Camping Ceria: Piknik Asik Gunung Pancar

September 15, 2015

Kanan kiri hammock, mengapit tenda cinta ku yang unyu ^.^

Terakhir trip sama doi itu pas mudik ke kampung halaman di Malang. Terbang tinggi di atas Kota Batu sambil kulineran baso-basoan di Malang. Setelah nge-cek postingan di blog ternyata itupun trip terakhir di bulan Juli. Hampir dua bulan nggak kemana-mana, tiap weekend pun kami ngabisin waktu di rumah ngerjain proyek (programmers have no life). Rasanya kepala ini mau meledak, lagi butuh banget jalan-jalan. Kalo bahasa jerman nyebutnya fernweh -haus banget ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungin. Rencananya mau naik Gunung Papandayan tapi ternyata oh ternyata gunungnya baru kebakaran, hiks. 

Ngga pusing mikirin soal destinasi, keingetan dulu pernah punya rencana ke Gunung Pancar. Gara-gara berita kekinian pernikahan salah satu seleb di Indonesia yang diadain di hutan pinus di Lembang Bandung. Nah, di Bogor ternyata punya juga hutan pinus yang kece. Berangkatlah kami berempat setelah nego sana sini susah banget ngajakin temen, kebanyakan alasannya karena saya bawa pacar. Padahal bawa pacar ga bawa pacar, niken tetaplah niken. Selalu ceria di mana pun ia berada. Hahahaha... Ejie dan Roy sepakat ikut an setelah nego lama nunggu Ejie yang lagi super sibuk sama kerjaannya.

Sabtu sore pukul 3, menggunakan kendaraan roda dua, kami janjian ketemu di pertigaan Simpang Depok Jalan Raya Bogor. Saya dan Brew udah sampe duluan, dan ternyata si Roy masih di Kampung Rambutan nungguin Ejie. Daripada nungguin jadilah saya dan Brew duluan jalan dan janjian lagi di perempatan Jungle Land. Ketemu di sana sudah pukul 6 sore. Lama juga ya, lah wong kami berdua berhenti-berhenti terus leha-leha nyari minuman dingin sembari nunggu Roy dan Ejie. Dari perempatan Jungle Land, jarak ke Gunung Pancar tinggal 1,5km lagi sih. Dan kami sampai di lokasi langit udah gelap.

Glamping a.k.a. Glamour Camping bersebelahan dengan tenda kami

Sampai di loket Taman Wisata Alam Gunung Pancar atau TWAGP, kami dikenakan tarif masuk 5000 rupiah per orang dan 5000 rupiah per motor. Sebelumnya saya sudah bertanya soal kemah di sana, tapi sepertinya petugas dan satpam penjaga di gerbang loket tidak begitu tahu soal itu dan kami disuruh langsung ke kantor pengelola yang berada di samping kiri gerbang loket. Biaya masuk ini kata si petugas sih biaya masuk yang dibebankan dari Dinas Kehutanan. Kami membayar 30 ribu rupiah tapi kami tidak diberi tiket. Weleeh.. ada konspirasi apa ini. Saya udah terbiasa masuk-masuk ke tempat wisata dengan tiket, karena kalo kita bayar dan ngga dikasih tiket berarti bisa jadi uangnya masuk ke kantong pribadi. Maka kami dengan kekeuh minta lembar tiket. Karena alasannya tiketnya habis, yasudah deh dengan rela kita kasih dan langsung ke kantor pengelola. 

TWAGP ini ternyata dikelola oleh PT Wana Wisata Indah. Kami bertemu dengan mbak-mbak model kantoran dan tanpa basa-basi kami diberitahu soal lokasi kemah yang sudah penuh. Ada satu ground yang kosong namun lokasinya di bawah, tepat sebelum gerbang loket TWAGP. Yaudahlah, udah jauh-jauh kesini juga. Tiap peserta dikenakan charge untuk berkemah sebesar 50 ribu rupiah. Eh ternyata lebih murah dibanding info yang saya peroleh di internet. Terus saat kita mau dianter ke lokasi, kami pun mengadukan soal lembar tiket yang tadi ngga dikasih petugas. Tahu-tahu uang kami yang tadi dikembalikan sama si mbaknya. Waah... rejeki anak sholeh. Hehehe.. Sebelum ke lokasi kami pun menuju ke atas nyari warung makan yang ternyata banyak berjejeran di gerbang masuk Sumber Air Panas TWAGP. Lalu kami kembali ke lokasi ground bawah yang ternyata kosong melompong ngga ada yang berkemah di sana. Ejie pun khawatir dan kami kembali ke atas sambil berharap nyari lokasi lain yang lebih rame. 

Kami bertemu dengan A' xxx yang bekerja di bagian marketing PT Wana Wisata. Ia dengan senang hati mengantarkan kami ke Ground A yang berada di paling atas sebelum gerbang masuk sumber air panas. Acara yang ada di Ground A sudah selesai, jadi di sana tinggal sampah-sampah aja. Sampai sana kami urung banget, dan memutuskan untuk kemah di lokasi Glamour Camping atau singkatnya Glamping.  Setidaknya di sana bukan lapang luas tapi sudah terpetak-petak dan kelilingi pepohonan pinus. Lebih asik dan rumputnya lebih hijau. Setelah dapat tempat yang asik, kami baru mulai nenda jam setengah sembilan malam!

Selamat pagi semesta!

