The art of getting lost in Venice

August 17, 2017


Nyasar di kota ini adalah hal yang wajar. Bahkan pakai GPS pun menurut saya ngga akan ngebantu. Mau nanya orang juga susah karena petunjuk jalannya ngga akan membuat kita mengerti. Muter-muter di kota ini selama tiga hari udah cukup membuat ketek kita basah dan kaki bengkak-bengkak. Memang, nyasar adalah salah satu seni dalam traveling, tapi yang satu ini sepertinya ngga bikin kita mau balik lagi ke kota yang katanya bentar lagi akan tenggelam ini, karena faktor tempatnya yang terlalu crowded. Tapi secara keseluruhan, Venice the romatic city of water, kota ini cukup asik buat dijelajahi terutama bagi para pecinta kota dan bangunan tua. 

Melumpuhkan ketakutan, menapaki jalanan, tersesat dalam labirin-labirin sempit, terjebak rumit kehidupan

Tadinya kami berencana tinggal lima malam di Venice. Tapi secara impulsif kami menambah daftar kota Innsbruck dengan memangkas lama tinggal di kota Venice. Kami transit di kota Innsbruck sebelum ke Venice. Untung ya kita ngga lama-lama di Venice, soalnya dengan harga penginapan yang sama, di Innsbruck kita dapat satu kamar berdua dan sarapan mewah, sedangkan di Venice kita tinggal di hostel satu kamar berempat (mixed bedroom) tanpa ac, cuma pake kipas angin. Terus di Innsbruck kan enak ya dingin, pas sampe Venice kita kegerahan terus rame banget kan jadi bete. Hehe. Tapi betenya ilang, saat kita mulai menjelajah (lebih tepatnya nyasar) di kota ini.

Kota di atas air

Petualangan kami di Venice, Italy dimulai dari perjalanan naik bus dari kota Innsbruck di Austria. Kami naik Hello bus, yang datangnya sangat telat yang membuat kami sampai was-was karena khawatir kita nunggu di stop yang salah, tapi akhirnya si bus dateng juga. Selama 3,5 jam perjalanan, saya mulai browsing public transport in Venice Mestre and Venice Island. Udah cukup pede dengan hasil baca-baca, kami turun bus di Mestre (mainland Venice). Sebelumnya udah ditawarin kalau kita boleh turun di terminal bus yang ada di Venice (Venice Island), tapi ngelihat jaraknya yang sangat jauh ke lokasi hostel, kita memilih untuk tetap turun di Mestre, lalu lanjut naik kereta untuk menyebrangi pulau dan turun di stasiun Santa Lucia. Sebuah pilihan yang menurut kita salah, tapi yaudahlah. Kalau ngga gitu, ngga akan ada cerita.

Mas-mas berkaos strip adalah gondola driver

Jadi ceritanya kami kan baru sampe Itali. Udah beda kota, apalagi beda negara, pasti beda lagi sistem transportasi umum nya. Untuk pembelian tiket udah ada mesin otomatis dan kita bisa pake kartu kredit atau uang euro. Kelar beli tiket, kita langsung buru-buru masuk kereta karena takut salah jadwal dan belinya kita udah mepet juga, langsung deh kita naik dan duduk manis. Terus baru kereta jalan, ada petugas yang melakukan pengecekan tiket. Dan ternyata oh ternyata, kita lupa validasi tiket di mesin jepret yang ada di stasiun. Bukan lupa sih, lebih tepatnya kita ngga tau. Soalnya tu tiket lembarannya gede banget dan tebel kayak tiket kereta antar kota di sini, dan ada jam nya juga jadi kami ngga kepikiran buat ngevalidasi dulu. Mulai panik deh kita. Lalu kita dikenakan kena denda €30 berdua, hiks. Aku pun sempat ngeles ngga bawa duit cash segitu (emang bener), dan si petugas dengan santai mengeluarkan mesin EDC. Mau ngeles lagi juga ngga bisa soalnya petugasnya ganteng pisan! Jadi ngalah aja deh biar semua happy. Ini adalah kali pertama kami kena denda!

Nyasar ke gang-gang sempit
Sampai Stasiun Santa Lucia kami ngatur nafas dulu sambil nyari-nyari map gratisan yang ternyata ngga ada! Ada pun kita harus beli di toko-toko yang ada di sepanjang jalan. Untuk sampai hostel kami ngga terlalu nyasar sih, karena cuma lurus aja dari stasiun, dari jalan utama cuma tinggal belok kanan di restoran X. Bingungnya pas udah di depan restoran X, itu hostel ngga keliatan sama sekali batang hidungnya. Kami sempat nanya-nanya sama waiter disitu tapi ngga ada petunjuk. Akhirnya dengan kekuatan bulan kami sampe juga ke tempatnya. Namanya saja yang Veniceluxury Hostel, tapi plangnya pun ngga ada sama sekali di depan pintu, kita cuma pake feeling waktu mencet bel. Belum kelar check in, ternyata pembayaran harus cash, mereka ngga nerima kartu kredit. Omaygat, duit euro di dompet tinggal 2 lembar, dan kita kasih semua ke hostnya, dengan catatan besok harus bisa lunasin sisanya pake cash. 


