Trip Singkat ke Turin dan Paris

September 16, 2017

Bonsoir, Paris!
Sehabis kepanasan dan kesasar di Venice rasanya pengen langsung buru-buru terbang ke Iceland, nyari yang sejuk-sejuk biar adem. Tapi... tiket pesawat ke Iceland kalau dari Itali harus transit dulu di Barcelona, jauh, dan secara harganya jauh lebih mahal dibanding kalau kami berangkat dari Paris. Itu lah kenapa yang tadinya Paris ngga ada dalam itinerary, jadi masuk ke jurnal perjalanan kita —baru beli tiket ke Iceland pas di Innsbruck. Transit ke Paris sekalian melihat menara Eiffel biar ngga kebawa mimpi terus, kayak 5 tahun yang lalu.

Turin


Terus kenapa mampir ke Turin juga? Ini sempat jadi perdebatan sebelum kami berangkat ke Eropa. Yang kepingin banget ke kota ini adalah partner jalan saya Bre, pecinta Juve sejati. Katanya mau main-main ke stadium nya. Yowes gapapa, tapi untuk itin selama dua malam di Turin saya ngga mau urus pokoknya. Saya cuma beliin tiket dari Venice ke Turin dan dari Turin ke Paris, lalu memesan penginapan AirBnb, mencari informasi transportasi publik selama di Turin, dan kontek-kontekan dengan si host karena kita kendala check in nya tengah malem. Eh? Ini mah ujung-ujungnya tetap saya yang ngurusin semua nya. Dasar!

Kisah kita di Turin di mulai dengan mencari mesin tiket di terminal bus tempat kita turun. Sudah jam 10 malam, sepi ngga ada orang. Lumayan lama kita nyari mesin tiket yang ukurannya cuma sepinggang dan kecil ini di sepanjang trotoar dan remang-remang. Harusnya kan dekat haltenya ya, ini jauh makanya kita kebingungan. Setelah naik tram, kita pun masih salah turun halte. Fyuuh~

Turin part 1: Drama Laundry

Kita kehabisan baju waktu sampai Turin. Karena kami sampai tengah malam di rumah Harry, host kita selama di Turin, jadi baru bisa besok paginya kami nyari service laundry (doi ngga nyediain mesin cuci). Kami keluar rumah, nggendong rucksack yang isinya semua baju kotor. Pertama kami nyari yang paling dekat dulu dari penginapan dan bisa ditempuh jalan kaki. Tapi dari dua service laundry yang kita datengin, mereka ngga ada one-day service, rata-rata 4-7hari baru selesai. Ngga mungkin kan, karena lusa paginya kita cao ke Paris. Terus kita nyoba browsing self-laundry / coin-laundry dengan cara balik lagi ke rumah karena kita ngga punya paket data (50 Days in Europe cuma bergantung sama wifi gratisan).

Lokasinya ditempuh menggunakan tram dan jalan kaki, lumayan susah juga nyarinya. Trus aku juga lupa bawa sabun cuci, untung untuk sabunnya pun udah disediakan vending machine. Milih sabunnya pakai wangsit, karena dari semua tulisannya kita ngga ngerti wkwkwk. Untuk nyucinya, cuma bisa bisa cuci dan pengering normal, ngga bisa sampe kering beneran. Karena butuh waktu kira-kira setengah sampai satu jam prosesnya, akhirnya kita tinggal nyucinya dengan belanja di supermarket yang ada di depannya and we have to go back in time or cucian kita bisa amburadul dikeluarin sama pelanggan lain. Kita bawa balik cucian untuk dijemur di rumah Kita minjem jemuran sama Harry. Tapi Harry ngga begitu ngerti sama jemuran yang kita mau pinjem dan nyokapnya lagi keluar, kita pun diperbolehkan masuk ke rumahnya untuk milih sendiri mana yang mau dipake. Akhirnya dapet dan kita jemur di kamar! Drama laundry usai, kami istirahat sebentar dan makan siang sebelum berangkat lagi ke stadium Juventus.


Turin part 3: Muterin stadion bola

Usai drama laundry, kami berdua mencari cara untuk bisa sampai ke Juventus Stadium. Pakai google maps lah paling gampang, dan kami dapat petunjuk dengan mengunakan bus no. 29 yang akan berhenti di halte dekat dengan stadion.

Jangan percaya ini, di peta si jalan kaki cuma 650m, tapi kenyataanya.... pahit!
Clue: keywords search "shopping mall juventus stadium"
Dari halte sudah nampak stadion yang megah. Kami bergegas menuju ke sana, dan menemukan bahwa tidak ada gate yang bisa dimasuki. Kami bolak balik ke arah kanan dan kiri mencari pintu masuk, namun tak kunjung ketemu. Sepi pula ngga ada orang yang bisa kita tanya. Saya sudah menyerah, ngga ada tenaga buat muterin bagian luar stadion yang kayaknya ngga ada ujungnya. Setelah lama mencari (Bre sih yang muter-muter) akhirnya ketemu, dan posisi kita sebetulnya itu ada di bagian belakang stadion. Damn, google!


