tiket masuk sebesar 25k. Setelah itu turun menuju halte bus Wara-wiri.

Eh ternyata ada lagi wahana bawah laut di Jakarta, namanya Jakarta Aquarium. Nanti kalau kurang piknik lagi bisa dijadikan referensi jalan-jalan. Mungkin karena pisces sama aquarius kali ya, jadi kita seneng banget ketemu air sama ikan.

You Might Also Like

0 comments