Melangkah

Wednesday, February 6, 2013

90 meters ray of light Goa Jomblang, Jogjakarta
11 Oktober 2011

Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang beraksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan.

Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin.

Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!

~ Edensor, p. 42


Bermimpi menjelajah ke Eropa. Sepuluh Februari dua ribu delapan waktu itu. Lama sekali, hampir lima tahun berlalu. Saat itu, menjelajah Eropa hanya muncul di angan-angan saja karena saat itu saya belum menyadari adanya passion traveling di diri saya. Saat ini tekad sudah melekat, satu atau dua tahun lagi saya akan terjebak di dunia entah berantah, sambil menggendong ransel biru dan membaca peta. Saya akan bertemu dengan orang-orang asing. Saya akan tersesat, menjumpai tempat-tempat yang tak pernah saya lihat. 

Setahun lalu, saya bermimpi untuk bisa menikmati secangkir kopi di Labuan Bajo. Saat itu saya hanyalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang biaya hidup saja masih tergantung orang tua. Setiap merencanakan perjalanan, saya harus pintar-pintar menyisihkan uang jajan saya. Menjelajah Flores saat itu adalah penyemangat saya untuk menyelesaikan tugas akhir. Saya percaya saya akan benar-benar mewujudkannya. Dan benar, kurang dari setahun kemudian saya duduk di balkon paradise bar menghadap laut menikmati kopi flores setelah senja mulai hilang berganti malam..

Tahun ini saya ingin buat resolusi! "Hidup kita membosankan ya, ceu?" Obrolan itu dimulai di sebuah warung kopi. "Tapi kita itu awesome!" Malam itu kami membagi cerita dan keluh kesah. Hujan dan penat bercampur aduk dengan kopi hitam. "I want to make something great, I want to change my life." Kerja kantoran, duduk berjam-jam di depan komputer, sepertinya bukan gue banget!


Kali kedua saya mampir lagi ke warung kopi yang sama, bersama dengan sahabat-sahabat saya di kantor. Berkenalan dengan Mas Deni, barista paling cool di warung kopi itu. "Kita itu hidup pasti bekerja, siapapun dan sampai kapanpun. Uang adalah bonus, yang terpenting adalah kita menikmatinya atau tidak." Kata-katanya itu jleb membuat saya semakin ingin bergerak. Melangkah, maju atau mundur, cepat atau lambat, yang pasti saya tidak ingin tetap dalam posisi nyaman seperti ini. Saya ingin sesuatu yang berbeda yang bisa membuat saya meletup-letup. Kerja = passion. Itu adalah target saya tahun ini untuk menjadi jejak langkah dan bekal menuju mimpi saya ke Eropa. Dan saya percaya, semesta mendukung! 

You Might Also Like

4 comments

  1. niken...

    perasaan mendalam yg sama!
    tak dapat berucap, hanya ingin melangkah..

    smangat untuk asa terdalam kita, ken :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ji, nenek moyang kita dulu untuk bertahan hidup harus nomaden. Berpindah tempat. Rasa-rasanya traveling (bepergian) sudah jadi asa untuk hidup. :)

      Delete
  2. Betul banget, percuma kita kerja keras kalau tak bisa menikmatinya...yang penting Teruslah bemimpi...maka tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. trima kasih om backpacker borneo sudah mampir ke blog saya :)

      Delete

Subscribe