Water 7 city

Kami mulai jalan-jalan di kota ini setelah kelar check in, early dinner dan ngobrol sebentar dengan teman satu kamar kami yang baru saja balik dari penjelajahannya. Sepertinya dia kecapekan, terlihat raut wajahnya yang lelah dan bajunya yang udah basah keringet, kayak abis jogging sore. Baru keluar pintu hostel, kesan pertama kami waktu jalan-jalan di sekitaran hostel adalah kami berasa ada di atas air, karena di gang sempit pun dikelilingi kanal-kanal. Jadi inget, kota ini mirip banget sama kota Water 7 yang ada di serial anime One Piece kesukaan kita. Tak diragukan lagi, Oda sensei pasti terinspirasi sama kota ini. Saya dan Bre juga baru nyadar sih, pas melihat ada perahu yang tiba-tiba keluar dari sebuah bangunan. 





Warna airnya yang hijau bercampur biru seperti toska, yang menandakan kalau kita berada di atas laut

Piazza San Marco

Jalan-jalan kami sore itu berujung sampai ke Piazza San Marco, yang menjadi pusat turis di kota Venice. Di sini kita bisa melihat matahari tenggelam menghadap Grand Canal yang berakhir di laut lepas. Sudah tidak terlalu ramai karena hari sudah mulai gelap dan kebanyakan turis mungkin mengunjungi kota ini as one day trip. Kami kembali ke hostel sebelum benar-benar malam, karena rute jalan pulang pasti tidak sama, kan ngga asik gelap-gelap kita nyasar (lagi). 


Piazza San Marco

Basilica di Santa Maria della Salute


Esoknya kami keluar dari hostel jam tujuh pagi. Kira kami bakalan sepi karena selama ini di Eropa biasanya jam-jam segini orang masih tidur. Tapi dugaan kami salah, baru keluar gang, di jalan utama sudah penuh ramai para pelancong. Kami jalan bersama berbondong-bondong. Hectic, kayak lagi berangkat kerja pagi-pagi, mengantri di halte busway. Untuk menghindari keramaian ini ya kita masuk-masuk gang sempit untuk mencapai destinasi yang kita tuju. That's why we didn't enjoy the crowd, but the lostness did

Santa Maria della Salute —a Roman Catholic church. The best view!


Salah satu pemandangan paling berkesan selama di Venice adalah Gereja Santa Maria di sore hari dari Ponte dell’Academia, jembatan yang berdiri diatas Grand Canal. Berdiri sambil bersandar ke lengan jembatan, menghadap ke sungai dengan latar bangunan-banguan tua, melihat lalu-lalang perahu gondola,  kami mulai merasakan romantisnya kota Venice. Sayangnya ngga bisa lama-lama, karena harus gantian sama turis yang lain buat foto-foto. Hehe. 


The moon hides behind the clouds.

Sudah puas melihat gereja ini dari jauh, kami melanjutkan jalan-jalan nyasarnya. Menghabiskan sore hingga gelap di teras Punta Della Dogana, sebuah bangunan museum yang berdiri di paling ujung pulau Dorsoduro. Untuk sampai ke sini kami juga melakukan perjuangan yang luar biasa, entah sudah berapa kali kami nyasar. Akhirnya sampai juga dengan kondisi celana saya yang basah karena habis kepleset. Peluh kami pun mulai hilang, saat kami duduk-duduk santai, melepas sepatu menjatuhkan kaki ke laut lepas. Menikmati suara ombak, melihat matahari terbenam, membayangkan semua kejadian selama di kota ini. 

Seru banget petualangan kita, jadi ngga kepingin balik lagi ke sini. Wkwkwk. Selain itu masih ada lagi cerita nyasar sambil hujan-hujanan, mutar-mutar nyari atm yang bisa ngegesek debit, yang ternyata dari semua yang kita coba ngga bisa, cuma bisa gesek kartu kredit buat dapetin uang cash, kesiram ombak gede setelah ngetawain orang sebelah kita yang kena juga (Karma do exist!), nemu berbagai jenis kancut yang baru kelar dicuci di washtafel hostel, dan handuk mandi kita yang keujanan karena lupa diangkat. Itu masih belum selesai, waktu kami mau ninggalin kota ini pun, rasanya belum kelar kami dikerjai kota ini, kami masih nyasar sambil hujan-hujanan saat mencari stasiun Santa Lucia. Nyasar sungguh seni dalam perjalanan. 



Dan foto terakhir di Ponte dell Academia ini, jadi cita-cita kami berdua nanti. Biar renta, selama kaki masih bisa melangkah, kami akan terus melakukan perjalanan.

Let's grow old together!
September, 16th 2016

You Might Also Like

0 comments