Kebanyakan drama sepertinya malam minggu itu. Setelah tenda dan hammock terpasang sempurna, kami menghabiskan malam di atas extra flysheet yang saya jadikan tikar sambil gegitaran dan bercerita, sambil ngopi dan ngeteh. Bangun pagi kami disambut mentari pagi yang cerah. Kami pun menggelar tikar di pinggir ground camping tepat di sebelah jurang sehingga pemandangan matahari yang muncul dari balik bukit dapat langsung kami nikmati.

Terpesona melihat tupai yang berlarian di dahan pohon pinus


Brew mulai mengeluarkan peralatan perang buat masak. Saya ngeluarin kamera. Hahaha.. Dari awal sebelum berangkat waktu ke pusat perbelanjaan nyari logistik, saya udah bilang ke doi ngga ada niatan masak-masakan. Pengennya piknik beneran tinggal makan sambil jepret-jepret. Tapi doi kekeuh pengen banget bikin pancake. Jadilah saya bawain pancake instan tambah susu cair dan telur mentah. Ternyata doi buktiin bisa masak sendiri, mulai dari adonan sampe bisa di makan! Lain kali gue bawain yang agak rumit yah, hahaha.. 

Yang kekeuh pengen bikin pancake sendiri.
Percobaan pertama agak gosong hahaha..
Hasil kreasi Bang Roy setelah bikin pancake berbentuk kecil-kecil kayak kue cubit


Bang Roy pun meneruskan masak-memasaknya dan saya mengajak pacar mainan di Banana, hammock berwarna kuning kayak pisang kesukaannya si Stuart Minion. "Hoaah dua hari nggak megang laptop rasanya... ". Begitu desahnya sambil senyum sumringah melihat ke atas, dahan-dahan pinus dan langit, dan lalu langsung tertidur. Pagi kami habiskan dengan makan-makan dan foto-foto. Ngga cuma pancake, ada mie goreng, mie kuah dan buah-buahan lengkap deh pikniknya.  Di tambah suara saxophone memenuhi ruang diantara pepohonan menambah syahdu suasana. Sepertinya lagi ada sesi foto sebuah band jazz yang dekat dari lokasi kemah kami.


Sleep on banana


"Ken foto tapi perut gue ga keliatan gendut ya."
Seriously baru pertama kali cowo bilang gitu ke gue, biasanya cewe hahaha..

Ejie lagi hammockan kelelawar style, di kebun belakang rumah


Tripod ku kepake!
Itu yg dibawah tidur beneran sambil ngemut jempol

Cerita piknik asik di Gunung Pancar usai sudah, sekitar jam 10 pagi kami lanjutkan perjalanan ke Leuwi Hejo tapi nyasar sampai ke rumah! Di ujung jalan sekitar 15 menit sebelum sampai Leuwi Hejo saya putuskan kembali ke rumah saja, karena kondisi jalan ke Leuwi Hejo sangat parah kami sampai harus turun dari motor dan jalan kaki. Lagi pula dengan banyaknya para pelancong yang memenuhi jalan udah bisa ditebak bakal sepenuh apa itu kolam ijo. Di perjalanan kembali, kami mampir makan bakso dan minum es teh. Lebatnya pepohonan pinus di Gunung Pancar memberi cerita manis dan tawa untuk dibawa pulang ke rumah. Weekend gateway September ini berhasil!




How to get there

Menggunakan roda dua, cari lah Jalan Raya Bogor. Dari arah kampung rambutan lurus saja sampai ketemu pertigaan alternatif Sentul belok kiri. Dari sana lurus saja sampai ketemu flyover jalan tol ambil ke arah Sirkuit Sentul. Di pertigaan Sirkuit Sentul ambil kanan menuju Babakan Madang. Ikuti arah menuju Jungle Land. Sampai di pertigaan Hotel Harris, ambil kiri. Terus ikuti (Jalan Sumur Batu )sampai ketemu perempatan Jungle Land. Ambil lurus ke arah curug (Jalan Uli). Jika ketemu pertigaan lagi berbentuk Y, ambil kanan ke arah TWAGP. Perjalanan menghabiskan waktu kira-kira 1,5 jam dari Kampung Rambutan kalau ngga macet.

You Might Also Like

4 comments

  1. Keeenn..

    Aku sudah baca keeenn..

    1. Baru scrol aja, ejie sudah ngakak liat foto2nya
    2. Brew ciyusan ngemot? *sakit peruuuuuttt..
    3. Jujur lupa nama aa' yang temanin ke camping ground atas.
    4. Gimana sih caranya bisa tau kilometer itu? Selalu bermasalah sama hal itu, keeenn...
    5. Kapan kita piknik lagi ken? MAU!

    *nyengir ga brenti2
    *nanti mau di link ke tulisan ejie yaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahaaahahaa
      Waktu jalan ke Jungle Land kan pake GPS, tiap berenti setting lokasi biar tau kira2 sampe berapa kilo lagi makanya hapal wkwkwk..
      Kemping kalo ngga ngajak Ejie tu kurang seru, yang heboh nyari lokasi camp sampe jam 9 malem! Gelap2an deh masang tenda ama hammocknya hahaha, sip nanti diajakin lagi!

      Delete
  2. Ken next time kalo mau ke papandayan kabarin, bisi aku mau ikutan hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. dika bukannya udah balik purwokerto?
      hahahaha siap transport pp?? siiip nanti diajakin kit akemping seruuuu

      Delete