Halo 2017

January 27, 2017

Aloha halo, dua ribu tujuh belas! 

Masih setia selama hampir tujuh tahun di tempat yang sama ini. Tempat di mana aku menuangkan segala cerita, untuk nanti. Sayangnya kesenangan menulis yang kadang-kadang hilang karena penatnya aktifitas atau karena suasana hati. Hingga akhirnya membuatku lupa waktu, kalau enam belas tau-tau sudah berganti menjadi tujuh belas. Jadi sekarang akan ada banyak latepost, cerita-cerita di tahun kemarin yang belum saja sempat aku tulis. 

Dua ribu enam belas adalah tahun di mana impian yang aku tempel di dinding kamar, di meja kerja, di sticky notes desktop, dan menjadi jawaban setiap pertanyaan tentang kenapa saya berani resign, sudah terwujud. Impian yang mungkin bagi orang kecil, tapi bagiku adalah satu fase untuk dapat memberi arti pada hidup. Bahwa hidup bukan hanya lahir - makan - bekerja - menikah - punya anak - lalu mati

Hafelekar, salah satu puncak Alpen di Innsbruck
Aku baca lagi tulisan-tulisanku dulu, setiap cerita yang aku tulis karena gundah gulana. Misalnya waktu begitu ngefans nya sama Eiffel, waktu ngejar skripsi ngga lulus-lulus, waktu galau karena susah move on (ini paling ngga banget deh, sengaja ngga aku kasi link karena malu-maluin hahaha), waktu galau dan penatnya sama kerjaan dan saat bosan dengan hidupDan itu semua, yang membuatku masih bisa berdiri adalah karena memiliki cita-cita. 

Sekarang aku bisa tersenyum pada Niken delapan tahun yang lalu. Aku ingin bilang ke kamu, terima kasih sudah berani bermimpi. Terima kasih karena ingin melihat aurora, ingin naik ferriswheel dan nonton orkestra di Vienna, ingin menginjakan kaki di salah satu puncak Alpen dan ingin tersesat di labirin-labirin kota di Eropa. 

Northen Lights from Iceland

Karenanya aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal pada dua ribu enam belas, tapi terima kasih sudah menjadikan hidupku lebih berwarna. Dan selamat datang dua ribu tujuh belas, kira-kira aku ingin bermimpi apa lagi ya?

You Might Also Like

0 comments