Melanglang Ke Bruges Kota Dongeng

October 10, 2016


Kalau ditanya berapa persen perjalanan 50 hari keliling Eropa kami yang sesuai dengan rencana, saya akan jawab hanya 30%. Sisanya adalah kejutan. Begitu juga dengan Belgia, saya tidak memasukkan nya ke itinerary perjalanan kami. Jadi ceritanya sebelum berangkat, saya mencoba menghitung kembali anggaran selama di Eropa dan ternyata biaya hidup di Belanda lumayan tinggi. Maka saya mencoba memangkasnya dengan menyelipkan negara Belgia selama empat hari tiga malam. Tidak akan terpikir kota-kota cantik di Belgia seperti Ghent atau Antwerp akan masuk ke dalam itinerary, hanya Brussels, ibu kota Belgia yang terlintas di kepala saya waktu itu. 

Jadi selama di Brussels, kami ngga punya itinerary. Lha wong baru pesan penginapan aja empat hari sebelum kami berangkat. Mana sempet bikin-bikin itinerary. Going where the wind blows saja lah (ini Mr. Big banget). Begitulah di hari pertama di Brussels kami hanya berjalan sedikit keluar penginapan yang ternyata dekat dengan Manneken Pis, kemudia di hari ke dua ini lah kami melancong ke Bruges, one of the suprise gift from our random destination in Europe.

Minnewater, tempat paling sepi di Bruges
Saat itu sudah siang, karena kami ngga ada plan makanya kami sengaja tidak bangun pagi, nyuci dan ngejemur pakaian, masak-masak dan gegoleran di kasur. Sudah hampir jam 12 siang, kami berjalan kaki gontai ke stasiun besar Gare du Midi yang jaraknya sekitar 1,2km dari apartemen Meline. Sampai di sana, kami ke bagian Travel Information yang membuka loket-loket pemesanan tiket. Ada juga beberapa mesin tiket otomatis. Untuk mesin otomatis sepertinya masih baru di Brussels, karena ada beberapa petugas yang siap membantu jika kita membeli tiket dengan mesin. Kami pun membeli tiket ke Bruges dengan dibantu salah satu petugas, sambil menanyakan detail tiket yang akan kami beli buat esok hari. 

Ya, kami berencana ke Bruges esok harinya. Hari itu kami ke stasiun hanya iseng beli tiket dan sekalian cari-cari info. Si mas petugas bolak-balik mengeset hari dan memberi kami pilihan untuk membeli tiket untuk hari ini, karena ada diskon 50% untuk tiket akhir pekan musim panas. Waduh, kami pun jadi tergoda. Karena belum bisa memutuskan akhirnya kami ngga jadi beli dan mencoba mengatasi kebimbangan kami dengan berjalan kaki dari ujung ke ujung stasiun. Kami bimbang karena ini hari minggu dan besok sudah senin, lalu hari ini sudah terlalu siang jadi waktu kami main hanya sebentar. Kami pun ngga bisa mikir lama-lama, karena kereta ke Bruges hanya ada satu jam sekali. Sampai pada saat kami berhenti di depan mesin otomatis yang ada di tengah-tengah stasiun, kami putuskan untuk ke Bruges hari itu juga. Lumayan banget kan, seharusnya tiket pulang pergi Brussels-Bruges itu €30 ini jadi kepotong setengahnya. Soal berapa lama waktu kami di Bruges yasudahlah, kereta paling malam ke Brussels kan jam 11 dan matahari tenggelam juga jam 8 malam. So, nothing to lose. Setelah membeli tiket, kami membeli roti dan kopi di stasiun lalu langsung bertolak naik kereta ke Bruges. Tanpa persiapan, tanpa bekal, tanpa rencana apapun. 

Buku catatan perjalanan selama di Eropa dan paper cup coffee yang bertuliskan Indonesia, jadi kangen 
Perjalanan kereta selama kurang lebih satu jam, tak terasa karena sepanjang waktu kami habiskan dengan mengobrol. Menduga-duga kira-kira nanti di Bruges kita mau ngapain karena mau browsing pun kami ngga nemu free-wifi. Sampai di stasiun Bruges, yang saat itu sebagian sedang dibangun, tempat pertama yang langsung kami tuju adalah Tourist Information. Kami ambil peta, nanya-nanya ke si mbak nya dan browsing menggunakan komputer yang ada di sana. Ngga lama-lama, karena semakin lama kita bikin rencana, waktu kita hanya habis untuk rencana. Kami berjalan kaki ke depan stasiun dan menyebrang jalan. Mengikuti selembar peta yang tadi kami ambil (sayang sekali waktu itu kami belum tahu ada teknologi google map offline -_-).

Begijnhof, kebun rindang yang kayak nya asik buat piknik. Oops, dilarang menginjak rumput.
Kita bisa juga menggunakan alternatif bus umum untuk langsung menuju Altstadt, pusat kota tua Bruges. Tapi kami memilih berjalan kaki, another way to fully enjoy the Europe's medieval architecture. Ah bilang aja mau ngirit. Hehe. Berikut rute yang saya tulis setelah seharian keliling Bruges.

Minnewater - Begijnhof - Church of Our Lady - Flea market - Rosary Quay - Meestraat Bridge - Burgplatz - Markt Bellfort tower - Grote Markt

Gang sempit menuju Burgplatz
Baru sampai di pinggiran Altstadt, Bruges menyapa kami dengan sungainya yang tenang mirip danau di Minnewaterpark. Ada beberapa bangku berjejer yang menghadap sungai, cukup rindang karena ada pohon besar di antaranya. Kami langsung duduk, menikmati angin sepoi dan memanjakan mata dengan latar belakang sungai yang berupa kastil kecil. Dari sana kami berjalan kaki menyusuri sungai, yang semakin ke dalam semakin banyak angsa dan bebek yang hidup bebas, yang menurut saya kelewat banyak kayak peternakan. Watch out your snacks, karena angsa-angsa itu bakal nyamperin nyosor-nyosor ke kita. 

