Fate

April 11, 2018

Saat tak ada ide menulis seperti ini, saya mencoba melihat daftar draft yang ternyata lumayan banyak, ada sekitar tujuh puluh judul tulisan yang tidak pernah tersentuh. Beberapa diantaranya hanya judul dan ada pula yang sudah sampai beberapa paragraf namun tidak memiliki judul seperti tulisan berikut. Sudah hampir 5 tahun tulisan ini terlantar tanpa judul, tentu saja saya lupa. Saya mencoba mengingatnya, karena saya sudah dua kali baca tulisan ini namun saya tidak ingat dengan siapa saya berbicara dan ini tentang siapa. Saya baca ulang lagi untuk ketiga kalinya, dan saya baru ngeh di kalimat terakhir. Dan saya sontak tertawa setelah mengingatnya. Oh, saya pernah galau juga ternyata!

— bertemu dengan seseorang di jalan bukan kebetulan, tapi takdir.

Kata-kata ini saya sendiri kutip dari sebuah buku, yang selalu membuat saya tersenyum tiap kali bertemu tidak sengaja dengan orang-orang di sekitar saya. Atau saat sedang mengingat-ingat sesuatu yang terkadang membuat saya menertawai diri. Begitu juga saat saya sedang melakukan perjalanan jauh. Jauh dari rumah. Meninggalkan kenyamanan demi sepenggal kisah untuk tua nanti. Tentu yang membuat saya selalu bertemu dengan orang-orang baru. Entah ia supir angkot, ibu penjual nasi, anak-anak kecil yang sedang bermain, petugas tiket kapal, preman terminal, sampai lelaki berdasi yang mengajak kenalan. Ah! Atau orang-orang di dalam bus transjakarta yang secara tidak sengaja kami saling bersenggolan hingga menimbulkan rasa sebal.

Mereka adalah orang-orang yang saya temui di jalan. Apa ada benang merah diantara kita? Tentu saja ada. Hanya saja kita sering tidak menyadari keberadaannya. Kita sering menganggapnya sebagai hal ketidaksengajaan. Tidak sengaja bertemu dengan mereka. Padahal semua hal tentang "pertemuan" itu sudah ada yang mengatur. Begitu pun jodoh, mana ada istilah ketemu yang tidak sengaja. Tuhan sudah mengatur. Kita tinggal berusaha dan menunggu. Oke skip bicara soal jodoh.

Tadi pagi seorang teman bertanya pada saya diselipan perbincangan tentang rasa penyesalan jika bertemu dengan orang yang mungkin akan membuat kita kecewa nantinya.  "Ken, lo ngerasa sia-sia gak berhubungan sama dia, lama dan udahan gitu aja?" Saya tertawa. Saya jawab dengan enteng, "Ya enggak lah, justru gue bersyukur bisa kenal orang kayak dia. Gue malah berterima kasih." Bertemu dengan orang seperti dia menjadi salah satu cara agar saya bisa menghidupi diri. Menghias dan mengukir cerita. Mungkin terkadang ada hal yang "pahit" yang membuat kita jadi menyesal. Tunggu saja, suatu saat kita pasti akan menertawakan hal ini. 

Menikmati setiap pertemuan, menertawakan setiap perpisahan. 
- 20 Mei 2013



You Might Also Like

3 comments

  1. Tulisannya bagus, Mbak, begitu rapi untuk sebuah blog. Jarang-jarang orang masih bertahan di Blogspot. Bolah juga jika berkenan berkunjung ke blog sayaAnkajournal.blogspot.co.id. Thanks...

    ReplyDelete