Sambil nungguin Bre yang lagi kutan tur selama satu jam, saya membaca buku tentang Turin yang dipinjemin sama Harry. Bukunya tebel, tapi asik dibaca karena banyak gambarnya. Rasanya ngga perlu keliling Turin saya udah berasa jalan-jalan sambil baca buku ini.  Yang unik dari kota Turin adalah wisata mistiknya, karena banyak patung dan cerita tentang magis. Saya ngga akan nulis gimana pengalaman tur nya Bre (that's his turn!), karena kerjaan saya selama nungguin dia adalah baca buku, cuci mata di Juve store, bolak balik wc dan lihat-lihat kartu pos (bagian depan stadium adalah mall). Oiya, keluar dr stadium tiba-tiba Bre bawa cewe. Dibawa lah cewe itu ke saya, kita dikenalin, dia dari Indonesia dan lagi keliling Eropa juga sehabis masa studinya di UK kelar. Saya mendengar ceritanya. Pagi tadi dia baru sampai Turin, dan besok pagi langsung berangkat ke Florence. Pokoknya hectic. Ada yang tripnya lebih singkat dari pada kita ternyata. Hahaha.

Turin part 3: Hujan naik turun bukit

Bareng sama si mbak nya kita bertiga pun langsung naik bus mengejar sunset di Santa Maria del Monte, sebuah teras gereja yang menghadap ke kota Turin. Dari kartu pos yang ku beli, view kota Turin dari teras itu kewl banget.  Bela-belain deh kita jalan kaki sampai ke atas bukit, gelap-gelapan karena ngga banyak lampu jalan. Baru sebentar melihat, tidak lama lalu hujan. Dari kamera cuma dapat dua jepret, sisanya kita mengamankan kamera lalu pulang, karena tidak ada tanda-tanda hujan mau berenti. Dua malam di Turin cukup sih buat ngelaundry sama ke Juventus Stadium, mungkin pemandangan kece dibawah bisa kunjungi lain kali lagi. 

Anggap aja sebelum gelap dan ujan view nya kayak gini


Paris

After Turin, we're heading to the city of love and romance, Paris. Is it really?
Baru banget jalan pagi-pagi ke Notre Dame, nemu pasangan yang lagi asik-asik pelukan. Betulan dah ini kota kayaknya memang jadi kota yang wajib at least once in a lifetime dikunjungi para pasangan turis biar cinta mereka abadi. Halah. 

Kami sampai Paris sudah gelap, ditambah gerimis hujan jadi tambah romantis. Kami menginap di hotel yang agak jauh dari pusat turis. Sama seperti di kota-kota besar lainnya, daerahnya agak serem dan bau pesing. Not a good impression for first timer.

Paris part 1: Berburu logistik

Kalau di Turin kita punya drama ngurusin laundry, di Paris kita punya drama nyari mie instant. Mungkin ngga sih di Iceland ada indomie goreng? Karena udah parno duluan, jadi di Paris kita berburu perbekalan untuk bertahan hidup selama plesiran di Iceland.

Oiya jangan lupa saos sambal Sriracha kesukaan kita

Paris part 2: Gorgeous Metro Station


Paris itu.. subway nya awesome. Seakan tiada habis jiwa seninya, beberapa subway dirancang semenarik mungkin hingga telunjuk ini ngga tahan buat ngejepret shutter.




Paris part 3: The mainstream (Menara Eiffel, Museum Louvre dan Arc de Triomphe)

Cie, sampe juga ke Eiffel. Dulu tuh kayaknya ngefans banget sama bangunan metal yang tiap tahun
harus dicat ini biar ga berkarat

Museum Louvre membuat ku masuk ke dalam novel Angels and Demons nya Dan Brown, salah satu novel tertebal yang pernah ku baca

Arc de Triomphe

Best spot Eiffel itu di Place de Trocadero, tapi ngga sempet ke sana karena hujan melulu
Mungkin lain kali bisa ke sini lagi dan romantis-romantisan

Selain ketiga di atas kita mampir juga ke Notre Dame, that always reminds me of Nodame Cantabile




P.S.
Ini adalah trip singkat sesingkat singkatnya, sedikit cerita dan sedikit foto. Semoga mau balik lagi ke Turin dan Paris, karena sehari saja itu ibaratnya hanya numpang lewat, belum sempet ninggalin jejak (—poop).

See you next, Turin and Paris!

You Might Also Like

0 comments