Menjadi turis dengan selalu membaca peta.
Saya benci pelajaran Geografi di kelas, makanya saya suka jalan-jalan.
Kami masuk ke Begijnhof, kompleks yang dibangun untuk tempat tinggal para Beguine atau semi-biarawati. Kompleks nya berbentuk bangunan putih yang di hadapannya terdapat kebun luas dengan pohon-pohon yang rindang. Kami berjalan kembali, kali ini tidak menyusur sungai tapi melewati toko-toko dan restoran. Beberapa kali kereta kuda lewat, yang membuat kami amazed karena ukuran kuda nya yang kelewat besar. Ya besar lah, orang bule yang nunggangin juga besar-besar. Kami melewati Church of Our Lady atau Onze Lieve Vrouwekerk, yang menaranya menjulang tinggi sampai kelihatan dari mana pun.
Listen to your heart, it may be on your left but it's always right. Kutipan kece, nanti coba DIY deh
Lalu berjumpa lagi dengan kanal yang masih menyambung dengan Minnewater dan sudah banyak berjejer meja-meja penjaja barang bekas atau flea market. Dan mata ini selalu tergoda setiap kali ada yang jualan barang-barang vintage. Langkah kaki melambat karena tiap stall pasti saya berhenti. Bre menarik tangan ku, dan kami sampai ke Rosary Quay atau Rozenhoedkaai, yang katanya spot paling romantis untuk dinikmati berdua dengan pacar. Ah, tidak. Kami langsung berlalu saja, karena spot di sini benar-benar ramai, juga karena panas yang terik membuat kami mencari pohon untuk berteduh.

Rozenhoedkaai’s sophisticated class makes it the ideal location to pause for a moment and together with your loved one enjoy one of Bruges’ most timeless sceneries. ~visitbruges.be
Kata di website resmi nya gitu sih, makanya jadi ramai banget.
Sampai kami menemukan pohon, di situ lah kami berteduh. Melepas sejenak rasa lelah karena kami petualangan kami di Bruges dimulai saat matahari berada di atas kepala. Nyaman sekali karena kami duduk di bawah pohon tepat di depan sungai dan area nya sepi. Saya melihat peta, kami berada di jalan Steenhouwersdijk. Dan tidak jauh dari tempat kami berteduh adalah jembatan Meestraat yang sering muncul di lukisan-lukisan yang dijual di pinggir jalan.

Meestraat Bridge yang menjadi spot favorit para pelukis
Setelah lumayan lama merebahkan badan di bangku panjang itu, kami melangkahkan kaki lagi mengikuti jalan yang ditunjuk peta, dan kami sampai ke Burgplatz, area yang sangat ramai. Maka disebutlah plaza, karena menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Ada yang berkumpul mengelilingi street music performance, ada yang ngantri panjang di food truck, ada anak kecil lari-larian ngejar anjingnya, dan ada yang celingukan nyari bangku kosong kayak saya. Berkeliling kota dengan berjalan kaki dengan modal selembar peta memang melelahkan karena ditambah nyasar.

"Mau kemana lagi ya?" Rasanya udah males muter-muter lagi. "Tahu gitu mah kita nyari airbnb di Bruges aja ya. Jadi ngga short escape kayak gini." Awalnya kami memang kepikiran seperti itu. Tapi urung karena penginapan di sini sama mahalnya dengan Belanda. Kami duduk sebentar, lalu melangkah lagi ke satu tujuan terakhir, Grote Markt, tempat yang jadi ikoniknya kota Bruges. Grote Markt lebih luas dibanding Burgplatz, ditengahnya terdapat patung Jan Breydel dan Pieter de Coninck. Selain bangunan berwarna-warni yang menjadi kafe dan restaurant, berdiri megah menara Belfort yang sudah ada sejak tahun 1240. Rencananya kami mau naik menara ini tapi urung karena kami harus naik 366 anak tangga lagi, yang mana sudah cukup di Utrecht saja dengkul kami lemas gara-gara naik tangga. 

Grote Markt, ikonik nya kota Bruges
Setelah dari Grote Markt, saya menaruh peta ke dalam tas. Jalan kembali pulang kami serahkan saja pada insting pengelana. Kemana angin berhenbus, kami ikuti. Rasanya kipas ngga cukup ngilangin gerahnya muter-muter Bruges di musim panas begini. Sampai lah kami ke tempat-tempat yang tak terduga, yang tak dijelaskan di lembar tourist guide. Tempat yang kami tak tahu namanya dan juga gang-gang sempit yang sepi.






Saya percaya akan ada banyak lagi kejutan menanti. Karena perjalanan tak melulu terikat rencana. Sesuatu yang tiba-tiba, sesuatu yang awalnya tak terpikir sedikitpun, sesuatu yang awalnya membuat kami ragu, pada akhirnya semua adalah garis-garis pena yang akan kami tuliskan dalam lembaran kisah hidup. Dan perjalanan ini adalah salah satu cara kami agar benar-benar hidup. Betapa lelahnya kaki ini melangkah agar dapat merasakan dan melihat betapa indahnya dunia yang tidak hanya ada di cerita-cerita dongeng. 

You Might Also Like

2 comments

  1. Aaaakkkk,, kotanya cantik banget. Put it in my wishlist

    ReplyDelete
    Replies
    1. atau Ghent juga kak lintang, cantik juga tapi lebih besar :)

      Delete